Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 78 - Menara 100 Tingkat 4 Akhir


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Roa dan Sanda memandang dengan penuh amarah ketika melihat saudara-saudara seperjuangan mereka digunakan sebagai alat oleh monster kabut hitam di depannya.


“Bajingan!” raung Roa dengan keras sambil mengepalkan tangannya erat-erat dan melesat menuju ke arah kabut hitam tersebut.


Roa mengayunkan pukulannya ke arah kabut hitam, namun detik berikutnya sosok perempuan berdiri menghalangi Roa untuk meluncurkan pukulannya tersebut.


“Riana, menyingkirlah!” Teriak Roa, ia tidak bisa menghentikan pukulannya sekarang, namun Riana sama sekali tidak bergerak dan menerima pukulan dari Roa.


Boom!


Riana terpukul dengan keras, sampai akhirnya menabrak tanah dan membentuk kawah yang begitu besar.


Roa menatap ke arah kawah dan tidak bisa berkata-kata kembali. Ia kemudian merasakan bahaya tepat di depannya. Roa lambat merespons dan akhirnya terpukul oleh tangan monster.


Bam!


“Roa!” teriak Sanda dengan keras, ia melihat Roa meluncur dengan cepat ke arahnya. Hal itu, membuat dirinya membuka tangannya untuk menangkap Roa.


Sanda berhasil menangkap Roa, ia melihat bahwa Roa melambaikan tangannya dan berkata, “Aku tidak apa-apa.”


Sanda melihat sekilas, ekspresi wajah Roa yang begitu suram. Ia tahu, bahwa Roa benar-benar marah untuk sekarang.


“Sanda, sepertinya mereka sudah mati dan digunakan sebagai alat oleh Monster itu.” Ucap Roa dengan suara dalam. Sanda mencerna maksud ucapan dari Roa, sampai akhirnya ia melebarkan matanya.


“Maksudmu.. kita membunuh mereka?” tanya Sanda dengan ekspresi terkejut.


“Ya, biarkan aku membunuh mereka. Juga, selepas ini. Kau kembalilah ke pangkalan dan aku akan pergi memasuki Menara itu nantinya.”


Sanda terkejut, ia ingin membantah, namun melihat ekspresi wajah Roa. Sanda paham sekarang, ia tahu bahwa Roa tidak ingin kehilangan siapa pun kembali.


“Baiklah, juga kembalilah dengan selamat.” Kata Sanda sambil menghela nafas panjang. Ia perlahan-lahan mundur, kemudian mengeluarkan alat komunikasi militer dan menghubungi tim helikopter.


Roa sendiri menatap ke arah Monster Kabut di depannya. Kemudian, ia mengeluarkan aura miliknya secara ganas dan liar.


Monster Kabut terkejut, ia pucat ketika menatap langsung ke arah Roa. Tatapan lawannya kini, benar-benar mirip seekor Monster Purba yang siap menelannya.


“Bagaimana mungkin.. Bagaimana seorang manusia memiliki Aura seperti ini..” Monster Kabut benar-benar kacau, ketika merasakan aura dari Roa.


Sanda memandang ke arah Roa dengan enggan. Ia adalah teman dekat, setiap hari bertarung, makan, memberontak, menghancurkan, secara bersamaan.


Namun, kali ini mereka harus berpisah. Sanda mengepalkan tangannya dengan erat-erat. ‘Para orang-orang tua itu, suatu saat aku akan menemui mereka secara pribadi dan membunuhnya.’


Roa tidak tahu pemikiran Sanda, ia sekarang hanya ingin membantai musuh di depannya dan melesat menaiki Menara di sebelahnya.

__ADS_1


Roa mengepalkan tangannya, kemudian menghilang dari tempat dan muncul tepat di depan teman-temannya tersebut.


“Maaf.” Satu kata Roa membuat teman-temannya mengeluarkan air matanya. Mereka tahu, jika mereka tidak mati. Mereka akan menjadi alat dan membunuh pangkalan nantinya.


Boom!


Ketujuh orang itu dalam sekejap mati tanpa sisa, Roa memandang ke arah Monster Kabut. Detik berikutnya, ia menghilang dan muncul di atas Monster itu.


Roa mengepalkan tangannya dengan erat dan memukul tepat ke arah Monster Kabut itu.


Boom!


“Arrhhhh!” teriak Monster Kabut, ia benar-benar merasakan rasa sakit yang begitu kuat. Tubuhnya perlahan-lahan memadat dan membentuk sosok pria tua yang kurus.


Roa tidak kenal ampun, ia melayangkan pukulannya secara terus-menerus ke arah Pria Tua itu. Roa tahu bahwa Monster Kabut sebenarnya ialah sosok makhluk yang mirip seperti manusia di depannya.


