Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 77 - Menara 100 Tingkat 3


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Roa memandang ke arah sosok hitam tepat di depannya, ia mengerut ketika melihat penampakan dari sosok tersebut. Roa sama sekali tidak merasa aneh, namun melihat penampakan di depannya, ia tidak bisa untuk tidak tenang.


Terlihat sosok tengkorak dengan pakaian hitam compang-camping melayang di udara. Tengkorak itu memiliki mata bersinar hijau dan suara yang begitu mengerikan.


“Siapa kau?” tanya Roa dengan ekspresi serius dan penuh akan kewaspadaan. Meski dirinya kuat, ia selalu memiliki kesadaran akan bahaya musuh tertentu, seperti sosok tengkorak di depannya.


Dan juga, Roa sudah berkali-kali bertemu dengan monster tengkorak, dan monster itu sangat variasi, namun satu hal yang pasti ialah, monster itu lemah. Sedangkan untuk di depannya sekarang, Roa tidak bisa menentukan apakah tengkorak di depannya lemah atau tidak.


Hal itu karena, tengkorak di depannya terlihat benar-benar transparan.


“Siapa aku! Kahahaha, kalian tidak perlu tahu. Yang pasti, kalian semua akan menjadi makanan untukku, Kahahaha.” Tawa tengkorak semakin menjadi liar dan gila.


Roa, Sanda, dan ketujuh orang lainnya menjadi lebih waspada. Bukan karena tawa tengkorak itu, melainkan aura yang samar terus-menerus keluar dari tubuh tengkorak itu.


“Sanda, lindungi mereka. Sepertinya, tulang ini perlu diberi pelajaran.” Kata Roa sambil meretakkan lehernya ke kanan dan kiri, begitu juga ia meretakkan jari-jarinya.


Sanda hanya mengangguk dan melindungi kedelapan orang miliknya. Sementara, Roa berjalan keluar dari pondok, sambil menatap ke arah tengkorak yang tengah menatapnya balik.


“Hm, Manusia.. apakah kau ingin menyerahkan dirimu terlebih dahulu, Kahaha?” tanya Tengkorak sambil tertawa. Ia terlihat begitu, menantikan rasa dari manusia di depannya itu.


“Tengkorak, mulutmu sangat busuk, sepertinya kekuatanmu sangatlah lemah.” Kata Roa dengan jijik memandang ke arah Tengkorak.


Tengkorak itu membeku, kemudian memandang ke arah Roa dengan ekspresi marah dan tubuhnya berapi-api. “Apa kau bilang, Manusia Rendahan!”


Teriakan amarah Tengkorak menyapu ke segala arah. Sanda yang menjaga kedelapan orang tertegun, namun ia segera sadar ketika mendengar suara seseorang jatuh tepat di belakangnya.


“Arh!” ketujuh orang lainnya jatuh dan terbaring di tanah. Sanda berbalik dan melihat hal itu, ia dengan cepat memeriksa keadaan ketujuh orang tersebut.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Sanda sambil mengguncang tubuh ketujuh orang itu masing-masing. Ia kemudian dengan cepat memeriksa detak jantung ketujuh orang itu.


Sanda menghela nafas lega dan jejak kekhawatiran miliknya perlahan-lahan mulai surut. Ia kemudian berpikir, ‘Suara teriakan tengkorak itu dapat mengalahkan mereka yang berada di Level atas.’


Roa yang merasakan teman-temannya telah dilukai, tidak bisa untuk tetap tenang. Ia mengepalkan tangannya dan melesat ke arah Tengkorak yang melayang di udara itu.


Tiba di depan tengkorak itu, Roa melompat sambil mengayunkan kepalan tangannya tepat ke arah kepala dari tengkorak di depannya itu.


Bam!

__ADS_1


Tengkorak terpental ke belakang. Ekspresinya benar-benar terkejut dengan pukulan dari manusia di depannya itu. Dalam pikirannya, tidak ada yang bisa memukul dirinya, karena dirinya sangatlah kuat.


Tengkorak menjadi sedikit serius, ia kemudian mengepalkan tangannya. Berbagai daging perlahan-lahan mulai membentuk tangan yang begitu besar.


“Bajingan kecil sepertimu, beraninya melawanku!” raung tengkorak, kemudian tangannya berayun dengan keras menuju ke depan.


Roa sama sekali tidak takut, ia tidak merasakan rasa bahaya dari kepalan tangan milik tengkorak itu. Dirinya mengayunkan kembali kepalan tangannya, untuk melawan kepalan tangan tengkorak itu.


Boom!


Dedaunan yang berserakan di tanah terbang di udara dan menjauh dari tempat pertarungan Roa dan tengkorak. Pepohonan yang berada di sekitar mereka, terdorong ke belakang, mematahkan berbagai cabang yang dimilikinya.


