
Silakan Dibaca.
Pagi hari.
Sinar matahari menembus jendela kamar kediaman yang lumayan besar. Di dalam kamar itu terdapat satu ranjang yang di mana satu laki-laki muda dan satu wanita cantik tengah tertidur bersama.
Laki-laki sendiri sama sekali tidak terlihat kelelahan, sedangkan wanita cantik wajahnya sangat puas dengan getaran tubuh yang belum sepenuhnya berhenti.
Perlahan-lahan mata laki-laki terbuka dan berkedip beberapa kali sambil mencoba untuk bangun dari tidurnya. Dia duduk dan meregangkan kedua tangannya ke atas, sebelum memeriksa keadaan sekitarnya.
Ryu memandang sekilas dan akhirnya tahu bahwa kejadian semalam adalah kenyataan. Dia hanya tersenyum kecut sambil mengingat betapa liarnya wanita yang berada di sebelahnya itu.
Ryu menenangkan dirinya, lalu perlahan-lahan mulai turun dari ranjang Siana. Namun, gerakan tersebut menimbulkan getaran yang berhasil membuat Siana terbangun.
“Ryu,” gumam Siana sambil membuka perlahan-lahan matanya. Ingatan tentang permainan malam, mulai terlintas di pikirannya.
Siana sama sekali tidak malu, melainkan terkejut dengan permainan itu. Dia ingin turun dari ranjang, akan tetapi tubuhnya tidak mendukung gerakan tersebut.
Ryu yang merasakan Siana telah bangun, dengan cepat berbalik dan menatap ke arahnya. Akan tetapi, apa yang dilihatnya ialah sosok Wanita tanpa busana apapun.
“Auh.” Siana merasakan rasa sakit di bagian bawah, selama ini belum pernah ada yang bermain seperti Ryu. Bahkan suaminya sendiri tidak pernah bisa melakukan permainan senikmat Ryu.
“Jangan banyak bergerak terlebih dahulu.” Ryu dengan cepat datang di sebelah Siana, lalu dia membantu wanita itu untuk duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
“Kamu terlalu buas kemarin,” keluh Siana sambil tersenyum tipis ke arah Ryu.
“Siapa suruh kamu menggodaku!” Ryu menghela nafas tak berdaya.
Siana tertawa kecil melihat tampilan Ryu tak berdaya. Sebenarnya, Siana menyukai keterampilan bermain kemarin. Kapan lagi dirinya bisa berteriak dengan bebas.
Semakin Siana mengingat, wajahnya memerah kembali dan ingin melakukan permainan lagi. Namun, dirinya tahan keinginan tersebut karena tubuhnya yang masih merasakan sakit.
“Aku akan mengambil makanan terlebih dahulu, jangan banyak bergerak atau rasa sakitnya semakin kuat nanti.” Ryu berkata sambil bangkit dari duduknya.
Siana mengangguk dan menunggu Ryu membawakan makanan kepadanya. Sambil menunggu, Siana memikirkan bagaimana menjelaskan kejadian semalam kepada tiga istri Ryu nantinya.
Tak butuh waktu lama, Ryu kembali ke dalam kamar Siana. Namun, kali ini dia membawa tiga istrinya untuk merawat Siana yang tengah duduk di ranjang.
__ADS_1
Risa, Yuna, dan Alice melihat kondisi Siana, seketika mengerutkan keningnya. Namun, mereka paham bahwa siapa yang telah membuat kondisi kakak ipar mereka seperti itu.
“Sayang, lebih baik kamu di luar dan latih Ivan dan Tea! Biar kami saja yang merawat Kak Siana!” perintah Risa dengan cepat, dia juga mengambil makanan yang berada di nampan.
Ryu terdiam sebentar, namun dirinya segera mengangguk dan menyerahkan Siana kepada ketiga istrinya. Ryu tahu bahwa mereka ingin mengobrol terkait perempuan.
Ryu berbalik dan pergi dari tempat Siana berada. Sementara Risa dan dua perempuan lainnya mulai masuk ke dalam kamar Siana.
Hal ini membuat Siana yang tengah duduk, mengalihkan perhatian ke arah pintu. Awalnya dia terkejut, namun segera tersenyum kecut melihat ketiga istri Ryu datang ke arahnya.
“Kak Siana, ini kubawakan bubur.” Risa berkata sambil menaruh bubur di meja kecil dekat dengan Siana berada. Selepas itu, dia duduk di dekatnya.
Yuna dan Alice sudah duduk terlebih dahulu, mereka mengerumuni Siana dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Di sisi Ryu, dia kembali ke kamarnya untuk mandi membersihkan tubuhnya yang lengket akibat keringat saat malam hari.
