Sistem Kekayaan : Pengembalian

Sistem Kekayaan : Pengembalian
Chapter 15 : Diskusi Ringan


__ADS_3

[Chapter 15.]


[Diskusi Ringan.]


[Silahkan Dibaca.]


Mansion Ryu.


Di dalam ruangan tamu terlihat ada dua orang tengah saling menatap satu sama lain. Keduanya sedang membicarakan sebuah rencana untuk ke depannya. Kedua orang itu ialah Ryu dan Tera.


Ryu sudah meletakkan Sean di kamar tidur sebelah kamar miliknya, di sana juga tempat bagi Yuna untuk tidur. Risa sendiri tidak ikut Ryu berbicara dengan Tera, ia sekarang berada di kamar Yuna sedang berbicara masalah perempuan.


Tera sendiri masuk, dia memerintahkan para anggota miliknya untuk tetap di luar. Bagaimanapun juga, ia sendiri yang akan berbicara dengan Bos barunya tersebut.


“Pertama, pastikan mereka sehat.” Ryu berkata dengan nada serius, dia tidak ingin anggota atau anak buahnya mengidap penyakit yang disebabkan oleh ulah mereka.


Ryu mengeluarkan uang 1.300 Rupiah. Tera melebarkan matanya, ia sekarang tahu bahwa Bosnya sangat kaya. Dirinya berharap Preman Gagak melambung tinggi dan menjadi lebih kuat.


“Pastikan kesehatan utama, juga untuk tempat tinggalmu. Mintalah kepada, Don. Dirinya yang akan memberitahu rumah yang cocok untuk kalian.”


Don, seorang penjual rumah yang ia pernah temui di perusahaan jasa jual rumah dan tanah.


(Note : Penjual tanah dan rumah itu adalah Don.)


Tera menatap Ryu, dirinya mengangguk. “Juga, untuk kedua, latihlah anggota kita sesuai dengan buku ini.”


Ryu menyerahkan buku yang dirinya buat. Itu adalah aturan dan beberapa dasar pelatihan baru. Tera mengetahui hal itu, kemudian ia sangat bersemangat sekarang.


“Sudah itu saja terlebih dahulu, kita jangan aktif dulu.” Ryu berkata dengan serius. Tera mengangguk dan berdiri.


“Sesuai perintahmu, Tuan.” Tera berkata dengan penuh hormat dan bersemangat. Ryu mengangguk puas, kemudian Tera izin keluar terlebih dahulu.


Ryu mengangguk, ia melihat Tera keluar dari Mansion. Selepas itu, Ryu kembali duduk di sofa tepat ruang tamu. Risa datang sambil membawa sebuah kopi.


Risa duduk dan Ryu menatapnya, lalu berkata, “Terima kasih.” Risa tersenyum dan mengangguk, kemudian Ryu meminum kopi tersebut.


Selesai minum kopi, Ryu memeluk Risa dengan erat. Dia benar-benar memerlukan pelukan hangat dari istrinya tersebut.


“Jadi, apa yang kalian bahas?” Risa bertanya, ia sebenarnya tidak masalah jika tidak diberitahu. Terpenting baginya adalah Suaminya selamat dan tidak mengalami cedera apapun.


Ryu mengangguk, kemudian ia menjawab, “Pembuatan kelompok baru. Aku mengambil Preman Kodok menjadi Preman Gagak, setelah itu nanti naik menjadi sebuah organisasi besar.”


Risa mengangguk dia paham maksud Suaminya tersebut. Dia ingin menciptakan kelompok yang kuat dan mendominasi.

__ADS_1


Risa sedikit panas ketika mendengar hal itu, baginya laki-lakinya itu sempurna. Memiliki rencana besar dan mulai terlaksana. Dia kemudian mendekat ke arah Ryu dan duduk di pangkuannya sambil memandang Ryu.


“Apakah kamu ingin?” Risa bertanya dengan nada menggoda. Ryu sendiri menatap istrinya tersebut. Bagaimana dirinya bisa menolak ketika di goda seperti itu.


Ryu mulai mencium Risa, keduanya saling melepas pakaian dan bermain sebentar di ruang tamu. Tidak ada orang yang tahu, karena rumah itu kedap suara, kecuali orang yang berada di dalam rumah.


Ryu dan Risa tidak menyadari bahwa ada seseorang yang masih berada di dalam rumahnya. Mereka tidak tahu bahwa orang itu tengah menatap mereka dengan penuh keinginan.


***


Beberapa jam kemudian, keduanya telah selesai melakukan permainan. Ryu mengangkat Risa yang tertidur, ia menggendongnya naik ke dalam kamarnya.


Di saat akan masuk, Ryu seketika ingat ada penghuni lain di rumahnya. “Sial, aku melupakannya... sudahlah, abaikan. Semoga ia tidak tahu.”


Ryu masuk ke dalam kamarnya, tanpa ia sadari bahwa di depan pintu kamar sebelah, ada jejak basah yang terlihat jelas.


