
Silakan Dibaca.
Area hutan Sandar Foran. Ryu dan tiga istrinya terkejut dengan ledakan keras di depan. Mereka berempat saling memandang satu sama lain dan ekspresi mereka berubah menjadi serius.
“Red, berubahlah menjadi besar.” Ryu berteriak dengan keras.
Mendengar teriakan Ryu, Red yang berada di udara mulai memperbesar tubuhnya dengan cepat. Kemudian, Red sedikit menurun, berikutnya Ryu dan ketiga istrinya melompat, lalu mendarat di punggung Red dengan selamat.
“Maju ke arah ledakan, Red!” Ryu berkata dengan tegas.
Red yang mendengar tersebut meraung dengan keras dan mulai mengepakkan sayapnya. Selanjutnya kilatan cahaya melintas di matanya, kemudian Red melesat dengan cepat ke arah ledakan.
Angin menerpa kuat namun sama sekali tidak menggerakkan tubuh Ryu dan ketiga istrinya. Tatapan keempat orang itu serius karena ledakan tersebut berasal dari tempat Rio dan Siana berada.
***
Di tempat Rio...
Boom! Boom!
Ledakan terus menerus terdengar. Asap perlahan-lahan menghilang, kemudian memperlihatkan sosok pria yang tengah menahan pukulan seekor kera besar.
Sosok pria itu ialah Rio, dia bertarung dengan kera hitam selama dua puluh menit yang lalu. Memang tidak lama, akan tetapi area tempat mereka bertarung berubah menjadi tandus dan banyak pepohonan hancur.
“Apakah kau sudah lelah, monster sial*an!” Rio berkata dengan nada mengejek. Hal ini karena dirinya ingin memprovokasi kera hitam, agar kera hitam mengeluarkan kekuatan penuhnya.
“Apa kau bilang, sial*an!” Kera Hitam meraung penuh amarah. Baru kali ini dirinya bertemu dengan manusia kuat dan selalu mengejeknya.
Kera hitam di landa oleh amarah, kedua tangannya terkepal erat. Tubuhnya berdiri tegak dan tangan memukul dadanya berkali-kali.
Suara benturan daging terus terdengar, sampai akhirnya berhenti. Uap putih keluar dari mulut, hidung, telinga dan tubuhnya. Ekspresinya berubah menjadi garang dan tanah di bawah kakinya hancur karena momentum berapi-api.
Rio memandang ke arah kera hitam. Jelas dirinya sedikit terkejut, aura kera hitam kini berubah dari sebelumnya biasa menjadi kuat. Rio sama sekali tidak takut, melainkan dirinya bersemangat untuk memulai pertempuran kembali.
Kera hitam menajamkan matanya, selanjutnya dia menghilang dan muncul tepat di depan Rio sambil mengayunkan kepalan tangannya.
Rio menyadari serangan kera hitam. Dirinya dengan cepat menyilangkan kedua tangannya dan menerima pukulan kera hitam tersebut.
__ADS_1
Boom!
Rio terlempar ke belakang, akan tetapi postur tubuhnya masihlah tetap. Dia tidak jatuh maupun berguling di tanah. Dirinya masih berdiri dengan posisi tangan membentuk silang.
Asap mengepul keluar dari tangan Rio, hal ini sebagai tanda bahwa serangan kera hitam sangatlah kuat. Rio semakin bersemangat, dia menyeringai dan tatapannya menjadi lebih liar.
Kera hitam menghilang kembali dan muncul tepat di atas Rio sambil merapatkan kedua tangannya. Selanjutnya, kilatan cahaya dingin melintas di mata kera hitam.
“Mati!”
Serangan melintas lurus secara vertikal, Rio menyusutkan matanya dan dia mengepalkan tangannya. Rio tidak terlalu senang dengan metode defensif melainkan dia senang metode ofensif.
Lebih baik membalas serangan dibandingkan menahan serangan. Inilah kalimat yang selalu Rio terapkan dalam hatinya.
Aura hitam kemerahan melilit di lengannya, kemudian Rio melompat rendah dan mengayunkan kepalan tangannya ke arah serangan kera hitam tersebut.
Booom!
