
Silakan Dibaca.
“Aku menyerah!!” Teriak Sebastian dengan keras. Robot yang mengumumkan kemenangan menatap ke arah Sebastian.
Sementara para penonton terkejut akan teriakan Sebastian, bukan karena suaranya melainkan isi dari teriakannya.
Para penonton memandang ke arah Sebastian, kemudian mereka mendengar suara dari Robot yang menjadi wasit.
“Jika, Anda menyerah.. tidak ada pemenang sama sekali. Apakah Anda yakin?” tanya Robot, menatap ke arah Sebastian.
“Bukankah itu lebih baik.” Ucap Sebastian, ia mengakui kekalahan bukan karena mengalah terhadap Ryu, melainkan Ryu membuat dirinya malu.
Jika, Sebastian menerima kemenangan tersebut. Ia akan menanggung malu yang begitu besar, ia menjadi lebih kesal dengan Ryu, namun kesannya terhadap Ryu benar-benar berubah, meski masih kesal.
Sebastian kemudian berdiri, ia merasakan rasa sakit di kaki kanannya. Namun, ia berjalan menuju ke ruang tunggu seolah-olah tidak terjadi apa pun.
Robot mengamati Sebastian, namun ia dengan cepat mengumumkan bahwa peserta yang memasuki final dinyatakan seri.
Para penonton menerima dengan meriah, bukan karena siapa yang menang. Mereka bersorak karena pertarungan yang dilakukan oleh Ryu dan Sebastian tersebut.
Mereka tidak peduli siapa yang menang dan mereka lebih menghargai pertarungan keduanya, untuk menyerahnya Sebastian. Mereka tahu bahwa mantan jendral pasti akan ada maksud lainnya.
***
Lorong ruang tunggu.
Sebastian yang berjalan, ia memegang dinding di kanannya dan berjalan dengan pelan.
Ekspresi wajahnya bukan kesakitan melainkan muram karena mengingat bocah bau yang melindungi dirinya ketika ledakan terjadi.
**
Flashback.
Booom!
Ledakan keras terdengar, terlihat ledakan terus menerus terjadi ketika Ryu dan Sebastian semakin menekan dominasi mereka masing-masing.
“Harus menang!” raung Ryu, kemudian matanya membara dan kaki kanannya mengeluarkan darah, karena kakinya sedikit terkoyak.
Sebastian benar-benar terkejut, ia kalah akan konfrontasi. Kakinya terkilir dan ledakan segera terjadi tepat di depannya.
Ryu segera mengayunkan kaki kirinya dan menendang perut Sebastian ke arah depannya. Sebastian melebarkan matanya, ia terkejut ketika diselamatkan oleh Ryu.
Sementara Ryu sendiri tertelan oleh ledakan dan terbang keluar dan terbaring di sisi lain kawah besar.
Flashback end.
**
__ADS_1
“Bocah sial*an, meski kau menyelamatkanku.. kau akan kutarik ke dalam militer sesegera mungkin!” raung Sebastian dengan marah.
Beruntung lorong tersebut memiliki fungsi kedap suara, hal itu membuat raungannya tidak akan terdengar sampai luar lorong.
Kemudian, Sebastian melanjutkan langkahnya dengan pelan. Namun, saat akan melangkah maju kembali. Tepat di depannya ada sosok yang tengah berdiri di depannya.
***
Ruang tunggu Ryu.
Risa dan Yuna segera melakukan teleportasi menuju ke rumah sakit Arshna. Mereka khawatir akan keadaan suaminya.
“Cepat, bawa barang yang kita bawa kemari tadi.” Risa berkata sambil mulai mengemasi beberapa barang yang ia bawa.
“Aku sudah selesai, ayo kita pergi ke rumah sakit Arshna.” Ucap Yuna dengan tenang, meskipun dalam hatinya khawatir.
Risa selesai mengemasi beberapa barangnya, ia mengangguk dan mereka berdua melangkah ke dalam tempat teleportasi.
“Rumah Sakit Arshna.” Keduanya kemudian perlahan-lahan menghilang dari tempat.
***
Ruang Monitor.
Sanda dan Roa yang masih menonton pertandingan Ryu dan Sebastian di Tanah Tandus Bukit Arham. Keduanya mengamati dan melihat apa yang membuat Sebastian menyerah.
“Huff, ia sudah tahu bahwa Sebastian tidak bisa pergi dari ledakan dan menyelamatkannya. Meski, ia pernah membunuh.. hatinya tetaplah masih putih.” Ucap Roa sambil menghela nafas.
Sanda mengangguk, keduanya mengira bahwa Ryu akan membiarkan Sebastian dan mati oleh ledakan tersebut.
Sanda sendiri terkejut akan sifat Ryu. Ia mengira bahwa ia salah melihat tayangan pertarungan, namun saat dilihat ulang itu memang Ryu.
