
Reza saat ini sedang berada di ruangan kelas demi belajar untuk menuntut ilmu. Dia sudah berada pada tahun kedua, meski begitu, tak ada niatan untuk mencoba keluar dari sekolah.
Walaupun tak jarang harus meminta izin, tetapi itu semua adalah bagian dari aturan sekolah itu sendiri yang mengizinkan murid atletnya bisa meminta izin dengan mudah.
“Demi apa ini! Anjirlah! Pelajarannya … Terlalu sulit!” keluh Reza secara spontan.
“Reza! Apa kamu mendengar penjelasan saya?!” Seorang guru pria berbadan besar dan berjenggot, dia terlihat sangat marah.
“Maaf, Pak Guru Petrovic.”
***
“Fyuuuh! Akhirnya kembali ke habitatku! Latihan, yuhuu~”
Reza saat ini sedang memakai jersey latihannya. Dia bersama rekan-rekannya berlatih demi terus bisa menantang tim-tim liga Slowakia dan juga liga Champions.
Pekan selanjutnya ini, AS Trenčín akan menghadapi Banská Bystrica tanggal 7 September dan tiga hari selanjutnya adalah laga ketiga dari grup C, menghadapi Milan.
Milan, salah satu tim kuat asal Serie-A Italia, penantang kuat dan juga memiliki masa kejayaannya dahulu saat diperkuat pemain legenda pada zamannya seperti Maldini dan beberapa angkatan lainnya.
Sempat tersingkir beberapa musim dari Liga Champions, Milan akhirnya kembali setelah empat musim tak menginjakkan kakinya di turnamen antar klub Eropa ini.
Milan yang membawa amunisi baru tentunya tidak ingin nasibnya sama seperti Bayern atau bahkan Barca yang dipecundangi.
Milan memiliki senjata. Senjata yang menurut mereka ampuh dalam menghadapi kiper sekaliber Reza, yang dianggap kiper terbaru dan juga terkuat.
Leão, Zlatan hingga Giroud adalah senjata yang memang saat ini cukup baik di Serie-A Italia.
Meski begitu, preman lapangan, Zlatan bukan dalam keadaan kejayaannya dahulu. Dia mungkin hanya bermain untuk menikmati masa senjanya. Usia tak mengenal siapapun, begitulah yang dihadapi Zlatan.
“Kiper kuat~ Kiper kuat~!”
Dengan nada yang amburadul, Reza bersenandung dengan ria tak memedulikan rekan-rekannya yang menutup telinga karena merasa sangat terganggu.
“Gajimu akan saya potong, ya!”
“Am–Ampun!”
Dialog antara pelatih dan pemain yang begitu hangat.
Masalah gaji atau harga pasarannya, dia sudah meningkat drastis sejak kepulangannya dari Timnas U-17.
Harga pasaran Reza saat ini menyentuh 127.000 Euro atau yang jika dirupiahkan setara 2,07 miliar rupiah. Itu benar-benar ajaib, bukan, itu adalah sebuah pengalaman dan juga kemampuan yang berbicara, bukan datang begitu saja.
Masalah gaji, dia sudah memegang 5.000 Euro per minggu, atau setara sekitar 81,59 juta rupiah.
Kesampingkan masalah gaji, Reza saat ini masuk dalam kondisi krisis. Dia nyaris dipotong gajinya. Lagipula dalam klausul, pemotongan gaji ada jika pemain mengalami penurunan kualitas.
Bukan mengekang, itu dipatok agar seorang pemain wajib terus konsisten, boleh naik turun dalam kualitas, tetapi sangat terlalu sering dan tetaplah konsisten selama itu bisa memajukanmu.
__ADS_1
Apa yang dipelajari Reza, pasti telah dipelajari banyak orang di dunia ini. Begitulah kehidupan.
“Wah! Kau berhasil menangkap empat tendangan secara bersamaan, entah itu kebetulan atau … Kualitasmu? Sudah tiga percobaan dan berhasil!” seru Witan merasa senang.
Reza sendiri hanya tersenyum canggung. Dia untuk beberapa saat sempat mengaktifkan Mata Bijaknya, kemudian dimatikan kembali.
“Baiklah, Banská Bystrica
Dua hari lalu terbantai. Lima gol tanpa balas, dan … Hattrick gila lagi dari kau, Za!”
Total, gol Reza di Liga Super Slowakia berjumlah 14 dari delapan pertandingan. Menurutnya, dia bisa saja menjadi topscorer, tetapi dia masih seorang kiper yang wajib menjaga gawangnya.
Kesempatan harus diberikan kepada pemain depan lainnya, jangan egois. Namun, dia juga haus akan cetak skor.
Inilah tipikal kiper terbaru di dunia, menjaga gawang seperti tembok besar yang menutupi mulut gawang, kemudian menjadi mesin gol sebuah tim. Kemampuan dan trik-trik khusus mengiringinya.
Tak!
“Jangan melamun! Angkat, angkat bola itu!”
“Ayo, kakimu bergerak, jangan malas!”
