Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 99 - Seni


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Hutan pulau.


Melihat sosok ular kebesaran, para rombongan terkejut. Sanda sendiri segera tenang dan berkata. “Ular ini menggunakan kekuatan ekspansi.”


Rock dan Emma segera sadar, sementara Rio dan Clara sejak awal masih tenang. Mereka juga segera menyadari saat awal teriakan Rock.


Hal yang membuat Rio dan Clara terkejut sekejap, ialah keberadaan Ular Kebesaran di Hutan Pulau. Bagaimanapun juga, para penjelajah sebelumnya sama sekali tidak menemukan Ular Kebesaran tersebut.


“Walikota, Rock, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di Gurun Utara. Ular Kebesaran tidak seharusnya berada di sini.” Ucap Rio dengan serius.


Sanda dan Rock segera sadar, mereka tahu keseriusan masalah Ular Kebesaran. Dibandingkan dengan Dou Monster sebelumnya, kali ini masalah lebih serius.


“Apa yang kamu katakan sepertinya benar. Ular Kebesaran tidak mungkin untuk tinggal di sini, kecuali ada sesuatu yang telah terjadi di Utara.” Jelas Sanda, sambil memandang ke arah Ular Kebesaran.


“Apakah kita perlu menghentikan Turnamen ini? Seharusnya tidak. Ryu sudah mengalahkan beberapa Monster spesial dan Beruang Perkasa.” Kata Sanda.


“Itu saja sudah cukup. Kita perlu turun untuk mengatasi Ular Kebesaran ini.” Lanjut Sanda, kemudian ia melompat dari dinding menuju ke Ular Kebesaran tersebut.


“Sudah diputuskan, Rock kamu tetap di sini. Aku akan pergi, ini bukan sesuatu yang bisa kamu tangani.” Ucap Rio, kemudian ia melompat turun diikuti oleh Siana.


Rock sendiri memiliki wajah gelap, namun segera menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah prajurit yang sedang menatap Ular Kebesaran.


“Prajurit, instruksikan beberapa pasukan untuk berjaga berkeliling di Dinding. Aku takut, ini bukan masalah biasa lagi.” Perintah Rock, Prajurit tersebut mengangguk.


Kemudian, prajurit itu berbalik dan bergegas pergi ke pondok untuk melakukan panggilan kepada pusat untuk mengirim berbagai pasukan.


Risa dan Yuna sedikit cemas, namun ia melihat ke arah monitor dan tertegun ketika melihat Ryu yang tersenyum melihat ke arah Ular Kebesaran.


Keduanya menghela nafas tak berdaya ketika melihat tampilan Ryu tersebut. Mereka tahu bahwa Ryu akan melawan Ular Kebesaran tersebut.


***


Sisi Ryu, ia tidak tahu akan pikiran istrinya. Fokus dirinya sekarang adalah monster yang menutupi cahaya di depannya tersebut.


“Jadi ini tampilan Ular Kebesaran.” Kata Ryu pelan, kemudian ia mengepalkan tangannya dan otot-otot miliknya mulai berkontraksi dengan cepat.


Ryu menambahkan otot-otot miliknya menjadi 10 kali. Kemudian, ia melayangkan serangannya ke arah perut dari Ular Kebesaran.


Boom!


Ledakan serangan teredam dalam sekejap, pertahanan Ular Kebesaran benar-benar kuat. Ryu kagum dengan pertahanan tersebut, namun ia segera menyeringai kali ini.


Ular Kebesaran yang merasakan adanya pukulan di perutnya, seketika berhenti dan mengangkat kepalanya untuk melihat ke belakang.


Desis~

__ADS_1


Ular Kebesaran menyipitkan matanya ketika melihat seorang manusia kekar tengah keluar dari depan. Manusia itu memandang dirinya dengan liar, seolah-olah dirinya adalah mangsa.


Ular Kebesaran menjadi dingin, ia segera mengubah arah menuju ke manusia itu. Kepalanya yang tegak, sorot mata yang tajam benar-benar membuatnya seolah-olah monster yang tidak bisa di provokasi.


Desis~


Ryu melihat tampilan Ular Kebesaran, ia mengikuti arah kepala Ular tersebut. Dirinya terus mengamati, sampai akhirnya ia melihat Ular melesat ke arahnya dengan cepat.


Ryu menguatkan kakinya, ia menambahkan dua belas otot kepada kakinya dan gerakan seluruh otot dalam kaki ia percepat.


Kaki Ryu terlihat memerah, kemudian ia melihat Ular Kebesaran sudah siap untuk menerkam dirinya dengan cepat dan menelannya hidup-hidup.


Namun, Ryu melompat dengan keras. Ia sekarang berada di atas Ular Kebesaran. Kakinya lurus ke depan, kemudian ia melakukan putaran di udara.


Perlahan-lahan putaran semakin cepat, gesekan kaki dengan udara membuat api membara. Sehingga putaran tersebut memiliki ujung berwarna merah terang.


