Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 153 - Fluktuasi Gelombang


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Sandar Foran...


Booom!!


Rio dan Siana tengah menekan kekuatan Obor. Namun, keduanya terkejut ketika melihat Obor yang berubah menjadi lebih agresif dibandingkan sebelumnya.


"Ang!!!" Obor meraung dengan marah. Dia jatuh di area gurun. Berikutnya, panas yang sangat menyengat mulai memasuki tubuhnya dalam sekejap.


Ini adalah sumber kekuatan Obor sendiri. Berikutnya, dengan hentakan kedua tangannya. Pasir yang berada di bawah, seketika naik membentuk ombak yang sangat besar.


"Monster ini benar-benar merepotkan!"


Rio benar-benar tidak senang ketika melihat serangan luas Obor. Dia maju satu langkah, di depan Siana. Selanjutnya jari-jari tangan kanannya bergerak sebentar.


Suara tulang terus terdengar, sampai akhirnya Rio mengepalkan tangannya dengan erat. Aura putih dengan sekejap melapisinya.


Siana yang berada di sebelah Rio, hanya bisa menghela nafas tak berdaya. Dia segera mundur dan memberikan ruang untuk Rio berperang dengan Obor tersebut.


Rio memandang ombak besar tersebut, dia mengayunkan pukulannya ke depan dengan keras. Berikutnya, gelombang kejut yang kuat menyebar dan mengenai ombak tersebut.


Booom!


Ombak seketika pecah, akan tetapi Obor merentangkan kedua tangannya dan pasir yang tak terhitung jumlahnya naik ke atas langit.


Pasir mulai membentuk bola besar dan satu persatu mulai bergerak cepat ke arah Rio berada.


Gerakan bola pasir menghasilkan ekor api. Rio yang melihat bola pasir tersebut, seketika matanya memancarkan cahaya dingin.


Jari-jarinya terbuka lebar, dia mengarahkan telapak tangannya ke depan. Sinar biru keputihan mulai terbentuk di tangannya, perlahan-lahan sinar menjadi tombak.


Suara aliran petir terus terdengar di tombak tersebut. Rio melemparkan ke udara, kemudian kedua tangannya terentang ke samping.


"Ganda!"


Tombak petir seketika bermunculan satu persatu. Kemudian, Rio melesatkan seluruh tombak itu menuju ke arah bola pasir berada.


Boom! Boom! Boom!


Ledakan keras terdengar di langit, hal ini memicu awan hitam yang menutupi sinar matahari. Area gurun seketika menjadi gelap tanda-tanda akan turun hujan lebat.


Obor sama sekali tidak peduli, dia melambaikan tangannya dan panas menyengat menghancurkan awan hitam tersebut.


Penyerapan sinar matahari terus berlanjut dan dirinya menatap lekat ke arah Rio. Selanjutnya, dia menghilang dari tempat.

__ADS_1


Rio yang melihat gerakan Obor seketika mengerutkan keningnya dan tanda bahaya muncul di depan dirinya dalam sekejap. Hal ini membuat Rio segera mengayunkan pukulannya ke depan.


Booom!


Dua pukulan saling berbenturan, ledakan keras terdengar akibat benturan tersebut membuat pasir menyebar membentuk cekungan kawah yang luas.


Siana yang melihat benturan tersebut merasakan fluktuasi gelombang di sekitar. Hal ini membuat dia menjadi lebih serius karena fluktuasi tersebut berdampak kepada hancurnya pulau.


"Aku harus segera menemui yang lainnya," gumam Siana pada dirinya sendiri.


Siana segera melesat ke arah tempat yang lainnya berada, jika tidak segera keluar dari pulau. Kemungkinan besar yang terjadi ialah tenggelam bersama dengan pulau tersebut.


***


Ryu yang masih tertegun dengan apa yang dirinya dapatkan, seketika tersadar akibat fluktuasi gelombang tersebut.


Dengan cepat, Ryu berbalik memandang ke arah pertarungan Rio dan Obor. Dia benar-benar terkejut ketika merasakan fluktuasi gelombang itu.


"Fluktuasi gelombang yang sangat kuat, ini sangat bahaya!" Ryu segera memandang ke arah tiga istrinya dan berkata, "kita harus segera pergi dari sini!"


Risa, Yuna dan Alice masih tenggelam dalam rasa terkejut mereka. Bagaimana tidak, mereka bertiga merasakan fluktuasi gelombang tersebut dan tahu apa yang akan terjadi nantinya.


