
Reza menikmati hari-hari bersama rekan-rekannya, dalam satu hingga dua hari setelah kepulangan mereka ke Indonesia, mereka melakukan keliling kota Jakarta dan juga kota Palu yang mana tempat kelahiran kiper terbaik mereka.
Keliling bersama replika piala Asia itu benar-benar hari yang menakjubkan bagi Timnas Indonesia, khususnya Reza.
Reza yang telah berada di Palu memilih menghabiskan libur miliknya bersama ibunya, lagi pula 25 Januari dia harus segera balik ke Trenčín demi berlaga kembali bersama klubnya.
Reza juga memiliki tujuan paling dekat untuk saat in, yaitu membawa AS Trenčín menjuarai UCL untuk pertama kalinya dan juga bagi dirinya pribadi.
“Hmm … Bu, kira-kira Eca pindah di klub mana nantinya?” tanya Reza sembari menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
“Terserah kamu deh, Nak! Ibu juga tidak begitu paham yang begituan, tapi kalau ada tawaran dari klub Milan, ambil aja!”
Reza memiringkan kepalanya. Cukup bingung atas pernyataan ibunya. Reza pun berkata, “Milan? Kenapa tuh alasannya?”
Citra menghembuskan napas berat, dia meletakkan sendoknya dan melipat kedua tangannya di atas meja. Setelahnya, Citra buka suara. “Ayahmu memiliki impian ke sana.”
“Oh, gitu, ya? Tapi ini Eca, Bu! Eca sebenarnya marah juga sih, ayah ninggalin kita!” jelas Reza seraya memalingkan wajahnya ke sembarang tempat.
Citra mengulurkan tangannya, dia mengusap pipi anaknya yang sedang memalingkan wajah.
“Jangan gitu, Eca, ayahmu itu ada alasannya, nah dia tak bisa menjelaskannya!” jelas Citra seraya tersenyum tipis.
“Haa … Begini, Bu, kata Pak Bryan, Eca diminati oleh beberapa klub top Eropa!” ucap Reza. “Transfer musim dingin bentar lagi habis, jadi mereka bakalan buru-buru siapin anggaran pastinya!” lanjut Reza.
Citra memiringkan kepalanya, dia agak bingung apa yang dijelaskan oleh Reza. Namun, Citra masih mencoba untuk memahaminya.
“Nah, Eca belum mau pindah, Eca masih ingin di AS Trenčín sampai transfer musim panas nanti,” ungkap Reza seraya tersenyum.
“Iya, mana-mana Eca suka aja. Ibu hanya berharap Eca tidak sombong dan terus belajar dari pengalaman,” jelas Citra.
Pembicaraan keduanya begitu hangat dan nyaman, ini adalah pertemuan mereka pertama kali sejak beberapa bulan berpisah. Memang tak lama lagi Reza akan balik ke Trenčín, jadi keduanya menghabiskan hari terlebih dahulu.
Reza sebenarnya ingin menghabiskan hari bersama Vera, tetapi sayangnya Vera sudah balik ke Trenčín demi menyelesaikan studi pertukaran pelajar miliknya.
Suatu pagi yang cerah, awan putih bergelombang dengan indahnya. Burung-burung dan juga anak-anak kompleks berlarian bersama secara bebas, begitu bahagianya.
Kompleks yang ramai dengan orang-orang beraktivitas tak menyurutkan niat Reza untuk melakukan joging pagi.
Sesekali dia disapa oleh orang-orang yang sudah mengenalnya. Dia bahkan sesekali diberikan surat oleh para gadis yang malu-malu.
Reza menerimanya, tetapi dia jelas tak akan berpaling dari Vera yang sudah mengunci hatinya hanya untuk Reza seorang saja, begitu pun sebaliknya.
Pulang ke rumah, Reza menatap kalender, sudah tanggal 23 Januari 2024. Sebentar malam adalah kepergiannya ke Trenčín kembali.
__ADS_1
“Ibu, Eca bentar malam berangkat,” ucap Reza sembari mengelap keringat memakai handuk kecilnya.
“Ya, Ca! Ibu sudah beresin barang-barangmu!”
“Ayolah, Bu! Eca sudah besar, sudah bisa urus barang–”
“Eca tahu apa yang mau dibawa semua?”
Reza terdiam. Dia sudah pasrah karena seorang ibu adalah wanita yang paling detail masalah barang-barang anaknya.
