
Laga semifinal yang berat sebelah benar-benar dipertontonkan, wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan skor 4-0 untuk kemenangan telak dari Indonesia U-17.
Australia yang digadang-gadang menjadi calon kuat juara harus terbantai dengan memalukan.
“Oke, laga final menghadapi Jepang adalah akhir dari turnamen.”
Terus dan terus, di antara interval hari, Indonesia maupun Jepang terus berlatih sekeras tenaga dengan tujuan mengangkat piala Asia U-17.
Satu tujuan, tetapi beda kubu adalah suatu istilah yang sangat pas diberikan kepada kedua tim ini.
Hingga hari terakhir, tepat tanggal 20 Mei, mereka saling berhadapan di lapangan dengan tujuan yang sama di hadapan puluhan ribu pendukung.
Satu hal yang pasti, pendukung dari Jepang nyaris memenuhi stadion. Pendukung Indonesia sendiri hanya beberapa ribu saja yang memenuhi salah satu tribun.
Meski dengan pendukung yang hanya sedikit, semangat dan tekad dari para pemain Indonesia U-17 tidak ada tandingannya.
Tekad mereka telah bulat. Meraih Piala Asia, demi harga diri bangsa, demi membanggakan bangsa sendiri, demi memperkenalkan kepada dunia bahwa Timnas Indonesia akan bangkit dan menggetarkan dunia.
Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, itulah kalimat yang ada pada benak setiap warga negara Indonesia. Mereka bersatu, demi mendukung negara tercinta mereka dalam berlaga di turnamen bergengsi se-Asia.
Meski hanya dibawah umur, tepatnya Timnas U-17, tetapi ini masih tetaplah bergengsi.
“Ya! Di mana pun anda berada, saya Tubagus bersama Bung Mahar, akan mendampingi jalannya pertandingan dalam komentator berkelas kami.
Indonesia U-17 akan menghadapi Jepang U-17 dipertandingan akhir dari turnamen ini!”
Di lapangan, kedua tim saling bersalaman selepas dua lagu kebangsaan dikumandangkan, senyuman dingin terpatri dari masing-masing raut wajah mereka. Tak terkecuali Reza yang cukup datar menatap satu persatu pemain Jepang U-17.
Dia juga menatap lebih datar dan dingin kepada penyerang Jepang U-17, yaitu Michiwaki Yutaka, topscorer turnamen saat ini dengan jumlah gol sebanyak 5.
Melihat jumlah gol miliknya, Reza tentu berniat menjadi topscorer turnamen ini. Masih ada kesempatan, jumlah golnya sendiri sudah tercetak sebanyak 4 gol.
“Bertemu kembali,” celetuk Reza.
Yutaka pun hanya menunjukkan senyuman kecilnya, dari mata segelap malamnya, menatap sangat lekat kepada Reza.
Kedua pemain ini membuat sesi bersalaman terhenti.
“Hei! Ayo maju!” seru Nabil.
Sesi bersalaman pun dimulai kembali dan selesai. Para pemain tersebar sesuai posisi atau formasi mereka.
Sementara dua kapten harus saling berhadapan demi melakukan koin tos bersama wasit asal Arab Saudi, Al-Ayubi.
Koin dilemparkan ke atas kemudian sang wasit menangkapnya sebelum hendak jatuh ke tanah.
__ADS_1
“Pilihanku,” gumam Reza.
Wasit menunjukkan dan koin itu berada pada sisi berwarna kuning dengan logo AFC.
“Sisi lapangan ini, saya pegang bola duluan,” ucap Reza dalam bahasa Inggris.
Seusai melakukan koin tos bersama, Reza dan Yutaka saling bertukar logo kain dan berfoto bersama wasit.
“Kau tidak akan bisa bobol gawangku!” seru Reza.
Kedua pemain pun kembali mengambil posisi mereka. Wasit bersiap, menatap jam di tangannya dan dia pun meniup peluit tanda dimulainya babak pertama.
Laga terakhir, final antara Indonesia U-17 menghadapi Jepang U-17 telah dimulai dari kaki Yanuar.
Yanuar mengumpan kepada Hanif yang berada di tengah, melakukan pemindaian area, nyaris penguasaan Hanif direbut oleh seorang pemain Jepang, Nishihara.
Nishihara yang mengganggu penguasaan bola hanya tersenyum, Hanif pun buru-buru mengumpan ke belakang hingga sedikit masalah pun terjadi.
Ternyata, Yutaka telah menunggu dan langsung mengintersep bola. Yutaka mendapatkannya.
Yutaka berbalik dan langsung berlari, bola yang dikontrol olehnya seperti melengket rapi di telapak kakinya.
