Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 160 - Pembantaian 40 Penculik


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ruangan pertemuan.


Marko memandang ke seluruh sudut ruang. Ia kemudian berdiri dari duduknya, diikuti para penculik lainnya yang sudah siap untuk pergi dari Kota Arshna.


"Frey dan Prey, mengapa mereka tidak ada di sini?" Fordan memandang ke sekeliling tempat. Ia sama sekali tidak menemukan dua anak buahnya tersebut. Hal ini membuat alisnya seketika mengerut.


"Dua orang itu, mungkin masih mempersiapkan barang-barang. Ayo kita segera keluar, lebih cepat lebih ...."


Klik.


Suara pintu yang terkunci terdengar di telinga seluruh penculik. Insting mereka semua seketika menyala dan kewaspadaan para penculik meningkat dalam sekejap.


Marko menyusutkan matanya, jelas itu ialah pintu keluar dari ruang pertemuan yang terkunci. Namun, siapa yang mengunci pintu tersebut.


Marko bertanya-tanya dalam benaknya, akan tetapi ia hanya memiliki kesimpulan yaitu Frey dan Prey yang melakukan tindakan penguncian itu.


Namun, Marko tahu bahwa dua pria kekar yang dirinya kenali tersebut tidak mungkin berkhianat. Hal ini karena ia tahu kesetiaan pada anggotanya sendiri.


"Siapa kau, keluarlah! Aku tahu pasti kaulah yang mengunci kita semuanya!" Santa berteriak dengan keras, suaranya bergema di seluruh ruangan.


Marko dan yang lainnya tahu, bahwa Santa memiliki kemampuan persepsi yang lebih kuat dari mereka semuanya. Ketika Santa berkata bahwa ada orang yang bersembunyi, para penculik mulai menjadi serius.


Sean yang berada di bayangan, mulai muncul di belakang semua penculik. Ia muncul, akan tetapi di sambut oleh peluru memutar yang dilepaskan oleh Santa.


Sean tidak takut, ia juga tidak menghindar. Namun, peluru tersebut melintasi dirinya dan membentur ke arah dinding ruangan.


Bang!


Pupil mata Santa mengecil, ketika melihat peluru menembus tubuh sosok orang yang muncul di belakang mereka.


Para penculik seketika berbalik dan melihat sosok anak kecil berdiri dengan tenang di sana. Namun, jantung para penculik berdebar kencang seakan merasakan bahaya dari anak kecil tersebut.


Fordan melebarkan matanya, ia mengenali anak kecil tersebut. Namun, dalam pikirannya bagaimana bisa anak itu datang ke ruang pertemuan tanpa jejak sama sekali.


"Bagaimana kau bisa di sini! Bukankah Frey dan Prey sudah memasukkanmu ke dalam kandang besi sebelumnya?" Fordan menatap dengan ketidakpercayaan, baginya mustahil seorang anak kecil dapat lari dari kandang besi.


"Oh, apakah dua pria kekar yang kubunuh sebelumnya." Jawaban singkat Sean, membuat para penculik tertegun, bahkan Marko mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Fordan, apakah anak ini yang kamu bawa dari Raskan?" Marko bertanya dengan nada serius. Fordan sendiri mengangguk dan menceritakan kejadian dengan singkat.


'Jadi begitu, akan tetapi tidak mungkin untuk anak sekecil itu, bisa lolos dari persepsi Santa. Syarat untuk lolos persepsi tersebut, ialah level yang lebih tinggi dari Santa.


"Bocah ini hanya satu, bukankah lebih kita menyerbunya saja, Bos?" Penculik A bertanya dengan sepenuh hati.


Marko memandang ke arah Fordan. Ia kemudian melihat pria tersebut mengangguk tanda mengerti. Marko segera berkata dengan tegas.


"Semuanya bergerak, bunuh anak kecil ini!"


Para penculik menyeringai, perintah itulah yang mereka nantikan. Segera empat puluh orang bergerak dengan cepat ke arah Sean. Mereka seolah-olah mirip dengan kaum barbar.


Sean memandang ke arah para penculik dengan sedikit rasa bersemangat. Baginya ini adalah pertarungan perdana dengan tubuh kecilnya.


Sean melesat dengan kecepatan biasa, ia tidak akan menggunakan kekuatan penuh untuk menghadapi para penculik.


Sean segera tiba di salah satu penculik, ia meluruskan jari-jarinya dan menusuk tepat ke arah jantung penculik tersebut.


Penculik yang tertusuk tepat jantungnya seketika berhenti, akan tetapi para penculik lainnya mendekat dan menebas ke arah Sean berada.


