
Silakan Dibaca.
Menara 100 Tingkat.
Roa, Sanda, dan delapan orang bersiap untuk turun ke tanah. Sementara Pilot, tersenyum ke arah mereka dan berkata dengan lugas.
“Semoga berhasil, Teman.” Ucap Pilot sambil mengayunkan kepalan tangannya.
“Ya, Teman.” Balas Roa sambil membalas kepalan tangan Pilot itu.
Kemudian, Roa melompat terjun bebas menuju ke tanah. Ekspresinya sangatlah penuh akan semangat tinggi.
Sanda dan kedelapan lainnya berpamitan dengan Pilot dan Co-pilot, kemudian melompat terjun ke bawah dengan santai.
“Menurutmu, apakah mereka baik-baik saja, Kapten?” tanya Co-pilot, entah kenapa ia terlihat khawatir terhadap kesepuluh orang itu.
“Hahh, kita hanya mengantarkan saja mereka. Temanku Roa itu, adalah seorang yang sangat ceroboh dan keras kepala. Jika, ia sudah memutuskan untuk pergi, maka pergilah dirinya.” Kata Pilot kepada Co-pilot.
Co-pilot tertegun, ia hanya mengangguk dalam diam. Kemudian, Helikopter pergi kembali menuju ke tempat asalnya.
***
Roa dan sembilan lainnya tiba di tanah, mereka memandang ke arah Alam sekitar. Di mana, semua pohon kering dan berwarna hitam dan daun kering berserakan di tanah.
“Jangan lupa memakai maske--, oh kalian sudah memakai ternyata.” Kata Roa sambil memasang masker dan berhenti sebentar ketika melihat para pasukannya sudah memakai masker.
“John, apakah kau menemukan sesuatu dengan udara ini?” tanya Sanda, ia mengabaikan Roa dan menatap ke arah orang yang memiliki tubuh yang kekar.
“Udara di sini sangatlah gelap. Aku sama sekali tidak bisa mengidentifikasi udara ini.” Jawab John sambil mengerutkan keningnya.
“Oke, John. Hentikan kemampuanmu. Lerry dan Harry, apakah kalian menemukan sesuatu?” tanya Sanda, kepada dua orang laki-laki kembar.
“Sebenarnya, kami menemukan hal aneh tepat di sana.” Jawab Harry sambil menunjuk ke arah sisi kanannya.
Roa dan Sanda memandang ke arah sisi yang ditunjuk oleh Harry. Roa mengerutkan keningnya, ketika merasakan ada sesuatu yang aneh di sana.
“Ya, aku merasakan keanehan di sana.” Kata Roa dengan serius. Ia entah kenapa merasa, tempat di depannya sangat misterius sekarang.
“Menara ada di sana juga. Bagaimana menurut kalian?” tanya Sanda kepada semua orang. Ia menjadi waspada, ketika melihat Roa yang serius.
Sanda mengetahui bahwa ketika Roa serius, maka ada sesuatu yang benar-benar terjadi di depannya itu.
“Mari kita pergi ke sana.” Ucap Roa, berjalan terlebih dahulu menuju tempat itu. Sementara, Sanda dan kedelapan orang lainnya, mengikuti dengan penuh kewaspadaan.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di Menara 100 Tingkat. Mereka seketika terkejut, melihat betapa suramnya tempat tersebut.
“Mengerikan.. suasana di sini benar-benar sepi.” Ucap Lerry mengamati sekitar lokasi, ia sedikit bergidik ketika melihat sekitar.
__ADS_1
“Tenang, ada Ketua Roa dan Wakil Sanda.” Perempuan dalam tim menenangkan Lerry, sambil tersenyum.
“Kamu benar, Rain. Ada Ketua dan Wakil, jadi aman saja.” Lerry mengangguk setuju dengan perempuan yang bernama Rain.
Roa dan Sanda sendiri tersenyum tak berdaya, namun melihat delapan orang itu, membuat keduanya tak bisa mengungkapkan isi hati mereka.
Roa memahami dirinya sendiri, ia sebenarnya ingin bergerak sendiri. Namun, para anggota miliknya mengikuti, hal itu membuat dirinya harus menanggung beban berat.
“Oke, cukup bercandanya. Kali ini sedikit berbeda dari biasanya, namun apapun itu.. kita bisa mengatasinya.” Ucap Roa dengan serius.
Sanda dan kedelapan orang lainnya mengangguk, setuju dengan perkataan Roa. Mereka harus waspada, meski ada Roa.
Mereka bersepuluh berjalan ke arah Menara, namun fokus Lerry dan Harry ialah sebuah lapangan yang luas dan kosong di samping Menara.
“Lerry, kau melihat apa?” tanya Sanda ketika melihat Lerry yang begitu fokus dengan lapangan di dekat Menara.
