Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 135 - Manchester Unity!


__ADS_3

Pagi yang cerah, Reza dan rekan-rekannya berlatih dengan giat demi meraih kemenangan pada perempat final UCL. AS Trenčín sendiri telah memenangkan putaran kedua tanggal 2 Maret dengan skor tipis 1-0, Reza yang sebagai pencetak gol lagi, dan itu golnya yang ketujuh.


Memberi sedikit kebebasan, Pelatih Marian juga tidak langsung memberinya. Dia terlebih dahulu memberi arahan kepada anak asuhnya agar jangan terlena dengan kemenangan menghadapi Juve, lawan mereka harus dipikirkan, Manchester Unity.


“Hei, Za! Kira-kira kita akan menang berapa nih lawan MU tanggal 27 Maret nanti?” tanya Witan mendekati Reza yang istirahat.


“Tergantung, saya juga masih ingin mencetak gol, tetapi saya mungkin bakalan mencetak satu.”


“Kiper gila, terlalu ambisius untuk mencetak gol!” celetuk Witan sembari menoyor kepala Reza.


“Hehe, segila itu kah? Yaa malah enak sih, jadi saya adalah kiper serba bisa era modern.”


Perbincangan itu pun mulai masuk ke ranah yang kadang tak masuk akal antara pembicaraan seorang pemuda biasa. Terlepas dari itu semua, Reza masihlah Reza yang polos dan tak lepas dari kata kekurangan.


Kembali berlatih, Rez teringat akan beberapa pecahan puzzle yang terkadang diberikan oleh sistem. Entah itu sejenis dari mimpi atau bahkan dialog antara ibunya yang terkesan seakan telah dirangkai oleh sistem.


“Ayah, apa kau tahu sistem? Atau ... Kau yang ciptakan?” gumam Reza sembari menendang bola kepada rekannya.


Karena terlalu lama melamun, bola yang datang dari hasil tendangan Witan membuahkan gol yang memalukan seharusnya bagi Reza.


“Goool! Pertama kali bobol gawang Reza!” seru Witan.


Reza yang terkejut menjadi merasa malu, walaupun ini adalah latihan, tetapi harga dirinya sebagai kiper terasa tercabik-cabik.


Mempererat sarung tangannya, Reza berkata, “Sini tendang lagi! Tadi saya hanya lengah!”


Meresponsnya, Witan menendang bola kedua, Reza melompat untuk menerkam bola itu. Tertangkap, bola hasil tendangan Witan tertangkap.


Sementara Witan, dia hanya bisa menghela napas, ternyata kelengahan Reza benar-benar keberuntungan sekali setahunnya sepertinya.


Latihan tanpa henti oleh tim AS Trenčín terus dilakukan, begitu pun di Manchester Unity. Meski dihadapi jadwal liga yang padat, mereka tetap berlatih demi meraih UCL.


AS Trenčín yang tak lama lagi berakhir liganya, sekitar tiga pertandingan, memiliki jadwal yang tak begitu padat, tersisa Piala Slowakia saja sebenarnya.

__ADS_1


Mungkin itu terbilang padat, tetapi padatnya liga top Eropa berbeda dengan liga Slowakia yang bisa dibilang terbelakang di Eropa.


“Kalian, meski fokus ke UCL, tetapi jangan lupakan liga atau bahkan Piala Slowakia!” seru Pelatih Marian.


“Siap, Pelatih!” seru serentak semuanya.


Mengakhiri latihan intens, para pemain beristirahat demi pertandingan liga besok hari.


Besoknya, malam yang dingin, AS Trenčín kembali membuat liga Slowakia terasa seperti liga anak-anak kecil. Menghadapi Slovan Bratislava, AS Trenčín menang 3-0.


Total, sudah menjalani 20 pertandingan, tersisa 2 pertandingan yang akan dijalankan tandang satu hingga dua minggu ke depan.


AS Trenčín memiliki persentase kemenangan 100% di liga, tanpa kebobolan satu pun, dengan jumlah gol sebanyak 35, 17 di antaranya gol milik Reza yang topscorer Liga Super Slowakia.


Semua itu berkat sistem, jika tak ada sistem, maka Reza bahkan hanya bisa berkutat di klub sekolah SMA di Palu saja. Hari yang kelam tentunya bagi dia sang pemimpi.