Roa mengayunkan tendangannya ke arah perut dari tengkorak. Ia benar-benar tidak akan memberikan nafas terhadap tengkorak di depannya.


Tengkorak tidak bisa bereaksi, ia terbang meluncur ke belakang dengan kuat. Ia terlihat sangat terkejut, akan kekuatan manusia di depannya.


Boom!


Tengkorak menabrak berbagai pohon, sampai akhirnya berhenti di pohon hitam terbesar sendiri. Ia meringis kesakitan akan serangan dari Roa.


Ia mencoba untuk bergerak, namun dalam sekejap ia diberikan sambutan pukulan kembali oleh Roa.


Roa sama sekali tidak merasa kasihan. Ia mengayunkan kepalan tangannya yang kuat, ke arah perut dari tengkorak di depannya. Ia memukul tengkorak itu, ke bawah.


Boom!


Ledakan besar terjadi, lengkungan kawah tercipta dan tengkorak tertanam di tengah-tengah kawah tersebut. Tengkorak itu sama sekali tidak bergerak, tulang-tulangnya benar-benar retak keseluruhan.


Roa sama sekali tidak memberikan ampun, kepada monster tengkorak tersebut. “Sudah matikah? Atau masih hidup?”


Roa mengamati sebentar, ia melihat bahwa monster tengkorak sama sekali tidak bergerak, bahkan matanya yang sebelumnya bersinar telah menghilang sepenuhnya.


Roa menunggu beberapa menit, agar dapat melihat apakah monster tengkorak itu benar-benar mati atau masih hidup. Selepas, ia mengamati beberapa menit, Roa mendekat ke arah monster tengkorak.


Namun, hal selanjutnya bukanlah monster tengkorak itu bangkit kembali. Melainkan, berubah menjadi gumpalan kabut hitam dan melesat ke arah Sanda dan yang lainnya.


“Awas!” teriak Roa, membuat Sanda menoleh ke arah Roa dan melihat gumpalan kabut hitam melesat ke arahnya. Sanda dengan refleks tinggi, menghindari gumpalan hitam itu.


Roa sendiri melesat ke arah teman-temannya. Ia mendatangi Sanda terlebih dahulu, dan bertanya, “Apakah kau tak apa?”

__ADS_1


“Ya, aku tidak apa-apa, tetapi teman-teman kita..” ucap Sanda tertahan ketika melihat gumpalan kabut hitam mengelilingi delapan teman Roa dan Sanda.


“Kahaha, betapa lezatnya manusia ini. Karena mereka tidak sadarkan diri, membuatku lebih mudah untuk memakan mereka.” Suara tawa gila terdengar di telinga Roa dan Sanda.


Roa mengepalkan tangannya dan mengayunkan pukulannya ke arah kabut hitam tersebut. Namun, hal yang tidak terduga terjadi.


Bam!


Roa dan Sanda melebarkan matanya ketika melihat John terkena pukulan keras Roa. Namun, hal anehnya ialah, John tidak terbang melainkan berdiam di tempat dan wajahnya terkoyak karena pukulan Roa.


“Roa, kenapa kau memukul John!” Marah Sanda, sementara Roa mengangkat tangannya untuk diam sebentar.


“Kabut hitam ini, Baji*ngan! Ia menggunakan teman kita sebagai perisainya.” Sanda melebarkan matanya, ia menatap ke arah kabut dengan tajam dan muram.


Sanda benar-benar menyadari, bahwa dirinya seketika impulsif ketika melihat Roa memukul keras John. Ia sembarangan marah, tanpa berpikir jernih kembali.


‘Kenapa aku merasa, emosiku meluap.’ Batin Sanda, ia mengerutkan keningnya ketika baru saja sadar dari amarahnya.


“Sanda, aku tahu.. emosimu benar-benar dikendalikan oleh kabut itu. Aku sendiri juga terkena sebelumnya.” Roa memberitahu kepada Sanda, akan emosi tersebut.


Kabut hitam itu kemudian, berkata sambil tertawa liar. “Kahaha, tidak kusangka kalian manusia bisa mematahkan kekuatanku itu..”


“Namun, waktunya aku membalaskan dendamku kepadamu, Manusia!” Kabut Hitam itu mengakhiri percakapannya dan kedelapan sosok perlahan-lahan muncul dalam kabut tersebut.


Roa dan Sanda memandang delapan sosok itu dengan ekspresi terkejut. Bagaimana tidak terkejut, ketika melihat delapan temannya berdiri di depannya, namun memberikan suasana berbeda


“Tidak mungkin.. bukan.” Kata Roa benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Terlihat kedelapan temannya, masih dalam bentuk manusianya. Namun, rambut dan warna mata mereka benar-benar sama, rambut hitam dan mata berwarna merah.


“Kahaha, mari kita mulai permainannya..”


To be Continued.


Silakan Like, Comment, Share,, Vote, dan Hadiahnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2