Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 157 - Amarah Roa


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Kota Arshna.


Terlihat di langit biru, melintas sosok bayangan besar. Sosok ini memiliki dua sayap dan ekor yang menyalakan api. Kulitnya berwarna merah cerah, sorot matanya bersinar.


Banyak warga mengenali sosok tersebut. Hanya saja mereka tidak terlalu terkejut, karena sosok itu ialah makhluk yang sudah dijinakkan.


Para warga sendiri tahu mana yang sudah dijinakkan dan belum dengan bantuan sirine kota. Mereka akan tahu monster belum jinak, ketika Sirine berbunyi. Namun, jika sirine tidak berbunyi bertanda bahwa monster tersebut jinak.


Maka dari itu, para warga sama sekali tidak panik. Mereka tetaplah santai dalam menjalani kegiatan masing-masing.


Di langit, sosok melintas itu mulai terlihat. Monster tersebut ialah naga merah, ia terus terbang menuju ke sebuah bangunan yang terletak di pusat kota.


Di punggung naga merah sendiri, terdapat enam orang yang tengah memandang ke depan. Keenam orang itu ialah Ryu, Risa, Yuna, Alice, Rio, Siana, Ordolf dan Elli.


Keenam orang ini telah selesai mengurus masalah di utara. Kali ini perjalanan pulang, tetapi sebelum itu. Mereka juga ingin melihat putra Yuna.


Tak butuh waktu lama, naga merah yang bernama Red menukik turun ke bawah. Banyak siswa dan guru memandang ke arah Red dengan penuh rasa kejutan.


"Wa, ada naga datang! Cepat sembunyi."


"Naga... Naga!"


Berbagai siswa berhamburan masuk ke dalam sekolah. Para guru menjadi waspada ketika melihat naga tersebut. Namun, saat naga mendarat, mereka melihat enam orang turun dari punggung naga itu.


Ryu menyapu ke seluruh sekolah, ia benar-benar kagum dengan sekolahan yang begitu mewah. Meski sekolah tersebut untuk anak kecil, akan tetapi ukurannya benar-benar luas.


Ryu mengamati satu persatu sisi sekolah, mata malamnya aktif dan bidang di sekolahan semuanya terlihat. Namun, semakin dia memindai, semakin dirinya mengerutkan keningnya.


Yuna yang turun seketika tersentak dan segera memandang ke arah lain. Entah mengapa firasat buruk menghampirinya. Yuna menenangkan hati yang gelisah tersebut, lalu menatap ke arah sekolahan.


"Siapa kalian?" Sosok guru yang terlihat rapi tengah memandang ke arah Ryu dan rombongan.


"Apakah kamu guru di sini?" Ryu bertanya sambil menatap guru tersebut dengan tajam, aura membunuhnya ia tekan agar tidak keluar dan mengamuk.


Rio, Siana, Ordolf dan Elli menyadari hal itu. Mata mereka seketika menyipit dan berpikir, 'mengapa Ryu seolah-olah ingin menghancurkan sekolahan ini?'

__ADS_1


Rio segera berjalan ke arah Ryu, ia menepuk pundaknya. Kemudian, Ryu memandang ke arah Rio, akan tetapi tatapannya benar-benar terlihat siap untuk meledak.


"Itu benar, aku adalah guru di-"


"Di mana Sean!" Ryu segera menyela dengan pertanyaan, hal ini membuat guru tersebut tidak puas dan mengerutkan keningnya ketika mendengar nama Sean.


"Dia ada di dalam, sedang melak-"


"Kutanya kembali di mana Sean!" Aura membunuh Ryu merembas keluar dan terarah ke guru tersebut. Dalam sekejap, guru berpakaian rapi itu gemetar ketakutan.


"Sudah kubilang, dia ad-"


"Di dalam, Sean tidak ada sama sekali, Bajingan!!" Ryu tiba di depan guru tersebut dan meraih kerahnya. Mata Ryu melotot dengan ganas, ia benar-benar marah ketika melihat Sean tidak ada di tempat.


Guru tersebut gemetar dan merasa tercekik. Rio segera tiba di dekat Ryu dan berkata, "tenanglah Ryu, jika memang Sean tidak ada di dalam sekolah. Mungkin, ia berada di taman!"


Namun, Ryu tidak bergeming. Yuna yang mendengar putranya tidak ada di sekolah, seketika hatinya menjadi gelisah dan panik. Air matanya keluar dan berkata dengan nada pelan.


"Sean..." Yuna mulai terhuyung siap untuk jatuh ke lantai. Sebelum dirinya jatuh, Risa dan Alice menopang tubuhnya, lalu mereka bertiga duduk di lantai segera.


"Paman, sekolah ini tidak mengizinkan siswa untuk pergi ke mana-mana. Siswa hanya diizinkan untuk bermain di sekitar sekolah agar sesuatu yang buruk tidak terjadi."


