
Silakan Dibaca.
Ryu dan lainnya akhirnya tiba di kediaman. Mereka masuk ke dalam kediaman, kemudian satu persatu turun dari mobil, menyisakan Ivan seorang karena dirinya adalah sopir.
Semuanya sudah turun, Ivan melajukan mobil menuju ke garasi. Sampai di sana, Ivan mematikan mesin dan mulai keluar dari mobil, setelah itu beranjak pergi menuju ke tempat yang lainnya berada.
Ryu dan yang lainnya segera masuk ke dalam rumah. Kemudian, mereka berjalan pergi menuju ke kamar masing-masing. Mereka melakukan mandi terlebih dahulu, sebelum memasuki waktu makan malam.
Beberapa menit kemudian, Ryu dan tiga istrinya selesai mandi. Mereka keluar dari kamar dengan pakaian santai. Sebelum keempat orang itu turun, Siana keluar dari kamarnya.
“Oh, kalian sudah selesai mandi... Kalau begitu biarkan aku memasakkan hidangan untuk makan malam.” Siana melangkah keluar sambil mengikat rambutnya membentuk ekor kuda.
“Kenapa tidak pesan saja... Lebih baik hari ini kita beristirahat. Masalah makanan, kita akan pesan.” Ryu menatap ke arah Siana, kemudian berbalik memandang tiga istrinya.
Risa, Yuna, dan Alice jelas paham maksud Ryu. Mereka mengangguk setuju, meski ketiganya ahli dalam masak. Namun, kali ini kondisi fisik dan mental seluruh orang rumah benar-benar terkuras habis.
Siana mendengar penuturan Ryu, berpikir sebentar dan mengangguk mengerti. Dia tahu bahwa tubuhnya sudah lelah, sejak pulang dari pertempuran melawan monster, tubuhnya selalu merasakan getaran ringan tanda bahwa dirinya tengah mengalami kelelahan total.
Ryu mengambangkan senyum melihat bibinya setuju. Dia kemudian turun ke bawah diikuti dengan empat perempuan lainnya. Sedangkan Ivan dan Tea, keduanya baru saja keluar dari kamar. Jadi saat melihat lima orang rumah tengah turun, mereka segera ikut turun.
Tiba di area makan, Ryu memasuki dapur untuk memesan makanan. Daftar yang diinginkan semua orang rumah sudah dia pegang. Melakukan panggilan singkat, dirinya memulai memesan makanan.
Risa, Yuna, Alice, Siana, Tea, dan Ivan, tengah menunggu pesanan di meja makan. Mereka duduk sambil membicarakan terkait pertempuran sebelumnya.
“Kalian berdua sudah meningkat tajam, teman-temanmu yang lainnya terkejut dengan peningkatan itu.” Siana memandang ke arah Tea dan Ivan, dirinya tidak menyangka bahwa dua prajurit di bawah komandonya, kini sudah berubah.
“Terima kasih, Instruktur Siana. Namun, aku pribadi masih belum benar-benar kuat,” kata Ivan diikuti dengan menatap Siana. Baginya kekuatan sekarang, hanyalah perubahan sementara. Dia perlu berubah sepenuhnya dan menjadi kuat agar dapat melindungi Negara.
“Baguslah, kukira kamu akan sombong dan lupa diri.” Siana tersenyum memandang Ivan, kemudian beralih menatap ke arah Risa, Yuna, dan Alice.
“Bagaimana perasaanmu, selepas membunuh monster-monster itu?” tanya Siana kepada Ketiganya.
__ADS_1
“Menurutku biasa, hanya saja... Kami terlalu ceroboh kali ini. Memang lawan kami memiliki bentuk yang berbeda-beda. Namun, kami akhirnya menyadari bahwa para monster tetaplah buas dan ganas.”
Mendengar penjelasan Yuna, Siana mengangguk setuju. Memang sebelum ketiganya terjun, mereka terlihat memikirkan kelucuan dan hal lainnya. Namun, ketiganya tidak menyadari sifat monster yang buas tersebut.
“Baguslah, kalau kalian menyadari kelemahan itu. Aku pribadi sendiri, sedikit kewalahan melawan monster sebelumnya. Bisa dibilang monster utara sangatlah kuat, dibandingkan di tempat kita berada,” jelas Siana.
Dia sudah memahami kekuatan monster utara. Banyak efek curang yang dimiliki oleh monster-monster utara. Ada yang dapat regenerasi, menumbuhkan sayap rekannya, ada yang dapat berubah menjadi hal aneh lainnya.
Inilah yang membuat dirinya berpikir bahwa monster utara jelas lebih kuat dibandingkan dengan monster di tempatnya berada.
