
Bola bergulir keluar lapangan. Ketika bola kick-off ditendang Nabil Asyura kepada Kafiatur.
Lantas Kafiatur dengan segera melakukan umpan diagonal ke depan. Di sana sudah ada Gilang yang berlari, tetapi karena bola yang begitu cepat dan harus keluar lapangan.
Gilang mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol tanda bahwa dia menghargai umpan yang sedikit melenceng tersebut.
Bola lemparan ke dalam dilakukan. Rashid melempar pada Abdul Aziz. Di sana tanpa menyia-nyiakan kesempatan formasi yang belum terangkai betul, segera Abdul Aziz memberi umpan diagonal ke sisi kanan penyerangan.
Ghaith menunggu di depan. Dia berlari dan menggiring bola. Ghaith melihat ke kiri, di tengah kotak penalti sudah ada Waleed yang menunggu dan membuka ruang.
Ghaith pun mulai menusuk ke dalam kotak penalti. Tentunya Abdillah sebagai orang yang mengawal pergerakannya tidak membuka ruang sebisa mungkin.
Abdillah mencoba melakukan sliding tekel, tanpa kompromi. Namun, kesalahan fatal terjadi, ketika hendak Ghaith memasuki kotak penalti, sliding tekel Abdillah malah mengenai kaki Ghaith begitu keras.
Prit …!
Wasit meniup peluit dengan keras. Para pemain Indonesia U-17 mulai mendekati wasit dan mencoba memprotes apa adanya. Namun, keputusan wasit sangat mutlak dan tak dapat diganggu gugat.
Lagipula itu sudah terlihat jelas pelanggaran. Abdillah juga langsung mendapatkan kartu kuning pertamanya.
Para pemain UEA mulai menyiapkan taktik tendangan bebas. Tentunya juga para pemain Indonesia yang terkenal tinggi mulai membentuk pagar pemain, ini dikendalikan oleh Reza sendiri.
“Geser ke kanan!” teriak Reza seraya melambaikan tangannya.
Setelah selesai mengatur apa pun itu, wasit mulai meniup peluit. Pemain UEA yang bernama Waleed mulai melangkahkan kakinya ke arah bola.
Waleed dengan yakin, sisi bagian dalam kaki kirinya diayunkan yang membuat bola melambung menuju tiang jauh. Reza yang melihat alur bola sedikit menyunggingkan senyum.
Reza kemudian melangkah mundur dengan refleks cepat, kemudian tolakan kakinya langsung menerbangkannya setinggi 60 cm dari permukaan tanah. Tangannya terulur cepat ke atas untuk menghalau bola yang menuju tiang jauh dan hendak masuk.
Reza kemudian mampu menepis bola dengan telapak tangannya. Dia menghempaskannya ke depan, entah berpikir apakah ada rekannya yang mengambil bola tersebut. Reza kemudian bersiap kembali di bawah mistar gawang.
__ADS_1
Dari luar kotak penalti, seorang pemain Uni Emirat Arab, Abdalla mencoba menendang bola. Abdalla dengan mengecoh Iqbal mampu melewatinya dan segera melakukan tendangan.
Reza tentunya tak main-main. Dia dengan yakin tak bergerak dari posisinya sebab arah bola tepat ke arahnya. Reza kemudian menekuk kedua tangannya hingga siku menempel di perut.
Ketika bola mengarah padanya, Reza dengan sigap langsung memeluk bola dan menjatuhkan diri bertelungkup untuk mengamankan bola agar tidak ada istilah bola rebound atau bola pantulan.
Para penggemar Indonesia U-17 menghela nafas lega. Serangan Uni Emirat Arab akhirnya berhenti dengan Reza yang memeluk erat bola dan sedikit berlama-lama untuk mencoba mengulur waktu.
“Yosh! Mantap!” puji Nabil Asyura yang segera berlari ke depan.
Melihat itu, Reza berdiri dan langsung segera menendang bola ke arah Nabil.
Nabil tentunya sedikit terkejut, tetapi dia dengan segera menyeimbangkan bola yang memantul di depannya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan dari Reza, Nabil segera menggiring bola.
Para pemain UEA tentunya belum begitu siap, tetapi serangan balik cepat ini langsung mengejutkan semua pemain UEA.
Nabil Asyura kemudian melirik ke kiri, di sana ada Gilang yang melakukan pergerakan tanpa bola. Nabil pun segera mengirim bola datar membelah jantung pertahanan UEA yang terkejut.
Gilang kemudian mendapatkan momentum terbaik, dengan kaki kiri sebagai tumpuan, tubuh yang condong sedikit ke depan, kaki kanan diayunkan begitu tegas. Bola melesat bagai peluru meriam. Sang kiper UEA, Hamdan, dengan refleks yang tidak kalah dari Reza mencoba melompat ke arah tiang jauh.
