
Silakan Dibaca.
Ryu dan Rio yang duduk di atas kontainer sedikit terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh Sean. Mereka tidak menyangka bahwa anak kecil itu benar-benar kuat dan membunuh orang tanpa berkedip sama sekali.
Hal ini membuat keduanya yakin bahwa anak itu sudah banyak membunuh entah itu di mana.
Ryu yang sedang menatap Sean sama sekali tidak memperdulikan tindakan tersebut. Baginya hal ini tidak perlu untuk dihentikan, karena Sean tidak membunuh apapun yang ia lihat.
"Apakah kita perlu turun?" Rio bertanya dengan tenang, ia sendiri tidak terlalu khawatir melihat Sean akan menghadapi tiga orang kuat.
"Tidak perlu, kita lihat saja. Aku ingin melihat sampai batas mana, kekuatan anak ini!" jawab Ryu dengan serius.
Di sisi lain, ruangan yang sepi terdapat bau darah yang menyengat hidung. Banyak orang tergeletak di tanah, semuanya mati dengan satu lubang yang tercetak di dada mereka masing-masing.
Di tengah ruangan terlihat percikan api kuat terus-menerus bermunculan. Namun, pemandangan selanjutnya membuat orang-orang tidak akan percaya dengan apa yang mereka lihat.
Satu anak kecil memegang pedang pendek, tengah menghadapi tiga orang dewasa. Anak ini sama sekali tidak kehilangan nafas, ia tenang dan nafasnya teratur.
Tatapannya datar, seolah-olah menganggap pertarungan itu ialah mainan belaka.
Tiga orang dewasa mengeluarkan keringatnya. Mereka benar-benar tidak percaya melihat anak kecil itu sama sekali tidak kelelahan. Pemandangan tersebut benar-benar membuat ketiganya jatuh ke dalam ketakutan.
"Bocah ini, monster!" Marko berkata dengan nada ketakutan, ia belum pernah melihat seorang anak kecil memiliki kekuatan sebesar itu.
"Bos, apa yang harus kita lakukan?" Santa bertanya dengan nada rendah, wajahnya tetap tenang namun hatinya gelisah dan takut.
"Kita-" belum selesai Marko mengatakan sepatah kata apapun. Anak kecil yang tak lain Sean melesat dengan cepat ke arah dirinya.
Sean tidak banyak berbicara apapun, ia mengayunkan pedang pendek tepat ke arah dada Marko. Namun, pedang lain dari samping melintas menahan pedang Sean.
Santa menahan pedang Sean, kemudian keduanya memulai pertarungan pedang satu sama lain. Suara benturan logam terus terdengar di seluruh ruangan. Sean mengayunkan pedang lebih cepat dibandingkan Santa. Hal ini membuat Santa memiliki beberapa luka tebasan.
Fordan mengangkat pistolnya, target tembakan ialah Sean. Dengan ledakan di dalam pistol, peluru melesat dengan cepat.
Sean merasakan datangnya peluru itu, ia merunduk dan berputar ke belakang. Marko menghunuskan pedangnya, ia melesat ke arah jatuhnya Sean.
__ADS_1
Tiba saat Sean menyentuh tanah, pedang Marko muncul di depan matanya. Sean tidak khawatir karena adegan selanjutnya ialah, pedang melintasi tubuhnya.
Pedang telah melintas, Sean menendang kaki Marko dengan keras. Hal ini membuat Marko berlutut tanpa sadar, ia masih tersentak akan rasa sakit tersebut. Matanya terpejam dan giginya mengatup.
Sean segera muncul di atas Marko, tepat Marko membuka matanya. Ia melihat pedang melintas ke arahnya. Perasaan mendekati kematian mulai terasa di benaknya. Pikiran takut, horor dan ngeri memenuhi otaknya.
Namun, ketika pedang akan mengenai leher Marko. Peluru seketika melintas dan Sean sudah menyadari hal itu. Ia dengan cepat menghindar dan menatap orang yang menyerangnya tersebut.
Santa seketika merasakan krisis bahaya ketika melihat Sean menatapnya penuh dengan niat membunuh.
"Setan kecil, lawanmu adalah aku!"
Santa memberanikan dirinya, ia melesat menuju ke arah Sean. Santa sama sekali tidak peduli apakah dirinya menang atau kalah. Karena tujuan penyerangan tersebut, semata-mata untuk menyelamatkan bosnya.
Sean tidak berbicara, ia menghunuskan pedangnya ke bawah. Persepsi menyala dan ia merasakan bahwa seseorang mendekat ke arah Marko mencoba menyelamatkan pria itu.
'Kau kira bisa lolos dariku!' ejek Sean dalam hati. Ia mengabaikan terlebih dahulu kedua orang itu, kali ini dirinya fokus ke arah depan. Di mana terlihat Santa tiba di dekatnya.
