
Silahkan Dibaca.
......................
Ryu memandang ke arah ikan tuna miliknya. Dia mengambil ikan tersebut dan mengangkatnya ke meja lain. Banyak tatapan tak percaya tengah memandang ke arah Ryu.
Mereka bertanya-tanya, apakah keterampilan Ryu begitu hebat atau hanya sekedar ingin menjadi badut saja. Namun, semuanya akan terjawab di pertandingan kali ini.
Masato tidak terlalu mempermasalahkan sisa bahannya di ambil, baginya sudah selesai dan sisa bahan makanan tersebut tidak bisa dirinya oleh. Namun, hal yang menarik perhatian adalah bagaimana Ryu mengolah sisa bahannya tersebut.
Di bawah tatapan semua orang, Ryu dengan ringan mengeluarkan tulang ikan tersebut. Kemudian, dengan lincah memisahkan tulang tengah dengan tulang yang mirip duri samping.
Ryu mulai menghancurkan tulang-tulang kecil yang mirip duri menjadi pecahan yang sangat kecil dan halus. Kemudian, dia mengambil beberapa bahan lain dan daging sisa yang berada di tulang.
Semua itu dilakukan dalam satu menit dan benar-benar sangat cepat, mata semua orang benar-benar tak percaya melihat kecepatan tersebut.
“Tulang adalah komponen yang paling cocok untuk tubuh, jangan remehkan tulang ini... Gizi paling tinggi juga terletak kepada tulang.”
Ryu mulai masak sambil mulai menjelaskan kegunaan satu-satu bahannya. Dia mulai mengaduk menjadi satu, antara tulang, daging, dan rempah-rempah lainnya.
Aroma sedap keluar menyebar ke arah seluruh Arena. Mereka benar-benar memandang dengan bodoh, bahwa bahan yang belum digoreng sudah mengeluarkan aroma yang begitu menggiurkan.
Ryu tidak peduli, kemudian dia mulai membuat adonan tersebut menjadi bentuk bola kecil-kecil. Dia melirik jam dan masih ada 25 menit.
Ryu tersenyum dan mulai memasukkan satu persatu bola-bola tersebut ke dalam wajan yang penuh dengan minyak goreng. Suara yang begitu renyah, membuat seluruh orang menelan air ludah mereka.
Tulang tengah ikan, Ryu masukkan ke dalam panci yang penuh akan air kaldu yang dirinya buat dengan beberapa rempah-rempah.
Aroma terus menyebar, hal ini membuat beberapa orang benar-benar kelaparan, bahkan para juri juga kelaparan. Masato sendiri melebarkan matanya ketika melihat proses memasak Ryu tersebut.
Beberapa menit kemudian, Ryu mulai mengeluarkan empat piring dan masing-masing piring di berikan dua puluh bakso, jumlah itu cukup untuk memuaskan pelanggan.
Jika, masih kurang... Ryu masih memiliki beberapa di mejanya. Dengan kuah kaldu yang begitu menggoda, disiram tepat bakso-bakso tersebut.
Tepat waktu selesai, Ryu telah menyelesaikan masakannya. Dia menatap ke arah seluruh ruangan. Banyak sorot mata tertuju kepadanya.
Para penonton benar-benar tercengang, dalam benak mereka hanya satu, jadi sisa bahan yang tidak bisa diolah dapat diolah menjadi hal yang begitu menarik.
Namun, mereka segera menyangkal pikiran tersebut. Meskipun tampilan bagus, tetapi bagaimana rasanya. Itu adalah pikiran para penonton untuk sekarang.
Pembawa acara kembali sadar dari keterkejutan, kemudian dia berkata, “Chef Ryu akhirnya menyelesaikan hidangannya...”
“Baiklah, Chef Masato silakan bawa masakan Anda ke tempat para juri, agar dinilai.”
__ADS_1
Masato mengangguk paham. Pembawa acara membuatnya pertama kali di juri, karena Masato selesai terlebih dahulu. Siapa yang cepat, dialah yang akan di juri terlebih dahulu.
Ryu tidak masalah, baginya bukan siapa yang dulu... Melainkan, siapa yang memasak dengan enak dan membuat para juri menghabiskannya.
Masato membawa masakannya ke tempat para juri. Terlihat bahwa para juri mengakui bahwa masakan tersebut enak. Itu bukan untuk syarat agar menyenangkan Masato.
Melainkan, bagi juri makanan yang dibuat Masato bagus dan enak. Namun, berbeda dengan Vivi... Dia memiliki lidah emas jadi tidak bisa menganggap itu enak.
“Ini, ada beberapa hal kurang... Aku tidak bisa menyebut ini enak, makanan ini hampir mirip seperti di pasaran.”
Lidah tajam dan ucapan yang begitu menusuk. Itu adalah hal normal bagi setiap peserta ketika di uji oleh sang Juri Elcia Vivian.
