
[Chapter 13.]
[Pelayan Baru Kedai.]
[Silahkan Dibaca.]
Taman Kota Arshna.
Di tengah Ring, terlihat ada dua petarung saling bertanding. Para penonton bersorak lebih heboh dibandingkan biasanya. Mereka tidak menyangka pertandingan dua petarung tersebut sangat sengit. Dua petarung itu ialah Ryu dan Ito.
Ryu dan Ito melesat dan menyerang satu sama lain, kali ini mereka berdua menggunakan tangan untuk menyerang, berbeda dari sebelumnya yang hanya menggunakan kaki.
“Bugh..Bugh..Bughh..” Ryu dan Ito saling tukar pukulan. Ryu mengayunkan tangannya yang terkepal dengan cepat dan keras, Ito menahan dengan dua tangannya yang menutup rapat.
“Bughh..” Ito kemudian membalas serangan dari Ryu, ia kembali mengayunkan tangannya yang terkepal ke arah Ryu dengan keras dan cepat. Ryu sendiri menyilangkan tangannya.
“Bughh..” Keduanya terus saling tukar pukulan. Sampai akhirnya keduanya mengayunkan pukulan dan terdorong ke tempat mereka semula.
“Bughh...” Ryu dan Ito saling memandang. Mereka mengatur nafas sebelum melanjutkan pertandingan. Kondisi keduanya benar-benar babak belur. Wajah mereka bengkak dan kedua tangannya mengeluarkan darah.
“Kau kuat, tapi aku tidak akan menyerah!” Ito melesat dengan cepat, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk sekarang.
Ryu melihat hal itu meludahkan darah dan membalas, “Majulah, aku akan mengalahkanmu!”
Ryu mengeraskan seluruh otot-otot miliknya, kemudian tangannya terkepal dengan keras. Dirinya menatap dengan tajam dan kekuatan fisik miliknya seketika naik sebentar.
Ito menyadari dan tidak peduli, ia senang karena lawannya juga mengeluarkan seluruh kekuatannya.
“Bughhhh...” Ryu dan Ito saling memukul. Ryu memukul tepat wajah dari Ito. Begitu pun, juga Ito melakukan hal yang sama seperti Ryu.
Namun, perbedaannya adalah pukulan Ito tidak menimbulkan apapun untuk Ryu, sedangkan pukulan Ryu membuat Ito terpental ke belakang.
Ryu memandang Ito, dirinya melihat Ito yang terbaring tak bertenaga di lantai. Dia tersenyum, kemudian berkata, “Aku Menang!”
Para penonton bersorak, mereka benar-benar senang akan Pertandingan tersebut. Orang yang bertaruh kepada Ito, benar-benar tidak peduli berapa pun uang yang dikeluarkan. Mereka berubah ketika melihat pertandingan yang begitu ekstrim.
Robot seketika menghilangkan pelindung, dirinya turun dan berkata, “Pemenang dari pertandingan ini adalah Ryu Adam.”
Ryu berdiri, ia menatap ke arah langit. Tubuhnya benar-benar babak belur sekarang. Darah juga keluar dari mulutnya. Dia benar-benar menikmati pertandingan sebelumnya.
Robot kemudian, memberikan pil kepada Ryu dan Ito, selepas itu Ito meminumnya dan menatap ke arah Ryu yang bingung.
“Ada apa?” Ito bertanya dengan penasaran ketika melihat Ryu tidak meminum pil tersebut.
Mendengar pertanyaan Ito, Ryu menatap ke arahnya. Kemudian, memiringkan kepalanya dan bertanya, “Pil apa ini?”
Ito sedikit terkejut, kemudian ia tersenyum dan berkata, “Itu adalah pil untuk menghindari terjadi hal fatal, biasanya petarung akan diberikan hal itu sebelum dibawa ke Rumah Sakit.”
Ryu mengangguk, kemudian meminum pil tersebut. Dirinya dapat merasakan sesuatu energi telah mengisi tubuhnya kembali. Dia merasakan hangat sebentar sebelum mereda.
“Baiklah, aku akan pulang terlebih dahulu. Waktu sudah sore ternyata.” Ito berkata sambil berdiri, ia mengayunkan kepalan tangan ke arah Ryu secara lurus.
Ryu menatap Ito yang tersenyum, kemudian ia tersenyum dan membalas kepalan tangan tersebut. Dua kepalan bertemu menandakan persahabatan yang dalam bagi seorang laki-laki.
Para penonton sudah bubar, mereka ada yang masih di taman, ada juga yang sudah pulang ke rumah masing-masing.
***
Ryu keluar dari Taman. Dia berjalan dengan santai menuju ke arah Kedai miliknya. Dirinya memandangi Kota Arshna dengan senyum terukir di wajahnya.
