Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 158 - Keanehan Sean


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Sekolah Raskan.


Semua orang merasakan tekanan kuat, tetapi tekanan tersebut segera menghilang dalam beberapa detik. Hal ini membuat para guru dan murid heran dan penuh akan rasa takut.


Rio yang berada di dekat Ryu seketika melebarkan matanya. Ia benar-benar ketakutan akan aura tersebut.


"Aura seperti ini, hanya ayah yang mengeluarkannya!" Rio berkata dengan pelan, tetapi Ryu jelas mendengarnya. Ia benar-benar terkejut ketika mendengar bahwa Roa sedang marah tepat dengan insiden yang terjadi.


"Kemungkinan besar, anak buah ayah sudah melaporkan kejadian ini." Rio melanjutkan perkataannya sambil memandang ke arah Ryu.


"Ayah kemungkinan akan ikut campur dalam mencari putramu."


Ryu seketika menghangat, ia tidak menyangka keluarganya benar-benar erat dan saling membantu satu sama lain. Ryu sendiri berpikir bahwa selepas Sean ditemukan, ia akan berterima kasih kepada kakeknya.


Sementara itu, di suatu pegunungan dekat dengan kota Arshna. Sebuah mobil hitam melintas, akan tetapi ketika aura menyerbu seluruh planet. Mobil tersebut berhenti sebentar.


"Ugh!" Pria yang berada di belakang mengeluarkan darah dari mulutnya. Hal ini juga berlaku kepada sopir yang mengendarai mobil tersebut.


"Tekanan ini, milik siapa?" Pria itu memandang ke arah luar, ia benar-benar memiliki wajah terkejut dan sentuhan rasa takut muncul dalam hatinya.


Ia tidak menyangka bahwa ada orang yang kuat di kota Arshna. Namun, sekilas ia merasakan perasaan buruk akan aura tersebut.


"Jalankan, kita harus cepat dan menyerahkan anak ini kepada penjual budak." Pria itu berkata dengan buru-buru. Sopir mengangguk selepas menyeka darahnya.


Mobil berangkat kembali menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui banyak orang.


Kembali di Sekolah Raskan.


Siana keluar dari dalam sekolah sambil menyeret satu orang guru. Tindakan tersebut menarik perhatian para siswa yang berada di balik jendela sekolah.


"Dia adalah dalangnya!" Siana melemparkan guru tersebut tepat di depan Ryu. Hal ini membuat Ryu memandang ke arah guru tersebut dengan niat membunuh yang kuat, ia kemudian mencekiknya dan berkata dengan nada pelan nan dingin.


"Di mana Sean berada?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, aku bersumpah bahwa aku tidak mengetahui apapun!"


Pembelaan guru tersebut, membuat Ryu semakin meningkatkan niat membunuh. Namun, sebelum bertindak sebuah suara elektronik melintas di benaknya.


[Tuan Rumah dapat menyerap ingatan orang tersebut yang berkaitan dengan Putra Anda. Kekuatan penyerapan bukan hanya menyerap kekuatan saja.]


Ryu yang mendengar hal itu seketika ingat bahwa dirinya memiliki kekuatan penyerapan. Ia menyeringai dan dalam sekejap berbagai ingatan terkait transaksi dengan seorang pria berjubah hitam muncul di pikirannya.


Rio memandang Ryu dengan aneh, ia melihat keponakannya itu tengah memejamkan matanya. Selanjutnya, aura membunuh keluar yang membuat dirinya tertegun.


"Bajingan!"


Ryu mengayunkan lengannya, ia membanting keras guru yang berada di tangannya tersebut. Ledakan keras terdengar sampai dalam ruangan, tanah yang terkena bantingan. Langsung hancur membentuk lubang yang sesuai dengan guru tersebut.


Hal ini mengejutkan para guru dan siswa. Kekuatan seperti Ryu tersebut, jarang ada yang memiliki. Para siswa menatap dengan kagum dan berbinar-binar. Sementara para guru, mereka menjadi takut akan kekuatan Ryu itu.


Rio yang berada di dekat Ryu, segera menepuk bahunya kembali. "Apa yang kamu lakukan?"


"Kita pergi ke pegunungan Rilan! Sean akan dijual kepada pedagang budak oleh ayah aslinya!" Ryu berkata dengan serius.