Dari pertahanan Iqbal datang untuk mencoba mengganggu pergerakan Yutaka agar para pemain Indonesia lainnya mampu melakukan skema pertahanan dengan baik.
“Di sana! Tetap kawal dia, fokus?” seru Reza.
Arahan demi arahan terus dilakukan agar pemain Indonesia masih tetap dalam jalur yang semestinya.
Yutaka yang dikawal oleh Iqbal pun mencoba melakukan gerakan tipuan, nyatanya Iqbal sama sekali tak tertipu sehingga dengan mudahnya dia menyentuh bola menggunakan ujung sepatunya dan menjauhkannya dari penguasaan Yutaka.
Bola hasil intersep Iqbal didapatkan oleh Femas yang memang menghadang dari belakang Yutaka demi mempersempit ruang gerak.
Femas yang mendapatkan bola berbalik dan langsung melambungkan bola ke sisi kiri lapangan yang mana Arkhan sudah menunggu mengejar bola area.
Arkhan adu fisik dengan seorang pemain Jepang, Tokumo.
Mendapati dirinya dipersulit, Arkhan langsung menguatkan kakinya hingga akselerasinya semakin kencang meninggalkan Tokumo yang jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Arkhan mendapatkan bola daerah, dia menyentuh bola untuk mengendalikannya, melirik ke kanan, di sana ada Arjuna yang bergerak cukup bebas.
Arkhan pun mengumpan datar kepada Arjuna, dalam jarak yang pendek, Arkhan melewati seorang pemain Jepang lainnya dan langsung meminta bola.
Arjuna memberinya. Arkhan pun melakukan tusukan ke dalam kotak penalti. Cut inside, hingga dilesatkannya bola itu dengan kencang.
Namun, kiper Wataru masih dalam performa baik-baik saja miliknya. Memang, kiper yang hanya kebobolan satu gol saja memiliki kemampuan hebat juga.
__ADS_1
Lagipula gol itu saat menghadapi Indonesia di fase grup lalu. Selama fase gugur, Jepang sama sekali tak kebobolan.
Wataru dengan melompat tinggi secara menyamping, menangkap bola saat berada di udara. Bukan menepis, jelas dia menangkap dan benda bundar itu merekat erat di telapak tangannya.
“Oh! Nyaris saja kita unggul lebih dahulu!”
“Ah! Wataru …! Dia menendang bola ke depan, sementara para pemain Indonesia belum melakukan skema pertahanan!”
Wataru dengan baik mendarat dan langsung menendang bola jauh di depan yang mana Nishihara mendapatkannya dengan duel udara bersama Narendra.
Nishihara menyundul ke arah sisi kiri lapangan, di sana ada Sato yang berlari melakukan adu fisik bersama Seva Aditya.
Seva yang menyadari akselerasi agak lambat daripada Sato pun berniat melakukan pelanggaran profesional demi menghalau pergerakan berbahaya dari Sato.
Namun, Sato langsung melakukan akselerasi tinggi meninggalkan Seva.
“Aissh! Saya bukan tipe pelari!” gumam Seva.
Sato langsung menusuk ke kotak penalti. Melihat ke arah gawang yang dikawal Reza, dia nyaris tak menemukan ruang yang tepat untuk dimasukkan gol.
Dengan agak putus asa, itu karena rekan-rekannya sendiri juga lambat dalam skema serangan, alhasil dia melesatkan bola ke sudut kiri atas gawang.
Reza melompat dan langsung menangkap bola dengan teknik terbaiknya. Reza seperti garuda yang menerkam mangsanya!
“Fyuuh …”
Reza mendarat dan langsung melakukam lemparan penjaga gawang hingga menyentuh setengah area pertahanan Jepang, jika diukur, bisa dibilang sekitar tiga seperempat lapangan.
“Ooohhh! Lemparan macam apa itu!”
Yanuar yang mendapatkan bola lantas tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menendang bola ke arah kiper Wataru yang memang saat itu terkejut akan lemparan menyerupai tendangan.
Wataru nyaris tak bergerak dari posisinya sesaat Yanuar melesatkan bola hingga mencetak skor.
“GOOOLL!”
...[Lemparan Tuan sejauh 70,4 meter.]...
...[Lemparan Tuan bisa didaftarkan untuk Rekor Dunia!]...
“Lah anjir, padahal iseng aja!” gumam Reza sambil melompat bahagia karena assist miliknya.
...[Pembaharuan data!]...
...[Lemparan : 99]...
__ADS_1
“Ugh … Teknik baru kah? Hahaha!”