“Benar-benar Kota yang indah, setiap aku berbelok pasti ada patung yang berbeda.” Ryu berkata dengan ringan, dirinya kemudian melihat ada seorang anak kecil tengah menangis di depan Minimarket.
Ryu melihat sekeliling dan sepi tidak ada orang sama sekali. Dirinya bingung, kemudian ia mendekati anak kecil tersebut.
__ADS_1
“Bocah, kenapa kamu menangis?” Ryu bertanya sambil berjongkok agar tingginya setara dengan anak kecil tersebut.
Mendengar suara Ryu, anak kecil itu mendongak. Dia sedikit terkejut ketika melihat wajah Ryu yang babak belur dan terlihat seperti Preman.
Anak kecil itu menangis lebih kencang, Ryu bingung kemudian ia mengelus kepala dari anak itu. “Tenanglah, ceritakan ada apa?”
Anak kecil tersebut mulai menenangkan dirinya. Dia menatap ke arah Ryu dengan gemetar, kemudian ia berkata, “I-itu, aku kehilangan Ibuku.”
Ryu memiringkan kepalanya, ia akhirnya paham bahwa anak ini tengah mencari Ibunya. Dia berpikir sebentar, kemudian bertanya, “Apakah kamu tahu tujuan Ibumu sebelumnya?”
Anak kecil itu mengangguk, kemudian berkata, “Ibu tadi bilang mau pergi ke sebuah Kedai untuk menemui seseorang. Tapi, di saat sampai di sana, aku pergi bermain di sekitar dan mengejar seekor kucing.”
Ryu mengangguk, dia paham sekarang. “Bagaimana kalau kita cari bersama?”
Anak kecil itu sedikit berpikir dan bertanya, “Apakah Paman orang jahat?”
Ryu mendengar itu tertawa, ia tidak menyangka bahwa anak kecil di depannya mengira dirinya jahat. “Kenapa, kamu mengira aku jahat, Nak?”
Anak kecil tersebut memandang dan berkata, “Itu wajah Paman, benar-benar seperti gambaran Preman.”
Ryu sedikit terkejut, kemudian ia tersenyum dan berkata, “Bocah cengeng sepertimu tahu apa soal Preman.”
“Aku bukan anak cengeng!” bentak Anak kecil tersebut, Ryu menepuk kepala anak kecil itu. Kemudian, ia mengulurkan tangannya.
“Ayolah, Bocah cengeng, kita cari ibumu.” Anak kecil itu menatap dengan marah, kemudian menerima uluran tangan tersebut dan mulai berjalan menuju ke arah Kedai.
***
Ryu tidak tahu kedai mana yang dimasuki oleh anak kecil itu, jadi ia hanya membawa anak kecil tersebut ke arah kedai miliknya berada.
Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di Kedai milik Ryu. Mereka masuk dan melihat isi di dalam Kedai.
“Nah, bocah... Apakah itu, Ibumu?” Ryu bertanya kepada anak kecil yang berada di sampingnya.
Anak itu mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ryu, kemudian ia melebarkan matanya dan berteriak, “Mama!”
Risa yang berada di sebelah perempuan itu juga ikut menatap ke arah anak kecil dan Ryu. Namun, tatapannya fokus ke Ryu dan ia melebarkan matanya.
Keduanya saling berteriak bersama. “Ryu/Sean.”
Kedua perempuan itu berlari menuju ke arah Ryu dan anak kecil tersebut. Kemudian, keduanya saling memeluk masing-masing orang itu.
Risa memeluk Ryu, sedangkan perempuan itu memeluk ke arah anak bernama Sean. Risa kemudian mengecek tubuh Ryu dan bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?”
Ryu mengangguk, kemudian menjawab, “Ya, aku baik-baik saja. Tadi, bertarung sebentar melawan pemuda yang bernama Ito Ma.”
Risa melebarkan matanya, ia kemudian sedikit gemetar dan berkata, “Kamu melawan Ito Ma... Petarung yang mengalahkan 99 orang dari 100 orang itu?”
Ryu mengangguk dan tersenyum dengan lebar. “Yah, aku menang melawannya.”
Risa semakin terkejut, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Ryu menantang seorang petarung kuat dan bisa menang, hal itu membuat dirinya senang sekaligus ada rasa bangga.
Risa memeluk Ryu dengan erat dan berkata, “Selamat, Sayang.” Ryu tersenyum dan membalas pelukan dari Risa.
Perempuan dan Sean menatap ke arah Ryu dan Risa. Kemudian, perempuan itu batuk pelan. “Ehem, apakah aku mengganggu?”
Ryu dan Risa sadar bahwa di Kedai masih ada dua orang. Mereka melepas pelukan dan menatap ke arah perempuan dan Sean.
Risa kemudian sadar, kemudian ia memperkenalkan Ryu kepada perempuan tersebut.
“Yuna, ini adalah Suamiku... Namanya adalah Ryu Adam.” Risa memperkenalkan Ryu dengan senang dan bahagia.
