
Pada penendang pertama, Spartak Trnava lah yang lebih dahulu.
Taiwo bersiap di belakang bola, berdiri empat langkah ke belakang dan dua langkah ke kiri. Sementara itu, menatap Reza tajam. Namun, tiba-tiba dia merasa gugup setelah beberapa perkataan dari Reza.
“Hei, saya tahu kamu akan menendang ke mana? Menuju tangan kiriku ini, kan? Ayolah, kamu terlalu mudah ditebak dari posisi berdirimu.”
Mencoba membiarkan kalimat itu lewat. Taiwo pun berlari kecil dan segera menendang menggunakan sisi dalam kaki kanannya. Arah bola benar-benar menuju ke tangan kiri Reza, atau bisa dibilang sisi kanan gawang.
Reza langsung melompat untuk menyelamatkan bola yang menyusur tanah itu. Reza berhasil menepisnya yang membuat sorak-sorai penonton bergema, sementara itu, Taiwo malah bergetar hebat.
“Heh …”
Penendang dari AS Trenčín pun bersiap, Witan ditunjuk menjadi penendang pertama berhasil menyarangkan bola ke gawang dan berhasil menipu pergerakan kiper Takac.
Setelahnya, Reza kembali bersiap di bawah mistar gawang. Mencoba kembali mengintimidasi penendang kedua dari AS Trenčín.
“Itu … bola itu seperti berbentuk kotak. Dia tidak akan bergerak sesuai keinginanmu tahu! Bola itu akan terbang ke angkasa!” seru Reza dengan nada candaan.
Sang penendang, Oseni hanya menatap datar ke arah gawang. Dia akan segera menendang menggunakan punggung kaki kirinya. Tiba-tiba saja, Oseni merasa pergerakannya menjadi goyah dan membuat ayunan kaki kirinya salah!
Oseni, dia malah menerbangkan bola di atas mistar gawang, seperti apa yang Reza deskripsikan. Apa itu? Perkataan intimidasi apapun itu, selama Reza mampu berdiri tegas di bawah mistar gawang, dia tak masalah.
Ini hanya permasalahan psikologi seorang pemain. Jika mentalnya tak kuat dan terpengaruhi, sudah jelas mereka akan melemah dan kalah. Itu yang Reza lakukan, entah perang mental ini berhasil atau tidak, Reza hanya mencoba menurunkannya.
Para pemain AS Trenčín pun bersorak setelah tendangan kedua Spartak Trnava gagal. Staf kepelatihan dan pemain cadangan AS Trenčín di pinggir lapangan semakin memperkuat rangkulan mereka menunggu momen yang pas jikalau berlari untuk merayakan kemenangan.
Namun, babak ini masih berlanjut. Letenay adalah penendang kedua dari AS Trenčín hampir tak berhasil dalam mengeksekusi penalti.
Bola itu sempat ditepis oleh Takac, tetapi karena bola itu terlalu kencang dan kuat, itu hanya menghasilkan perubahan jalur bola yang tak terlalu terlihat. Bola masih bisa menghujam jala gawang.
“Fyuuhh … beruntung,” gumam Letenay.
Penendang ketiga dari Spartak Trnava pun berjalan dari tengah lapangan. Dia menghampiri bola yang sudah diletakkan di titik putih kotak penalti.
Karhan, dia menunduk dan mencoba mengambil bola itu hingga Reza dengan gesit menggeser bola ke arahnya. Reza benar-benar agak nakal saat ini.
“Hii … haa!”
Karhan menatap wasit. Wasit pun segera memperingati Reza untuk tak mencoba mengganggu pemain.
__ADS_1
“Ya!” Reza memberikan bola itu.
Karhan mencium terlebih dahulu bola, dia akan menjadi penendang penentu apakah Spartak Trnava akan meneruskan tendangan penalti ini atau berakhir dengan kekalahan.
Itupun jika penendang ketiga AS Trenčín tak berhasil, jadi Spartak Trnava masih mempunyai kesempatan. Namun, jika Karhan berhasil dan juga penendang ketiga AS Trenčín berhasil, perolehan skor menjadi 3-1 dan jelas itu kemenangan untuk AS Trenčín.
Karhan pun mundur tiga langkah dan dua langkah ke arah kanan. Dia menatap serius gawang yang dikawal Reza. Karhan menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskan.
Ketika wasit meniup peluit, Karhan melangkah cepat dan menghempaskan bola itu ke arah sisi kiri atas gawang.
Bola sangat cepat, Reza mencoba sekuat tenaga. Namun, bola itu terlalu menyasar sudut dan capaiannya tak sampai. Dia hanya sempat menyentuh sedikit bola, tetapi bola itu berhasil masuk ke gawang.