“Wakil Kapten, lapangan itu. Benar-benar memberikan kesan penuh akan kegelapan.” Lerry menunjuk ke arah lapangan di sebelah menara.
Roa yang sudah mengalami hidup dan mati, seketika merasakan bahaya dalam sekejap dari lapangan itu. Ia merasakan, akan ada serangan dalam beberapa detik.
“Semuanya merunduk!” teriak Roa dengan keras. Sembilan orang terkejut, namun segera sadar dan merunduk.
Sring!
Terlihat siluet cahaya gelap melintas tepat di tempat mereka berdiri sebelumnya. Siluet itu mengenai berbagai pohon, di belakang mereka.
Boom!
Sembilan orang lainnya terkejut, ketika melihat adegan tersebut. Mereka sama sekali tidak menyangka akan ada serangan yang begitu kuat.
“Yah, musuh kita sudah muncul. Lapangan itu, sebenarnya Binatang yang telah bermutasi.” Tegas Roa, sambil melepaskan tasnya dan meretakkan jari-jarinya.
“Sanda, kau lindungi mereka. Biarkan aku menghadapi, Monster ini!” perintah Roa, Sanda hanya mengangguk, ia tahu bahwa kedelapan personal yang ia bawa akan menjadi masalah nantinya.
Roa melepaskan aura miliknya dan melesat dengan cepat menuju ke arah Monster yang terlihat mirip seperti Beruang.
Roa mengepalkan tangannya dan mengayunkan kepalan tangannya tepat ke arah perut dari Monster beruang itu, namun Monster itu mengayunkan pukulan tangannya yang sangat besar.
Boom!
Lapangan berubah menjadi berdebu. Ledakan terus-menerus terdengar dan debu hitam bertebaran di mana-mana.
Beberapa menit kemudian, Roa membunuh monster itu dengan cepat. Ia benar-benar tidak menyangka, bahwa Monster Beruang benar-benar sangat kuat.
“Monster ini benar-benar menyusahkan. Juga..” Tatapan Roa beralih ke sebuah pondok kecil yang berada di seberang lapangan.
Roa penasaran, ia kemudian berjalan mendekat ke arah pondok itu. Sementara Sanda dan kedelapan orang lainnya menatap Roa sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Roa, mau ke mana kau?” tanya Sanda dengan teriakan.
Roa tidak menjawab, melainkan mengangkat tangannya dan menyuruh mereka semua untuk mendekat ke arahnya.
Sanda dan kedelapan orang lainnya saling memandang dan mengangguk bersama. Mereka berjalan bersama menuju ke arah Roa.
Tak butuh waktu lama, Sanda dan kedelapan orang lainnya menatap ke arah pondok tepat di depan Roa.
“Ayo kita masuk.” Ajak Roa, ia membuka pondok itu dan melihat ada lemari dan sosok tulang manusia terduduk di kursi dengan kepala terbaring di meja.
“Riana, segera identifikasi tengkorak manusia itu!” perintah Roa, perempuan yang bernama Riana segera maju dan melihat ada tengkorak tengah duduk, ia tertegun sebelum mengangguk.
Riana mendekati tengkorak itu dan mulai menggunakan kemampuan miliknya, menganalisa kematian tengkorak itu dan berbagai hal lainnya.
Roa sendiri menatap ke arah rak buku dan mulai mengambil satu dan membacanya. Sanda dan ketujuh orang lainnya juga mulai membaca buku yang berada di sana.
Buku-buku itu benar-benar sangat kuno, kertas yang dipakai sudah menguning dan tulisannya sedikit kabur, namun masih bisa dibaca.
{Pagi Hari, Kami mulai melakukan identifikasi terkait dengan Menara 100 Tingkat.}
{Sungguh mengerikan..}
{Jangan pernah ada orang datang ke sini!}
{Menara ini sebenarnya...}
Roa mengerutkan keningnya ketika melihat berbagai tulisan sama sekali tidak bisa dibaca. Ia ingin membaca kembali, namun sebuah suara teriakan kencang terdengar di dekatnya.
“Ahhhh!” Roa, Sanda dan ketujuh orang lainnya tersentak dan melihat Riana yang mengejang dan terangkat secara tiba-tiba.
Roa melebarkan matanya dan melesat ke arah Riana, dan menendang sesuatu yang berada di depan Riana.
Boom!
Riana terjatuh ke tanah, namun ditangkap oleh John. Ia dengan cepat melakukan pertolongan pertama kepada Riana.
“Hanya pingsan.” Kata John, membuat mereka mengangguk paham. Namun, Roa memandang ke arah sosok yang ia tendang sebelumnya.
“Kahahahaha, Lezat.. sangat Lezat.. Manusia seperti kalian, benar-benar sangat Lezat.. Kahahahaha.”
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1