
Setelah bercengkrama bersama. Reza pun pulang kembali ke rumahnya. Hari yang masih sore membuat Reza ingin menelpon seseorang terlebih dahulu.
Orang ini adalah apa yang Reza inginkan. Seorang agen sepakbola terampil yang mampu membawa kliennya menjadi terdepan. Segala macam transfer, sponsor atau apapun itu akan ditanganinya.
Reza juga meminta nomor itu kepada kepala sekolah Cahyono. Awalnya dia sedikit gugup, tetapi Cahyono sendiri tidak memedulikannya dan berharap Reza mau ditemani oleh agen sepakbola.
Saat di rumah, ibunya yang di teras sambil berbincang dengan tetangga cukup membuat Reza risih.
“Gosip lagi,” celetuk Reza saat melewati Citra.
Citra dan ibu tetangga hanya tertawa mendengar celetukan Reza yang segera pergi dari rumah.
“Eca ke taman dulu!”
***
Reza duduk di taman. Dia menatap layar smartphone nya. Di sana sudah ada nomor telepon Bryan Si Agen Sepakbola teman Cahyono. Dengan sedikit ragu, Reza menekan tombol memanggil.
Panggilan pun terjadi. Cukup lama memanggil, akhirnya dari seberang mengangkat panggilan itu dan lebih dahulu berbicara.
“Halo? Dengan siapa?”
“Ini Reza Kusuma, apa ini dengan agen Bryan Adams?”
“Wah! Reza, ya? Apa kamu tertarik? Hahaha!”
Reza mengernyitkan dahinya. Benar-benar tak terpikirkan, Bryan langsung ke intinya. Reza sempat terdiam sebentar sebelum kembali berucap.
“Bisa bertemu?”
“Hoho! Sepertinya begitu. Baiklah, saya ada di sekolahmu sedang berbincang dengan kepala sekolah, datang saja!”
Reza terkesiap. Kepala sekolah benar-benar belum pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah berpikir, Reza menganggap ketika dia meminta nomor Bryan, maka kepala sekolah dengan langsung memanggil temannya itu ke sekolah, begitupun kepala sekolah yang kembali ke sekolah.
Reza kemudian menjawab. “Baiklah, saya segera ke sana!”
Panggilan tertutup. Reza menatap tubuhnya. Pakaian yang sangat kasual, hanya celana pendek dan juga kaus hitam. Benar-benar tak sopan bertemu orang yang dia butuhkan.
Jadi Reza kembali ke rumah. Saat di rumah, dia melihat ibunya masih saja berbincang dengan tetangga. Reza masuk begitu saja setelah tersenyum kepada ibu tetangga itu.
__ADS_1
Reza segera mengganti pakaian dengan lebih sopan. Kaus yang memang digunakan untuk bepergian, dengan celana jeans-nya.
Reza meminjam motor matic ibunya. Tentunya diizinkan tanpa melihatnya, karena ibunya sangat sibuk dengan perbincangan itu.
Perjalanan ke sekolah menjadi lebih singkat, yang awalnya membutuhkan 15 menit saat berjalan kaki, sekarang menjadi 5 menit saja.
Reza segera memarkir motornya tepat di depan gedung ruangan guru dan juga kepala sekolah serta staf tata usaha. Dia langsung masuk, suasana sepi benar-benar terasa. Dingin menyeruak di tengkuk lehernya.
“Lah, perasaan dingin ini?”
Dengan langkah cepat, Reza segera menuju ruang kepala sekolah. Setelah sampai, dia mengetuk pintu hingga dari dalam menyuruhnya masuk.
Saat membuka pintu, Reza melihat Cahyono dan Bryan sedang bertanding catur.
“Skak mat!” ucap Bryan langsung membuat Cahyono tak berkutik.
“Sudah, saya mau membahas hal penting, hahaha!”
Cahyono ditinggal sendiri di ruangannya. Reza berpamitan sementara kepada Cahyono untuk pergi bersama Bryan.
Bryan mengajak Reza menuju mobilnya. Mobil minibus itu dimasuki berdua. Keduanya pun langsung membahas hal intinya.
“Komisi yang saya dapat dari transfer itu 8%. Saat tanda tangan transfer, 8% dari nilai totalmu akan saya dapatkan.
“Kemudian 5% dari gajimu seminggu akan saya dapatkan. Untuk deal, sponsor dan endorsement lainnya tergantung kontrak nantinya.”
Penjelasan Bryan yang memusingkan membuat Reza benar-benar kebingungan. Dia sangat awam permasalahan agen sepakbola seorang pemain. Dia benar-benar hampir mendulang blunder saat ini jika dia menerima begitu saja tanpa tahu konsekuensinya.
