
Silakan Dibaca.
Arena Pertandingan hancur tidak berbentuk kembali. Berbagai retakan dan puing-puing berantakan tersebar di mana-mana.
Di tengah Arena terlihat satu orang duduk dan satu orang berbaring. Kemudian, terlihat Robot menjadi wasit sebelumnya muncul dan mendekat.
"Pemenang dari pertandingan putaran ketiga adalah..."
Angin berhembus kencang, membuat debu yang menutupi kedua sosok pria itu mulai menghilang dan terlihat jelas.
"Iko Ran."
Para penonton yang mendengar suara Robot, melebarkan matanya. Mereka dengan cepat sadar dari rasa terkejut dan mulai bertepuk tangan satu persatu.
"Selamat, Iko..."
"Pertandingan yang seru..."
Iko menatap ke arah Jack, ia kemudian berdiri dan berbalik pergi dari Arena Pertandingan.
Robot yang selesai mengumumkan pemenangnya, mulai mendekat ke arah Jack dan mengirimnya menuju ke rumah sakit Arshna.
Pertandingan putaran ketiga telah usai, hasilnya Iko akan melaju ke Babak kedua di mana lawannya ialah Ryu.
Semua penonton menanti pertandingan antara Ryu dan Iko, mereka benar-benar tidak sabar menanti pertandingan nantinya.
Sekarang, Arena yang digunakan untuk pertandingan sudah hancur sepenuhnya. Robot mulai memulihkan kembali keadaan Arena seperti sebelumnya.
Namun, lantai akan tetap menjadi lantai emas. Tidak ada pergantian menjadi lantai putih kembali.
***
Ryu yang berada di ruang tunggu, benar-benar menanti akan pertandingan melawan Iko.
Risa dan Yuna yang selesai memberikan kepuasan kepada Ryu, kini duduk di kedua sisi Ryu. Mereka menyandarkan kepala tepat di dada Ryu.
"Lawan kamu selanjutnya ialah Iko Ran. Apakah kamu sudah siap?" Tanya Risa sambil menikmati berbaring di tubuh Ryu.
Yuna juga mengikuti Risa, ia menikmati tubuh Ryu sebagai tempat berbaring. Perasaan nyaman dan tenang damai membuat dirinya rileks.
Ryu yang mendengar pertanyaan Risa, ia tersenyum dan menjawab, "Tenang, aku pasti bisa mengalahkannya."
Ryu membelai keduanya, ia sendiri masih menikmati kemesraan yang mereka lakukan, tanpa ada yang mengganggu sama sekali.
***
Di sisi lain, Mantan Jendral Sebastian Konma menatap ke arah layar dengan wajah datar. Tujuan ia datang dalam Arena Jalanan, hanya satu.
Bertemu dengan Putra Orang yang tidak bertanggung jawab.
Sebastian tetap memandang ke arah monitor, sampai akhirnya seorang wanita memeluk dirinya dari depannya.
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" Wanita itu sangat cantik, dengan rambut panjang merah muda, begitu juga aset yang besar, dapat membuat para pria iri dengan Mantan Jendral itu.
__ADS_1
"Iriana, aku tidak memikirkan apa-apa. Sekarang, aku hanya memikirkan cara menghukum Putra orang itu." Jawab Sebastian sambil menggelengkan kepalanya.
Iriana memandang suaminya dengan santai, senyuman manis terpatri di wajahnya. Senyuman itu membuat Sebastian terpana sesaat.
"Selepas menghukum Anak itu, apa yang akan Kamu lakukan?" Tanya Iriana dengan tangan memegang pipi Sebastian.
"Bukankah sudah jelas? Aku akan mengirimnya beserta kedua istrinya ke Kamp Pelatihan Militer. Sudah waktunya, ia mengikuti hal itu dan berjalan membasmi musuh-musuh nantinya."
Iriana melihat sifat tegas Sebastian tidak bisa untuk tidak memanas. Ia dengan cepat mencium bibir suaminya dengan mesra.
Sebastian menerimanya, ia sudah paham semenjak istrinya masuk. Pasti ia menginginkan hubungan gesek-gesek.
***
Di Ruang Monitor, Sanda memandang ke arah Rock dan Emma. Kemudian, ia berkata, "Selanjutnya pertarungan siapa?"
Rock dengan cepat melihat jadwal pertandingan selanjutnya.
"Sebastian Konma melawan Amer Bram."
"Putaran ke lima, Relik Sion melawan Shisui Tekawa."
Sanda mengerutkan keningnya, ia kemudian berkata, "Arena selesai diperbaiki, segera mulai putaran selanjutnya."
Rock mengangguk, kemudian ia memandang ke arah monitor dengan ekspresi rumit. Pertarungan selanjutnya kemungkinan, akan jauh lebih cepat dari sebelum-sebelumnya.
Rock menghela nafas panjang, ia tahu kekuatan nyata Sebastian Konma. Ia tahu, karena ia adalah murid dari Sebastian Konma sendiri.
