Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 145 - Ordolf Bertarung


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Lima orang menatap ke arah Ordolf dengan tatapan membunuh, mereka benar-benar tidak senang ketika direndahkan oleh orang lain.


Mana, perempuan yang sangat penuh emosi, melesat terlebih dahulu. Dia sama sekali tidak senang ketika harga dirinya direndahkan, meski dirinya ialah perempuan.


Ordolf menatap Mana sekilas, sudut mulutnya naik membentuk lengkungan senyum penuh arti. Namun, berikutnya dia sama sekali mengabaikannya karena dirinya tidak terlalu peduli dengan perempuan tersebut.


Elli yang berada di dekat Ordolf bergerak terlebih dahulu. Dia menghilang, kemudian muncul tepat di depan jalur lintas Mana. Hal ini membuat Mana terkejut, akan tetapi rasa terkejutnya tergantikan dengan rasa sakit.


Elli mengayunkan kepalan tangannya tepat ke arah perut Mana, hal ini membuat Mana terlempar ke belakang dengan keras.


Boom!


Mana bertabrakan dengan dinding reruntuhan di belakang. Keempat orang lainnya sedikit menaikkan alisnya dan mata mereka menunjukkan rasa terkejut yang besar sekejap.


“Mana terlempar cukup jauh,” Sin memandang ke arah Elli, “perempuan itu benar-benar orang yang merepotkan.”


“Hana, bergabunglah dengan Mana. Lawan perempuan itu dan kami bertiga akan melawan pria di sana. Ingat, jangan setengah-setengah. Kalau bisa bunuh mereka di tempat!” Orc berkata dengan mata merah tanda dirinya marah.


Sin, Hana, Luke sedikit ketakutan. Bagaimanapun juga, pemimpin kelimanya ialah Orc. Seorang laki-laki yang memiliki tubuh paling besar di antara mereka.


“Baik, Orc!”


Keempat orang tersebut melesat ke arah Ordolf dan Elli. Dua melawan Lima, meski pengaturannya perempuan melawan perempuan, laki-laki melawan laki-laki. Hal ini sama sekali tidak menurunkan efektivitas pertempuran.


Ordolf dan Elli memandang ke depan, keduanya berpisah dan pergi menuju tempat yang lebih leluasa untuk pertempuran. Keduanya sama sekali tidak menganggap kelimanya mengancam, hal ini karena mereka berlima hanya berada di Level 9.


***


Ordolf berhenti di tempat yang sangat tandus. Tidak ada bangunan maupun tanaman, keseluruhan tempat tersebut hanya tanah yang retak dan kering.


Tempat yang dipilih oleh Ordolf sedikit jauh dari reruntuhan, lebih tepatnya. Dia berada di perbatasan area padang pasir.

__ADS_1


Luke, Orc dan Sin tiba di tempat. Ketiganya memandang ke arah Ordolf dengan penuh ejekan. Bagaimanapun juga, mereka tahu bahwa tidak mungkin untuk seseorang dapat mengatasi tiga orang yang sudah berada di ambang batas Level 9.


“Menyerahlah dan tikam dirimu sendiri, tikus rendahan!” Sin memerintahkan dengan sombong. Tatapannya sama sekali tidak menganggap Ordolf serius.


Sementara Luke dan Orc hanya memandang saja, akan tetapi di dalam mata mereka penuh akan rasa sombong.


Ordolf sendiri mengerutkan keningnya, akan tetapi dia tetap tenang dan menghela nafas panjang. Namun, berikutnya aura miliknya menyebar mengejutkan ketiga orang di depannya tersebut.


Tatapan Ordolf berangsur menjadi dingin. Dia sama sekali berbeda dari sebelumnya, kali ini dirinya benar-benar tidak akan segan-segan untuk membunuh ketiga orang di depannya tersebut.


Luke, Orc dan Sin terkejut. Ketiganya merasakan tekanan yang begitu kuat. Hal ini membuat mereka bertiga mundur beberapa langkah ke belakang. Keringat dingin mengalir deras di punggung mereka, akibat tatapan Ordolf.


Ketiganya merasakan bahwa orang di depannya ialah binatang buas yang siap untuk menerkam mereka.


“Tidak mungkin...” Sin berkata penuh rasa terkejut dan ketakutan.


