
Bola pertama berada di kaki-kaki para pemain AS Trenčín. Mereka mulai membangun serangan dari bawah, umpan-umpan datar untuk menjebak lawan agar mendekat dilancarkan.
Sesekali pemain sayap melakukan gerakan tanpa bola menyusur sisi lapangan dengan tujuan mengecoh tim lawan, Banská Bystrica.
Witan sendiri dengan lihainya berada di lini tengah bagian kanan sedang bergerak bebas. Penjagaan olehnya hanyalah sebagai penjagaan zonasi, jadi dia tak ditempeli pemain, hanya diawasi dari jarak rata-rata penjagaan zonasi.
Reza di bawah mistar gawang cukup terpukau. Permainan ala Eropa untuk pertama kali dia rasakan, umpan mereka yang cukup terukur, taktis permainan lambat tetapi mematikan, dan beberapa hal lainnya yang tak ditemukan pada Youth Tournament atau juga di Liga Super Indonesia.
“Kecepatan para pemain rata-rata sih, saya lihat Witan yang lebih mendominasi kecepatan di sisi sayap. Ya …” gumam Reza dengan sedikit kebingungan.
Dia agak terkejut dengan permainan Witan yang tiba-tiba naik ke depan tanpa memegang bola sedikitpun. Dengan pemahaman taktik yang signifikan, dia segera mencoba mencari apa tujuan Witan di sana.
Dari sisi tengah, Lavrincik mencoba melakukan gerakan masuk ke dalam. Ketika didekati pemain Banská Bystrica, Lavrincik langsung melakukan umpan lambung terukur ke sisi kanan penyerangan yang dimana tempat Witan berada.
Witan mendapatkan bola, dia melakukan cut inside. Ditariknya bola ketika seorang pemain bertahan lawan mencoba memotongnya, alhasil pemain itu hanya memotong rumput.
Bola sedikit maju dan meninggalkan Witan, akan tetapi dengan akselerasi yang bertambah, Witan segera mengejar bola dan langsung menghempaskan benda itu ke arah gawang secara terukur.
Bola agak melengkung. Namun, kiper Banska Bystrica bernama Matus Hruska dengan cekatan melompat dan menepis bola yang melengkung. Bola keluar lapangan menghasilkan sepak pojok.
Setelah serangan itu, kedua tim tak begitu menyerang lagi. Hingga menit ke 30, penguasaan bola kedua tim sama rata antara 50-50.
Cukup seimbang, akan tetapi untuk persoalan akurasi umpan, Banská Bystrica masih lebih tinggi daripada AS Trenčín. AS Trenčín terpaut di bawah Banská Bystrica sekitar 20 umpan sukses. Banská Bystrica sendiri melakukan 100 umpan sukses dan AS Trenčín baru melakukan 80 umpan sukses.
Untuk persoalan umpan kunci, belum ada sama sekali. Serangan dari kedua tim sangat monoton pada pekan ke sembilan belas setelah liburan musim dingin ini. Mungkin saja tubuh mereka belum begitu panas dan bugar, masih kedinginan.
Reza di bawah mistar gawang hanya sesekali melakukan umpan di belakang bersama lini pertahanan. Untuk aksi menggiringnya, dia belum yakin untuk sukses 100% melawan tubuh kekar dan berotot kencang dari para pemain lawan.
Bola terus bergulir tanpa henti, sesekali berpindah penguasaan. Pertandingan yang monoton terlihat, para penonton mulai kesal adanya.
“Yo~ Ayo! AS Trenčín pasti menang~”
Nyanyian khas suporter Indonesia digantikan dengan nama klub tempat Reza dan Witan bernaung. Nyanyian itu menggetarkan stadion. Seluruh pemain bahkan staf kepelatihan merasa terhenyak sejenak. Merinding rasanya.
“Atmosfir suporter Indonesia benar-benar mengejutkan!” ucap pelatih Marian Zimen bersama asistennya, tentunya memakai bahasa asli mereka.
__ADS_1
Seketika, entah mengapa para pemain AS Trenčín menjadi terbakar semangatnya. Mereka tak mengetahui arti dari nyanyian itu, akan tetapi maksud dari para suporter pun sampai ke lubuk hati mereka yang paling dalam.
“Ayooo!” teriak Reza dan Witan serentak.
Mereka berdua mengagetkan rekan setim. Alhasil dengan semangat yang membara, pembangunan serangan semakin gencar dan lebih terkoordinasi.
“Witan!” teriak Okunola tepat berada di area kotak penalti lawan.
Witan yang menguasai bola sejenak menoleh kepada Okunola, dia mengangkat bola dari sisi kanan penyerangan. Bola yang agak rendah didapatkan Okunola.
“Umpan yang agak buruk,” celetuk Okunola.
Dia melakukan gerakan di antara pemain bertahan Banská Bystrica. Dengan lihai memainkan bola di kakinya seperti benar-benar menempel leluasa. Hingga dia mendapatkan celah tembak, Okunola mengayunkan kakinya dan menerbangkan bola bagai peluru.