Ledakan keras terjadi kembali dan kerusakan yang ditimbulkan lebih luas dibandingkan sebelumnya. Asap tebal membumbung tinggi, tertutup layaknya asap gunung berapi.
Red yang tengah mendekat terdorong ke belakang oleh gelombang kejut dari pertarungan Rio dengan kera hitam. Red terus menstabilkan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah.
Namun, penampilan monster tersebut membuat Ryu sedikit mengerutkan keningnya. Kemudian, dirinya ingat bahwa monster itulah yang menjadi tujuannya datang ke mari.
Gelombang angin perlahan menghilang dan asap mulai menyebar ke segala arah. Pemandangan pertempuran akhirnya terlihat, di mana Rio yang kehilangan pakaian menatap kera hitam dengan senyuman.
Kera hitam yang terbaring hanya menatap langit, tubuhnya kali ini tidak bisa digerakkan dipastikan dirinya akan pulih dalam jangka waktu empat jam ke depan.
Meski jangka waktu empat jam singkat, akan tetapi bagi seseorang untuk membunuh dirinya itu sudah cukup. Kera hitam sudah menyadari takdirnya, dia tidak menyesal melainkan siap untuk dibunuh oleh lawannya.
Namun, entah mengapa kera hitam merasa aneh. Hal ini karena semenjak tadi, manusia yang dia lawan sama sekali tidak membunuhnya, melainkan manusia itu tersenyum ke arahnya.
“Kau mengesankan, Siana bisakah kamu sembuhkan kera ini?” tanya Rio kepada Siana yang tengah mendekat. Kera hitam yang mendengar kalimat Rio, dia terkejut.
“Menyembuhkan? Apa maksudmu, manusia? Bukankah kau ingin membunuhku?” tanya kera hitam dengan wajah penuh tanda tanya.
“Aku? Membunuhmu? Mengapa aku membunuh...” Belum selesai Rio berkata, suara Ryu terdengar di belakangnya.
__ADS_1
“Paman Rio, mengapa kamu bertarung dengan kera hitam itu!” Ryu bergerak cepat dan tiba di dekat Rio dan kera hitam.
Riot segera melompat dari punggung Red dan jatuh di tubuh kera hitam. Ekspresi wajah Riot sangatlah khawatir, apalagi kera hitam ialah temannya.
“Kalajengking Gurun, mengapa kamu berada di sini?” tanya kera hitam dengan ekspresi bingung.
Riot kemudian menjelaskan semuanya, tentang Rio dan Ryu. Semakin Riot menjelaskan, kera hitam semakin menggelap. Tatapannya beralih ke arah Rio dan dia meraung penuh amarah.
“Bajing*an! Aku adalah rekanmu, mengapa kau menyerangku sial*an!”
Rio mengedutkan dahinya, kemudian dia juga menggelap dan berteriak, “Kamu yang memulainya kera bodoh!”
“Apa kau bilang!”
Rio dan kera hitam saling memandang keduanya siap untuk bertarung kembali, akan tetapi sebuah pukulan keras melayang tepat kepala mereka berdua.
Booom!
“Diam!!” Siana meraung diikuti dengan ledakan keras akibat pukulannya tersebut.
Rio dan kera hitam tersungkur ke bawah dan tanah di bawahnya retak, kemudian hancur membentuk cekungan kawah.
Ryu dan yang lainnya melihat kejadian tersebut, tanpa sadar menelan ludah mereka masing-masing. ‘Wah, menakutkan!’
Siana mendengus ringan, kemudian berbalik menatap ke arah Ryu. Sementara Ryu yang ditatap, seketika gemetar ketakutan.
“Ryu, semuanya sudah berkumpul. Bagaimana rencana selanjutnya?”
***
Area bawah tanah Sandar Foran...
Getaran pertarungan terus terjadi di bawah tanah, klan semut mempersiapkan diri untuk mencegah tanah di atas mereka runtuh. Benang-benang halus mereka rekatkan di atap-atap, mencegah tanah yang akan turun.
Namun, berikutnya getaran telah berhenti. Hal ini membuat klan semut menghela nafas lega. Raja dan Ratu semut keluar dari ruangan, kilatan cahaya melintas di mata keduanya ketika menatap ke arah atas.
“Apakah mereka akhirnya tiba?”
__ADS_1
To be Continued.