
Silakan Dibaca.
Jauh dari reruntuhan kuno, Elli membawa Mana dan Hana menuju ke wilayah rerumputan. Tempat tersebut berada tepat di perbatasan reruntuhan dengan Sandar Foran bagian hutan.
Tiba di lokasi, Elli berbalik memandang ke arah Mana dan Hana. Namun, saat dirinya menatap ke belakang. Elli sedikit terkejut melihat Mana yang sangat agresif, melesat ke depan tanpa perlindungan apa pun.
Hana sendiri yang berhenti juga terpana dengan Mana yang meledak tersebut. Hana hanya bisa menepuk keningnya melihat tingkah temannya tersebut.
‘Mana tetaplah Mana, dia sangatlah impulsif dan mudah sekali marah. Sepertinya, nanti aku harus melapor ke pemimpin terkait Mana ini. Jika tidak segera diatasi, hal ini akan berdampak buruk bagi organisasi.’ Hana berpikir dengan cepat.
Dia menggelengkan kepalanya dan melihat bagaimana Elli mengatasi Mana yang sudah dilanda emosi. Jarang ada yang dapat mengatasinya, kecuali pemimpin.
Mana tiba di depan Elli, dia mengayunkan kakinya dengan cara berputar dan mengincar leher Elli. Teknik tendangan sabit tersebut, sangat cepat. Namun, Elli sudah menyadarinya terlebih dahulu.
Bum!
Elli menahan tendangan tersebut dengan pergelangan tangannya. Kemudian, Elli membalas dengan tendangan ringan ke arah perut Mana.
Melihat tendangan Elli, Mana terkejut karena tendangan tersebut sangatlah cepat. Bahkan kecepatannya melebihi dari tendangan yang dia luncurkan sebelumnya.
Boom!
Mana terlempar ke belakang cukup keras, Hana menghampiri dan menahan Mana agar dapat stabil dalam berdiri.
“Terima kasih, Hana.” Mana berkata dengan ringan. Meski begitu, Hana terkejut dalam hatinya. Seorang Mana bisa berterima kasih kepadanya.
“Eh, sama-sama. Juga, jangan impulsif Mana. Kita akan mengatasinya bersama-sama!” Hana berkata dengan wajah tegas, hal ini membuat Mana tertegun.
Namun, Mana segera sadar dan senyum kecil terbentuk di wajahnya. Kemudian, dia mengangguk tanda bahwa dirinya mengerti dan mengikuti pengaturan Hana.
Hana sedikit terkejut, akan tetapi dia menekan rasa terkejutnya tersebut. Tatapannya segera beralih ke arah Elli dan dia mengamati serangan sebelumnya.
__ADS_1
Hana dapat mengidentifikasi bahwa Elli memiliki kecepatan yang tinggi. Bahkan mungkin itu adalah kekuatan yang Elli miliki tersebut.
Mana melirik Hana sebentar, kemudian pandangannya beralih ke arah Elli. Tatapannya sedikit serius, semenjak awal dia tidak melihat wajah lawannya sama sekali. Hal ini karena dia sudah dilanda emosi dan tidak peduli wajah apa yang dimiliki lawannya.
Angin berembus ringan, suara rerumputan terdengar jelas. Mana yang tengah mengamati Elli, seketika membeku. Tubuhnya gemetar karena orang yang ditatap tersebut sangatlah tidak asing baginya. Bagaimana bisa Elli melupakan momen berarti di masa lalunya yang kelam.
Hana yang berada di sebelah Mana, merasakan nafas dan tubuh gemetar Mana tersebut. Hal ini mengundang rasa penasaran Hana, sehingga dia bertanya dengan penuh rasa keingintahuan.
“Ada apa denganmu, Mana?”
Suara Hana yang begitu halus, membuat Mana seketika sadar dan linglung sesaat. Tatapan yang tertuju ke arah Elli, kini berbalik memandang Hana.
Hana terkejut melihat kondisi Mana sekarang. Dalam hidupnya baru kali ini melihat Mana menangis, kecuali saat masa lalu dulu. Hana menaikkan alisnya penuh rasa penasaran, mengapa Mana menangis.
“Hana, apakah kamu melupakan waktu itu?” tanya Mana dengan lirih dan suara yang serak.
Hana yang mendengar pertanyaan tersebut, mulai mengerutkan keningnya. Selama ini apa yang telah dirinya lupakan, sama sekali tidak tahu. Namun, apa yang paling ingin dia lupakan ialah kenangan masa lalunya yang begitu kejam dan buruk untuk diingat kembali.