"Oh, Sebastian itu. Gurumu, bukan?" Sebuah suara yang berada tepat di sebelah Sanda terdengar.
"Se-sejak kapan Anda berada di sini?" Rock tergagap, ia benar-benar tidak menyangka akan kedatangan seorang tokoh yang paling bergerak dalam bayangan.
Roa Adam, 210 Tahun.
"Oh, sepertinya aku dikenali, Yahaha." Kata Roa dengan tawa khasnya.
Rock sedikit gemetar, Emma masih dalam keadaan linglung, ia sendiri tidak mengenali pemuda yang duduk di sebelah Sanda.
Emma terkejut, karena ada orang yang tiba-tiba muncul di dekat walikota. Namun, ketika melihat Rock yang gemetar. Ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu gemetar, sayang?" Rock yang mendengar pertanyaan Istrinya, ia menenangkan dirinya dan duduk di sofa.
"Aku lupa memperkenalkan Kakek ini." Emma melebarkan matanya, ia memandang ke arah Roa dan beralih ke Rock.
"Kakek? Bukannya ia masih muda?" Rock menggelengkan kepalanya, ia kemudian berkata dengan jelas.
"Roa Adam, Ayah Senior dan Kakek dari Ryu Adam." Rock tersenyum tipis, namun ganti Emma yang gemetar.
Siapa yang tidak tahu Roa Adam di Dunia. Seorang Pria yang menerobos 500 pangkalan militer lawan dan membunuh berbagai Binatang yang memiliki Level ancaman tinggi.
Legenda yang membunuh para koruptor Negara, seorang Pahlawan dari balik layar. Menempuh jalan kegelapan dan kembali ke permukaan dengan Enam Juta kepala Militer Negara Musuh.
Dan sekarang orang yang berdarah muncul di depannya, dan dengan santai duduk di sebelah Walikota Arshna.
__ADS_1
"Lupakan tentangku, aku disini hanya ingin melihat cucuku bertarung. Sia*lan Sanda, ia menghubungiku ketika Ryu sudah selesai bertanding."
Sanda mengedutkan keningnya, ia tidak tahu apa-apa dan sekarang menjadi orang yang disalahkan sepenuhnya.
Emma yang masih gemetar, memeluk tubuh Rock agar tenang. Rock sendiri tahu akan rasa gemetar dari Emma, keduanya sehati dan berpasangan, bagaimana tidak menyadarinya.
"Bocah Rock, seingatku kau mengadakan Turnamen sebelumnya? Juga, cucuku ikut bertarung di dalamnya."
Rock merasakan firasat buruk sekarang, ketika mendengar pertanyaan dari Kakek yang duduk di dekat Walikota.
"It-Itu benar, Ka--" belum sempat ia selesai mengucapkan apapun. Sebuah pukulan keras, mengenai tepat atas kepalanya.
Bam!
"Ahhh, sakit!" Rock memegang kepalanya yang kesakitan. Emma sendiri terkejut melihat hal itu, ia segera sadar dan ingin melawan.
Namun, sebuah pukulan tepat mengenai atas kepalanya juga.
Bam!
"Sakit!" Emma memegang kepalanya dengan kedua tangannya, air mata terbendung di matanya dan siap untuk mengalir keluar.
"Kalian berdua, tidak memberitahuku dan rasakan tinju cinta dari seorang kakek, Yahahaha."
Rock dan Emma masih memegang kepala mereka. Sanda sendiri menghela nafas tak berdaya dengan kelakuan Roa.
Sanda tidak memikirkannya kembali, ia kemudian mau mengambil makanan ringan di meja. Namun, saat meraba meja, ia mengerutkan keningnya.
Kemudian, ia mendengar suara orang yang sedang makan dengan renyah di sebelahnya. Sanda menggelap dan memandang ke arah suara itu.
Terlihat, Roa tengah makan makanan ringan tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Ia juga merasakan tatapan dari Sanda tersebut dan balas menatap.
"Ada apa, Sanda?" Tanya Roa dengan wajah tanpa bersalah sama sekali. Sanda mengepalkan tangannya dan meraung dengan keras.
"Baji*ngan Roa, itu makananku!" Sanda berteriak dan merebut makanan ringan di tangan Roa.
Namun, saat makanan ringan ia rebut. Kemudian, tangannya masuk ke dalam kemasan makanan. Ia sama sekali tidak menemukan makanan apapun di dalamnya.
"Yahahaha, terima kasih makanannya Sanda." Roa tertawa sambil mengambil teh yang berada di meja.
Sanda segera merebut teh itu dan berkata, "Buat sendiri, Baji*ngan!"
Roa mengerucutkan bibirnya, kemudian mencibir pelan. "Dasar pelit."
Rock dan Emma menepuk kening mereka melihat tingkah kedua orang di depannya itu.
'Terserah kalian saja.'
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share,Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thank you Minna-san.