"Mari kita kesana dan bantai mereka!"


Ryu mengangguk, lalu Rio memegang Ryu selepas itu menghilang dari tempat. Mereka meninggalkan Risa, Yuna, Alice, Siana, Ordolf dan Elli. Hal ini membuat keenam orang itu menghela nafas tak berdaya.


"Mereka melupakan kita." Elli berkata sambil tertawa kecil, tangannya menutup ke arah mulut. Dia tidak menyangka bahwa Ryu dan Rio akan meninggalkan mereka. Meski ceroboh, keduanya kuat dan mungkin. Sean akan diselamatkan nantinya.


Yuna linglung sesaat, ia tidak menyangka mantan suaminya akan melakukan hal tersebut. Yuna segera memandang ke arah Siana, tetapi Siana berkata dengan nada lembut.


"Tetaplah di sini, mereka berdua sudah cukup."


Mendengar hal itu, Yuna seketika sadar bahwa Ryu ialah ayah angkat Sean. Ia yakin bahwa Ryu dapat mengatasinya. Namun, Yuna ingin pergi ke pegunungan Rilan hanya untuk menghancurkan mantan suaminya sampai menjadi bubur.


Namun, Yuna menyerah dan berharap Sean kembali.


***

__ADS_1


Di pegunungan Rilan.


Mobil hitam berhenti di dekat hutan rimba, di dekat mobil tersebut terdapat mobil box berwarna hitam dengan logo Ice cream di suatu perusahaan yang berada di kota lain.


Pria berjubah hitam meletakkan anak kecil di meja tepat di depannya itu. "Ini adalah anak yang kamu minta, sesuai dengan bayarannya."


"Tenang saja, 500 juta sudah kukirim. Kau bisa mengeceknya!"


Pria berjubah hitam itu membuka ponselnya dan melihat bahwa uangnya telah masuk. Ia menyeringai dan menyimpan ponselnya kembali.


Tatapannya beralih ke arah pria gemuk di depannya itu, kemudian ia menatap ke arah anak yang terbaring di meja. Senyum menyeringainya semakin melebar dan ia berkata dalam hati.


'Sean kamu benar-benar menguntungkan ayah sepenuhnya!'


Ryu dan Rio menyaksikan transaksi tersebut, mereka tidak bertindak. Bukan karena mereka takut atau membuat rencana, keduanya melakukan hal itu karena merasakan nafas Sean yang stabil artinya anak itu tidaklah pingsan.


"Sepertinya Sean sudah sadar. Bukankah kamu bilang, ia dibius dan pingsan. Namun, kulihat sekarang ia benar-benar sadar. Namun, tidak membuka mata sama sekali." Rio mengatakan analisanya.


Ryu mengangguk diam-diam. Ia sebenarnya terkejut melihat bahwa Sean benar-benar terjaga dan tidak dalam kondisi tak sadarkan diri.


Dalam transaksi, kesepakatan sudah terbentuk. Pria penjual budak menepuk kedua tangannya dan dua orang keluar dari mobil box, mengangkat meja menuju ke mobil.


Sean yang berpura-pura terbaring, sekilas sudut mulutnya naik ke atas membentuk senyuman. Namun, segera kembali seperti semula.


Sean diletakkan di dalam mobil, kemudian, mobil box bergerak menuju ke suatu tempat. Ryu memandang ke arah ayah Sean sebelumnya, ia kemudian muncul di belakang pria tersebut dan memukul tengkuk lehernya.


"Ap-" belum selesai mengucapkan sepatah kata apapun. Pria berjubah hitam jatuh tak sadarkan diri di tanah.


"Paman, kita ikuti mobil box tersebut." Ryu mengangkat pria berjubah hitam, ia mengeluarkan suntikan bius dan berkata, "tidurlah, selepas masalah ini selesai. Bersiaplah untuk siksaanku!"


Ryu mengikat pria tersebut di pohon dan segera menyuruh Tera datang untuk membawanya pergi. Selepas menghubungi Tera, ia memandang ke arah pamannya dan keduanya mengangguk bersama.


Ryu dan Rio melintas dengan cepat mengikuti mobil box dengan santai. Keduanya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sean nantinya. Seorang anak kecil yang tahan akan bius, bukanlah anak biasa.


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2