Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 101 - Kemenangan!


__ADS_3

Laga kembali dimulai, menit pertandingan masih menyentuh 30 menit. Masih cukup lama untuk berakhirnya babak pertama, sekitar 15 menit.


15 menit terakhir babak pertama inilah yang membuat Jepang masuk dalam kesadaran nol, atau bisa disebut pengendalian diri hingga ke batas maksimal. Pengendalian ini bisa saja membuat kalian tak sadarkan diri.


“Tetap fokus, lakukan seperti biasa. Gerakan tubuhmu lebih fleksibel dalam mengawal mereka!” titah Pelatih Bima.


Pelatih Bima tidak ingin anak asuhnya menjadi kurang fokus hanya karena melihat perbedaan pergerakan dari para pemain Jepang yang istilahnya sudah mengeluarkan kemampuan ultimate nya.


“Di sana, bergerak! Tutup ruang, ayo! Ini … Jaga dia!”


Reza juga terus memberi arahan agar rekan-rekannya tidak bergerak kebingungan. Lagipula dia merasakan perasaan yang sangat menakutkan dari tingkah para pemain Jepang.


Serasa nyawa dalam bahaya. Perasaan merinding, tubuh yang bergetar melihat mata sedalam jurang mereka.


“Ini …!”


Srak!


Nyaris, beruntungnya Reza mampu menepis bola hasil tendangan jarak jauh Yutaka dari luar kotak penalti. Selepasnya, Yutaka dan beberapa rekannya bergerak ke kotak penalti demi menunggu sepak pojok dilakukan.


Sato melambungkan bola, Reza keluar dari areanya dan melompat begitu tinggi untuk memetik bola di udara.


Bola merekat erat pada telapak tangannya, tetapi dorongan benar-benar terasa jelas saat berduel dengan Yutaka.


Wasit pun meniup peluit tanda pelanggaran. Namun, Yutaka berhasil mendapatkan bola karena Reza kehilangan keseimbangan dan bola terlepas.


Yutaka pun menendang ke arah gawang.


“Pelanggaran!” seru wasit Al-Ayubi yang hendak menarik kartu kuning dari sakunya.


“Maaf, saya kurang dengar!” jawab Yutaka yang langsung pergi.


Wasit pun mengurungkan niatnya. Dia hanya memberi peringatan kepada Yutaka.


Setelahnya Indonesia terus dikurung hingga bergerak mengendalikan bola pun cukup sulit. Alhasil beberapa kesalahan terus terjadi, yang beruntungnya masih ada Reza di bawah mistar gawang.


“Woy! Ayolah! Tetap fokus, mereka pasti kelelahan itu!” seru Reza agak kesal.


“Tapi mereka berbeda, Za!” bantah Iqbal yang memang juga kesal karena perubahan tingkah dari para pemain Jepang.


“Ayolah, Iqbal! Tetap fokus saja, nanti saya kendalikan kalian! Kemampuan visiku membuatku dapat melihat banyak ruang kosong.


Ruang kosong itu yang harus kalian tutup nantinya! Ayo merapat!”


Iqbal pun hanya terdiam. Dia juga malas berdebat kepada rekan sendiri, lebih baik fokus ke pertandingan.


“Sisi kiri terlalu melebar! Seva, tutup dan merapatlah, gerak beberapa langkah ke samping kananmu!”


“Narendra! Mundur beberapa langkah, diikuti Hanif yang berjarak empat meter dari Narendra.”


Dalam sisa menit-menit terakhir, wasit sesekali melihat jam tangannya. Hingga ketika bola keluar dari garis lapangan, wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama.


Tiga menit waktu tambahan juga telah berakhir, sehingga wasit berhak meniup peluit.

__ADS_1


Kedua tim berjalan memasuki lorong stadion, hawa yang berbeda benar-benar terasa. Ada kesan dingin dan penuh tekanan saat ini, yang kemudian ketika mereka berpisah di persimpangan lorong, hawa dingin dan tekanan itu berakhir.


Di ruang ganti tim Indonesia, mereka saat ini sedang menyimak penjelasan dari Pelatih Bima.


Pergerakan mereka harus kreatif, terus bergerak dan tetap fokus. Satu kata saja, fokus.


Kata ini memiliki andil besar dalam segi keadaan lapangan yang tertekan.


Indonesia terus tertekan, maka mereka harus melepas dari tekanan itu dengan bergerak lebih terbuka dan juga melakukan beberapa pergerakan kreatif lainnya.


Ini adalah Jepang yang berbeda daripada saat fase grup. Jepang saat ini sudah mengevaluasi total kesalahan mereka sebelumnya, hingga terbentuknya Jepang baru dimata Indonesia.


Meski begitu, Jepang tak bisa juga menghalau serangan balik menakjubkan dari Indonesia, hasil lemparan super jauh membuat Jepang harus pasrah gawangnya kebobolan.


“Oke, ayo semangat! Teruskanlah, piala itu sudah nyaris kalian sentuh!” Pelatih Bima pun keluar ruangan.


***


Di lapangan, kali ini Indonesia dan Jepang sama-sama memiliki tujuan yang jelas, yaitu memenangi laga. Indonesia wajib mempertahankan skor atau bahkan menambah keunggulan, Jepang sendiri wajib mencetak skor atau bahkan membalikkan keadaan.


“Bergerak ke sisi kiri! Tengah merapat agak ke kanan. Itu di sana! Ruang terlihat lengang!”


Reza terus memberi arahan bagai dirigen orkestra, entah satu arti yang pasti, Reza mulai menunjukkan pengamatan visi dan penguasaan taktik yang gemilang.


