
Malam yang cukup panas, tetapi masih ada kesan dinginnya, di sebuah stadion yang dipenuhi oleh lautan merah dan biru sedang menyanyikan lagu-lagu kans mereka.
Lautan merah mewakili Ultras Garuda, pendukung setia di mana pun Timnas Indonesia berada, kemudian lautan biru mewakili para pendukung Argentina yang tak kalah fanatiknya.
Ini adalah fase grup B Piala Dunia 2026, mempertemukan antara Indonesia dan juara bertahan Argentina.
Argentina yang cukup banyak diwakili pemain muda, begitu pun Indonesia, mencoba yang terbaik demi memenangi pertandingan perdana grup B ini.
“Reza, saya harap kau menunjukkan yang terbaik!” ucap I Nyoman.
“Ayolah, Ardhan, saya pasti menunjukkan yang terbaik, ini adalah puncak Timnas Indonesia!” jawab Reza sambil memperbaiki sarung tangannya.
Sarung tangannya ini adalah sarung tangan legendaris dari SMA Harapan yang telah dimodifikasi oleh sponsor dari Nice, yang mengubah struktur bobot di dalamnya tanpa mengurangi fitur peredamnya.
“Yap! Mari kita lakukan!” seru Reza.
Matanya yang menyorot tajam, berbaris di lorong stadion menunggu kedua kesebelasan untuk maju ke lapangan.
Para pemain Argentina yang tinggi-tinggi dan juga cukup besar, nampak seperti raksasa dibanding para pemain Indonesia yang rata-rata tingginya hanya sekitar 160 hingga 185 cm saja.
“Hemm! Kali ini formasi benar-benar harus bekerja sama!” seru Todd Ferre, pemain paling senior di sini, dengan usianya yang menginjak 27 tahun. “Kau, Reza, sebagai kapten harus memimpin tim ini!” lanjut Todd Ferre.
Reza mengangguk tegas, dirinya benar-benar telah menyiapkan mental bajanya demi menghalau hinaan dari para pendukung Argentina.
Untuk taktik Indonesia, mengadaptasi gaya bermain menyerang, dengan formasi 3-4-3 Berlian.
Di belakang, ada Haikal yang debutnya langsung di Timnas Indonesia Senior, Kemudian Kakang di sisi kiri dan Ferrari di sisi kanan.
Sementara itu, lini tengah diisi oleh nama-nama yang cukup familier, seperti gelandang bertahan Robi, kemudian gelandang serang Marselino, sisi kanan yang diisi oleh Kwateh dan sisi kiri oleh Todd Ferre.
Bergeser ke depan, pemain depan benar-benar diplot dengan sangat rinci, sebagai ujung tombak ada I Nyoman yang juga debutnya bersama Timnas Indonesia Senior di pertandingan Internasional, kemudian di sisi kanan ada Fajar sebagai penyerang kedua.
Sebagai penyerang pelapis yang membantu pergerakan, Samir diplot begitu ke depan sebelah kiri, hingga dirinya akan sulit untuk turun membantu pertahanan nantinya.
Indonesia, tim dengan pemain yang usianya tak lebih dari 27 tahun, benar-benar evolusi baru dalam pertandingan sepakbola mereka.
Di lapangan, Indonesia untuk pertama kalinya mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikancah Internasional, pertandingan sebesar ini.
__ADS_1
Nyanyian yang begitu megah menggelegar di stadion NRG, Houston, lagu kebangsaan Indonesia Raya benar-benar dinikmati bahkan oleh pendukung Argentina.
Bagaimana tidak, lagu kebangsaan Indonesia Raya memiliki lantunan musik yang mampu membakar semangat juang, meski tidak dimengerti oleh banyak negara, tetapi lewat lantunan musiknya saja sudah sangat memorial.
Sesi lagu kebangsaan telah dinyanyikan, kali ini koin tos dilakukan, Reza sebagai kapten tim menghadap Lautaro Martinez, koin tos dimenangkan oleh Reza.
Bola kick-off untuk perdana dari grup B, dipegang oleh I Nyoman, kemudian setelah peluit berbunyi, dia mengumpannya ke belakang yang mana Marselino mendapatkannya.
Melakukan pemindaian area yang cukup dalam, sekitar beberapa detik, Marselino melambungkan bola ke depan, tepatnya ke sisi kiri yang mana saat itu Samir sedang melakukan pergerakan tanpa bola.
Bola melambung tegas membentuk parabola, hingga dengan manjanya mencari Samir, membuat Samir mampu mengontrolnya dengan mudah.
Di sisi kiri, Samir mencoba berakselerasi, menghindari seorang bek kanan Argentina, Aguilar.