Perempuan yang bernama Yuna tersebut menatap Risa dan mengangguk. Kemudian, tatapannya beralih ke Ryu. Dirinya tersenyum dan mengulurkan tangan miliknya.
__ADS_1
“Salam kenal, namaku adalah Yuna Arven, aku teman dari Risa.” Ryu mengangguk paham, ia menerima uluran tangan tersebut.
“Namaku Ryu Adam, Suami dari Risa Sanada.” Ryu tersenyum dengan lembut, hal itu membuat Yuna sedikit memerah dan tersipu.
Risa menyadari hal itu, dirinya hanya tersenyum dan kemudian keduanya melepaskan jabatan tangan mereka.
“Ryu, dia yang akan menjadi pelayan di sini. Temanku ini seorang Janda, umurnya sekitar 52 tahun. Dia lebih tua dari kita.” Risa berkata dengan nada ringan.
Yuna sedikit terkejut, ia malu ketika temannya menyebutkan umurnya. Ryu sendiri terkejut, kemudian ia ingat bahwa memiliki seorang anak kecil di atas 50 tahun.
‘Namun, melihat sendiri orang yang berusia 50 tahun benar-benar berbeda. Mereka malah terlihat seperti berumur 18 tahun,' batin Ryu ketika menatap ke arah Yuna.
“Tunggu... Janda?” Ryu baru sadar akan hal itu. Risa menatap Ryu dan berkata dengan sangat jelas.
“Ya, dia Janda. Temanku ini di tinggalkan karena bagi Suaminya ia kurang memuaskan.” Risa benar-benar blak-blakan, Yuna mendengar itu segera mencubit pinggang Risa.
“Bo-bodoh, jangan seenaknya mengungkapkan masalah seseorang.” Yuna berbisik di telinga Risa. Dia benar-benar malu sekarang, sedangkan Sean putranya hanya menatap dengan bingung.
Ryu sendiri tidak menyangka bahwa Istrinya benar-benar orang yang langsung blak-blakan tanpa ada sembunyi sama sekali.
“Yah, itu keputusanmu. Jika, ia bisa bekerja tidak apa-apa. Juga, bagaimana dengan anak ini?” Ryu bertanya dengan nada penasaran.
Risa dan Yuna yang sedang berbisik berhenti, kemudian Yuna menatap ke arah Sean, lalu menatap ke arah Ryu.
“Dia akan memasuki sekolah dasar.” Yuna berkata dengan jelas, Ryu mengangguk. Kemudian, ia berjongkok dan tersenyum kepada Sean.
“Oh, selamat bocah. Kau masuk ke Sekolah Dasar, jangan cengeng ketika di sana nanti.” Ryu senang sekali bermain dengan anak-anak.
“Aku tidak cengeng!” Sean berteriak dengan keras. Ryu tertawa dan menepuk kepala anak kecil tersebut.
Yuna sedikit terkejut, ketika Ryu memperlakukan seorang anak kecil dengan lembut dan baik. Dia tidak pernah menemui laki-laki seperti itu.
Risa sendiri juga terkejut, bagaimanapun juga seorang anak biasanya diabaikan dan tidak diperhatikan. Anak-anak akan tumbuh menjadi liar dan kuat dengan sendirinya, ada beberapa orang yang memperhatikan anaknya. Namun, kebanyakan tidak.
Ryu menyadari akan tatapan kedua perempuan itu, dia mengabaikannya dan berkata kepada Sean. “Bagaimana kalau kita makan bersama, akan kubuatkan makanan yang paling enak.”
Sean seketika mengangguk, ia suka makan. Bagaimanapun juga, para anak-anak akan tumbuh dengan kuat dan keinginan untuk makan pasti menjadi lebih kuat.
Yuna menatap Risa mengisyaratkan ‘apakah tidak apa-apa?’ Risa sendiri tersenyum ketika di tatap begitu oleh Yuna, ia mengangguk tanda isyarat bahwa tidak apa-apa.
“Ayo, Paman.” Sean sangat antusias, Ryu memegang tangan Sean dan menggendongnya menuju ke tempat makan untuk para staff.
Kedua perempuan terkejut ketika melihat Ryu menggendong dengan senang Sean. Mereka sedikit linglung, tetapi segera sadar dan mengikuti Ryu menuju ke arah dapur.
***
Risa, Sean, dan Yuna duduk di lantai dengan meja makan di depan mereka. Ryu sendiri sedang memasak sesuatu, bahkan aromanya tercium sampai ke hidung ketiga orang tersebut.
Tak butuh waktu lama, Ryu keluar dengan membawa empat piring berisi makanan. Dia menyajikan makanan tersebut dan berkata seperti seorang Chef.
“Silahkan dinikmati.”
[Voting, Guys.]
[1. Harem.]
[2. No Harem.]
[Ayo pilih jangan sampai ketinggalan.]
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.