Pedang melintas secara horizontal ke arah Sean. Melihat lintasan tersebut, Sean sama sekali tidak takut. Ia menggerakkan pedang dari bawah dan melesat ke atas.
Dengan suara 'Dentang!' udara di sekitar menyebar ke seluruh ruangan. Berikutnya dua orang terus mengayunkan pedangnya secara berkala.
"Kita melarikan diri!" Fordan yang sadar segera mengangkat Marko selepas mengatakan tersebut. Ia berlari menuju ke arah dinding batu di belakangnya, kemudian Fordan meraba dinding tersebut sampai akhirnya terdengar suara 'klik' batu yang di depan mulai terbelah membentuk lorong ke suatu tempat.
Sean yang masih mengaktifkan persepsinya, ia mengetahui bahwa ada jalan rahasia tersebut. Dirinya ingin mengejar namun melihat Santa yang berhasil menahan dirinya, ia benar-benar kagum.
'Kekuatan penuhnya dapat menekanku, ilmu pedangnya benar-benar tinggi!' batin Sean, ia memuji ilmu pedang lawan.
Semenjak bertarung dengan Santa, Sean hanya menggunakan ilmu pedang. Hal ini untuk tujuan mengasah kemampuannya serta mencoba tidak terlalu bergantung kepada kekuatan lainnya.
Semakin berlarut dalam pertarungan, semakin ahli Sean dalam berpedang. Santa mengerutkan keningnya dan ia segera mengetahui niat sebenarnya dari Sean tersebut.
"Bajingan, ternyata ini niatmu!"
Santa benar-benar geram ketika mengetahui niat Sean sesungguhnya. Ia tidak menyangka bahwa anak kecil tersebut, menggunakan dirinya sebagai batu asah kemampuan.
__ADS_1
Sean tidak bereaksi, ia merasa bahwa kekuatan pedangnya sudah cukup dan Santa yang menjadi lawannya, terlihat sudah tidak ada manfaatnya kembali.
'Waktunya mengakhiri!' batin Sean, lalu terlihat jejak cahaya dingin melintas di matanya.
Kemudian, pedang berayun dengan cepat membuat Santa kewalahan. Sean terus menekan Santa, sampai akhirnya Santa mundur beberapa meter.
Namun, ketika Santa menstabilkan tubuhnya. Ia melihat pedang melintas ke arahnya dengan cepat. Santa sama sekali tidak bisa merespons, pedang melintas dan melewati dirinya.
Kemudian, suara daging teriris terdengar dan pandangan Santa berputar, kemudian jatuh ke tanah.
Sean mengibaskan pedangnya, ia memandang ke arah Santa dengan dingin. Namun, jauh di dalamnya ia berterima kasih karena sudah bermanfaat untuk meningkatkan ilmu pedangnya.
Sean kemudian memandang ke arah lorong batu, di mana tempat tersebut ialah jalan melarikan diri pemimpin penculik dan orang yang telah menculiknya.
"Kau kira bisa kabur dari diriku, dasar naif!" Sean mendengus dingin, kemudian ia menghilang ditelan oleh bayangan.
Marko dan Fordan terus berlari, mereka melihat pintu keluar seolah-olah hidupnya akan selamat ketika melintasinya.
Fordan yang menggendong Marko, ia berlari dengan kencang. Meski keringat deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia sama sekali tidak meyerah untuk kebebasan.
Tak butuh waktu lama, keduanya tiba di dekat pintu keluar. Mereka ingin bergegas melewatinya namun dua sosok orang dewasa muncul dari atas dan tersenyum ke arah mereka berdua.
Kemunculan dua orang itu membuat Fordan dan Marko berhenti. Mereka memperhatikan kedua orang itu, Fordan sendiri sudah menyentuh pistolnya. Ia benar-benar siap untuk menembak orang yang menghalaunya itu.
"Siapa kalian!"
"Selepas menculik anak seseorang, kalian sama sekali tidak mengenali orang tuanya."
Satu orang berbicara dengan tenang membuat Fordan dan Marko membangkitkan perasaan takut serta gelisah.
Mereka berdua tanpa sadar mundur selangkah, akan tetapi suara langkah kaki dari belakanng membuat keduanya membeku di tempat.
"Akhirnya kalian berhenti." Sean berjalan dengan santai, pedang ia pegang dengan dua tangan ke bawah.
Namun, saat Sean semakin mendekat. Ia memandang ke arah dua orang yang berdiri di depan pintu keluar. Langkahnya berhenti dan hatinya bergetar hebat. Karena dua sosok itu adalah orang yang paling ia kenal.
__ADS_1
"Ayah..."
To be Continued.