“Makasih, Ibuku tersayang!” Reza mengecup pipi kanan ibunya, meski harus sedikit menunduk.
“Kamu sudah tinggi, ya? Ikut ayahmu yang juga tinggi,” ungkap Citra.
“En ….”
Reza pun mandi dan sarapan sederhana.
***
Malam yang dingin, angin sepoi-sepoi menusuk pori-pori kulit. Tak ada nampak bintang, bahkan bulan pun tak terlihat, awan mendung mendominasi langit.
“Duh, mau hujan, ya?” ucap Reza sembari mengeratkan genggamannya pada ranselnya.
Citra melambaikan tangannya, menuntun keberangkatan Reza menuju Trenčín.
Reza pun menuju parkiran pesawat yang telah siap dengan tangganya. Tujuannya selanjutnya adalah Jakarta yang setelahnya langsung terbang ke Trenčín sekitar belasan jam.
Duduk di kursi penumpang dengan baik, mengeratkan sabuk pengaman, memeluk ranselnya ke depan.
“Sampai jumpa lagi, Tanah Kaili!” gumam Reza.
Pesawat pun lepas landas meninggalkan Kota Palu yang terlihat ramai dari udara karena lampu-lampunya.
***
“Woaaah! Penerbangan yang melelahkan!” Reza meregangkan otot-otot tubuhnya.
Penerbangan sekitar 19 jam lebih, akhirnya Reza telah sampai di Trenčín tepat tanggal 24 Januari waktu Trenčín.
“Eh?” Witan datang menghampiri Reza.
“Naik penerbangan 307?”
__ADS_1
“Iya!” jawab Reza.
“Lah! Kita tidak ketemu? Bisa gitu!” celetuk Witan dan langsung merangkul pundak Reza.
Keduanya pun berjalan menuju taksi bandara demi mengantar mereka ke tempat tujuan masing-masing.
“Hargaku naik, Za!”
“Wah, masa?”
Witan pun menunjukkan layar smartphone nya, membuka beranda Transfermarkt, harga pasar Witan jika dirupiahkan sudah mencapai 12 miliar rupiah.
Sedangkan Reza, secara mengejutkan naik drastis hingga 37 miliar yang benar-benar tak bisa diduga-duga.
“Lahh! Wah! Semakin mahal juga, ya!” gumam Reza. “Kiper Thibaut sih harganya 60 juta Euro, sekitar 900 miliar lebih. Masih terlalu jauh, ya, sampai ke kelas itu!” lanjut Reza.
“Tidak akan lama lagi, kau terlalu hebat, usiamu juga masih sangat muda, kau ada potensi melebihi harga si kiper Madrid itu,” jelas Witan.
Tak terasa, mereka telah sampai di rumah Witan. Witan turun dan meninggalkan Reza yang lanjut kembali ke rumahnya.
“Di sana!”
Reza turun dan membayar biaya yang sesuai dengan jaraknya, dia menghadap rumahnya yang cukup sederhana.
“Wah, tanggal 16 Februari adalah enam belas besar UCL menghadapi Nyonya Tua, Juve, ini seharusnya berat juga sih,” celetuk Reza dan kemudian melangkahkan kaki ke arah rumahnya.
Dia bersiap-siap, melakukan segala persiapan, tentu adalah hal yang paling penting sejauh ini.
“Hm … Besok saya masuk, lebih baik istirahat terlebih dahulu,” gumam Reza.
Dia akhirnya membersihkan diri setelah mengeluarkan pakaiannya yang diletakkan di lemari. Setelah membersihkan dirinya, Reza langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Mengambil smartphone, menelepon ibunya untuk memberikan kabar bahwa dirinya telah sampai di Trenčín. Itu dilakukan agar dirinya tak membuatnya khawatir ibunya.
Setelah menjelaskan keadaannya pada ibunya, Reza pun mulai menutup mata dan tidur demi istirahat.
“Huun ….”
Pagi yang mendung hingga rintik hujan, Reza yang terbangun memilih menyegarkan wajahnya dengan mencuci wajah.
“Wuaah! Mari kita melakukan kegiatan seperti biasa, dengan tujuan yang berbeda, yaitu demi meraih trofi UCL dan penghargaan kiper terbaik lagi!”
Reza mandi dan memakai jersey latihan klub, menenteng tasnya dan sepatunya, dia memakai sendal tali kemudian berangkat menuju tempat pelatihan AS Trenčín.
__ADS_1