Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 74 - Berakhir Seri? Tidak!


__ADS_3

Bola kembali bergulir. Perebutan di lini tengah sedang berlangsung, mereka saling melakukan konfrontasi fisik. Tak ayal beberapa kali dari kedua tim sering kehilangan bola di lini tengah.


Namun, serangan kedua tim belum pernah sampai ke kotak penalti hingga menit 15 ini. Mereka selalu berkutat di lini tengah, bahkan kedua pelatih masing-masing terus memberi arahan dengan begitu kesal.


Reza sendiri masih terus setia di area penjaga gawang. Dia tidak ingin terlalu maju untuk saat ini, waktu juga masih sangat lama. Takutnya dia melakukan blunder fatal yang berakibat buruk bagi timnya. Dia tak ingin tiba-tiba saja hanya jadi penghangat bangku cadangan atau bahkan tak masuk tim inti dan hanya tinggal di asrama saja karena masuk di tim cadangan pun tidak.


Kembali ke bola yang saat ini dikontrol oleh Bainovic di lini tengah. Dia melihat ke kanan dan kiri, dengan arahan kode tangannya, kedua sisi sayap pertahanan mulai perlahan maju.


Taktik mulai berjalan. Dengan serangan yang lebih berfokus ke sayap. Bek sayap juga harus cukup kreatif dalam memainkan bola, jangan juga meninggalkan posisi tanpa saling berkomunikasi.


Bainovic memberi bola kepada Holly yang agak ke depan. Di sana, Holly mencoba melakukan gerakan masuk ke dalam. Dua pemain lawan langsung datang menghadang tanpa kenal lelah. Mereka berdua terus menempel ketat Holly.


Holly yang merasa sudah terisolir posisinya pun kembali memberi bola ke belakang.


Semua itu terus terjadi hingga sudah setengah jam berjalan pertandingan. Terlalu monoton, tak ada serangan yang spesial dari AS Trenčín maupun Zlaté Moravce. Keduanya bermain tertutup, terlalu ragu untuk maju.


Namun, suguhan yang monoton itu pun tiba-tiba saja hilang sejenak. Dari sisi sayap kanan, Egy melakukan pergerakan tanpa bola yang baik. Dia bergerak begitu lihai bagai belut dan terus menghindari penjagaan man marking AS Trenčín.


Ketika dia berhasil lepas dari penjagaan, bola terobosan langsung di tendang ke arahnya. Bola bergulir cepat di depannya, Egy berlari tak kalah cepat untuk meraih bola. Melakukan adu lari bersama Kozlovsky, Egy terlihat menang.


Egy berhasil mendapatkan bola, dia melakukan gerakan menusuk ke kotak penalti. Melihat rekan setimnya di dalam kotak tepat di depan mulut gawang, Egy memberi umpan atas setinggi kepala.


Umpannya cukup akurat. Niarchos, penyerang bernomor punggung 10 itu memenangi duel udara dengan Pires. Niarchos menyundul bola dan mengarahkannya ke gawang.


Reza melakukan gerakan spontanitas, tangannya dihempaskan ke atas tepat menepis bola yang hendak memasuki gawang. Bola keluar lapangan, sekali lagi Reza menunjukkan kelasnya.


“Wah … ini baru seru!” teriak Reza yang hanya bisa dipahami Egy di lapangan saat itu.


Sepak pojok dilangsungkan, Egy secara langsung menempel ketat Reza. Itu sebagai cara untuk menggganggu konsentrasi Reza sendiri.


“Maaf saja, Kak Egy. Saya ini masih bisa konsentrasi!”


Bola datang, Reza langsung keluar dari area penjaga gawangnya dan melompat begitu tinggi. Bahkan sepatunya sudah setinggi pinggang salah satu pemain dari permukaan tanah. Lompatan yang cukup tinggi.