Aguilar yang bergerak melakukan sliding tekel, lantas diperdaya oleh Samir karena pergerakan dari Samir membawa bola mundur ke belakang.
“Ambil!”
Dengan cepat, Samir mengangkat bola menuju dalam kotak penalti yang mana I Nyoman mencoba melakukan duel udara bersama Romero.
Romero menyundul bola menjauhkan dari kotak penalti, tetapi ketika bola itu jatuh tepat sekitar 24 meter dari mulut gawang, sebuah ayunan kaki membawa bola melesat kencang.
Ayunan kaki dari Marselino, membuat bola itu membentuk jalur yang agak aneh, sepertinya secara tak sengaja teknik knuckle shoot terjadi, hal ini membuat kiper senior Argentina, Emiliano sempat mati langkah.
Bola yang hendak segera masuk ke dalam gawang, tak jadi karena membentur tiang gawang dan menuju ke arah Emiliano hingga dengan susah payah Emiliano menjangkau bola.
“Akkh! Hampir!” seru Marselino.
Seluruh pendukung Indonesia berseru kesal, keberuntungan bukan berada dipihak mereka saat itu sehingga tendangan yang membuat kiper sekelas Emiliano saja mati langkah, tak jadi masuk ke gawang.
“Wah! Hampir, benar-benar, ya!” seru Reza sambil menghentakkan kakinya. “Ya, lupakan! Ayo, segera bersiap serangan balik!” teriak Reza selanjutnya memerintahkan rekan-rekannya.
Dari tangan Emiliano, bola ditendang dengan sekuat tenaga hingga menyentuh lapangan tengah di mana Enzo mendapatkan bolanya dengan menggunakan dada.
“Jaga tengah, itu terlalu kosong!” seru Reza.
Seluruh pendukung Indonesia mulai berteriak, merasa gemas melihat serangan balik Argentina yang tentu membahayakan Indonesia saat ini.
__ADS_1
“Mundur, tidak usah ditunggu!” pekik Reza dan Pelatih Tae-yong secara bersamaan, satu frekuensi sepertinya.
Lantas gelandang bertahan Robi, Ferrari, Haikal hingga Kakang segera merapatkan formasi demi menjaga kedalaman pertahanan sehingga akan sulit untuk ditembus.
“Tambah pemain, sesuai prediksi, tim Tango mainkan umpan-umpan pendek!” seru Pelatih Tae-yong memberi arahan singkat.
Segera setelah itu, para pemain Indonesia mulai bergerak secara terkoordinasi demi menghalau serangan dari para pemain Argentina.
Untuk pertama kalinya, Indonesia bisa bertahan saja dari tim kuat hingga di menit 5, kemungkinan terbesar jika tak ada perubahan dari persepakbolaan Indonesia, maka bisa saja sudah kebobolan lebih dari satu.
“Gerak cepat, ayolah!” seru Reza yang agak kesal dengan rekan-rekannya.
“Eittss! Jangan ke sana!” Kakang berseru, Haikal tiba-tiba kehilangan posisinya.
Alhasil, terjadi kekacauan di sepertiga lapangan Indonesia, pergerakan dari Argentina semakin merangsak masuk ke dalam tanpa kompromi.
“Awas tendangan jarak jauh!” seru Ferrari.
Di tengah puluhan ribu, jelas beberapa ucapan mereka akan sulit terdengar, tetapi sebagian dari mereka bisa mendengarnya meski sangat rendah.
“Itu! Almada mau lepas tendangan, bantu halau!” pekik Reza.
Dari depan, tepat di depan kotak penalti sekitar 5 meter dari tepi garis, Almada sedang bersiap melepas tendangan terukur tanpa penjagaan.
“Haikal! Geser! Jangan Cuma diam!” titah Reza cukup kesal.
“Santailah, Za! Saya tau, sebulan latihan bersama apa gunanya!” pekik Haikal.
Haikal bergeser, dengan cepat menghalau tendangan Almada dengan bagian belakang tubuhnya, alhasil tendangannya berbelok dan langsung keluar dari lapangan.
“Bagus! Ini dia!” seru Reza.
Sebuah momentum dapat dipikirkan olehnya, momentum ledakan yang akan tentunya mengejutkan seisi stadion dan juga publik.
Jauh di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, nyaris seluruh kota memasang layar tancap untuk nonton bersama, tanpa terkecuali di beberapa stadion besar di Indonesia.
Antusias di Indonesia sangat menggila hingga menjadikan fenomena tagar di media sosial yang berbunyi “Rakyat Indonesia sangat gila! Ini dia, persatuan membentuk mereka! #NobarTimnas”
__ADS_1