Dum!
Bola melesat membentuk jalur peluru, udara seperti terbelah. Bola menyusuri tanah yang membuat banyak rumput terpotong sepanjang jalur tembakan.
Hruska yang melihat itu segera berpindah tempat ke arah tembakan, dia menangkap bola dengan mulus dan segera berlutut untuk mengambil momentum agar tak terjadi pantulan kedua.
Hruska berhasil menyelamatkan bola.
Serangan terus berjalan, hingga tak terasa waktu mulai bergulir menuju akhir babak pertama.
“Witan!”
Setelah mendapatkan bola dari Lavrincik, Witan segera melakukan umpan diagonal berpindah arah ke sisi kiri penyerangan. Azango menerimanya, dia berlari hingga mendekati sudut lapangan.
Azango dikawal ketat. Dia pun melambungkan bola ke tengah, tepat di dalam busur kotak penalti. Di sana ada Gajdos yang berdiri cukup bebas.
Gajdos mendapatkan bola, tetapi hal tak terduga dari arah kotak penalti, seorang pemain Banská Bystrica, Marian Pisoja melakukan luncuran memotong yang berbahaya.
Dia menggunting kaki Gajdos, kedua kakinya mengapit kaki kanan Gajdos yang harus terlempar ke atas dan jatuh berguling di atas tanah.
Pelanggaran keras tepat di depan kotak penalti. Jaraknya sekitar 18 meter, berada di dalam area lingkaran kotak penalti.
__ADS_1
Ini adalah sinyal bahaya bagi Banská Bystrica, karena spesialis tendangan bebas tim nasional Indonesia U16/U17 dan SMA Harapan sedang menuju ke arah bola tanpa disadari para pemain. Pemain dari Banská Bystrica sendiri masih sedikit berdebat tentang keputusan wasit yang memberi kartu kuning bagi Pisoja.
Para pemain AS Trenčín hanya menyimak, sementara itu, Gajdos yang dilanggar beruntungnya tak mengalami cedera.
Reza yang mendatangi bola dipertanyakan beberapa pemain AS Trenčín yang memang tak mengetahui kemampuan Reza lebih cepat. Hanya Witan, para pelatih dan sejumlah kecil pemain lain yang mengetahuinya.
Sontak seisi stadion mulai riuh. Mereka semakin berteriak keras dan terus menyanyikan yel-yel, khususnya untuk Reza.
Melihat Reza yang begitu yakin, spesialis tendangan bebas AS Trenčín harus menyingkir terlebih dahulu. Dia lebih memilih berada di dalam area kotak penalti bersama yang lain.
Reza meletakkan bola di atas tanah titik pelanggaran. Dia melihat sekitar 5 pemain yang sekaligus membentuk pagar pemain.
“Wah … tinggi sekali,” gumam Reza.
Matanya terus melirik ke titik-titik di mana saja yang ingin dia capai. Pertama titik sudut atas gawang sebelah kiri, begitupun sebaliknya. Hingga Reza pun yakin.
“Baiklah, di sana saja!”
Wasit meniup peluit tanda tendangan bebas dimulai. Reza berlari kecil, kaki kanan sebagai tumpuan tepat berada di dekat bola, kaki kiri dengan sisi bagian dalam diayunkan ke depan begitu tegas.
Sisi bagian dalam terkena permukaan bola yang membuat benda itu terangkat dan melewati pagar pemain yang melompat cukup tinggi.
Bola melengkung dan menukik jatuh. Bola hendak masuk sudut atas gawang bagian kiri. Bola yang menukik, khas tendangan Leo Messi, dan beberapa pemain lainnya seperti Beckham pun terlintas di pikiran para suporter lain.
Sruk!
Bola masuk menghujam jala gawang. Sang kiper, Hruska, dengan tangan panjangnya tak juga bisa mencapai bola untuk menepisnya.
Alhasil, perubahan skor terjadi dan gol debut bagi Reza tercipta lewat bola mati.
Reza dengan tegas berlari ke sudut lapangan dengan berseluncur ria di atas permukaan rumput diikuti para pemain lain. Namun, sebelum ditindih para pemain lain, Reza segera beranjak dan mengambil buku bersampul hitam yang berada di luar lapangan dan melakukan selebrasi ikoniknya.
“Aha! Tak sia-sia buku kosong bersampul hitam yang saya temukan di dalam loker menjadi bermanfaat untuk selebrasiku!”
Para pemain lain pun hanya berdiri dengan semangat, mereka pun kembali ke posisi masing-masing, dan yang paling terakhir kembali adalah Reza.
__ADS_1
Para fotografer sejak gol hingga berjalannya Reza kembali ke posisi awal, tak habis-habisnya menekan tombol foto di kamera mereka.
Momen itu menjadikan berita sepakbola terkini untuk saat itu.