“Kakak El ...!” Mana berkata dengan nada pelan. Namun, Hana mendengarnya sangat jelas. Pupil matanya seketika melebar dan dia sangatlah ingat dengan nama El. Seorang kakak perempuan yang telah menyelamatkan dirinya dan Mana sebelumnya.
Kakak perempuan itu sangatlah berkesan dan membekas di dalam hatinya. Jika ada pilihan antara mengikuti organisasi dan pergi bersama dengan kakak perempuan itu. Hana dan Mana akan memilih kakak perempuan tersebut.
Elli yang berada di kejauhan sebenarnya sudah mengenal identitas keduanya. Hal inilah mengapa dia memukul lembut perut Mana sebelumnya.
Melihat mental Hana dan Mana yang lamban, Elli sedikit mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak ingin keduanya mengenali dirinya, akan tetapi hal itu sangatlah mustahil.
“Ayo majulah, mengapa kalian berdiam diri di tempat?” tanya Elli memandang ke arah keduanya sambil tersenyum lembut. Namun karena tindakannya tersebut, Mana dan Hana mengingat sosoknya itu.
“Kakak El ...!” Hana seketika ingat dan suara serta senyuman orang yang paling dirinya nanti tersebut.
Mana sudah menangis, dirinya sama sekali tidak berdaya sekarang. Amarahnya yang meluap menghilang seketika diganti dengan pecahnya tangis histeris. Dia benar-benar merasa bersalah sekarang karena menyerang penyelamat serta sosok kakak perempuan yang paling berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
Elli mendengar sebutan Hana, hanya bisa menghela nafas tak berdaya. Dia ingin tidak diketahui, akan tetapi takdir sama sekali tidak mendukungnya.
Elli memandang ke depan, kemudian senyum lembut terpatri di wajahnya. Berikutnya, dia membalas panggilan Hana tersebut. “Ya.”
Singkat, akan tetapi berarti bagi Hana dan Mana. Keduanya melebarkan mata, air mata penuh akan rasa rindu mulai jatuh membasahi pipi mereka masing-masing. Keduanya segera melesat ke arah Elli dan segera memeluknya dengan erat.
Elli menerima pelukan tersebut, dia mengelus punggung keduanya dengan lembut. Layaknya seorang saudara yang menenangkan pikiran dari adik-adiknya tersebut.
Ordolf yang tiba di tempat, seketika membeku ketika melihat Elli yang berpelukan dengan lawannya. Namun, melihat kedua perempuan menangis di pelukan Elli, Ordolf tahu bahwa kedua perempuan tersebut sangatlah mengenal istrinya itu.
“Apakah ini, alasan mengapa dirinya ingin ikut dalam misi kali ini.” Ordolf bergumam dengan pelan. Dia akhirnya paham, mengapa istrinya yang tidak pernah mengambil misi, mau ikut melakukan misi dengannya kembali.
Elli, Mana dan Hana sudah saling melepaskan pelukan mereka masing-masing. Elli menepuk bahu keduanya dan berkata, “Sepertinya kalian berdua baik-baik saja. Selepas aku pergi waktu itu.”
Mana dan Hana menggelengkan kepalanya, keduanya mengusap air matanya, bertujuan untuk menghilangkan air mata tersebut sebelum berbicara dengan orang yang selalu keduanya nantikan.
“Kami tidak baik-baik saja, Kak. Selepas kamu pergi, kami di bawa oleh bos dan mulai bekerja di bawahnya. Meski hidup kami baik, akan tetapi hati kami sangatlah bersalah.”
“Namun, lambat laun kami sudah terbiasa dalam siksaan tersebut. Jika kami tidak kakak selamatkan sebelumnya, mungkin kami sudah meninggal sejak dulu.”
Hana dan Mana mengungkapkan perasaannya sekarang. Seseorang yang sangat ingin mereka ikuti, akhirnya ada di depan mata.
Elli sendiri tersenyum ringan, kemudian dia menatap ke arah Ordolf yang tengah mengintip. Namun, Elli sama sekali mengabaikannya dan kembali menatap ke arah dua perempuan di depannya.
“Jadi, apakah kita akan bertarung?” tanya Elli, akan tetapi Mana dan Hana berteriak dengan keras.
“Tidak!” keduanya memandang ke arah Elli, kemudian berlutut di tanah. Elli mengikutinya, dia tahu bahwa keduanya ingin bercerita bersamanya.
Elli sama sekali tidak keberatan karena dirinya juga sedang menunggu seseorang. Jadi, mendengarkan cerita keduanya dapat mengatasi rasa bosan menunggu.
To be Continued.
__ADS_1