Namun, tetap saja itu sangat tajam. Masato sedikit tersenyum masam, dia benar-benar tidak menyangka masakannya biasa-biasa saja bagi Vivi. Namun, bagi ketiga juri lainnya enak...
Hal itu sedikit membuatnya senang dalam hati. Masato kemudian menunduk dan berkata, “Terima kasih atas penilaiannya.”
Masato berbalik dan kembali menuju ke meja besi miliknya. Kemudian, pembawa acara mempersilakan Ryu maju untuk mendapatkan penilaian.
Ryu mengangguk dan berjalan ke arah para juri, kemudian dia meletakkan tepat di depan keempat para juri. Keempat juri tersebut menatap dengan penuh penasaran masakan Ryu.
“Nak, apa nama dari masakan ini?” Georg membuka pembicaraan, dia mulai bertanya kepada Ryu tentang masakan tersebut.
“Itu adalah Bakso Tuna.” Ryu berkata sambil tersenyum di wajahnya. Keempat juri saling memandang, mereka benar-benar terlihat pertama kalinya mendengar nama makanan tersebut.
Seketika Henji melebarkan matanya, dia terkejut akan rasa yang benar-benar enak. Dia belum pernah merasakan rasa masakan tersebut.
Henji mengambil bakso kedua, ketiga, terus sampai akhirnya bakso di piringnya habis. “Di mana bakso lainnya!”
Hening, dalam arena seketika hening ketika Henji berteriak dengan keras. Georg, Kanzo, dan Vivi menatap ke arah Henji dengan penasaran.
Georg dan Kanzo tidak berkata apapun. Dia kemudian, juga mulai makan bakso yang dihidangkan tersebut. Keduanya melebarkan matanya.
‘Apa ini, kenapa? Masakan ini sangat enak... Aku serasa berenang bersama dengan ikan tuna di lautan dengan bebas.’ Georg benar-benar tidak menyangka akan rasa yang baru tersebut.
Kanzo sendiri juga sama, dia tersihir mirip dengan Henji dan Georg. Vivi sendiri mulai mencicipi satu bakso, kemudian dia masuk ke dalam fantasinya, di mana berbagai Tuna menusuk tubuhnya.
Keempat juri benar-benar membuat para penonton tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa keempatnya bereaksi sangat berlebihan.
“Apakah seenak itu?”
“Ekspresi keempat juri benar-benar membuatku terkejut.”
“Bisakah masakan membuat orang seperti itu...”
__ADS_1
Para penonton menjadi heboh satu persatu. Georg, Kanzo, dan Vivi merasa bahwa makanan mereka menghilang.
“Ke mana baksonya!”
Henji menatap ke arah ketiga juri dengan datar. Kemudian, ketiganya sadar dan paham kenapa Henji sebelumnya terhipnotis seperti mencari bakso.
“Batuk... Batuk... Nak, masakan yang kamu hidangkan ini melebihi dari kelas kami.” Henji berkata dengan blak-blakan, pernyataan tersebut membuat orang melebarkan matanya.
Masato dan seluruh peserta terkejut akan pernyataan tersebut, mereka benar-benar tidak menyangka seorang koki biasa, mendapatkan pengakuan yang mengejutkan tersebut.
Henji kemudian menyebutkan berbagai alasannya dan semuanya mengangguk paham. Namun, Ryu sendiri terus tersenyum dan berbalik.
“Aku tidak minat menjadi Top Koki...”
Pernyataan itu membuat semuanya terkejut, keempat Juri sendiri bingung dengan pernyataan Ryu.
“Memasak sebenarnya hanya hobi saja...”
Pernyataan selanjutnya membuat semuanya melebarkan matanya, memasak hanya untuk hobi... mereka semua tercengang dengan pernyataan selanjutnya tersebut.
Ryu berjalan dan melewati Masato yang tengah mengepalkan tangannya. Ryu tidak berhenti, dia tidak pandai menasihati seseorang.
Henji seketika menyeringai, dia benar-benar paham dengan tingkah dari Ryu tersebut. “Bocah, itu benar-benar di luar nalar. Kemungkinan besar, akan terjadi hal menarik di Negara Red Star ini nanti.”
Georg dan Kanzo sadar dan keduanya menyeringai. Mereka setuju dengan apa kata Henji tersebut. Sementara Vivi, hanya menatap kepergian Ryu.
Dia akhirnya menemukan seorang koki yang layak, jadi tidak mungkin untuk melepaskannya.
‘Semoga kita akan bertemu kembali, Joichiro.’
***
Ryu keluar dari tempat pertandingan. Tera sudah menunggu di sana, kemudian melihat Ryu yang keluar dari tempat pertandingan. Dia tidak bisa tidak mengerutkan keningnya.
“Aku menyerah... Ayo kita kembali.” Ryu berkata dengan nada ringan, Tera benar-benar tidak menyangka akan hal itu. Namun, dia mengangguk dan berjalan bersama Tuannya tersebut, kembali menuju Kota Arshna.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1