
Silakan Dibaca.
Malam hari.
Ryu tengah berdiri di balkon kamarnya. Dia memandang ke arah langit, di mana bulan bersinar dengan terang. Ryu menikmati pemandangan tersebut, indah dan begitu alami.
Tiga istrinya sudah tidur dengan nyenyak. Namun, dirinya sendiri sama sekali belum bisa tidur.
Di saat Ryu menikmati suasana malam, sebuah suara tengah terdengar di sebelahnya.
“Tidak bisa tidur?”
Ryu mengalihkan perhatiannya ke arah pemilik suara itu. Terlihat Siana memakai pakaian gaun tidur, memang terlihat transparan dan menampilkan dalaman yang wanita itu pakai.
Namun, Ryu bukanlah laki-laki yang penuh akan naf*su. Dia sama sekali tidak tertarik dan memilih menatap kembali pemandangan langit di malam hari.
“Ya... Meski lelah, akan tetapi hari ini benar-benar membuatku tidak bisa tidur.” Ryu berkata sambil tersenyum tipis, dirinya memang selalu susah untuk tidur malam.
Siana yang berada di sebelah Ryu, segera mengambil kursi yang berada di dekatnya. Dia duduk di dekat Ryu yang berdiri memandang ke langit malam.
Suasana malam sangatlah tenang, hanya suara hewan seperti jangkrik maupun belalang yang terdengar. Angin berembus dengan lembut, menambahkan kesan sejuk dalam tubuh.
“Apakah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu?” Siana bertanya sambil memandang ke arah depan, di mana bulan bersinar berada.
Ryu yang mendapatkan pertanyaan tersebut, mulai memikirkan sesuatu. Sampai akhirnya, dia menjawab, “Tidak ada...”
Siana mengangguk sekali, kemudian dia berdiri dan berjalan masuk ke dalam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Ryu tidak peduli, dia hanya menikmati malam yang indah. Kemudian, dirinya berkata kepada sistem miliknya.
“Sistem, jika hari ini tidak menyelesaikan pengembalian. Apakah jumlah pengembalian akan berkurang?”
[Menjawab : Itu benar, Tuan Rumah. Namun, selepas Tuan Rumah mencapai Level 5. Kesulitan dalam sistem akan naik, sehingga Tuan Rumah akan melambat untuk naik Level selanjutnya.]
Ryu mengangguk mengerti, kemudian dia melihat bahwa dirinya hanya tinggal 200 lagi untuk mencapai Level 5.
Ryu ingin melakukan pengembalian, namun dirinya segera mendengar langkah kaki dari dekatnya. Hal ini membuat, Ryu menatap ke arah asal langkah kaki tersebut.
Terlihat Siana tengah kembali dengan membawa satu box minuman keras. Ryu mengerutkan keningnya ketika melihat adegan tersebut.
Box tersebut dapat menampung dua puluh lima botol minuman keras. Dilihat dari botolnya, Ryu dapat menebak minuman keras apa itu.
__ADS_1
“Ryu, mari minum... Malam hari, menikmati pemandangan sambil minum adalah hal yang paling menyenangkan.” Siana berkata sambil meletakkan satu box minuman keras di bawah meja.
Kemudian, dia mengambil satu botol dan dua gelas besar. Ryu sama sekali tidak menolak, bagaimanapun juga minum adalah kegiatan rutin dirinya saat di dunia sebelumnya.
Siana menuangkan minuman keras ke dalam gelas besar tersebut. Perlahan-lahan gelas terpenuhi, Ryu mengambil gelasnya begitu juga Siana.
Ting!
Dua gelas berbenturan satu sama lain, kemudian keduanya mulai meminumnya.
“Bagaimana?” Siana bertanya kepada Ryu, ketika sudah selesai meminum miliknya dan mulai menuangkan kembali.
“Lumayan...” Ryu menjawab sambil tersenyum tipis. Siana mulai menuangkan kembali minuman keras tersebut. Sementara Ryu, sama sekali tidak menolaknya.
“Nah Ryu, maukah kamu mendengarkan ceritaku?” Siana bertanya sambil meminum minuman keras tersebut.
“Ceritalah... Akan kudengarkan.” Ryu menerima dengan ringan. Bagaimanapun juga, cerita adalah peneman seseorang di kala sedang minum.
“Dulu, ada seorang gadis yang kurus dan kecil. Dia tinggal di sebuah desa yang amat jauh dari perkotaan.” Siana mulai bercerita sambil menggoyangkan gelasnya.
