Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 144 - Pengintaian Gagal


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Area hutan, Sandar Foran.


Ryu dan tim mulai mengemasi persediaan yang mereka bawa masing-masing. Tujuan mereka kali ini ialah area reruntuhan, di mana Vortex berada.


Menurut dari penjelasan Ancia dan Formiana, terdapat beberapa orang yang berpakaian hitam rapi sedang menjaga tempat tersebut. Keduanya menjelaskan bahwa para orang-orang tersebut tengah mencoba melepaskan segel Vortex.


Tujuan para orang tersebut belum diketahui, Ancia dan Formiana hanya mendapati orang-orang tersebut masuk ke dalam tempat Vortex disegel dan perlahan-lahan terdengar suara borgol terlepas.


“Apakah benar ada seseorang yang tengah mencoba membebaskan Vortex tersebut? Jika ini benar, lawan kita bukanlah Vortex saja melainkan para orang-orang tersebut juga terlibat.”


Ryu memandang ke arah Rio, Siana, Risa, Yuna dan Alice selepas mengatakan pernyataannya tersebut. Rio dan yang lainnya mengangguk, akan tetapi ekspresi mereka sama sekali tidak khawatir.


Ryu sudah menduga akan hal itu. Bagaimanapun juga, dirinya memahami sifat timnya sendiri. Di mana mereka sama sekali tidak pernah takut akan adanya bahaya.


‘Paman Rio dapat menahan dua Vortex, sampai membuat keduanya pingsan. Namun, menurut apa yang dikatakan Ancia. Apakah Vortex sekarang lebih kuat dibandingkan sebelumnya?’ batin Ryu sambil memikirkan kekuatan Vortex terbaru.


***


Di sisi area reruntuhan, Ordolf dan Elli memandang bangunan kuno yang berada di tepat di depan mereka. Keduanya bersembunyi di dekat pintu masuk bangunan kuno, hal ini karena mereka menyadari ada orang yang tengah berada di dalam.


Ordolf menyusutkan matanya dan bidang visi miliknya mulai berubah menjadi hitam penuh dengan garis-garis putih, kemudian terdapat bentuk menyerupai monster yang tengah terikat di tengah-tengah kuil.


Di sekitar bentuk monster terdapat bentuk lain yang menyerupai manusia dengan kobaran api berbeda di dalamnya. Bidang visi ini disebut teknik mata ilahi.


Ordolf memiliki teknik tersebut, bukan hanya dirinya saja. Melainkan beberapa orang yang telah melewati batasan level tertentu, akan mendapatkan kekuatan mata tersebut.


“Ada sekitar tiga puluh orang di dalam. Masing-masing memiliki kekuatan yang besar daripada Ryu dan ketiga istrinya. Hanya saja, ada satu lagi kekuatan yang melebihi dari semuanya.”


Ordolf memberitahukan situasi di dalam kepada Elli yang berada tepat di sebelahnya. Dia perlahan-lahan mulai mengamati kekuatan monster yang disegel dan matanya membulat dalam sekejap.

__ADS_1


“Monster ini ... tidak boleh sampai lepas!” tegas Ordolf, membuat Elli mengerutkan keningnya.


“Apa yang kamu lihat, sayang? Apakah ada sesuatu yang benar-benar bahaya di dalam?” tanya Elli penuh rasa penasaran.


“Ya, kali ini monster yang disegel itu. Memiliki kekuatan setara dengan Rio, meski monster itu menyembunyikannya. Teknik mata ilahi dapat melihat kobaran api yang mengerikan di dalam tubuhnya.”


Api yang dilihat oleh Ordolf bukanlah api pada umumnya. Melainkan, seberkas inti kekuatan nyata para makhluk hidup. Semakin besar api tersebut, semakin kuat pemiliknya.


“Apak—“ belum sempat Elli menyelesaikan kalimatnya. Perasaan bahaya segera dia rasakan. Tidak memerlukan waktu panjang, Elli melakukan penghindaran ke samping begitu juga Ordolf.


Boom!


Sebuah serangan menghancurkan tempat Ordolf dan Elli meledak. Tanah dan dinding seketika hancur, bahkan terdapat bekas hitam di area tersebut.


Ordolf dan Elli memandang ke arah atas, di sana terlihat sosok orang melayang dengan pakaian hitam dan jubah hitam berkibar ke belakang.


