Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 171 - Terungkap Segala Rahasia


__ADS_3

Milan, Italia.


Di sebuah gedung staf pelatih, tepatnya di dalam salah satu ruangan staf pelatih, situasi dalam ruangan benar-benar berat, seperti dalam istilah, atmosfernya terlalu berat.


Seorang pria dewasa dan pemuda sedang menunggu kepastian akan jawaban dari sosok yang selama ini membantu Reza dalam mencapai impiannya meski terkadang masih banyak orang yang tak percaya akan keajaiban tersebut.


“Si–Siapa kau, ayo cepetan!” seru Reza yang tak sabaran.


[Aku adalah sosok kecerdasan buatan sempurna yang dikembangkan jauh di masa depan.]


“Heh?” Reza terdiam membatu dan mencoba menelaah penjelasan singkat dari sistem tersebut.


“Hei, meski saya yang menurunkannya dulu, tetapi rasanya penjelasan itu tak masuk akal,” ucap Bram sembari berdiri.


“Oh, iya, menurunkannya, apa maksudnya itu?” tanya Reza yang penasaran.


[Menurunkannya. Tuan Bram pernah mendapatkan sistem serupa yang masih tahap awal, tetapi dia segera menurunkannya kepada anaknya untuk tahap penyempurnaan.]


[Sistem Kiper awalnya sebuah kecerdasan buatan yang kurang dari segala sisi, tetapi seiring berjalannya waktu, seiring juga Reza Kusuma bertumbuh maka Sistem Kiper juga berkembang!]


“Kemudian … Bagaimana dengan ayah yang katanya pemain bola?”


Reza untuk sekali lagi menunggu penjelasan dari Sistem Kiper, penjelasan dari ayahnya langsung terasa berbeda, entah itu kepercayaan yang menurun atau apapun tersebut.


[Tuan Bram, dia menurunkan Sistem Kiper Awal kepada anda Tuan Reza, tetapi dia mendapatkan sedikit neuron sensorik dan motorik yang mampu membuatnya digadang-gadang menjadi pemain sepakbola terbaik pada zamannya.]


“Tapi–” Hendak menyela, Reza langsung meletakkan jari telunjuknya pada depan mulut dan kemudian menganggukkan kepalanya pelan untuk sebagai tanda kepada Sistem Kiper untuk lanjut menjelaskan.


[Pada usia 34, Tuan Bram mendapatkan hasil jerih payahnya untuk berjasa di AC Milan, hanya saja bukan sebagai pemain, tetapi sebagai staf manajemen yang membantu seluruh pergerakan para pemain AC Milan di jendela transfer.]


“Wah! Ternyata begitu, ya?” ucap Reza dengan senyuman polosnya. “Tapi, kenapa kau meninggalkan saya dan ibu saat saya berusia empat tahun?” lanjut Reza menatap sengit Bram.


“Ya, sebenarnya semua itu berawal dari kebodohanku, entahlah.” Bram hanya bisa memalingkan wajahnya ke sembarang tempat.


Menyadari Reza semakin menatapnya sengit, Bram mau tidak mau harus sedikit menjelaskannya.


“Cih, anak keras kepala, begini, dulu itu ayah pikir kalau menurunkannya padamu, Sistem yang belum bernama itu tak akan bekerja melakukan penyempurnaan, karena ada bunyi seperti–”


[Jika Tuan Bram masih berada di dekat Tuan Reza, maka penyempurnaan tergolong lambat dan akan lama dalam penyelesaian penyempurnaan segala kinerja sistem!]


“Begitu kah? Hahaha! Ini sih memang ayah yang seharusnya bo–”

__ADS_1


“Yap, kenapa juga dulu ayah sebodoh itu dalam mencerna penjelasan. Akhirnya, semua ini pun terjadi hanya karena bunyi sistem yang terasa ambigu.]


[Memang Tuan Bram saja yang … Kurang mencermati.]


Sindiran dari sistem membuat Bram hanya bisa tersenyum penuh kepasrahan.


“Ah! Bagaimana mungkin ada sistem kecerdasan buatan macam kau?” tanya Reza ingin memperjelas segalanya.


[Semuanya berawal dari seorang pemuda bernama Reyga yang membuat itu, dan sistem tiba-tiba tersesat dalam perjalanan biner yang panjang. Segala kalkulasi biner membuat penalaran dan dunia operasi sistem berubah!]


“Tidak masuk akal, tapi … Sepertinya bisa dipercaya.” Reza hanya bisa menghela napas sekarang.