Tak butuh waktu lama, Ryu sudah selesai mandi dan turun ke bawah mengambil roti sambil berjalan menuju ke halaman rumah. Dia ingin melihat pelatihan dua prajurit magang tersebut.
Tiba di halaman, Ryu menatap ke arah Ivan dan Tea yang tengah melakukan pemanasan. Berlari memutari halaman selama sepuluh kali, selepas itu mengatur nafas sebelum memulai pelatihan lainnya.
Ryu mengangguk setuju dengan perkataan dirinya sendiri. Dia sendiri tidak ingin kalah, menghabiskan satu plastik roti lapis, lalu mulai melakukan pemanasan.
Ivan dan Tea memandang ke arah instruktur mereka berdua. Melihat Ryu yang melakukan pemanasan lebih kuat dari diri mereka masing-masing, membuat keduanya terbakar api semangat.
“Kita tidak bisa kalah dari Instruktur Ryu!” tegas Ivan, sedangkan Tea mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan rekannya tersebut.
Keduanya bangkit dan mulai melakukan pemanasan kembali. Kali ini mereka mencoba menaikkan putaran mereka menjadi lima belas putaran.
Ryu yang telah mengelilingi halaman seratus kali, mulai memandang ke arah Ivan dan Tea dengan kerutan di dahinya. Namun, Ryu segera menggelengkan kepalanya dan mulai memasuki ruang pelatihan.
Tiba di dalam ruang pelatihan, Ryu mengedarkan pandangannya. Tatapannya terus berkeliaran melihat satu persatu hal baru yang terpasang di dalam ruang pelatihan tersebut.
“Tidak terlalu berbeda dari sebelumnya, hanya saja ada dua tombol yang berbeda.” Ryu mendekat dan melihat tombol tersebut dengan teliti. Tidak ada masalah terhadap dua tombol itu, hanya saja nama dari tombol sangatlah mencolok.
Tombol merah memiliki nama yaitu pemilihan lokasi, sementara tombol biru memiliki nama yaitu pengaturan monster.
Dua tombol tersebut sangatlah aneh menurut Ryu, namun semakin dirinya menjelajah semakin yakin bahwa bukan hanya dua tombol yang berbeda melainkan fungsi ruang sebelumnya juga berubah.
__ADS_1
Gravitasi sudah dinaikkan menjadi lebih dari sepuluh ribu kali, hal ini membuat Ryu terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Gravitasi akan ditingkatkan setajam itu.
Kemudian, pasukan pelatihan kini berubah menjadi pasukan khusus. Di mana setiap prajurit memiliki kemampuan yang kuat dan berbeda. Namun, kemampuan itu sebatas data dari pemikiran pemilik ruangan.
Semua fasilitas baru tersebut benar-benar membuka mata Ryu kembali. Lengkap, namun ketika melihat bahwa itu hanyalah bangunan latihan level empat membuat dirinya terdiam.
Ruang pelatihan level empat selengkap itu, bagaimana dengan level lima, enam, dan seterusnya. Inilah yang menjadi pemikiran Ryu kali ini.
"Sepertinya saat mendapatkan pulau nanti, lebih baik membelikan setiap satu rumah dengan ruang pelatihan yang terbaik." Ryu mengangguk-angguk dengan pemilihannya tersebut, dia semakin tidak sabar ingin melihat pulau yang dimilikinya.
"Lupakan, lebih baik kali ini meningkatkan kekuatan sebelum memasuki wilayah utara nantinya," kata Ryu sambil membuat ruangan berada di tekanan gravitasi seratus kali.
***
Daratan jauh dari wilayah Red Stone.
Terlihat debu pasir berterbangan dengan bebas, tanah yang begitu tandus dan keretakan berada di mana-mana.
Sebuah tanda peringatan tua terpasang di tempat tersebut. Namun, perlahan-lahan tanda tersebut patah karena lapuk dan terbang pergi mengikuti arah angin.
Di ujung pasir terdapat dinding tanah yang menjulang tinggi, tepat di bawahnya terdapat gua yang di dalamnya sangatlah gelap.
Cahaya obor biru menyala di kedalaman gua tersebut, tidak hanya satu cahaya. Melainkan ada sembilan cahaya obor tengah mengelilingi sosok makhluk yang besar di tengah.
Makhluk itu terlihat tersegel dengan empat pilar mengelilingi dirinya. Namun, kali ini segel tersebut perlahan-lahan mulai melemah.
Getaran kuat terjadi begitu cepat, kemudian perlahan-lahan makhluk tersebut membuka matanya lebar-lebar.
"Akhirnya aku kembali..."
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1