***


Pagi hari, Ryu terbangun dari tidurnya. Dirinya membuka matanya dan duduk sambil meregangkan otot-otot tangannya ke atas.


Ryu selesai meregangkan otot-otot miliknya, ia kemudian menatap ke kiri. Namun, dirinya tidak menemukan istrinya yang seharusnya berada di sana.


Ryu mengerutkan keningnya, kemudian ia mendengar suara kran air menyala di dalam kamar mandi. Dia tersenyum, kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.


***


“Pagi, Sayang.” Risa menyapanya sambil mandi, Ryu tidak menjawab melainkan memeluk istrinya dari belakang. Kemudian, ia berkata di dekat telinga istrinya tersebut.


“Pagi, Sayang.” Ryu menyapa balik, keduanya kemudian saling mandi bersama. Mereka tidak melakukan apapun, selain berpelukan dan berciuman.


***


Beberapa menit kemudian.


Ryu dan Risa keluar dari kamar mandi, mereka memakai handuk melilit tubuh mereka masing-masing.


Keduanya berjalan ke arah lemari pakaian, kemudian mereka berdua memilih pakaian yang akan dikenakan hari ini.


Ryu dan Risa selesai berpakaian dan turun ke bawah. Di sana sudah ada Yuna yang sedang berdiri menunggu mereka, sementara Sean berdiri sambil memegang tangan Yuna.


“Duduklah, kenapa kalian berdiri?” Risa mengerutkan keningnya dan bertanya kepada Yuna dan Sean. Kemudian, ia Bertanya kembali. “Bukankah sudah kubilang, untuk menganggap rumah ini seperti rumahmu?”


Yuna menatap ke arah Risa, ia benar-benar bersyukur memiliki teman seperti Risa tersebut. Namun, ketika ia menatap ke arah Ryu wajahnya memerah entah kenapa.

__ADS_1


Ryu sendiri tidak tahu, ia hanya duduk dan menatap ke arah Sean. Dirinya tersenyum dan meminta Sean untuk duduk di kursi. “Sean, duduklah di kursi makan.”


Selepas itu, keempat orang duduk di meja makan. Makanan kali ini adalah buatan dari Yuna, dirinya juga memiliki talenta memasak.


“Selamat makan,” ucap keempat orang tersebut, kemudian mereka memakan makanan yang dibuat oleh Yuna.


Ryu yang mencicipi pertama kali, tersenyum. Dia mengangguk tanda suka akan makanan tersebut. Risa sendiri juga sama, ia menjadi sedikit rakus mirip dengan Sean.


Yuna sendiri makan dengan tenang, ia sebenarnya ingin menegur Sean, tetapi melihat Sean bahagia setelah sekian lama. Dirinya tidak enak, jika menegur putranya tersebut.


***


Beberapa menit kemudian.


Keempat orang itu selesai makan, Yuna membereskan piring bekas. Namun, saat akan masuk ke dalam dapur untuk meletakkan piring, dirinya dihentikan oleh Ryu.


“Yuna, sebentar. Duduklah, kembali!” Ryu memerintahkan dengan nada santai. Dia kemudian menatap ke arah Risa dan berkata dengan nada sedikit serius. “Sayang, kemungkinan aku tidak bisa pergi ke kedai, apakah kamu bisa mengurusinya?”


Risa yang mendengar pertanyaan dari Ryu mengangguk, kemudian bertanya, “Memangnya kamu mau ke mana?”


Ryu tersenyum, kemudian ia menyerahkan sebuah kertas memo. Risa mengambilnya dan menjadi sedikit serius, senyum miliknya terukir di wajahnya.


“Jadi, begitu... Kamu ingin mengikuti lomba memasak di Kota sebelah.” Ryu mengangguk, kemudian ia menatap ke arah Yuna. Entah kenapa, ia merasa bahwa Yuna selalu memerah ketika dirinya tatap. Dia mengabaikan hal itu, untuk sementara waktu.


“Yuna, aku minta tolong bantu Risa.” Ryu berkata dengan serius. Yuna seketika menjadi serius dan mengangguk, ia senang menerima perintah dari Ryu tanpa tahu sebabnya.


“Kalau begitu aku berangkat terlebih dahulu.” Ryu berkata, kemudian mencium Risa di depan Yuna dan Sean.


Risa mencubitnya dan berbisik pelan. “Ada anak kecil, jaga keinginanmu oke?”


Ryu sadar, ia tersenyum canggung ketika mendengar hal itu. Dirinya kemudian berbalik dan berkata, “Sampai jumpa.”


Ryu pergi dari Mansion, Risa sendiri tersenyum kemudian ia menatap ke arah Yuna yang menunduk wajahnya benar-benar merah. Senyum Risa seketika menjadi lebar dan bertanya kepada Yuna.


“Apakah kamu menyukai Suamiku, Yuna?”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2