Ketiganya ditekan hal ini belum pernah mereka rasakan. Orc dan Luke paling tidak senang dengan ditekan. Keduanya mengenang kembali masa kelamnya, di mana mereka sama sekali tidak berdaya melawan seseorang yang kuat.


“Bajing*an!” raung marah Orc. Dia melesat ke arah Ordolf dengan cepat. Dirinya tidak ingin dipandang rendah kembali dan kehilangan seseorang seperti terakhir kalinya.


Orc tiba di depan Ordolf, berikutnya dia mengepalkan tangannya. Namun, apa yang dilihat dari Ordolf ialah tangan Orc yang mengkilap seolah-olah tangan tersebut terbuat dari besi.


Dentang!


Bunyi benturan antara logam terdengar, Ordolf mengerutkan keningnya dan memahami bahwa kekuatan Orc ialah bentuk besi. Meski begitu, tubuh Ordolf sendiri sangat kuat bahkan besi pun dapat dirinya hancurkan.


Dua pukulan saling berbenturan, akan tetapi Orc terlempar beberapa meter ke belakang. Sin dalam sekejap muncul di depan Ordolf, tangannya terbuka lebar dan berbagai kain hitam kuat melesat ke arah Ordolf.


Melihat kain hitam tersebut, Ordolf sedikit mengernyit. Tangan kanannya terlilit oleh kain tersebut, berikutnya Luke muncul di depan Ordolf sambil mengayunkan palu yang sangat besar di tangannya.


Boom!


Ledakan keras terjadi, debu di tanah naik menutupi seluruh area pertempuran. Namun, saat debu menghilang. Apa yang ketiganya lihat membuat mereka bertiga terkejut.

__ADS_1


Palu yang diluncurkan oleh Luke tertahan oleh tangan kiri Ordolf. Pupil ketiganya mengecil dan tanpa sadar perasaan bahaya muncul dalam benak mereka masing-masing.


Ordolf menghembuskan nafas kuat, berikutnya cahaya melintas di matanya. Tangan kanan yang dililit oleh kain hitam. Seketika berayun ke belakang, menarik Sin untuk mendekat.


“Dasar anak kecil!” Ordolf berkata dengan dingin. Kemudian tangan kanan terkepal dan melesat ke depan memukul tepat perut Sin tersebut dengan keras.


Bum!


Suara teredam yang sangat keras terdengar, pupil mata Sin melebar dan dia merasakan bahwa tubuhnya seakan ditabrak oleh gunung yang melintas.


Sin terlempar ke belakang bagaikan roket dan menabrak tanah tandus dengan keras, membuat tanah tersebut membentuk cekungan kawah yang sedikit lebih besar.


Luke dan Orc tercengang dengan kekuatan Ordolf. Namun perasaan terkejut tersebut tergantikan oleh perasaan ngeri dan lonceng bahaya dalam hati mereka seketika melintas.


Keduanya ingin mundur. Namun, sudah terlambat. Ordolf melepaskan pegangan dalam palu, kemudian muncul tepat di depan Luke sambil mengayunkan kepalan tangannya yang sudah terlilit oleh aura merah.


Boom!


Luke terlempar keras ke belakang, tangan kanannya tanpa sadar melempar palu ke atas. Berikutnya, Ordolf menghilang dan muncul sambil memegang palu dari atas.


Lompatannya sangat tinggi, sehingga saat dirinya turun. Palu yang berada di genggamannya meluncur secara vertikal ke arah Orc yang masih dalam keadaan kesurupan.


Orc melihat palu melintas, akan tetapi dia tidak ada waktu untuk menghindar karena palu tersebut sangatlah cepat bagaikan cahaya.


Booom!


Orc terhempas ke tanah sangat keras. Tanah yang terkena tubuh Orc seketika retak dan membentuk cekungan kawah besar. Hal ini menunjukkan betapa ngerinya kekuatan ayunan palu tersebut.


Ordolf yang telah selesai menghancurkan ketiga laki-laki tersebut hanya mendengus ringan, kemudian dia duduk di palu yang dirinya bawa tersebut.


Berikutnya, Ordolf mengambil satu bungkus rokok di sakunya, mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyalakannya.


“Fuh, Waktunya menyusul Elli.”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2