
Silakan Dibaca.
“Sayang!!” teriakan tiga perempuan terdengar oleh Ryu. Hal ini membuat dirinya tanpa sadar berbalik dan menatap ke arah asal suara tersebut.
“Aku pulang,” ucap Ryu ketika melihat tiga perempuan yang sudah dekat dengan dirinya. Dia merentangkan kedua tangannya, membuat tiga perempuan melompat dan jatuh ke dalam pelukannya.
“Selamat datang kembali.” Risa, Yuna, Alice menjawab dengan penuh sukacita. Mereka bertiga memeluk erat tanpa mengetahui lingkungan sekitarnya.
Para prajurit seketika terdiam, mereka menatap datar ke arah pasangan yang tengah menabur pesona tepat di depan mereka masing-masing.
Para komandan sendiri tidak peduli, mereka memeluk istri mereka masing-masing, begitu juga sebaliknya.
Para prajurit mati rasa, mereka pergi sambil menundukkan kepalanya. Depresi tentang hidup mereka masing-masing.
‘Kapan aku mendapatkan istri...’
‘Sial, aku iri dengan para pemimpin...’
Berbagai komentar batin para prajurit benar-benar menyedihkan. Mereka segera membubarkan diri dan mulai bersiap untuk pergi menuju ke pangkalan kembali.
Ryu sama sekali tidak mengetahui pikiran para prajurit, dia memeluk tiga istrinya dan mengelus punggung mereka secara bergantian.
Beberapa menit kemudian, selepas saling berpelukan. Risa, Yuna, dan Alice memandang ke arah atas kepala Ryu. Mata mereka seketika bersinar.
Red merasakan bahaya dalam sekejap, namun dia tidak siap dan akhirnya ditarik, kemudian di peluk oleh mereka bertiga.
“Lucunya!” ketiganya memeluk Red dengan erat. Sedangkan yang dipeluk, sama sekali tidak dapat mengeluarkan kekuatannya.
Hal inilah yang membuat Red tidak berdaya, lalu dia menatap ke arah Ryu untuk meminta pertolongan, namun ungkapan tuannya membuatnya merasa dikhianati.
“Red, bermainlah dengan ketiga istriku.” Ryu kemudian berbalik menatap ke arah tiga istrinya. “Kalian bermainlah sebentar, atau ikut denganku menemui Paman Sanda?”
“Kami akan pergi menemui Kak Siana. Jadi, kami tidak bisa ikut denganmu,” jawab Yuna, sambil memeluk Red terlebih dahulu.
“Baiklah.” Ryu mengangguk, kemudian berbalik pergi menuju ke tempat Sanda berada. Sebelumnya, dia ingin berbicara bersamanya. Namun, tiga istrinya datang secara tiba-tiba, alhasil Sanda pergi dari tempat.
Ryu berjalan dengan santai, kemudian dia akhirnya menemukan Sanda dengan Clara tengah memandang ke arah matahari yang tengah tenggelam.
__ADS_1
Ryu melihat hal itu, segera berhenti. Namun, Sanda sudah mengetahuinya. “Ryu, apakah ada sesuatu?”
Ryu menghela nafas tak berdaya, kemudian dia menatap ke arah Sanda dan Clara yang tengah memandang dirinya.
“Itu, pertempuran sudah selesai... Bisakah aku pulang?” tanya Ryu, dia sebenarnya hanya ingin izin untuk pulang.
Sanda berpikir sebentar dan mengangguk, menyetujui izin dari Ryu tersebut. “Ya, pulanglah... Juga, aku diminta kakekmu. Tiga hari kemudian, kamu akan pergi ke utara bersama dengan Rio dan Ordolf.”
“Selidiki kalau bisa atasi penyebab utama perubahan di Utara,” jelas Sanda, membuat Ryu mengangguk paham.
“Tiga hari... Bilang saja kepada kakek, misi ini akan segera selesai.” Ryu berbalik dan melambaikan tangannya sambil pergi dari tempat Sanda dan Clara berada.
Sanda hanya tersenyum melihat tingkah laku dari cucu temannya. Setiap masalah, pasti akan dihadapi tanpa ada rasa takut sama sekali.
Juga, dia belum mengucapkan terima kasih terkait masalah Clara sebelumnya.
Sanda memandang istrinya, dia memeluknya dan berbalik bersama untuk menatap matahari yang perlahan-lahan mulai tenggelam.
Di sisi Ryu, dia sekarang tengah berjalan menuju ke arah tiga istrinya yang tengah bersama dengan Siana.
Di saat Ryu muncul, Red segera memancarkan cahaya cerah di matanya. Kemudian, dia melesat ke arah Ryu dan menstabilkan dirinya untuk hinggap di bahu tuannya.