Boom! Boom!


Beberapa menit kemudian, lubang besar terbentuk di tempat pertarungan Roa. Lubang itu sangat dalam, bahkan hanya terlihat gelap dari permukaan.


Roa yang berada di kedalaman lubang, menatap ke arah cahaya yang bersinar tepat di bawahnya. Roa tahu cahaya apa itu, ia mengangkat pria tua yang benar-benar tak berwujud itu.


“Lahar di sana menantimu.” Tepat, cahaya itu ialah lahar yang berada di bawah tanah. Sumber lahar itu dekat, yang menandakan bahwa di dekat Roa ialah sebuah Gunung yang aktif.


Boom!


Pria Tua itu meluncur dengan kecepatan tinggi, lahar yang bertabrakan dengan Pria Tua itu, meletus naik ke atas menutupi seluruh tubuh dari Pria Tua tersebut.


Roa memandang dengan acuh tak acuh, kemudian ia ingin naik ke atas, namun tertahan ketika melihat ada buku misterius berada di ujung lubang yang ia buat.


“Buku? Tapi kenapa berada di sini?” Roa memiringkan kepalanya dan mendekat ke arah buku tersebut. Ia mengambil dan membuka buku itu.


“Jenis Kemampuan Kuno..” Roa melebarkan matanya ketika melihat judul konten dari buku tersebut. Ia menahan untuk membacanya terlebih dahulu.


Roa menyimpannya, dan akan membacanya ketika berada di menara nantinya, untuk menghilangkan rasa bosan di sana nanti.


***


Sanda yang berada di permukaan, memandang ke arah lubang besar yang dibuat oleh Roa. Ia kemudian memandang ke arah langit, di mana Helikopter telah tiba di tempat sebelumnya.


Sanda memandang ke lubang dan melihat sosok keluar dari lubang hitam itu. Sanda mengenali sosok itu dan ia berkata, “Selamat.”


Sosok itu ialah Roa, ia memandang ke arah Sanda dengan senyum khasnya, namun di matanya terdapat jejak kesedihan yang tidak bisa diungkapkan.


“Terima kasih..” balas Roa, kemudian mendarat tepat di dekat Sanda. Angin menerpa keduanya dan Roa berjalan menuju ke arah Menara.

__ADS_1


“Sanda, laporkan saja seperti yang kamu lihat. Biarkan para orang tua itu senang, kemudian gulingkan secara langsung nantinya.” Ucap Roa sambil melambaikan tangannya.


Sanda memandang ke arah perginya Roa, ia hanya bisa tersenyum tipis ketika melihat punggung Roa yang perlahan-lahan mulai menghilang.


Roa yang berada di kejauhan, dan Sanda memandang ke arah perginya Roa. Keduanya saling berkata satu sama lain.


“Sampai jumpa lagi, kawan.”


Flashback Berakhir.


***


Di ruang monitor, Rock dan Emma terdiam. Mereka tidak menyangka seorang legenda akan dihadapkan kepada keputusan membunuh rekannya atau tidak.


Keduanya hanya bisa berkata sulit.. bagaimanapun juga, rekan ialah kawan seperjuangan dan tentu sangatlah akrab. Pilihan membunuh mereka, tentu sangatlah berat.


Rock menghela nafas panjang ketika mendengar cerita tersebut. Ia benar-benar tidak menyangka, bahwa seorang legenda mengalami pengalaman yang begitu dalam.


“Yah, selepas itu aku membaca buku itu. Lalu, di antara kemampuan kuno, ada yang namanya Manipulasi Otot.” Ucap Roa, membuat Sanda, Rock, dan Emma melebarkan matanya.


“Awalnya aku tertarik dan mencoba untuk mempelajarinya, namun kemampuan itu bukan sembarangan. Salah sedikit, otot lainnya akan putus dan tidak bisa digunakan kembali.”


“Kemampuan yang begitu mengerikan, bukan. Akan tetapi, kemampuan itu sangatlah bagus.” Jelas Roa.


Sanda jelas tahu manfaat dari Manipulasi Otot, namun ia tidak menyangka efek samping menggunakan Manipulasi Otot sangatlah kejam.


“Tapi, Bocah Ryu itu.. sama sekali tidak menerima efek. Kemungkinan besar, ia sudah menguasai sepenuhnya. Bakatnya benar-benar mengerikan.” Kata Roa sambil tersenyum tipis.


***


Dua puluh menit berlalu.


Arena kini sudah diperbaiki sepenuhnya, Robot yang menjadi wasit memandang dan memindai Arena kembali.


“Perbaikan telah selesai..”


“Pertandingan Final, siap dilaksanakan..”


To be Continued.


Silakan Like, Comment, Share,, Vote, dan Hadiahnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2