Sean menyadari hal itu, ia seketika melompat ke belakang penculik yang ia bunuh dan seluruh tebasan para penculik mengenai rekannya yang sudah mati.


Pedang pendek tergeletak di dekat Sean, dengan cepat Sean mengambil dan membunuh empat pembunuh yang menyerang dirinya tadi.


Sean memandang ke arah 35 penculik sisanya, ia mengayunkan pedang pendek ke bawah. Darah yang berada di pedang memercik ke tanah, lalu Sean menyeringai dan mulai melesat dengan cepat ke arah para penculik.


Dia tiba di penculik terdekat, hanya satu tusukan tepat di jantung penculik tersebut. Pistol, ia dapatkan dengan mudah dan menembakkan sembilan peluru tepat ke arah para penculik yang bersiap menembaknya.


Bang!


Kesembilan orang meninggal, bidikan Sean sangatlah akurat. Hal ini karena ia berlatih keras dalam membidik sebelumnya.


Perlahan-lahan para penculik mulai berkurang, dalam lima menit 35 penculik terbantai habis. Hal ini membuat ketiga pemimpin para penculik tertegun, mereka tidak terlihat marah ataupun sedih.


"Wah, aku tidak menyangka kau kuat, Nak!"


Marko memuji Sean, ia memandang ke arah anak kecil tersebut. Dirinya merasakan potensi terpendam di balik tubuh kecil tersebut.


"Bagaimana kalau kamu bergabung denganku? Tenang saja, kamu akan menjadi petinggi ketigaku nantinya!"

__ADS_1


Tawaran Marko sangatlah menggiurkan bagi para penculik yang mendengarkannya. Namun, sayangnya mereka meninggal sebelum memiliki kesempatan mendengar hal itu.


Santa dan Fordan merasa bahwa Sean cocok untuk menjadi salah satu dari mereka. Potensi anak itu sangatlah besar, akan sia-sia jika tidak direkrut.


Namun, jika Sean menolak. Mereka tidak segan-segan untuk membunuhnya, karena potensi sebesar itu nantinya akan menjadi ancaman bagi mereka.


Sean mendengar tawaran Marko, ia memandang dengan senyum di wajahnya. Ia sama sekali tidak menjawab tawaran Marko tersebut.


Hal ini membuat Marko mengerutkan keningnya, ia kemudian bertanya dengan suara dalam. "Nak, apakah kau mengabaikan tawaranku?"


Marko menahan amarahnya, ia tidak menyangka anak kecil di depannya seakan-akan ingin menyulut amarah dalam hatinya.


Namun, ketika Marko menahan amarahnya. Ia mendengar tawa kecil dari Sean. Hal ini membuat amarahnya meledak dalam sekejap, ia merasa terhina oleh anak kecil itu.


"Bajingan kecil! Apakah itu jawabanmu!"


Sean menggelengkan kepalanya ringan, Marko melihat hal itu sedikit mereda. Namun, jawaban Sean selanjutnya membuat Marko dan kedua anak buahnya menggelap.


"Kalian bertiga saja lemah, bagaimana aku yang kuat bisa menjadi yang terakhir. Juga, persekutuan sampah sepertimu itu, tidak layak bagiku!"


Penghinaan yang sangat dalam, kata-kata Sean membuat amarah ketiganya meledak. Dihina dan dipandang rendah oleh seorang anak kecil, hal ini membuat mereka tidak terima.


"Lancang!"


Santa dan Fordan mengarahkan senjata api mereka ke depan, kemudian mereka berdua menarik pelatuknya dengan cepat. Rangkaian tindakan tersebut, hanya butuh kurang dari satu detik untuk peluru melesat ke arah Sean.


Bang! Bang!


Peluru menembus tubuh Sean dan membentur ke arah dinding ruang. Kejadian tersebut membuat ketiga orang itu menjadi muram.


"Yah, karena kalian sudah menembak maka sekarang giliranku!"


Sean mengeluarkan aura membunuhnya, aura kuat menyelimuti seluruh ruangan. Tiga pemimpin penculik merasakan tekanan haus darah yang kuat.


'Berapa banyak orang yang anak ini bunuh untuk menciptakan aura yang begitu kuat!'


Ketiganya berlutut, keringat dingin mengalir deras. Mereka bertiga menjadi ketakutan dengan Sean tersebut.


Sean hanya menatap ringan, seringai di wajahnya muncul. Ia kemudian berkata dengan nada rendah.

__ADS_1


"Nah, mari kita mulai pertarungannya!"


To be Continued.


__ADS_2