Hamdan dengan posturnya yang cukup tinggi dan juga tangan yang panjang mampu menepis bola. Bola keluar lapangan, hingga para penonton mendesah kesal karena tak jadi gol.
“Waah … hampir aja,” ucap Gilang sedikit kesal.
Tendangan penjuru dilakukan oleh Narendra. Bola dilesatkan menuju kotak penalti. Di sana para pemain tinggi-tinggi mulai melakukan duel udara.
Arkhan Kaka yang cukup tinggi mampu menyundul bola. Namun, karena kawalan ketat dari pemain UEA, Arkhan hanya mampu mengarahkan bola tepat menyamping di tiang gawang dan tak menghasilkan sebuah skor.
“Ahay! Arkhan hampir saja mencetak gol yang ketiga bagi Indonesia!” seru Hadi sebagai komentator.
Para penonton di seluruh Indonesia dan juga yang berada di stadion menghela nafas panjang. Mereka untuk kedua kali tak jadi melihat Indonesia mencetak skor dalam tahap yang berturut-turut.
__ADS_1
Citra yang berada di rumah juga cukup heboh. Dia sendirian menonton, tetapi dalam rumah berasa banyak orang. Citra heboh sendiri, dia berteriak kesal tanpa disadarinya.
“Ayo! Semangat teman-teman Reza!” ucapnya dengan tenang saat dia menyadari kekonyolan sebelumnya.
Karena ini malam hari, jadi Citra sudah pulang kerja dan bisa menonton anaknya lewat televisi saja. Namun, seisi kantornya katanya akan pergi ke Jakarta untuk menonton pertandingan keempat Indonesia saat melawan Malaysia nantinya pada pertandingan terakhir –Sesudah laga melawan Palestina nantinya.
Jadinya Citra cukup berharap bisa bertemu anaknya saat sampai di sana. Dia juga sudah siap-siap, meski masih beberapa hari lagi.
***
Kembali pada pertandingan, kali ini disuguhkan sebuah pertandingan yang intensitasnya cukup tinggi. Kedua tim saling serang, tetapi tak membuahkan skor sama sekali.
Apalagi Reza yang mengawal gawangnya begitu apik. Dia berapa kali mampu menjaga gawangnya dari kebobolan saat tendangan tepat sasaran dari UEA. Reza cukup senang dengan kemampuan adaptasinya akan kemampuan kiper legendaris Russia itu.
Tentunya Reza masih berharap untuk bisa memanfaatkan sebuah kemampuan apa yang ada pada Lev Yashin itu sendiri. Untuk persoalan Messi, dia tidak terlalu memerdulikannya.
Kemampuan Messi sendiri yang dia manfaatkan hanyalah tendangan bebasnya. Reza juga paham akan sistem yang langsung memberikan kemampuan Mereka Yang Terbaik beda generasi, tetapi sistem juga memberatkan dan memberi tantangan bagi Reza dalam adaptasi kemampuan itu sendiri.
Sistem membuat Reza sulit beradaptasi dengan kemampuan Mereka Yang Terbaik tersebut, maka dari itu Reza masih merasa aneh dengan tubuhnya yang terkadang muncul kekakuan atau ketidaktahuan dalam melakukan pergerakan.
Terkadang Reza hampir melakukan blunder fatal. Itu juga terbukti saat di Youth Tournament, Reza melakukan blunder fatal dan menghasilkan skor bagi lawan. Jadinya, Reza dengan pertandingan Kualifikasi Piala Asia U-17 ini akan mencoba terus beradaptasi dengan kemampuan yang diberikan sistem.
Di lapangan, saat ini wasit melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan menit 85. Tak lama lagi waktu normal akan berakhir. Serangan dari kedua tim terus terjadi, membuat pertandingan ini terlihat menarik.
Tidak seperti saat melawan Guam, Indonesia menyuguhkan pertandingan yang cukup membosankan karena kemampuan yang berat sebelah bagi Guam sehingga mereka terbantai.
Menit demi menit terus berjalan, hingga tak terasa sudah sampai pada akhir menit waktu normal. Pada papan subtitusi di pinggir lapangan, asisten wasit mengangkat angka 3.
Itu tandanya 3 menit tambahan waktu. Langsung UEA kembali menggempur pertahanan solid dari Indonesia U-17.
Namun, hingga pertandingan berakhir, mereka sama sekali selalu patah di tangan Reza. Reza selalu menyelamatkan gawangnya dari ancaman.
__ADS_1
Pertandingan kedua bagi Indonesia U-17 di Kualifikasi Piala Asia U-17 pun berakhir dengan kemenangan 2-0 bagi Indonesia U-17.