
Silakan Dibaca.
Halaman rumah.
Ryu mulai berlatih berkeliling halaman terlebih dahulu, sepuluh putaran sudah cukup untuk pemanasan kali ini.
Dirinya tidak ingin terlalu berlebihan dalam hal pemanasan. Terpenting dalam pemanasan adalah tubuh memiliki suhu panas yang cukup dan tubuh sama sekali tidak kaku.
Dia berlari kecil keliling halaman, diikuti oleh Risa, Yuna, Alice, dan Siana.
Tiga putaran telah selesai, namun ketiga istrinya sudah mulai terlihat kelelahan. Ryu melirik sekilas dan tetap melakukan lari kecil.
Tiga istrinya menatap ke arahnya, mereka menggertakkan giginya dan mulai berlari kembali. Hal ini membuat Ryu tersenyum tanpa sadar.
Risa yang berada di urutan ketiga juga menatap ke arah suaminya dan bibinya. Dia tahu bahwa bukan waktunya untuk manja, jadi dia hanya bisa menggertakkan giginya dan mulai terus berlari.
Yuna tak lebih sama dengan Risa, dia juga merasa pelatihan harus benar-benar keras. Jika tidak, sama saja dengan main-main.
Alice sendiri motivasinya berbeda dengan keduanya. Dia harus menjadi kuat, agar dapat berhadapan orang yang menindas dirinya. Dia teringat tentang ibunya sebelum meninggal.
Ibu yang berdiri di depannya dan melawan lusinan musuh, membuatnya gemetar ketakutan. Namun, ibunya berpesan untuk lari dan bebaslah dari tempat terkutuknya tersebut.
Alice menggelengkan kepalanya, dirinya ingin melupakan ingatan itu terlebih dahulu, dirinya perlu menjadi lebih kuat, agar dapat balas dendam.
Namun, motivasi yang berbeda menghasilkan satu kesamaan. Mereka ingin kuat, karena mereka ingin berjajar dan berdiri bersama dengan suaminya di puncak nanti.
Ryu sendiri mengetahui niat dan pikiran ketiga istrinya. Tidak ada yang berbohong, karena orang yang sudah berumah tangga dapat memahami keadaan pasangannya sendiri.
Siana yang berlari hanya tersenyum melihat ketiga istri ponakannya berlari dengan putus asa. Dia juga melihat bayangan dirinya dalam ketiga perempuan tersebut.
***
Beberapa menit kemudian.
Sepuluh putaran telah selesai dilakukan, tiga istri Ryu terbaring di halaman tempat latihan. Di tempat latihan tersebut bukanlah tanah yang menjadi permukaan, melainkan rumput hijau yang sangat rekat satu sama lain, tanpa menimbulkan tanah naik ke atas.
__ADS_1
Ryu duduk di halaman, dirinya meluruskan kaki dan memandang ke arah seluruh orang yang ikut dalam pelarian kecil sebelumnya.
Orangnya tetap, hanya ada tambahan dua yaitu prajurit yang dikirim oleh kakeknya.
Ryu menatap ke arah kedua prajurit itu, kemudian dia mengeluarkan lembaran kertas yang berisi beberapa coretan yang dirinya buat baru saja.
Siana melirik sebentar, dirinya menyusutkan matanya ketika melihat barisan rapi terkait pelatihan untuk kedua prajurit yang dikirim ayahnya.
“Apakah ini akan menjadi pelatihan mereka?” Ryu memandang ke arah Siana, kemudian beralih ke kertas yang berisi tulisan yang dia buat barusan.
“Itu benar, mereka berdua berada di level lima bukan?” tanya Ryu, dan dibalas anggukan oleh Siana.
“Apakah mereka membangkitkan kemampuan?” tanya Ryu sekali lagi, Siana mengangguk.
“Mereka memang membangkitkan kemampuan, namun kemampuan mereka berdua buruk. Ivan memegang kemampuan kayu dan Tea membangkitkan kemampuan daun.”
“Keduanya memiliki kemampuan yang berhubungan jadi ya begitulah, mereka akan selalu bersama.” Siana menjelaskan tentang kemampuan keduanya.
Siana sendiri menghela nafas tak berdaya, kemampuan dua itu sangatlah lemah baginya. Tidak ada arah pengembangan yang dirinya pikirkan.
Sementara itu, Ryu tercengang selepas mendengar kalimat dari Siana. Dia berpikir bahwa bibinya dan orang yang mengajar keduanya sangatlah bodoh, bagaimana bisa kekuatan kuat seperti itu dikategorikan buruk.
Siana yang mendapat pertanyaan itu, mengerutkan keningnya. Dia juga memiringkan kepalanya ketika mendapati tatapan rumit dari keponakannya.