“Tubuhmu harus bermanuver mengikuti arah bola, jangan kaku!”
“Hei, lemakmu itu terlalu banyak, saya akan panggil pelatih fisik dan juga dokter gizi!”
***
10 September dari stadion Giuseppe, Italia.
Hari dimana Reza dan rekan-rekannya bertanding berhadapan dengan Milan demi mencoba meraih tiga kali kemenangan berturut-turut dan juga bisa mengamankan posisi sebelum pertemuan kedua dari masing-masing nantinya.
Liga Champions, memiliki aturan, sebuah tim akan memainkan pertandingan kandang-tandang. Sebagai pemisalan, tim A akan menghadapi tim B di markasnya, kemudian pekan selanjutnya tim B yang akan datang ke markas tim A.
Stadion Giuseppe yang berkapasitas sekitar 75.000 penonton itu telah dipenuhi oleh banyaknya fans Milan yang berjulukan Milanisti.
“Wah … Milanisti terlalu padat,” gumam Reza.
Meski begitu, dia juga telah menghadapi fans Bayern yang tak kalah padat di Allianz-arena saat itu.
***
Wasit asal Perancis, Leonardo, meniup peluit tanda mulainya babak pertama dalam laga ketiga AS Trenčín menghadapi Milan.
Bola pertama dimulai dari kaki Zlatan yang saat itu dimainkan sebagai starter meski usianya sudah tak muda lagi.
Umpan dari mereka begitu terkoordinir, umpan-umpan pendek dimainkan begitu lugas dan leluasa. Tak ada stagnasi, masih halus dan seperti sulit untuk direbut.
Reza terus memperhatikannya. Dia masih harus fokus dan jangan sampai tak mengindahkan gawangnya sendiri.
__ADS_1
Di Palu, Indonesia.
Saat ini, di televisi dari ratusan hingga ribuan penikmat sepakbola, mereka sedang menonton dari frekuensi TripleTV.
Beberapa kali wajah Reza disorot saat dia memberi arahan, wajahnya terlihat tegas ditambah ketampanannya membuat banyak gadis cukup tergila-gila dengannya.
Hingga sebuah serangan dari Milan yang mengandalkan sayap kiri Leão, saat itu Leão melakukan tusukan ke kotak penalti dan melakukan umpan cut-back.
Di tengah, Zlatan menyambutnya dengan tendangan kuatnya secara sekali waktu demi mengurangi waktu tunggu.
Reza melompat, dia tanpa melihat menggunakan Mata Bijak, bisa menebak jalur bola.
Melompat secara diagonal ke kanan, tangannya terulur rapi, bola datang menghantam keras sarung tangannya.
Tekanan yang sangat berat langsung dirasakan oleh Reza. Dari pergelangan hingga telapak tangannya terasa mati langkah.
“Tendangan dari ‘Binatang Buas Lapangan’!” Reza bermonolog secara spontan.
Bam! Tang!
Dentuman dari sentuhan sepatu dan bola terdengar, kemudian gesekan antara sarung tangan dan permukaan bola membuat benda itu berputar secara aneh.
Pergerakannya membuat bola berputar secara sebaliknya hingga menghantam mistar gawang dan hendak masuk.
Reza yang menyalakan Mata Bijaknya, sontak melihat segenap tenaganya untuk mencoba menyelamatkan bola kedua.
Saat masih berada di udara, waktu terasa melambat, semuanya terasa hening hingga secara refleks, dia memutar badannya mengikuti pergerakan daya sentrifugal.
Tangan kirinya hendak menjauhkan bola dari mulut gawang yang beberapa centimeter saja bisa disahkan golnya.
“Ini … Sangat … Seru!”
Srak! Tang!
Reza jatuh berguling-guling ketika kepalanya menghantam tiang karena persiapannya kacau-balau sesaat bola pantulan kedua.
“Duh, duh, duh, duh, duh! Sakit! Anjir!”
Reza tak peduli lagi dengan bola yang sudah masuk ke gawang, dia saat ini peduli dengan kepalanya yang berdengung serta pusing dan sakit tak tertahankan.
Zlatan tak langsung melakukan selebrasi, dia melihat keadaan Reza dan langsung mengangkat tangan serentak dengan beberapa rekan Reza yang memanggil tim medis.
Selepas Reza mendapat sedikit perawatan, Zlatan berkata, “Penyelamatanmu cukup baik, sayang, tendanganku masih kuat.”
“Ugh … Saya tak peduli, lagipula kiper mana yang tak pernah kebobolan. Kebobolan itu adalah hal yang wajar, seumur-umur selama karir, tendanganmu adalah yang paling keras!” jelas Reza setelah beranjak, tentunya berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Zlatan tersenyum. Sebuah kesan kuat membuatnya menganggap kiper Asia di depannya adalah sosok yang benar-benar tak bisa kebobolan di masa depan, mungkin sekarang dia masih labil dan begitu polos, tetapi di masa depan, Reza akan menjadi kiper terhebat. Itu yang dipikirkan oleh Zlatan.
Menit 13, Milan unggul.
__ADS_1