Risa, Yuna, dan Alice memandang ke arah suaminya dengan senyum manis. Siana juga memandang ke arah keponakannya, lalu dia bertanya, “Apakah kamu sudah bertemu dengan Tuan Sanda?”
“Aku sudah bertemu dengannya. Katanya sudah selesai dan kita diizinkan untuk pulang. Namun...” Ryu menghentikan perkataannya dan memandang ke arah semuanya.
“Namun?” Siana menaikkan alisnya, dia penasaran dengan perkataan Ryu terpotong tersebut. Sementara Ryu sendiri, dia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
“Kita akan bahas di rumah, tidak cocok untuk dibahas di sini.” Semuanya mengangguk, kemudian mereka berjalan ke arah mobil Jeep militer yang diberikan oleh Sanda sebelumnya.
Tak butuh waktu lama untuk pergi menemukan Jeep yang diberikan. Hal ini karena, Jeep tersebut di jaga oleh dua prajurit berbadan kekar.
“Oh, Instruktur Ryu... Akhirnya Anda datang.” Prajurit sebelah kiri menyapa Ryu terlebih dahulu, kemudian tatapannya beralih ke mobil Jeep di belakangnya. “Ini adalah mobil yang diberikan oleh Komandan tertinggi, kemudian ini adalah kuncinya.”
Ryu menerima kunci yang diberikan oleh prajurit kanan. Kemudian, prajurit kiri mulai berkata kembali. “Misi telah selesai, kami mohon izin untuk undur diri.”
Ryu mengangguk dan kedua prajurit tersebut menghilang dari pandangan Ryu. Hal ini tidak membuat semuanya terkejut, karena kejadian menghilang seperti itu sudahlah normal bagi mereka.
__ADS_1
“Baiklah, mari masuk ke dalam.” Ryu memimpin terlebih dahulu, sedangkan untuk orang yang mengendarai mobil ialah Ivan, kemudian yang berada di sebelah Ivan tetaplah Tea. Ryu akan berada di belakang bersama dengan tiga istrinya dan satu istri pamannya.
Mobil menyala dan raungan mesin yang begitu halus terdengar. Ivan menginjak pedal gas dan mobil akhirnya melaju bergerak menuju ke kediaman Ryu.
Di tempat lain, sebuah bangunan yang tinggi dengan beberapa hutan di sekitarnya. Di dalam bangunan itu terdapat satu orang yang tengah duduk di kursi pemimpin.
Orang itu ialah Roa Adam. Dirinya sekarang tengah mengamati keuntungan dan kerugian yang terjadi ketika penyerangan monster di pelabuhan.
“Ivan, Tea, mereka benar-benar mengejutkan diriku. Aku tidak menyangka, mereka yang berada di bawah sendiri dapat naik ke atas dalam sekejap.” Roa benar-benar kagum dengan pencapaian Ivan dan Tea.
Dia sudah pernah mencoba melatih keduanya, namun hasilnya adalah nihil. Semua pelajarannya sama sekali tidak dapat mengembangkan bakat rendah milik Ivan dan Tea.
Hal inilah yang membuat Roa mengambil keputusan untuk memberhentikan Ivan dan Tea, namun sebelum keputusan itu diambil. Dia menerima panggilan dari sahabatnya Sanda.
Roa awalnya tegur sapa biasa, sampai akhirnya ke pembahasan inti di mana cucunya tengah ikut dalam Turnamen Jalanan. Awalnya dia terkejut, karena cucunya rata-rata di rumah. Sampai akhirnya ingat putranya membawa satu bayi yang berakhir harus diasingkan terlebih dahulu.
“Ryu, anak ini benar-benar memiliki bakat dalam melatih. Kemungkinan besar, keluarga Adam sudah memiliki penerus kepala keluarga nantinya.” Roa melengkungkan bibirnya dan dia ingin segera mengabari kepala keluarga saat ini.
“Erina, apakah ada masalah kembali dengan monster Utara?” tanya Roa, suaranya tidak keras. Namun, dapat didengar di seluruh ruangan.
Detik berikutnya, muncul seorang wanita dari bayangan Roa. Wanita itu memakai kacamata dengan hiasan di tepi kacamata. Rambutnya panjang berwarna violet, dia mengikatnya menjadi ekor kuda.
Pakaiannya sederhana, yaitu pakaian seorang wanita kantoran. Tangannya mungil, namun tubuh wanita tersebut sangatlah menggoda.
“Tidak ada, Tuan.” Wanita bernama Erina menjawab dengan suara seorang sekretaris profesional.
Roa memejamkan matanya, dia tidak masalah untuk bertarung sendiri. Namun, dia menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah sekretarisnya.
“Sepertinya aku perlu minum teh..”
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1