“Itu benar, kemampuan dua itu sangatlah buruk. Kayu yang dimiliki oleh Ivan berbeda dengan kayu normal. Kayu yang diciptakan lebih rapuh dibandingkan dengan kayu normalnya, sementara daun, aku tidak bisa berkata lagi, karena daun juga sangat mudah hancur.”
Ryu akhirnya mendapatkan kebenaran, untuk Ivan dirinya memang setuju bahwa kayu rapuh adalah hal buruk, namun Ryu tahu kenapa bisa rapuh. Sementara, kemampuan daun sendiri, dia benar-benar memahami arah pengembangannya.
Ryu kemudian mulai menulis langkah-langkah pelatihan kedua prajurit yang dikirim oleh kakeknya tersebut. Siana yang berada di sebelah Ryu, tertarik dengan apa yang ditulis oleh Ryu tersebut.
Siana menatap sebentar, dia melihat konten pelatihan kemampuan untuk keduanya dan dirinya berubah menjadi serius, karena konten pelatihan Ryu sangatlah berbeda dari instruktur lainnya.
Siana melihat bahwa Ivan menjadi rapuh karena laki-laki mendapatkan pohon yang spesial, namun Siana melihat bahwa Ryu mengosongkan label jenis, yang artinya Ryu sama sekali belum mengetahui garis keturunan pohon apa yang dibangkitkan oleh Ivan sendiri.
Kemudian, konten kedua terkait Tea. Kemampuan daun memiliki banyak hal, namun Siana lagi-lagi melihat bahwa Ryu belum mengisi konten selanjutnya.
__ADS_1
“Kak Siana, aku akan melihat kemampuan keduanya terlebih dahulu.” Ryu berdiri dan berjalan menuju ke arah Ivan dan Tea.
“Aku ikut.” Siana mengikuti Ryu, ketiga perempuan lainnya juga mengikuti Ryu karena penasaran. Lalu mereka berlima tiba di depan Ivan dan Tea.
“Ivan, Tea, bisakah kamu menunjukkan kemampuanmu?” tanya Ryu, kedua prajurit itu saling memandang, kemudian mengangguk dan mereka berdua berdiri.
Ivan sedikit menjauh dan mulai mengeluarkan sepotong kayu dari tangannya. Ryu mengamati kayu tersebut dan dia paham mengapa Ivan bisa membuat kayu tersebut rapuh.
“Nah Ivan, apakah kayumu saat pembangkitan sama dengan kayumu sekarang?” tanya Ryu, sambil memandang ke arah Ivan.
“Itu benar, Instruktur. Kayu yang kubangkitkan seperti ini, coklat kehitaman mirip seperti kayu yang sudah dibakar.” Ryu mengangguk, dia kemudian memberikan lembaran kertas tugas kepada Ivan.
“Ini adalah konten pelatihanmu, serta ini untuk pemahaman tentang kayu milikmu. Ingat, pahami terlebih dahulu tentang kemampuanmu dan kerjakan konten pelatihan setiap hari, kita akan lihat hasilnya setiap minggu. Jika ada pertanyaan, ajukan nanti.”
Ivan menerima lembaran tersebut, matanya berbinar ketika melihat dua lembaran tersebut, konten pelatihan dan pemahaman berbeda dari instruktur lainnya. Ivan memandang ke arah instruktur barunya, kemudian mengangguk dan berkata dengan tegas.
“Siap, Instruktur!”
Ryu mengangguk, kemudian Ivan mulai bergegas mencari tempat di halaman rumah untuk memulai pelatihannya. Tea memandang ke arah Ivan dengan semangat, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Instruktur barunya akan memberikan pelatihan berbeda dari lainnya.
“Sekarang giliranmu Tea, tunjukkan kemampuanmu.” Tea mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya dan daun mulai muncul, dari tangannya. Ryu mengerutkan keningnya ketika melihat daun yang belum pernah dirinya ketahui.
‘Daun ini, kenapa sedikit berbeda dari daun normalnya.’ Ryu berpikir sebentar, kemudian dia mengambil daun tersebut. Tea sendiri gugup, jika instruktur barunya tidak dapat menemukan potensi yang cocok untuknya.
Ryu kemudian memasukkan daun ke dalam mulutnya, dia mengunyah daun tersebut dan merasakan kekerasan dari daun tersebut. Namun, di saat dia menyesap daun tersebut, semacam energi memasuki tubuhnya.
Energi ini tidak bisa dirasakan oleh siapapun, karena energi ini sangat kecil dan tidak akan dapat dirasakan oleh orang-orang kuat maupun orang-orang biasa.
Namun, Ryu dapat merasakan hal itu. Lebih tepatnya, dia merasakan menggunakan mata malamnya. Energi yang terkandung dalam daun sebenarnya menyebar, sehingga tidak begitu kuat.
‘Setiap energi ini, sepertinya begitu...”
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.