Dalam sekejap, Rio memandang ke arah sekitar. Tatapannya menyapu seluruh sekolahan dan ia kemudian segera mengerutkan keningnya ketika melihat salah seorang guru, menghindari kerumunan segera.


Tindakan tersebut membuat Rio curiga dan dirinya mengangkat tangan kanannya. Siana yang berada di belakang, melihat instruksi isyarat Rio. Awalnya ia mengerutkan keningnya, akan tetapi arah yang dituju Rio membuatnya penasaran.


Siana yang melihat pemandangan guru menghindari kerumunan, membuat dirinya menjadi serius. Ia mengangguk pelan, kemudian menghilang dari tempat segera.


Elli yang melihat kepergian Siana, seketika menghilang dari tempatnya. Ia ingin membantu Siana karena Elli sendiri melihat isyarat tangan dari Rio, tanda bahwa dirinya harus membantu Siana.


"Cari putraku berada, jika sampai tidak ketemu. Sekolahan ini ... Akan kutuntut kalau perlu kuhancurkan sekaligus!" Tegas Ryu, ia memandang ke guru di cengkeramannya dengan ekspresi wajah galak.


Guru tersebut menciut, butiran keringat dingin mulai mengalir keluar dari tubuhnya. Ryu tidak peduli dan menurunkan guru itu, meski ia mengamuk tetap saja kesadarannya masih stabil.


"Paman, apakah kamu menemukan sesuatu?"


Rio memandang ke arah Ryu yang sudah mulai tenang. Dia mengangguk dan berkata, "kita akan menggunakan kamera universal. Setiap kota akan diketahui dari sudut mana pun!"

__ADS_1


Ryu menghela nafas, ia menatap Rio penuh harapan. Kemudian, ia berkata, "terima kasih, Paman!"


Rio menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "hanya masalah kecil. Juga, ini demi cucuku!"


Ryu tersenyum tipis, ia kemudian memandang ke arah sekolah dan mendengus sebelum berbalik pergi menuju tempat ketiga istrinya berada.


Para guru segera bertindak, mereka berkumpul menjadi satu dalam ruangan. Ketika akan dimulainya rapat, pintu ditendang dengan keras oleh Siana. Hal ini sontak membuat para guru terkejut.


"Nona, ada apa dengan Anda ... Mengapa menyerang tempat ini?"


"Itu benar, Nona. Tempat ini termasuk milik pemerintahan, apakah Nona ingin dipenjara?"


Siana mengabaikan perkataan para guru. Fokusnya ke arah guru yang berada di barisan belakang, ia berjalan dengan santai ke arahnya. Kemudian, tiba di depan guru itu. Siana melihat bahwa guru tersebut tengah gugup dan panik.


"Sepertinya dalang di balik hilangnya cucuku, ialah kamu!" Aura menakutkan seketika menyebar memenuhi ruangan. Fokus dari Siana ialah guru di depannya tersebut.


Semua guru yang berada di ruangan seketika menghirup nafas dingin, mereka seolah-olah telah melihat kematian di ujung mata dan kepala mereka sendiri.


Elli yang berada di luar, memandang ke arah sekelilingnya. Ia sedikit muram karena ada yang berani menculik putra dari istri Ryu.


"Penculik ini sepertinya benar-benar siap untuk menghadapi murkanya kakek tua itu! Jika dirinya mengetahui hal ini, seluruh kekuatan militer akan dikerahkan dan menghancurkan apapun yang ada."


Elli berharap agar Roa tidak mengetahui kejadian ini. Namun, sayang sekali ... Harapan tersebut sirna karena Roa sudah mengetahui akan hal itu.


Roa yang tengah duduk di kantornya, memandang anak buahnya yang berada di depan. Ekspresi wajah Roa kini bukanlah kegembiraan lagi, melainkan niat membunuh yang besar.


Aura kematian dan tekanan dilepas dalam jumlah besar. Seluruh planet terguncang dengan hebat, akan tetapi ... Sebelum terjadi hal berlebihan. Clara seketika memeluknya dan berkata, "tenang ... Ryu pasti bisa mengatasi hal tersebut!"


Roa seketika menghilangkan auranya. Ia mengangguk dalam-dalam dan memandang ke arah anak buah yang tengah bercucuran keringat dingin dan seteguk darah di mulutnya.


"Perintahkan seluruh organisasi untuk mencari cucuku itu! Hancurkan organisasi di balik orang yang menculiknya!"


Jelas dan tegas, prajurit yang mendengar perintah Roa tersebut, melebarkan matanya. Namun, ia segera menjawab, "Sesuai perintahmu, Pemimpin!"


Prajurit menghilang dalam bayangan, Roa kembali duduk dengan tenang. Clara yang berada di sebelahnya, memeluk Roa dengan erat dan memandangnya dengan tatapan penuh arti.


'Ryu, semoga putramu ditemukan!'

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2