Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 155 - Akhir Sandar Foran


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Sandar Foran, pulau yang luas dan terbagi dua area kini telah terpecah menjadi dua pulau kecil. Meskipun terpisah, iklim asli tempat tersebut masihlah berlaku.


Tepat di area gurun, dua sosok kini tengah mengumpulkan kekuatan untuk mengakhiri pertempuran mereka. Pertempuran besar yang membuat Sandar Foran terbagi menjadi dua.


Selepas selesainya pertarungan mereka. Kemungkinan besar ialah berita akan menyebar ke seluruh dunia dan berakhir kegemparan publik.


"Mari kita akhiri dengan satu serangan penuh!"


Rio mengusulkan dengan tegas, matanya menatap ke arah Obor. Penampilan monster itu kini benar-benar rapuh, akan tetapi masih terdapat sisa kekuatan untuk menyerang.


Obor sedikit merunduk, tatapannya sengit dan dirinya memilih untuk menyetujui lamaran tersebut. Meski dirinya monster, masalah bahasa manusia. Dirinya pasti memahami.


Monster sendiri terbagi menjadi beberapa level.


Level 1 sampai level 10 dianggap sebagai monster berperingkat bawah. Mereka sama liarnya dengan binatang buas.


Level 11 sampai level 20 dianggap sebagai monster berperingkat menengah. Mereka memiliki pikiran sendiri, serta dapat memahami bahasa dan gestur lawan bicaranya.


Level 21 sampai level 30 dianggap sebagai monster berperingkat tinggi. Mereka dapat berkomunikasi dan dianggap monster mitos atau jarang muncul dalam dunia.


Dan yang dilawan Rio kali ini ialah monster dengan level 19. Salah satu dari monster Vortex, Obor.


Namun, karena level lawan masih di bawahnya. Rio benar-benar harus menekan kekuatannya sampai setingkat dengan Obor tersebut.


Hal ini bertujuan untuk bersenang-senang. Bagaimanapun juga, kekuatan puncak bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ada baik dan buruknya untuk berada di puncak.


Rio mengepalkan tangannya erat-erat. Aura hitam kemerahan mulai bermunculan dan melapisi lengannya. Tanah di bawahnya bergetar dan retakan mulai terlihat.


Obor sama sekali tidak mengendur. Dia bangkit dari berlututnya dan melompat mundur ke belakang. Kedua tangannya terentang ke samping, lalu aura merah keemasan muncul menyelimuti seluruh tubuhnya.


Tanah pulau gurun bergetar hebat. Bahkan getaran mengguncang perairan yang berada di dekat area gurun tersebut.


Ryu yang memandang tersebut benar-benar terkejut. Kekuatan penuh Level 19, dia ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


Siana yang berada di dekat Ryu merasakan antusias Ryu tersebut. Dirinya hanya menghela nafas tak berdaya, keluarga pejuang tetaplah pejuang.


"Red sedikit mundurlah, dampak dari serangan akhir ini sangatlah luas!"

__ADS_1


Siana menepuk punggung Red dan mengatakan dampak serangan akhir. Red mengangguk ringan, dirinya memahami maksud dari Siana tersebut.


Dengan kepakan sayapnya, Red mundur beberapa meter. Sedikit menjauh dari area gurun.


Ryu sendiri menyadari hal itu, akan tetapi dia tidak mencegahnya. Meski dari kejauhan, dirinya dapat melihat serangan akhir nantinya.


Risa, Yuna dan Alice mulai gugup dan bersemangat. Mereka mendekat ke arah Ryu dan duduk bersama suaminya tersebut, tindakan ini mereka lakukan agar hati ketiganya tenang dalam situasi yang berbahaya.


Ryu menyadari dan memeluk lembut ketiganya. Namun, pandangannya tetaplah terarah ke dalam pertarungan Rio dan Obor. Dia sama sekali tidak ingin ketinggalan eksekusi kedua kekuatan nantinya.


Rio dan Obor selesai mengumpulkan kekuatan mereka masing-masing. Selanjutnya, Rio mengayunkan kepalan tangannya dan Obor mengerahkan matahari kecil ke depan.


Ledakan!!


Dua serangan saling berbenturan satu sama lain, ledakan kuat menyapu seluruh tanah area gurun. Debu dan asap menjadi satu menutupi keseluruhan area gurun.


Gelombang angin seketika menyapu ke seluruh arah. Ryu dan yang lainnya segera menghalangi gelombang tersebut dengan tangan mereka masing-masing.