“Rock, selanjutnya adalah Pulau Beruang Perkasa, bukan?” tanya Sanda, ia ingat bahwa yang memenangkan Turnamen Beruang Perkasa hanyalah Ryu.
“Itu benar, Walikota. Juga, yang akan menghadapi para Beruang Perkasa itu nanti adalah Ryu seorang.” Jawab Rock dengan jelas.
“Aku akan melihat cucuku.. juga, Sebastian ini. Nyawanya benar-benar diselamatkan olehnya, aku sedikit bersyukur ketika melihat cucuku menyelamatkan Sebastian itu.” Kata Roa.
“Jika tidak, rantai kebencian akan tercipta.” Lanjut Roa, ia kemudian berjalan ke arah tempat teleportasi, tujuannya kali ini rumah sakit Arshna.
Sanda mengikuti dari belakang, Rock dan Emma juga mengikutinya. Mereka ingin melihat sekaligus menjenguk Ryu yang berada di rumah sakit Arshna.
***
Rumah sakit Arshna.
Ryu terbaring di ranjang rumah sakit. Ia masih memejamkan matanya, tidak sadarkan diri selepas pertarungan telah usai.
Perawat yang mengecek kondisi Ryu, mengangguk dan berjalan keluar dari ruang perawatan Ryu.
__ADS_1
Risa dan Yuna sudah sampai dan sekarang mereka duduk di sebelah Ryu. Mereka melihat, Ryu dibalut berbagai perban putih di tubuhnya.
“Benar-benar orang ini memaksakan dirinya.” Ucap Risa sambil menghela nafas tak berdaya melihat kondisi suaminya tersebut.
“Yah, aku akan mengupas apel sebentar. Mungkin beberapa menit kemudian, ia akan terbangun.” Yuna berdiri dan melangkah ke dapur untuk mengupas apel.
Ruang rawat yang digunakan Ryu, ialah ruang rawat VVIP. Segala kondisi abnormal Ryu, akan segera sembuh selama beberapa menit.
Entah itu luka bakar, luka sayatan, ledakan, apa pun luka akan diselamatkan di sana. Ruang VVIP adalah ruang khusus yang dikembangkan oleh pihak pemerintah dan rumah sakit tertentu.
Meski begitu, ruang itu tidak murah. Mereka harus mengeluarkan ratusan juta untuk menempati ruang VVIP tersebut.
Namun, bagi Risa dan Yuna.. uang ratusan juta adalah hal murah. Ryu selalu memberikan mereka banyak uang, sampai-sampai membuat keduanya bingung bagaimana menghabiskan.
Pintu terbuka, kemudian empat orang masuk ke dalam ruang rawat Ryu.
Risa dan Yuna menatap ke arah keempatnya, ia mengerutkan keningnya ketika melihat keempat orang tersebut. Mereka merasa tidak senang, namun ketika melihat Sanda di antara mereka.
Amarah Risa dan Yuna sedikit meredup. Risa memandang ke arah Sanda dan bertanya, “Paman Sanda, ada apa?”
“Aku hanya menjenguk Ryu bersama dengan teman dan pengikutku.” Jawab Sanda, ia sendiri sedikit malu ketika masuk ke dalam ruang rawat tanpa permisi.
Sanda memelototi Roa, semua penyebabnya adalah Roa tersebut. Bagaimana tidak, saat tiba di depan pintu ruang rawat Ryu, Roa dengan tidak tahu malunya masuk ke dalam.
Roa mengabaikan Sanda, ia memandang ke arah Ryu dan berjalan menuju ke arahnya dengan santai.
Risa dan Yuna memandang ke arah Roa, ia sedikit tidak senang ketika melihat pemuda yang berjalan ke arah Ryu dengan seenaknya.
“Kalian berdua, istrinya bukan..” Roa berkata dengan ringan. Namun, tatapannya tetap mengarah ke cucunya.
“Ya, dan Anda sendiri siapa? Kenapa mendekat ke arah Ryu seenaknya.” Risa menjawab dan mengajukan pertanyaan dengan dingin.
Sanda memandang hal itu dengan canggung, ia menepuk keningnya ketika melihat Roa dengan santainya berjalan ke arah Ryu yang tengah berbaring.
Rock dan Emma sendiri diam mematung, mereka juga tidak menyangka bahwa Roa maju begitu saja, tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Namun, ketika mengingat identitas Roa, mereka berpikir bahwa Roa tidak perlu izin pun, tetap tidak masalah mendekati cucunya sendiri.
Roa merasakan gelombang kebencian yang diarahkan ke dirinya, ia memegang belakang kepalanya dan tersenyum canggung.
“Aku... Aku kakeknya.”
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1