Sanda, Rio, dan Siana seketika berhenti ketika melihat sesuatu yang cerah tepat di depan mata mereka. Ketiganya menyusutkan mata dan melihat Ryu yang bergerak menyerang Ular Kebesaran.


“Bocah ini, benar-benar memiliki keberanian yang tinggi.” Kata Sanda penuh akan pujian, namun ia juga segera melesat membantu Ryu.


“Menarik.” Gumam Rio, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Ryu tidak lari, melainkan melawan Ular Kebesaran tersebut dengan kuat.


Siana sendiri hanya tersenyum, kemudian keduanya melesat kembali menuju ke arah Ular Kebesaran untuk mendukung Ryu.


Ryu sendiri tidak tahu ketiganya akan datang, ia melayangkan serangannya dengan cepat ke arah kepala Ular Kebesaran tersebut.


Boooom!


Desis~


Desisan yang sangat kuat, Ular Kebesaran tidak bisa untuk tidak marah. Ia berdiri kembali, namun kepalanya sedikit pusing dan ia segera menggelengkan kepalanya.


Ryu benar-benar tidak menyangka melihat Ular Kebesaran hanya terluka ringan dan pusing sebentar. Ia merasa bahwa Ular di depannya benar-benar kuat.


Ryu menyeringai, ia belum menguatkan tubuhnya dan otot-otot miliknya hanya dirinya tambahkan sebesar dua belas saja. Ia belum mengeluarkan kekuatan penuh sebelumnya.


“Mari bermain sedikit.” Ucap Ryu, namun Ular Kebesaran menanggapinya dengan menembakkan berbagai racun ke arah Ryu.


Respons Ryu cepat, ia menghindar dan bergerak dengan lincah di atas pohon. Racun yang terhindar, mengenai beberapa pohon dan tanah.


Kemudian terlihat, pohon dan tanah itu meleleh selepas terkena racun. Ryu hanya punya satu spekulasi terkait efek racun tersebut.


“Korosif.” Kata Ryu pelan, ia kemudian berhenti di satu pohon, kaki kirinya menopang sebentar dan ia menekuk kakinya.


Racun korosif melesat ke arahnya, namun Ryu melesat dengan cepat, ia melompati racun itu dan kaki kanannya memerah kembali.


Namun, kali ini Ryu menambahkan otot-otot miliknya menjadi lima belas. Kakinya memerah, lebih merah dari sebelumnya.

__ADS_1


Hanya gerakan sedikit, api muncul dalam sekejap di kaki kanannya. Ular Kebesaran yang melihat Ryu melesat ke arahnya, ia menghentikan tembakan dan menggerakkan ekornya dengan cepat.


Ryu berputar kembali, dan ekor Ular Kebesaran sudah tepat di depan matanya. Kaki api miliknya mengenai tepat ekor tersebut.


Boooom!


Ular Kebesaran melebarkan matanya, ia merasakan rasa sakit dan rasa terbakar kuat oleh serangan Ryu tersebut. Ia berteriak dengan keras.


Shaa!


Ekor Ular Kebesaran terdorong ke belakang. Ryu leluasa, ia menggunakan tubuh Ular Kebesaran untuk berpijak sebentar. Kemudian, ia melompat sedikit dan berputar sekali.


Kekuatan kaki api kembali muncul dan melayang tepat ke arah tubuh Ular Kebesaran yang digunakan oleh Ryu untuk pijakan sebelumnya.


Boom!


Ular meraung marah, panas dan rasa sakit benar-benar membuat dirinya membenci manusia di depannya. Ia menghirup nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan kuat ke arah Ryu.


Merasakan bahaya, Ryu dengan cepat menghindar. Namun, di saat ia menghindar ia juga merasakan bahaya lagi. Ryu melirik sebentar, dan ia tahu akhirnya apa yang membuatnya berbahaya terus-menerus.


Kabut hijau meluas dan menyebar. Target utamanya adalah Ryu, seorang manusia yang dibenci oleh Ular Kebesaran sekarang.


Ryu tidak cemas, ia sangat tenang. Hal itu karena, ia memahami sesuatu yang dianggap Seni oleh seorang karakter kartun berambut kuning sebelumnya.


Ryu menyeringai, kemudian ia mundur beberapa meter dan melompat ke atas. Ryu kali ini menggunakan dua puluh otot-otot dalam kaki kanannya.


Racun masih menyebar, target adalah Ryu. Namun, sang target melesat ke atas dan mulai melakukan putaran kembali.


Sanda, Rio, dan Siana segera merasakan bahaya dalam sekejap. Ketiganya berhenti dan menatap ke arah pertarungan di depannya.


Melihat hal itu ketiganya segera wajah mereka menjadi pucat. Racun di sisi kiri dan Api yang luas di sisi kanan.


“Gawat, kita harus pergi sekarang.” Teriak Sanda, ia berbalik diikuti oleh Rio dan Siana.


Ryu tidak mengetahui ketiganya, ia kemudian memandang racun di depannya. Matanya bersinar dan akhirnya ia berkata dengan nada senang.


“Seni adalah Ledakan.”


Booom!


To be Continued.


Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2