Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 162 : Kembali (S1 Ending.)


__ADS_3

Silakan Dibaca.


"Ayah..." Sean terkejut ketika melihat dua sosok orang kekar tengah menghentikan para penculik yang melarikan diri itu.


Keringat dingin mengucur, Sean benar-benar ketangkap basah sekarang. Ia bingung harus menjelaskan apa kepada ayahnya. Meski dia senang bertemu dengannya. Namun, perasaan tidak nyaman selalu muncul di hatinya.


'Apa yang harus kukatakan ... Ayah mungkin sudah melihatku membunuh seseorang.'


"Sean, kau baik-baik saja ternyata. Jangan terlalu membuat Yuna sedih terus. Juga, ayah akan menyelamatkan dirimu!" Ryu berkata dengan tenang.


Sean terkejut mendengar kalimat dari ayahnya, ia sebenarnya sudah siap untuk mengaku. Namun, ayahnya itu terlihat sama sekali tidak peduli dengan anomalinya.


Sebelum Sean bereaksi, Ryu sudah muncul di depannya. Namun, dua orang penculik itu seketika meledak dengan keras. Hal ini membuat Sean melebarkan matanya.


"Paman Rio, waktunya kita kembali!" Ryu memegang kerah Sean. Kemudian, menariknya ke atas punggung. "Tidurlah, kau sepertinya kelelahan!"


Sean yang mendapat sentuhan hangat dari Ryu, tanpa sadar matanya terpejam. Pedang yang ia pegang kini terlepas, jatuh ke tanah. Nafasnya berangsur-angsur tenang dan ia berakhir tidur di punggung Ryu.


Rio memandang ke arah keduanya. Ia kemudian mengangguk, lalu berbalik dan melesat pergi menuju ke sekolah Raskan. Ryu sendiri mengikutinya dengan membawa Sean dalam gendongan.


Di jalanan yang sedikit ramai, dua orang dewasa melintas melewati kota dengan cara melompati satu bangunan ke bangunan lainnya.


Banyak pejalan kaki hanya melihat siluet bayangan di tanah, akan tetapi ketika memandang ke langit. Mereka sama sekali tidak menemukan adanya pemilik bayangan tersebut.


Mereka tidak peduli dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.


Di sisi lain. Pemilik bayangan yang tak lain Rio dan Ryu, kini tiba di sekolah Raskan. Mereka masuk, disambut oleh berbagai murid serta tiga sosok orang yang keduanya kenal.


"Sayang, bagaimana keadaan Sean?"


Suara akrab terdengar di dekat Ryu dan Rio. Keduanya sudah menyadari siapa itu.


Rio tidak menanggapi, melainkan ia berjalan menuju ke arah istrinya yang tengah memandang dengan senyuman lembut.


Ryu memandang ke arah suara akrab itu. Ia tersenyum dan menurunkan Sean dari gendongannya.


"Dia baik-baik saja, hanya saja kelelahan." Ryu menjelaskan kondisi Sean.


Pemilik suara yang tak lain Yuna, memandang ke arah sosok anak kecil yang diturunkan oleh suaminya. Ia buru-buru mendekat dan memeriksa tubuh putranya dengan ekspresi wajah khawatir.


Ryu tetap duduk tenang di dekat Yuna, ia mengamati istrinya dengan saksama. Ryu tetap diam dan menunggu istrinya selesai memeriksa kondisi Sean.


Selepas melihat tidak ada luka maupun lecet. Yuna menghela nafas lega, namun ia sendiri mengerutkan keningnya karena mencium bau darah di tubuh putranya itu.


Lantas pandangan Yuna langsung tertuju ke arah suaminya.


Ryu menyadari hal itu, ia menaikkan alisnya seolah-olah bertanya, mengapa ia ditatap seperti itu.


"Sayang, kenapa Sean tercium bau darah di tubuhnya?"


Ryu yang mendengar pertanyaan itu, seketika menyadari bahwa rahasia Sean tidak akan lama terbongkar.


Namun, Ryu tidak memberitahukan apapun dan berkata, "Biarkan anak ini yang menjelaskan apa yang terjadi."


Yuna tertegun, bukan karena penolakan suaminya. Namun, ia sendiri semakin merasa aneh dan gugup ketika mendengar hal itu.


Ryu menepuk bahu Yuna, kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata kembali. "Jangan terlalu khawatir, hanya masalah kecil dan itu memerlukan dirimu untuk membantunya."

__ADS_1


Yuna mengangguk, lalu memeluk suaminya itu. "Terima kasih, sayang."


Ia bingung harus mengucapkan rasa terima kasih bagaimana. Dirinya benar-benar senang dengan tindakan Ryu yang menyelamatkan putranya. Entah mengapa, suaminya berbeda dari kebanyakan orang.


"Jangan terlalu dipikirkan, dia juga putraku. Selain itu ...." Ryu mendekatkan mulutnya tepat di telinga Yuna. Ia menceritakan dalang yang melakukan penculikan tersebut.


Yuna seketika naik pitam, wajahnya menggelap jejak niat membunuh keluar. "Selepas bertahun-tahun dia meninggalkan kami. Masih berani-beraninya mengusuk kehidupanku dan Sean."


Yuna benar-benar ingin membunuh mantan suaminya tersebut. Dulu ia tidak akan berani, karena Yuna sama sekali tidak memiliki kekuatan maupun dukungan.


Namun, sekarang ia berbeda. Karena dirinya memiliki kekuatan dan sosok dukungan yang sangat kuat. Untuk apa dirinya takut.


"Kita akan menemui, selepas Sean bangun." Ryu berkata dengan lembut.