Rambut merah yang berantakan di tambah mata yang terdapat dua cincin merah terpatri di dalam pupilnya tersebut. Senyum misterius membuat orang tersebut menampakkan taring pendeknya.


“Heh, ternyata ada dua tikus di sini. Sedang apa kalian?” tanya orang tersebut sambil memandang ke arah Ordolf dan Elli. Matanya menyipit sebentar, mengamati kekuatan lawannya.


Ordolf berdiri dan memegang lehernya, kemudian suara tulang berderak terdengar sangat keras. Sehingga membuat pria berambut merah menaikkan alisnya.


“Apa yang sedang kamu lakukan, tikus?” tanya pria merah itu, akan tetapi berikutnya dia melebarkan matanya ketika melihat Ordolf menghilang dari tempat.


“Anak muda yang sangat sombong, pernahkah kamu merasakan pukulan berat?” tanya Ordolf muncul tepat di depan pria merah tersebut.


Hal ini membuat pria merah itu terkejut dan dia ingin segera menghindari serangan dari Ordolf. Namun, kecepatan serangan Ordolf melebihi dari kecepatan reaksinya.


Boom!


Pria merah meluncur ke bawah, kemudian tanah hancur membentuk retakan yang sangat besar. Seteguk darah keluar dari mulutnya dan rasa sakit kuat menyelimuti perutnya.

__ADS_1


Ordolf turun dan mendarat di dekat Elli. Selanjutnya, langkah kaki berbagai orang terdengar oleh mereka berdua. Namun, keduanya tidak menghindar malah mereka ingin bertarung saja dibandingkan mengintip dan menunggu.


“Sepertinya kita akan sibuk terlebih dahulu, sebelum mereka tiba.” Elli berkata sambil tersenyum ringan di sebelah Ordolf.


“Biarkanlah, salah sendiri mereka lama. Tangan pria ini sangatlah gatal belum memukul seseorang akhir-akhir ini.” Ordolf menjawab sambil menyeringai lebar.


Langkah kaki semakin kuat dan tidak hanya satu, melainkan ada beberapa langkah kaki lainnya. Ordolf dan Elli mundur beberapa meter, mereka ingin memancing musuh keluar dari area reruntuhan.


Perlahan-lahan dari dalam bangunan kuno keluar lima siluet orang yang memakai pakaian sama dengan pria merah sebelumnya.


“Sin, apakah benar bayanganmu telah dikalahkan?” tanya seorang perempuan berambut biru.


“Ya, aku meninggalkan satu bayangan di luar untuk berjaga-jaga. Namun, aku tidak menyangka menemukan tikus yang sangat kuat.” Pria berambut merah menjawab, dia adalah orang yang sebelumnya terkena pukulan dari Ordolf.


“Jika begitu, pihak Red Star benar-benar sudah mengetahuinya. Padahal tinggal sebentar lagi!” Perempuan berambut hitam berkata dengan marah.


“Tenanglah, Mana. Pihak lawan kemungkinan besar kuat, jadi kita perlu bekerja sama.” Laki-laki berambut hitam pendek berkata penuh ketenangan.


Sin melirik laki-laki tersebut, akan tetapi berikutnya dia sama sekali mengabaikan laki-laki itu.


“Apa yang dikatakan Luke itu benar, Mana kontrol emosimu.” Seorang pria besar berkata dengan nada serius. Dia menatap ke arah empat orang di depannya dengan tatapan dingin.


“Baik-baik, Orc!” Mana memasang wajah tidak senang. Dia kali ini sangatlah marah dan memerlukan seseorang untuk pelampiasan.


Kelima orang itu keluar dari bangunan kuno dan menatap retakan di tanah. Kemudian beralih memandang ke arah sosok besar dan sosok perempuan yang berdiri di luar area reruntuhan.


“Mereka tidak melarikan diri? Sungguh menarik.” Sin berkata sambil menyeringai, dia tidak menyangka pihak lain berani menunggu selepas membuat keributan.


Orc menyusutkan matanya dan melihat bahwa dia sama sekali tidak bisa melihat kekuatan lawan.


“Oh, ada lima mangsa ternyata ... Kalau begitu datanglah, paman ini ingin bermain dengan kalian!” Ordolf menatap kelima orang tersebut dengan tatapan seperti melihat anak kecil yang nakal.

__ADS_1


Lima orang tersebut menggelap dan perlahan-lahan mulai bergerak maju ke depan.


To be Continued.


__ADS_2