Semuanya, semua yang menjadi misteri selama sistem membantu hidupnya telah dijelaskan, terungkapnya segala rahasia ini membuat Reza cukup puas, tetapi di satu sisi masih merasa ada yang janggal.


“Sejauh ini, kecerdasan buatan bisa membuat kartu atribut dan bisa menaikkan status seorang manusia? Apakah itu logis?” Pertanyaan yang akan ditanyakan banyak orang jika ini disebar, jelas pertanyaan yang lebih spesifik.


[Selama data para megabintang masa lalu belum hilang, Sistem Kiper bisa membuat data genetikanya dalam sekejap dan menggabungkan sel-sel gabungan itu dalam otak manusia.]


[Ada beberapa Sistem profesi lain di dunia masa depan, tetapi aku tak bisa membeberkannya.]


“Baik, baiklah, sudahlah, saya sudah terlalu pusing!” seru Reza. “Dan … Kamu, Ayah, Reza ingin Ayah pergi ke Palu dan menjelaskan rangkaian cerita yang bisa Ayah buat.”


“Tapi, Nak?”


“Siap-siap kaki wanita taekwondo menempel di wajahmu,” celetuk Reza dengan tengilnya sembari pergi dari ruangan.


“Ugh! Anak kurang ajar!”


“Siapa lebih kurang ajar ninggalin istri dan anaknya?” sahut Reza.


Percakapan keduanya pun selesai, entah mendapatkan hasil yang sepadan, tetapi inilah penjelasan yang akan mereka cerna untuk dipahami lebih dalam.


Kecerdasan buatan, sebuah hal yang pada zaman sekarang perlahan dikembangkan dalam tahap yang mengerikan, kecerdasan buatan ini menjadi momok yang menakutkan karena mereka nyaris tahu segalanya.


Reza mencoba untuk sementara waktu memaklumi apa yang terjadi saat ini, dia masih ingin meraih banyak penghargaan selanjutnya, masih banyak piala-piala bergengsi yang belum dicapainya.


Maka dari itu, dia akan segera berjalan di tanjakan yang berliku, pasti akan banyak orang yang ingin menghalanginya dalam berjalan di atas karpet takdir.


“Haaa … Entah mengapa masih agak aneh,” gumam Reza.


[Semua yang bisa dijelaskan, sudah Sistem jelaskan, Sistem untuk sementara waktu akan mengambil waktu tidur atau disebut hibernasi dalam jangka panjang.]

__ADS_1


[Kerja sistem sejauh ini mencapai tujuan sistem itu sendiri memajukan seorang manusia menjadi yang terdepan!]


[Kalkulasi waktu hibernasi, 5 tahun!]


“Wah … Seperti beruang saja, hahaha!”


***


Reza yang saat ini sudah berada di rumahnya terkejut, aroma wangi kopi merebak di dalam ruangannya. Begitu wangi hingga Reza nyaris tak percaya.


“Vera! Kopi!”


“Wah, kamu sudah pulang, ini dia, puding coklat ala Vera!”


Sebuah penampakan yang Reza tak ingin lihat dua kali, di mana puding coklat yang seharusnya indah malah seperti tanah kematian di dunia fantasi.


Bau semerbak menyerupai bangkai keluar dari puding coklat itu.


“Coklat … Puding … Coklat, kenapa di rumah ada aroma wangi kopi?”


“Oh, ini, itu bukan kopi, coklat!” seru Vera.


Alhasil, sudut bibir Reza berkedut, satu hal yang pasti dari saran Melani adalah jangan membiarkan Vera masak sendirian, maka sebuah makanan yang seharusnya lezat akan berubah seperti makanan yang kedaluwarsa lewat puluhan tahun.


“Ini–” Reza kemudian teringat saran lain dari ibunya Vera, Melani.


‘Jangan sekali-kali kau bilang tak enak, maka dia … Akan meracunimu tengah malam. Jangan buat pernikahan yang belum seumur jagung ini hilang begitu saja,’ batin Reza.


“Cobain, Yang!” seru Vera dengan mata berbinar-binar.


Reza terpaksa menyuap sesendok puding itu ke mulutnya, rasa kopi yang menyengat benar-benar membuatnya ingin memuntahkannya, kemudian rasa manis dan bahkan asin ada pada puding itu.


‘Me–Mengerikan!!!’ batin Reza begitu pasrah.


“E– Gaah! E–enak!” seru Reza.


“Yeaaahh, puding pertama di Eropa enak!”


Plek!


“Ups! Kesenggol!” seru Reza berpura-pura polos.

__ADS_1


“Yaaah … Nggak apa, nanti bisa buat lagi.”


__ADS_2