Reza memetik bola di udara dengan mudah dan menjatuhkan diri. Reza langsung bangkit dan menendang bola jauh ke depan yang saat itu ada Gajdos sedang berada di lini tengah.


Gajdos mendapatkan bola area. Dia mencoba berlari sekuat tenaga, melakukan duel bersama dua bek lawan yang mengapitnya dengan ketat. Gajdos berhasil melewati di antara celah dua pemain itu dan bisa menyentuh bola untuk kontrolnya.

__ADS_1


Itu dia. Gajdos menggiring bola dengan cepat, dia berhadapan langsung dengan Lukac, kiper Zlaté Moravce. Lukac tidak begitu terperdaya dan meninggalkan posisinya, dia masih cukup setia di area penjaga gawangnya.


Gajdos pun ketika memasuki kotak penalti langsung melepas tendangan kerasnya. Namun, sayang seribu sayang, tendangan itu secara alami mulai naik sehingga membentur mistar gawang dan keluar begitu saja.


Peluang besar, tetapi konversinya yang sangat kecil. Sikap kecewa diri sendiri pun ditunjukkan Gajdos, dia menghentakkan kakinya dan mengusap-usap rambutnya begitu frustasi.


“Sial!”


Setelah peluang besar dari masing-masing tim itu, tak ada lagi yang istimewa. Rasanya pertandingan kali ini akan berakhir seri, kata banyak orang. Itu karena melihat dari peluang yang sangat sedikit, ketika ada peluang tapi tak bisa mencetak gol.


Setelah belasan menit kemudian, wasit pun meniup peluit tanda babak pertama telah berakhir. Para pemain memasuki lorong stadion dengan tampang kelelahan, sorakan dari penonton dan suporter tak membuat mereka terpicu semangatnya.


Reza sendiri langsung menghampiri Egy. Mereka berdua sempat berhenti dan saling lirik tepat di pinggir lapangan.


“Kak … ayolah, tendang bola itu!”


“Reza, kalau saya bisa, saya akan bobol gawangmu! Sayangnya timmu juga cukup solid,” ungkap Egy.


Keduanya pun berjalan bersama saling berbincang. Itu terlihat hangat, tetapi di satu sisi menurut pikiran liar banyak orang, kedua pemain ini saling melakukan psywar atau istilahnya menurunkan psikologi seorang pemain dengan kata-kata tak mengenakkan.


“Kak! Saya tahu kau akan menendang bola itu di babak kedua, tendang nanti yaa!” seru Reza kemudian pergi ke ruang ganti timnya.


Reza menyeringai. Dia memiliki cara baru. Psywar lah caranya, memang terlihat curang, tetapi mental pemain lah yang diuji. Kalau memang bermental lemah, berarti kalian lah yang salah dan malah terperdaya dengan perkataan tak mengenakkan itu.


Egy sendiri agak terkejut. Anak seusia Reza yang masih sangat muda, benar-benar bisa melakukan sesuatu yang seharusnya akan sulit.


“Dia akan jadi kiper yang menakutkan,” gumam Egy.


***


Setelah istirahat selama kurang lebih 15 menit. Para pemain kembali masuk ke lapangan dengan beberapa persen tenaga baru dan juga pemahaman taktik baru yang harus mereka jalankan agar keefektifan peluang bisa lebih bagus.


Namun, sepertinya apa yang dijelaskan dari pelatih kedua tim tak begitu efisien dalam babak kedua saat ini. Kedua tim terlalu bermain biasa saja, tak ada yang istimewa dari suguhan pertandingan mereka.


Egy sempat menendang bola ke arah gawang Reza dari luar kotak penalti, akan tetapi sayangnya melambung tinggi di atas mistar gawang. Reza sendiri hanya melompat rendah sesuai spontanitasnya.


Setelahnya tersenyum. “Sepertinya termakan perkataanku.”

__ADS_1


Egy yang terus berlari sepanjang pertandingan pun juga mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ketika mendapatkan bola, dia tidak terlalu berlari secepat babak pertama. Stamina semakin terkuras di tengah teriknya matahari.