Arahan demi arahan itu terus bermunculan dalam jangka waktu lama sehingga Jepang sendiri semakin kewalahan demi menembus pertahanan yang dirangkai oleh Reza.


“Iqbal, bergerak ke sisi kiri! Kembali merapat setelahnya, pergerakan cepatmu mendukung Yutaka menjadi terisolir ruangnya!”


Bagi rekan-rekannya, ini adalah kebiasaan baru dari Reza. Entah apa yang membuat Reza memberi arahan begitu jelas kali ini, lagipula arahannya benar-benar terbukti berjalan lancar. Pergerakan dari Jepang menjadi kecil kemungkinannya untuk dapat menembus pertahanan.


Kesalahan fatal dari Yutaka, dia tak menyadari dari arah belakang Narendra juga mendekatinya.


“Michiwaki!” seru seorang pemain Jepang lainnya.


Belum sempat merespon, Narendra sudah merebut bola dari celah di antara kedua kakinya. Yutaka pun berbalik dan hanya melihat bola sudah dikendalikan dengan baik oleh Narendra.


Narendra pun mengumpan ke depan, di sana ada Nabil yang bergerak cukup leluasa di sisi kanan.


Melakukan cut inside di depan kotak penalti, Nabil berniat menendang bola. Namun, sebuah seluncuran memotong yang berbahaya langsung mengait kakinya.


Nabil terjatuh, seorang bek Jepang, Shuto, beranjak dan mencoba mengambil bola.


Namun, wasit sudah lebih dahulu meniup peluit tanda pelanggaran. Alhasil semua pemain Jepang benar-benar kesal atas kecerobohan Shuto yang membuat bencana telah datang menghampiri mereka.


Reza yang dari gawangnya, berlari mendekati titik pelanggaran. Jaraknya cukup dekat, sejauh 22 meter dari garis gawang.


“Oh! Apakah Reza akan mencoba peruntungan tendangan knuckle nya?” seru Tubagus dengan semangat.


“Za! Masukin!” Nabil berdiri dengan sedikit meringis kesakitan.


“Ya!”


Reza berdiri tiga langkah besar di belakang bola, menatap lima pemain yang membentuk pagar, sementara diatur oleh Wataru.

__ADS_1


Selesai mengatur, pergerakan di dalam kotak penalti juga lebih liar. Nabil, Arkhan, Narendra bahkan Iqbal sudah bersiap menunggu bola pantulan.


Reza pun melangkahkan kakinya, melakukan sentuhan dengan punggung kaki, mengangkat bola dengan tekanan keras yang kemudian kaki dihentikan secara tiba-tiba setelah menyentuh bola.


Bola melambung nyaris tak memiliki rotasi melewati pagar pemain, Wataru pun hanya berdecak kesal sekaligus kagum dengan tendangan ajaib Reza.


Mencoba bereaksi, Wataru sudah terlebih dahulu tertipu, dia yang hendak ke kiri karena alur bola pertama memang ke kiri, terkejut atas bola yang bergeser ke kanan hingga masuk dengan mudahnya.


“GOOOOLL!”


Gol yang cantik lagi dari Reza dan membuat Indonesia masuk dalam zona aman di menit 76 ini. Lima belas menit terakhir adalah menit-menit krusial yang mana mulai banyak merasakan kelelahan.


Selepas gol itu, Reza berkumpul di sudut lapangan bersama rekan-rekannya, melakukan selebrasi ikoniknya yang memang telah dikenal banyak orang.


Berdiri di depan kamera, Reza mengangkat jerseynya hingga ke dada, menunjukkan kaus bertuliskan Aku sayang Ibu!


Di Indonesia, tepatnya Palu, Citra yang menonton pun menjadi terharu. Anak satu-satunya telah melangkahkan kakinya ke tangga karir yang lebih tinggi, sekarang dia hanya bisa mendukung sepenuh hati dari jauh.


“Ayo! Lima belas menit terakhir! Saya akan mengarahkan kalian lebih baik lagi! Semangat nih!”


***


Pertandingan berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Reza dan rekan-rekannya, kemenangan bagi Indonesia!


Perayaan atas menangnya Indonesia berlangsung di lapangan, podium tempat pengangkatan piala sudah tersedia, tempat piala beserta piala itu sendiri telah tertata rapi di tengah-tengah podium.


Sebelum sesi pengangkatan piala, beberapa penghargaan akan diberikan kepada pemain yang memang berhak menerimanya.


“Pemain terbaik Piala Asia AFC U-17 2023, Reza Kusuma!”


“Penjaga gawang terbaik Piala Asia AFC U-17 2023, Reza Kusuma!”


“Top scorer Piala Asia U-17 AFC 2023, Reza Kusuma!”


Untuk satu penghargaan ini, meski jumlah gol Reza sama seperti Yutaka, tetapi akumulasi assist masih lebih penting untuk meraih topscorer.


Reza mengukuhkan 2 assist, berbanding terbalik dengan Yutaka yang tak memiliki assist.


Alhasil, Reza berhak menerima penghargaan itu bersama dua penghargaan lainnya.


“Woalah, anjirlah! Kau borong semua!” celetuk Nabil.


“Yaa … Jangan protes ke saya, protes ke siapa yang memberi penghargaan ini!”


“Nah, kau yang menghasilkannya!” ketus Nabil.


“Yo, maaf!” jawab Reza dengan nada candaan.


Sesi pengangkatan piala pun dimulai setelah pengalungan medali perak kepada Jepang dan perunggu kepada Iran.


Pengangkatan piala dimulai dari Reza dan semuanya pun bersorak bersamaan dengan konfeti memenuhi lapangan.


...----------------...

__ADS_1


...Arc 5 End...


...Piala Asia AFC U-17 2023...


__ADS_2