Ketiganya sadar kembali segera, ketika mendengar suara tegas dari suaminya tersebut. Mereka memandang ke arah Ryu dan mengangguk paham.


"Red, segera membesar! Riot mulai bermigrasi dari pulau!"


***


Ordolf dan Elli bertemu dengan Siana. Ketiganya sudah tahu fluktuasi gelombang tersebut. Mereka segera pergi menuju ke tempat Ryu dan yang lainnya berada.


Namun, sebelum mereka bergerak kembali. Red melintas dan turun ke bawah.


"Naik, Cepat!" Teriakan Ryu membuat ketiganya melompat ke atas, kemudian mendarat di punggung Red segera.


Evakuasi awal sudah dilakukan, tersisa para monster yang masih di Sandar Foran. Ryu memikirkan sebentar, lalu dia memandang ke arah Siana.


"Kak Siana, panggil Kakek dan segera berikan pulau! Aku ingin membuat para monster Sandar Foran bermigrasi ke tempatku itu berada!"


Siana yang mendengar pernyataan Ryu segera mengangguk, dia melakukan panggilan segera kepada Roa. Ide Ryu sangatlah tepat, biarkan seluruh monster berpindah. Namun, Siana sedikit merasakan kekhawatiran nantinya.


Panggilan segera terhubung, Siana sekarang tengah berbicara dengan ayah mertuanya.


***


Kembali ke pertarungan Rio dan Obor. Keduanya saling berbenturan dengan kuat, tingkat dan level mereka sama. Hal inilah yang mengakibatkan fluktuasi gelombang terus terjadi.

__ADS_1


Sebelumnya, Rio dapat mengalahkan Obor dengan sekali pukulan. Namun, monster Vortex sendiri dapat terus tumbuh dan kekuatannya selalu meningkat tanpa ada batas.


Vortex sendiri susah untuk dibunuh. Hal ini karena terdapat sesuatu yang rumit mencegah siapapun membunuhnya.


Keduanya mundur ke belakang, Rio memandang ke arah Obor. Dia sedikit terkejut karena dapat menyamai kekuatannya dalam waktu singkat.


"Aku tidak menyangka, monster yang dulu kulawan kini meningkat setara denganku." Rio berkata dengan penuh semangat.


Tangannya terkepal dan aura hitam kemerahan muncul melapisinya. Rio segera melesat kembali ke arah Obor, di saat dia tiba di depan Obor. Rio mengayunkan pukulannya dengan kuat.


Obor merespons, dia tidak bisa menghindar karena kecepatan Rio begitu cepat. Obor segera menyilangkan kedua tangannya untuk menahan serangan Rio.


Boom!


Obor terpental beberapa meter ke belakang, asap keluar dari lengan yang terpukul tersebut. Obor seketika memandang ke arah Rio dengan amarah.


"Angg!!" Obor melesat ke arah Rio, sementara Rio segera menggunakan kemampuan ruangnya.


Rio menghilang dari tempat, Obor tiba sambil melakukan tendangan ke arah Rio. Namun, sayangnya tendangan tersebut hanyalah menendang angin.


Rio segera muncul di atas Obor dan melayangkan pukulan ke arah kepalanya. Namun, Obor sudah menyadari akan hal itu, dia mengayunkan tangannya ke arah atas.


Boom!


Ledakan keras terjadi kembali, fluktuasi gelombang semakin menjadi kuat. Rio sedikit mundur ke belakang, sementara Obor terjatuh ke pasir.


Berikutnya, dengan tepukan kedua tangan Obor pasir yang berada di dekatnya mulai naik ke atas dengan gila.


Pasir membentuk busur lancip yang sangat tajam, Obor memandang ke arah Rio dan tangannya dengan cepat melambai ke atas.


Berbagai busur pasir melesat dengan cepat ke arah Rio.


Swif Swif Swif.


Rio yang melihat gerakan tersebut, segera terbang naik ke atas langit. Tiba di puncak dalam sekejap, Rio mengepalkan tangannya kembali.


Sinar cahaya dingin melintas di matanya. Aura hitam keemasan muncul di tangannya. Siluet singa yang perkasa muncul seketika.


"Pukulan Raja Singa!"


Rio mengayunkan tangannya ke bawah, proyektil Singa besar terlihat dan meraung dengan keras. Kecepatan serangan tersebut bagaikan cahaya.


Obor menyatukan kedua tangannya dan pasir naik menjadi satu. Kemudian pasir memerah, berubah menjadi matahari kecil.


Dua serangan saling bertemu satu sama lain. Berikutnya....

__ADS_1


Booom!


To be Continued.


__ADS_2