“Hahaha! Yaah … masuk!” Reza hanya tertawa sejenak dan menyayangkan bola itu masuk. Mental Karhan benar-benar lebih baik.
“Yosh! Saya penendang ketiga!” ucap Reza.
Ya, dengan pembagian Pelatih Marian Zimen, Reza adalah penendang ketiga dan bisa dibilang penentu saat ini.
“Hei … tahan ini!” seru Reza.
“Sial!” umpat Takac ketika berhadapan dengan Reza.
Reza melakukan zig-zag yang kemudian kaki kanannya lah yang digunakan dalam eksekusi tendangan penalti. Reza menghempaskan bola dengan kekuatan maksimal menggunakan punggung kakinya.
Bola terhempas begitu kuat, bahkan rumput banyak yang tercabut. Bola membentuk jalur peluru, tepat ke arah tengah gawang. Kiper Takac sendiri sudah melompat ke kanan dan membiarkan bola itu masuk.
“Yeaaahhh!” teriak Reza.
Dia berlari ke sudut lapangan sambil membuka atasan jerseynya dan masih ada baju lengan panjang ketat warna hitam di sana.
Seluruh pemain AS Trenčín melakukan selebrasi. Mereka merayakan langsung kemenangan ini dengan begitu meriah.
Sementara itu, Spartak Trnava hanya terduduk lemas. Mereka tak menyangka dikalahkan pada babak adu penalti yang memang mereka tunggu-tunggu awalnya.
Setelah selebrasi keliling lapangan berlari, Reza benar-benar dijadikan sasaran empuk. Dia diangkat tinggi-tinggi ke udara. Mereka, satu tim benar-benar bersyukur memiliki kiper muda bertalenta macam Reza.
Panggung untuk penyerahan piala pun telah jadi. Dengan hadirnya ketua asosiasi liga Slowakia, dia akan menyerahkan piala kepada tim yang menang dramatis dengan adu penalti.
Sebelum sesi pengangkatan piala, beberapa pemain akan menerima penghargaan. Seperti Kiper Terbaik yang dipegang oleh Reza, meski baru berlaga sejak perempat final, tetapi Reza sudah menunjukkan performa terbaiknya.
__ADS_1
Untuk Pemain Terbaik, dijatuhkan kepada Stojsavljevic. Kemudian topscorer Piala Slowakia kepada Taiwo dengan jumlah gol, yaitu sembilan gol.
Setelah penyerahan penghargaan itu, seluruh skuad tim Spartak Trnava akan menerima medali perak. Mereka berfoto dan beberapa pemain sedikit saling melempar candaan di tengah kesuraman tim.
Setelah Spartak Trnava, sekarang AS Trenčín yang akan berdiri di panggung untuk mengangkat piala.
Piala pun diletakkan pada sebuah tatakan tinggi di tengah panggung. Mereka semua berkumpul, hingga dalam hitungan ketiga, secara bersamaan mereka mengangkat piala itu tinggi diiringi konfeti yang berhamburan terbang.
AS Trenčín memenangi Piala Slowakia dengan cara yang dramatis.
Setelah selebrasi pengangkatan piala, semua pemain AS Trenčín berjalan mengitari lapangan sambil melambaikan tangan ke tribun sebagai penghargaan atas dukungan para penonton.
Tentunya sambil membawa piala hasil kerja keras mereka. Reza sendiri diberikan waktu untuk membawa piala itu, bahkan dia mengambil smartphone nya dan meminta tolong kepada Witan untuk memfotonya. Reza memegang piala dan juga penghargaan Kiper Terbaik nya.
Setelah berfoto dengan latar belakang rekan setimnya yang agak berantakan karena begitu gembira, Reza memberikan piala itu kepada Pelatih Marian Zimen.
Reza kembali fokus ke smartphone nya dan mengunggah fotonya itu secepat mungkin dengan caption.
Gelar pertama dan penghargaan pertama!
Piala Slowakia dan Kiper Terbaik Piala Slowakia!
Sontak unggahannya dibanjiri tanda love dan juga komentar yang begitu mendukung.
“Wah! Itu dia! Gelar pertamanya di Eropa! Eh! Berarti Witan juga dong!”
“Selamat, Reza!”
“Yok! Gas Piala Asia AFC U-17 2023!”
“…”
Di sebelah, postingan dari akun Instabook Witan, dia juga mengunggah fotonya bersama piala.
Benar-benar pemain Indonesia yang mengharumkan nama bangsa Indonesia. Mereka berkancah di Eropa dan langsung meraih gelar pertama Eropa mereka.
...----------------...
...Arc 4 End...
__ADS_1
...Match In Slovakia...