“Kak Siana, mengapa monster utara bermigrasi ke tempat kita? Apakah ada sesuatu yang tengah terjadi di sana?” tanya Alice secara tiba-tiba, dia tidak terlalu peduli dengan pertempuran sebelumnya. Kali ini dalam benaknya hanyalah penyebab monster utara pindah.
“Tiga hari nanti kita akan menyelidikinya.” Ryu yang keluar dari dalam dapur, menjawab pertanyaan dari Alice.
Sontak mereka terkejut, kemudian tatapan para perempuan tertuju ke arah Ryu. Hal ini membuat orang yang ditatap melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
“Maksudmu, kita akan menjelajah di wilayah utara?” Siana bertanya terlebih dahulu. Dia belum menerima informasi itu sebelumnya.
Siana terkejut, dia memang menerima pesan dari ayahnya. Namun, dia berencana membuka pesan itu nanti selepas makan malam.
“Jadi, tiga hari kemudian, kita akan berangkat menuju ke wilayah utara?” tanya Risa sambil memandang ke arah suaminya. Ryu yang di tatap dan diberi pertanyaan, hanya mengangguk dan tersenyum lembut.
Ryu kemudian memandang ke arah Ivan dan Tea. “Kalian berdua, aku akan memberikan sebuah misi tersendiri. Ini bukan pelatihan, hanya saja berguna nantinya.”
Ivan dan Tea yang sebelumnya sedih karena tidak ikut menjelajah ke utara. Seketika berubah menjadi semangat ketika mendengar kata misi dari instruktur mereka tersebut.
Siana sedikit penasaran dengan misi yang diberikan Ryu kepada kedua prajuritnya. Namun, dirinya segera mengabaikan hal itu ketika mendengar suara ‘ting’ di dalam dapur.
“Makanan sudah tiba... Biarkan aku saja yang mengambilnya.” Siana mulai berdiri dan berjalan dengan cepat menuju ke arah dapur. Risa, Yuna, dan Alice juga mengikuti Siana membawakan makanan yang telah dipesan.
Mereka ingin membantu Siana, karena suara ‘ting’ di dapur sama sekali tidak ada henti. Hal ini menandakan bahwa makanan yang dipesan sangatlah banyak.
__ADS_1
Ryu memandang ke arah empat perempuan itu sebentar, kemudian beralih menatap ke arah dua prajurit magang tersebut.
Ryu mengeluarkan kertas yang sudah dia isi dengan tulisan terkait misi Ivan dan Tea nantinya. Setelah kertas itu keluar, Ryu menyerahkan kertas tersebut kepada kedua prajurit magang.
“Di kertas itu, terdapat berbagai misi yang harus kalian selesaikan,” jelas Ryu, kemudian Ivan dan Tea menerima kertas tersebut dan mulai membaca misi yang diberikan oleh instruktur.
Melihat daftar tugas yang lumayan banyak, membuat keduanya sedikit mengerutkan keningnya. Daftar misi itu memang terlihat sederhana, namun saat dijalankan butuh banyak waktu.
“Aku tidak menyuruh kalian menggunakan metode normal, gunakan kemampuan kalian.” Ryu menambahkan perkataannya, selepas melihat reaksi Ivan dan Tea.
Ivan dan Tea seketika menjadi cerah. Memang jika menggunakan kekuatan akan cepat, namun hal ini sudah masuk ke dalam hitungan Ryu.
Dia sudah memperhitungkan kekuatan kedua prajurit di depannya. Dirinya hanya tersenyum ketika melihat wajah keduanya cerah. ‘Biarkan mereka senang dulu, karena tugas itu tidaklah mudah, meski memakai kemampuan pun.’
Di saat ketiganya sedang berbicara sebentar, empat perempuan telah datang membawa banyak makanan. Dalam sekejap, meja makan segera penuh dengan makanan yang enak.
“Sayang, kamu memesan sangat banyak,” keluh Risa, dia tidak menyangka suaminya memesan begitu banyak makanan.
“Memang kenapa? Bukankah kita dapat menghabiskannya?” Ryu bertanya sambil memandang Risa dengan sebelah mata. Hal ini, membuat Risa tidak bisa berkata-kata kembali.
Memang benar, bahwa dirinya dapat menghabiskan makanan enak itu. Dia juga tidak perlu peduli dengan berat badan, karena makanan akan tercerna dengan cepat selepas melakukan olahraga malam.
“Sudahlah, ayo kita makan... Besok kita akan mulai berlatih kembali.” Ryu segera menghentikan pikiran semuanya dan mulai menginstruksikan untuk segera makan.
To be Continued.
Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan Hadiahnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.
__ADS_1