Yuna mengangguk dan setuju dengan pengaturan suaminya itu.


Beberapa menit telah berlalu.


Sean yang tengah terbaring di tempat kesehatan sekolah, mulai perlahan-lahan membuka matanya. Ia mengamati lingkungan sekitar dan berkata dengan suara rendah.


"Aku berada di sekolahan..."


Sean merasakan tangannya berat, ia memandang ke arah tangan tersebut dan melihat ibunya terbaring tidur di tepian tempat tidur.


Melihat hal itu, mata Sean membulat. Ia terkejut ketika melihat ibunya tersebut.


Ia ingin melompat dan memeluknya, namun hal ini sangatlah tidak mungkin karena tubuhnya sendiri susah untuk digerakkan.


Yuna yang terbaring tidur, merasakan gerakan dari tempat ia tidur. Hal ini membuat dirinya sedikit terganggu dan perlahan matanya mulai terbuka.


Ketika mata sepenuhnya terbuka, Yuna akhirnya tahu bahwa dirinya kini berada di ruang kesehatan sekolah.


Satu panggilan yang sangat menyentuh hatinya terdengar. Yuna segera memalingkan wajahnya ke arah anak yang memanggilnya itu. Butiran air mata yang sudah membendung di sudut, mulai pecah dan mengalir di pipinya.


"Sean..."


Yuna memeluk putranya tersebut, sementara yang dipeluk hanya menerima dengan ekspresi kesakitan. Dia juga menangis, karena hari ini adalah pertemuan pertama dengan ibunya selepas beratus-ratus tahun yang lalu.


Ryu yang berada di luar, juga mendengar hal itu. Ia segera masuk dan tersenyum ketika melihat Yuna dan putranya berpelukan.


'Yah, inilah yang ingin kulihat. Keluargaku yang utuh tanpa ada terluka sama sekali.'


Risa dan Alice yang berada di belakang Ryu, masuk ke dalam dan ikut dalam pelukan itu.


Selepas empat orang berpelukan, Sean memandang ke arah Ryu. Ia tersenyum dan paham bahwa dirinya sudah terungkap.


"Kau baik-baik saja?" Ryu berinisiatif bertanya terlebih dahulu, ia mendekat dan duduk di sebelah Sean dan Yuna.


Sean mengangguk dan selanjutnya ia bergerak memeluk ayahnya tersebut. Ryu membalas pelukan itu.


"Ayah, aku sangat merindukanmu!"


"Tenanglah, selepas ini kamu akan mengikuti kita. Juga, jangan terlalu bersembunyi. Kamu pasti tahukan maksudku?"


Sean mengangguk, kemudian melepaskan pelukannya dan memandang ke arah ketiga ibunya tersebut.


Sean mengingat memorinya dan mulai menceritakan tentang dirinya sendiri kepada tiga ibunya tersebut.

__ADS_1


Ketiganya terkejut mendengar bahwa Sean memiliki ingatan tentang masa depan. Lebih tepatnya, Sean yang sudah berumur lebih ratusan tahun. Bergabung dengan Sean sekarang.


Menyadari fakta tersebut, ketiga perempuan itu memeluk putranya dengan erat.


Ryu menepuk kepala putranya dan ia berdiri sambil memandang ke arah luar jendela.


'Jadi, aku akan mati nantinya...'


Ryu hanya tersenyum dan memandang ke arah istri dan putranya. Ia hanya berpikir, 'Meski aku akan mati, aku tetap akan melindungi keluargaku.'


[Misi telah diselesaikan.]


[- Hadiah : Dimensi Kiamat.]


***


Jauh dari planet tempat Ryu berada. Terdapat satu planet yang begitu besar.


Planet ini tengah bergerak dengan bebas dan butuh waktu kisaran 5 tahun untuk mencapai Planet Ryu berada.


Di dalam planet ini, berbagai makhluk yang mirip kadal. Tengah memegang kapak panjang seolah-olah siap untuk berperang.


Jauh dibelakang kumpulan tersebut, terdapat podium tinggi yang menjulang sampai langit.


Podium ini terbuat dari batu dengan bentuk persegi. Di depan terdapat kain halus yang terlukis sebuah simbol kerajaan.


Sosok kadal yang lebih besar, terduduk di atas podium tersebut. Tatapannya lurus tertuju ke arah berbagai sosok semut yang tengah berbaris.


"Lima tahun kemudian, pesta makanan akan hadir." Kadal besar berdiri dengan gagah.


Kilatan cahaya dingin dalam sekejap melintas di matanya. Ia mengangkat kapak besar dengan simbol matahari di tengah.


"Dengan perlindungan Dewa Matahari, kita harus memenangkan pertarungan ini!"


"Demi makanan lima tahun nanti!"


Para kadal yang berbaris memancarkan aura panas. Naluri mereka mendidih dan kapak terangkat ke atas, mereka berteriak bersama-sama.


"Demi Makanan!"


"Demi Makanan!"


Kadal besar mengangkat sudut mulutnya, ia tersenyum menyeringai dan matanya yang gelap berubah menjadi merah.


"Nantikan kami, para Makanan!"


Season 1 : Dunia Baru (Ending.)


Season 2 : Apocalypse (New.)



[- Sistem Kekayaan : Penguasa.]


Perjalanan Ryuto kembali lagi hadir, kali ini dirinya terlempar di dunia menengah. Sebuah Dunia yang begitu kuno dan maju.


Nantikan saja perjalanan Ryuto, Bulan Depan.

__ADS_1


[Terima kasih semuanya atas dukungannya.]



__ADS_2