“Euumm …”
“Pikirkan baik-baik. Kutunggu besok. Jika kau berminat sebagai klienku, akan saya jamin bahwa pernyataan peluang terbukamu saat konferensi pers beberapa hari lalu segera bermunculan target klub.
Negosiasi akan saya dapatkan. Tawaran itu akan saya ambil yang paling menguntungkan bagimu. Ingat, jargon kami sebagai agen pemain itu adalah senangi klienmu maka dirimu sendiri juga senang!”
Reza sebenarnya sangat ingin menjadi pemain profesional. Dia tidak ingin tenggelam terus di pertandingan antar sekolah saja di Youth Tournament. Reza berniat untuk segera maju dan melangkah ke depan.
Karena karirnya pun akan segera dimulai dari debut profesional itu. Dia yang cukup sabar sudah mengangkat nama sekolahnya saat ini, dan ingin segera bersiap ke depannya. Rekan setimnya juga banyak yang mulai mencari target klub kecil saat lulus nanti.
Klub kecil. Reza sebenarnya juga ingin memulai dari itu dan tak ingin tiba-tiba saja berada di puncak. Dia takut seandainya saat puncak gunung itu longsor dan menjatuhkannya, maka cibiran dari para haters benar-benar membuat mentalnya sakit.
__ADS_1
Semua pemain sepakbola akan memulai dari bawah, dan tak langsung berada di puncak. Bahkan CR7 saja dari klub Sporting, kemudian di Manchester U. bersama SAF cukup berjaya hingga lebih berjaya di R. Madrid, dan mulai redup di klub masa mudanya, yaitu Manchester U. saat ini.
Setiap pemain, memiliki masa generasi emas. Pemain mana yang tak akan redup? Semua pemain pasti mengalaminya. Semakin tua usia, semakin menurun performamu.
Reza harus memikirkan matang-matang segala hal yang akan terjadi di masa depan. Dia tak ingin menjadi pemain yang tak kompeten, dia akan menjadi pemain legenda di masa depan.
“Nampaknya kau berpikir keras.”
Di tengah pemikirannya, tiba-tiba dibuyarkan begitu saja oleh Bryan. Reza kemudian berpamitan dan segera pulang karena hari sudah menyentuh pukul 6 sore dan tak lama lagi malam.
Reza dengan menaiki motor maticnya meninggalkan sekolah. Di ruangan kepala sekolah, Cahyono dan Bryan kembali berbincang.
“Sepertinya dia belum memikirkan segalanya, ya?” ucap Cahyono seraya meraih cangkir kopi.
“Ya, kau tahu Cahyo? Anak sepertinya hanya lahir setiap beberapa generasi. Pemikir keras, kemampuan yang tinggi, hingga impian yang begitu tinggi juga.
“Anak ini … akan menjadi bintang paling terang di masa depan. Kita yang tua ini hanya bisa melihatnya dan mendukungnya dari balik layar!”
Keduanya pun terdiam hingga perasaan canggung terasa. Mereka berdua berada jauh pada pikiran masa depan. Tak ayal hingga matahari mulai tenggelam di balik pegunungan yang mengelilingi kota Palu.
***
Di rumah. Reza berbaring di kamarnya. Kali ini dia berniat untuk menelpon Fajar, sang sahabat yang dia anggap kakaknya.
“Halo, Kak Fajar!”
“Ya, tumben banget kiper sepertimu menelponku, hahaha!”
“Aiish, Kakak!”
Reza kemudian menanyai segalanya tentang permasalahan agen pemain. Hingga Reza membeberkan nama agen sepakbola kenalan kepala sekolah nya.
“Huh?! Bryan Adams? Agen pemain yang kau minati itu?” Dari seberang Fajar nampak terkejut. “Dia agenku saat ini!” lanjutnya kembali tenang.
Reza sendiri juga sedikit terkejut akan hal itu. Hingga Fajar mengatakan bahwa agen itu sangat kompeten dan mampu membuat kliennya bisa maju cukup cepat.
Fajar saja saat ini sudah tanda tangan kontrak awal bersama Persija Jakarta sebagai pemain dari Persija usia muda. Peresmiannya nanti saat bursa transfer November hingga Desember 2022.
Reza sangat senang jika Fajar mengatakan itu, bahkan penjelasan Fajar sebelumnya juga membuat Reza membulatkan tekadnya untuk tanda tangan perjanjian bersama Bryan.
__ADS_1
Lagipula, pemain muda macam dia cukup membutuhkan agen pemain. Itu agar mereka yang seharusnya fokus ke setiap pertandingan dan meningkatkan kemampuan tidak salah fokus diluar pertandingan. Persoalan itupun akan diurus sang agen.