Selesai pertandingan itu, seminggu kemudian, putaran pertama perempat final dimulai, yang mana AS Trenčín akan menjamu Manchester Unity di kandang stadion na sihoti.


Reza dan rekan-rekannya tentu tak sabar, demi menghadapi beberapa pemain bintang seperti Rashford, atau bahkan Van Dijk.


Menuju stadion sendiri, AS Trenčín benar-benar diiringi oleh beberapa kelompok, seakan AS Trenčín akan segera menjalani laga super berat dan harus didukung penuh.


“Aaahh ... Lawan MU, ya! Ini hari yang hebat, sayangnya Bang Ronaldo dah nggak di sana dan juga sudah pensiun!” gumam Reza.


Memasuki area stadion yang telah dipenuhi oleh para penggemar, lautan putih benar-benar memenuhi seluruh tribun yang mana itu adalah jersey kandang AS Trenčín.


“Reza! MU ini! Manchester Unity! Kapan lagi, yekan bisa lawan mereka! Salah satu tim kuat di liga Inggris!” seru Witan sembari merangkul Reza.


Reza menyingkirkan tangan Witan, sembari mendekatkan mulutnya ke telinga Witan, membisikkan sesuatu.


“Saya rencana ke sana kalau ada tawaran musim panas ini,” bisik Reza.


“Serius, Za?! Wah! Kalau MU minati kau, hebat juga, ya!”

__ADS_1


“Yoi, kalau mereka minat sih, jadi kalau nggak minat mah bodo amat, pasti yang lain bakalan rebutan dijamin deh!”


Witan hanya bisa terdiam, sementara itu Reza bergumam dalam benaknya.


‘Ini sih informasi dari Pak Bryan, katanya beberapa klub Inggris dan Italia pada minati saya, jadi ... Pertarungan di jendela transfer musim panas sih nantinya!’ batin Reza.


Memasuki ruang ganti pemain, seluruh starting dikumpulkan untuk diberikan sedikit arahan dari staf pelatih.


Reza, tak perlu diragukan, dia seakan permanen starting di AS Trenčín. Kiper-kiper senior lainnya tersingkirkan.


Kemudian sisanya, ada beberapa pemain yang sudah langganan starting, ada juga yang baru beberapa kali starting. Rotasi tentu dilakukan agar pemain lebih bugar.


Kedua kesebelasan berjalan di lorong stadion, menunggu wasit maju ke lapangan.


De Gea yang seharusnya sudah kiper tua masih dimainkan, beberapa pemain tua bahkan starting membuat MU startingnya rata-rata usia menginjak 29.


Segala macam prosedur sebelum laga dimulai, foto bersama hingga bersalaman, bahkan koin tos telah dilakukan, Reza yang telah dipercaya sebagai kapten memenangkan koin tos.


Memilih bola, membuat Witan yang memegang bola kick-off segera memberi umpan ke belakang sesaat wasit asal Jerman, Adolf, meniupkan peluitnya.


Pertandingan perempat final putaran pertama UCL pun dimulai, seisi stadion bergemuruh hingga membuat intensitas suara benar-benar mengeras.


Dari sisi kanan, Witan kembali mendapatkan bola, mencoba bergerak di antara para pemain MU, yang besar-besar dan kuat.


Witan tak mau kalah, dia mengandalkan kecepatannya hingga mampu melebihi beberapa pemain, over lap di sisi kanan menambah daya ledak serangan.


Terus bergerak, duel fisik terjadi, Witan meloloskan diri hingga berhasil mencapai sudut kotak penalti. Melirik ke kiri, rekan-rekannya sudah bersiap menerima umpan cut-back.


Witan memberikan umpan, di tengah Gajdos yang datang tiba-tiba dari belakang langsung menyambar bola dengan cepat.


Itu gol! Bola mendatar ke sisi kiri gawang, De Gea mati langkah yang membuat gol tercipta di menit 3 yang masih terbilang sangat cepat sejauh ini.


“Goool! Mantap! Umpan Witan sih GG!” pekik Reza sembari melompat bahagia.

__ADS_1


Seluruh stadion bergemuruh menyambut gol dari pemain Asia lainnya, benar-benar mengejutkan, Witan mampu mencetak gol ke gawang De Gea yang katanya sulit dibobol pada masa primanya.


__ADS_2