Ombak naik terus-menerus, lautan benar-benar tidak setenang seperti sebelumnya. Berbagai badai topan terus bermunculan satu persatu.


Dua kekuatan penuh level 19 benar-benar seperti bencana, pulau Sandar Foran sepenuhnya menghilang. Sekarang hanya tersisa pulau area hutan, akan tetapi pulau tersebut dihempaskan menjauh dari tempat aslinya.


Satu sosok duduk di tanah yang sudah mengecil dan sosok lainnya terapung di lautan.


Sosok duduk di tanah ialah Rio, tepat di depannya ialah Obor yang tengah terapung di lautan lepas. Keadaan monster tersebut benar-benar menyedihkan.


Tubuhnya telah terluka parah dan matanya terpejam, dia pingsan di tempat. Butuh beberapa bulan untuk penyembuhan, akan tetapi kekuatannya akan berkurang satu tingkat.


"Sepertinya dia berada di ambang antara hidup dan mati."


Rio memandang Obor, kemudian sudut mulutnya naik membentuk senyuman. Selanjutnya, tatapan matanya beralih ke arah Red yang perlahan mendekat ke arahnya.


Ryu yang berada di kepala Red segera memandang ke arah Obor. Matanya seketika berbinar, dia melepaskan pelukan kepada ketiga istrinya dan mulai melompat turun.


"Apakah monster ini sudah mati?"


"Hampir, akan tetapi hanya tinggal beberapa nafas lagi. Kemungkinan besar mati!"


Ryu mengangguk ketika mendengar penuturan dari Rio. Dia perlahan-lahan melangkah ke arah Obor dan duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu lakukan, Ryu?"


"Aku ingin mencoba kekuatan baru!"


Rio sedikit tertarik, kemudian dia melihat Ryu mengulurkan tangannya dan menyentuh Obor tersebut. Detik berikutnya, ruang terdistorsi dan Obor mulai di serap oleh Ryu.


Hal ini benar-benar mengejutkan Rio. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh keponakannya tersebut.


"Ryu ...." Belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya, Ryu menyela terlebih dahulu dengan wajah penuh semangat.


"Benar-benar kekuatan yang hebat!" Ryu berteriak dengan keras. Kemudian, dia membuka jari-jarinya dan bola merah keemasan keluar dari telapak tangannya tersebut.


Rio seketika memiliki tebakan kasar dengan kekuatan Ryu.


"Nak, apakah kemampuanmu menyerap kekuatan lawan?"


Ryu tidak menjawab melainkan mengangguk tanda bahwa tebakan Rio benar.


Rio seketika terguncang, dia tidak menyangka bahwa Ryu akan memiliki kemampuan aneh lainnya. Menyerap kekuatan lawan, hal ini sangatlah kuat dan penuh kecurangan.


"Namun, aku tidak bisa menyerap manusia. Hanya monsterlah yang dapat kuserap! Juga syarat dari menyerap ialah kondisi monster yang akan diserap harus sekarat!"


Rio mengangguk dalam-dalam, dia memahami kekuatan penyerapan Ryu. Namun, meski penyerapan hanya bisa dilakukan kepada Monster. Itu sudah termasuk hal curang, Rio sendiri sedikit iri terhadap keberuntungan Ryu tersebut.


"Apakah kamu akan mengikuti ayahmu?" Rio bertanya secara terbuka, baginya Ryu masih perlu banyak perkembangan. Jika hanya ditekan di satu tempat, dia tidak akan berkembang.


"Pikiran itu nanti, biarkan aku menguasai tempat ini terlebih dahulu, baru mulai menjelajah." Ryu menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan ringkas.


Rio dapat memahaminya dan mengangguk, di tempat ini. Banyak master yang bersembunyi menjadi orang yang lemah, hal ini hanya bertujuan untuk menghancurkan orang-orang yang sombong.


Rio sendiri pernah menjadi salah satunya, dunia bagaikan dua arah. Cahaya dan kegelapan, semakin terang cahaya semakin dalam kegelapan.


Inilah yang dipelajari Rio selepas berkelana di seluruh belahan dunia. Namun, dirinya berhenti melakukan perjalanan dan mulai menikahi Siana. Hidup saja normal di tempat keluarga berada, selanjutnya kembangkan keluarga sendiri.


"Baiklah, mari kita kembali untuk melapor!"


To be Continued.


Note : Mungkin sebentar lagi ini akan kuendkan dan kubuka buku kedua nantinya.

__ADS_1


__ADS_2