“Gadis itu tengah memandang sekitar dan dia berpikir, bahwa dunia hanyalah mimpi yang belum terlaksana.” Siana menuangkan minuman keras ke gelasnya.
“Gadis itu bermain di pinggiran hutan dan dia bermain sendirian. Dia tidak ada teman sama sekali, agar dirinya diizinkan orang tuanya. Dia perlu menipu bahwa dia bermain dengan teman-temannya,” kata Siana.
“Sampai hari menjelang sore, hal tak terduga terjadi...” Mata Siana mulai berkaca-kaca, pipinya mulai memerah, suhu tubuhnya menjadi lebih panas dari sebelumnya.
Ryu menyadari keabnormalan Siana, namun dia tetap diam dan mendengarkan cerita dari wanita di depannya.
“Langit memerah, panas menyengat dirasakan oleh gadis itu. Dia mulai berlari menuju ke desa, karena asal panas dan langit merah berada di tempat itu.” Siana meminum minuman keras langsung satu botol penuh.
“Tiba di desa... Pemandangan horor terlihat, seluruh warga terbunuh dan di gerbang desa terlihat wajah orang tuanya yang telah terbunuh dengan kejam. Ibunya yang dihancurkan pakaiannya dan terlihat berbagai jejak air putih di tubuhnya.” Air mata mengalir, membasahi pipi Siana.
“Gadis itu berjalan, semuanya hancur dan dia menangis kencang, sampai akhirnya pingsan di tempat.” Siana memandang ke arah Ryu, pipinya kali memerah tanda bahwa dirinya tengah mabuk.
Ryu sendiri berkeringat dingin, ketika melihat satu box habis diminum oleh Siana. Sementara dirinya hanya minum tiga gelas saja.
“Ryu...” panggil Siana terhadap Ryu dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih telah mendengarkan cerita yang kumiliki.”
“Cerita ini hanya dua yang sudah tahu, ditambah dengan dirimu menjadi tiga.” Siana meneguk botol terakhir, selepas itu menatap kembali ke arah Ryu.
“Apakah kamu tahu siapa gadis itu?” tanya Siana dengan lembut. Ryu menghela nafas panjang, kemudian memandang ke arah Siana sambil tersenyum.
__ADS_1
“Jika, kudengar dengan benar... Gadis ini adalah kamu.”
Siana tersenyum lebar, kemudian mencoba meneguk air di dalam botol. Namun, air tersebut sudah habis. Siana ingin mengambil botol lain, namun botol yang berada di dalam box sudah habis.
“Kamu sudah mabuk berat.” Ryu berkata sambil memandang ke arah Siana. Sedangkan, Siana berdiri dari duduknya. Dia berjalan terhuyung-huyung, ke arah Ryu.
Ryu mengerutkan keningnya, dia diam dan memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh Siana tersebut.
Tiba di dekat Ryu, Siana menggelantungkan lengannya di leher Ryu. Dia duduk di pangkuan keponakannya tersebut.
“Bisakah kamu membantuku kembali ke kamar?”
Ryu merasakan bahwa tubuh Siana sangatlah lemah. Dia tidak bisa untuk tidak menghela nafas panjang. “Lain kali, jangan minum lagi. Jika berujung, kamu seperti ini.”
Ryu menasihati Siana, namun orang yang dinasihati telah tertidur lelap. Ryu yang melihat hal itu, hanya bisa tersenyum kecut.
Dia kemudian, menggendong Siana layaknya putri. Menuju ke kamar, untuk membaringkan wanita tersebut.
Tak butuh waktu lama, Ryu tiba di kamar Siana. Dia membuka pintu kamar, selepas itu masuk ke dalam kamarnya.
Kamar Siana sangatlah rapi, furnitur dan dinding memiliki warna biru putih. Melambangkan bahwa wanita itu sangatlah ingin melihat seluruh isi dunia.
Ryu hanya tersenyum, kemudian berjalan menuju ke ranjang. Selepas itu, dia membaringkan Siana di ranjang tersebut.
Selanjutnya, Ryu berbalik pergi dari ruangan. Namun, sebelum dia bisa pergi keluar. Dirinya ditarik oleh Siana menuju ke ranjang.
“Eh...” Ryu terkejut, namun sesuatu yang lembut tengah menempel di bibirnya. Ryu melebarkan matanya ketika melihat kejadian tersebut.
“Ryu, bisakah aku minta tolong kepadamu?” Siana tersenyum sambil memandang dalam-dalam ke arah Ryu.
Sementara Ryu, tertegun. Kemudian, dia menghela nafas panjang dalam hatinya.
‘Jika begini, bagaimana bisa menolak?’
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1