“Aaghh!” keluh Egy ketika bolanya berhasil direbut.


Pada menit ke 60, Pelatih Marian Zimen memasukkan Witan menggantikan Kmet yang tidak terlalu mendapatkan permainannya. Kmet terlalu terisolir, dia kesulitan menemukan skema permainan terbaiknya.


Makanya Pelatih Marian Zimen menggantinya dengan Witan. Energi baru, serangan baru. Begitulah pikiran banyak orang.


Ada satu peluang besar dari Witan yang berlari menusuk ke kotak penalti dan melepaskan tendangan terukur. Namun, berhasil ditangkap kiper dengan baik. Bola itu menempel ketat di tangan kiper.


Peluang itu terjadi ketika 4 menit setelah dia masuk. Memang terasa lebih hidup, akan tetapi masih terasa kurang. Padahal saat melawan Banská Bystrica, AS Trenčín terlihat lebih terbuka dan memiliki banyak peluang lebih baik daripada saat ini.


Menit demi menit terus berlalu, tepat di menit ke 89, sebuah pelanggaran fatal dari Zlaté Moravce benar-benar membuat mereka terdiam.


Bek mereka melakukan seluncuran memotong fatal, bukannya mengenai bola, malah menggunting kaki Witan yang sedang melakukan cut inside saat itu. Alhasil, Witan terjatuh dan menghasilkan tendangan bebas berjarak 23 meter di sisi kanan penyerangan.


Sontak setelah pelanggaran itu, sorak-sorai dari para penonton terdengar lebih riuh. Mereka mengelu-elukan Reza untuk segera mengambil tendangan itu.


Reza pun tak masalah, dia berlari ke arah bola. Para pemain Zlaté Moravce menatap nanar Reza yang mendatangi titik pelanggaran.


Mereka sudah mengetahui Reza, tendangan bebasnya terukur. Itu terlihat dari tendangan bebas pertamanya saat debut seminggu lalu melawan Banská Bystrica. Meski baru pertama kali mereka lihat Reza menjadi eksekutor tendangan bebas, keakuratannya sudah terlihat jelas bagi mereka saat itu.


“Reza, lakukan seperti yang sudah-sudah!” seru Witan.


Egy sendiri hanya tersenyum tipis. Dia memerhatikan Reza yang saat ini sudah bersiap di belakang bola.


Ketika wasit meniup peluit, Reza berlari kencang dan melakukan posisi layaknya penendang tendangan bebas pada umumnya. Kaki kiri terkuatnya diayunkan menghantam bola yang membuat benda itu melesat melewati pagar pemain.


Bola tidak terlalu membentuk lengkungan besar, melainkan sekarang agak lurus. Reza memang sengaja, dia ingin melakukan beberapa variasi model tendangan. Dengan anugerah tendangan bebas dari kemampuan Messi, dia bisa membuat variasi.


Kali ini, mengandalkan kekuatan tembak. Bola melesat bagai peluru langsung menghujam gawang yang tak bisa dikawal oleh Lukac. Lukac sendiri hanya berdiri dan melongo karena sudah mati langkah dengan tendangan secepat itu.


Reza pun berlari kencang ke pojok lapangan, melakukan seluncuran lutut dan segera bangkit untuk meraih buku bersampul hitamnya. Lantas melakukan selebrasi ikoniknya. Rekan-rekannya sendiri sudah paham bahwa itulah selebrasi milik Reza.


“Berakhir seri? Tidak!” gumam Reza cukup senang.


Dia malah lebih merasa lega bahwa tendangan bebasnya bisa masuk. Beberapa kali saat latihan bersama rekan setimnya, tidak jarang tendangannya melambung tinggi atau bahkan terkena pagar pemain. Jadi, bisa jadi kali ini keberuntungannya.

__ADS_1


__ADS_2