
Di ruang ganti pemain SMA Harapan. Setelah pertandingan beberapa waktu lalu, mereka semua dikumpulkan dengan satu tujuan.
Brak!
Pelatih Sofyan untuk kedua kali membanting papan taktik portabel di tangannya. Papan taktik kedua pada pertandingan ini yang harus hancur.
Semua pemain hanya mampu menunduk tanpa mau merespon marahnya pelatih Sofyan. Untuk anak-anak baru, mereka jelas baru pertama kalinya melihat kemarahan pelatih Sofyan. Namun, untuk para senior kelas 11 dan 12, jelas kemarahan ini takqada artinya dengan beberapa kali kemarahannya di musim-musim sebelumnya.
“Kalian tahu kenapa kalian seperti tidak biasanya?”
“Ya, pelatih!” jawab serentak semuanya.
Pelatih terdiam sebelum kembali berbicara. “Apa itu? Saya ingin mengetahuinya!”
Semua pemain saling melirik sedikit ketakutan, apalagi pemain baru kelas 10. Mereka jelas secara perdana melihat betapa marahnya pelatih Sofyan.
“Karena kita tidak fokus dan merasa sudah di atas,” jawab Arkhan yang cukup berani.
Pelatih Sofyan menoleh kepadanya. Dia berjalan menuju bangku tempat Arkhan duduk dan dia segera memegang kedua pundak Arkhan.
Arkhan sedikit merinding, dia yang anak baru jelas sangat takut.
“Benar. Saya mau kalian introspeksi diri dan kembali seperti awal. Kalian akan menganggap bahwa delapan belas kemenangan yang berlalu hanyalah awal dan masih banyak hal yang harus kalian jalani.”
“Yaa … pelatih Sofyan sangat benar. Kalian–”
Sebelum pelatih Berto sempat berbicara, pelatih Sofyan langsung memotongnya. “Sudahlah! Saya mau menenangkan diri. Kurasa kalian memang harus mengalami apa itu hasil imbang atau … kalah!”
Pelatih Sofyan langsung keluar dari ruang ganti tanpa berbasa-basi lagi. Pelatih Berto pun hanya bisa menghela nafas dan memberi para pemain waktu untuk pulang dan kembali ke rumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.20.
Reza pun pulang dengan menggendong tasnya yang berisi sarung tangan dan juga topi miliknya. Dia sampai saat ini belum pernah memakai topi, dia merasa memakai topi harus benar-benar pada waktunya.
Dalam perjalanan, Reza mampir sejenak ke minimarket untuk membelikan pesanan ibunya.
“Euum … pe–pembalut?!” ucapnya menatap layar smartphone miliknya.
__ADS_1
Reza hanya bisa menuruti. Dia tidak mau menjadi anak yang tak tahu diri pada orangtuanya. Alhasil Reza telah berhasil membelikan pesanan ibunya.
***
Di rumah, Reza melihat ibunya sedang menyirami tanaman dan bunga-bunga yang indah. Tak menunggu disapa, Reza langsung mengambil tangan ibunya dan menyalaminya.
“Eh! Eca sudah datang!” kata Citra sambil mengelus rambut Reza. “Oh, iya! Itu tadi ada beberapa surat datang, ibu tidak tahu dan tidak ingin membukanya sebelum kamu!” lanjutnya menunjuk kursi di teras.
Reza dengan mengendikkan bahu tanda bahwa dia juga tak mengetahui maksud surat itu. Keduanya pun menuju teras, dan Reza segera membuka salah satu surat dari 3 surat yang berada.
Pada bagian kop surat, sebuah hal yang tiba-tiba membelalakkan matanya. Reza membaca pelan kop surat itu secara lantang agar ibunya mendengarnya.
“Tawaran transfer!”
Seketika mata ibunya membulat lebar. Dia segera menyuruh anaknya untuk melanjutkan membacanya.
“Kepada saudara Reza Kusuma, kami dari klub Persik Kediri telah berminat untuk mendatangkan anda pada bursa transfer sesi dua mendatang. Dengan segala hormat, kami akan menghubungi anda secepat mungkin setelah surat ini terkirim!”
Reza mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka tawaran transfer akan seperti ini. Pikirnya dia akan dihubungi tanpa dikirim surat.
Reza mengambil smartphone nya dan segera menghubungi nomor milik Fajar. Sementara itu, ibunya membuka satu persatu satu surat itu dan mulai membacanya perlahan.
“Kak! Eca mendapat–”
Belum sempat Reza melanjutkan perkataannya, dari seberang, Fajar memotongnya secara langsung. “Tawaran transfer?”
Akhirnya Reza mulai menjelaskan tentang surat yang datang.
Fajar menjelaskan bahwa surat itu hanya sebagai awal dari sebuah tawaran transfer. Surat ini juga akan terkirim secara langsung kepada tempat bernaung pemain sebelumnya. Seperti Reza yang bernaung di klub sekolahnya, maka kemungkinan besar sekolah sudah menerima surat pemberitahuan itu.
Kemudian setelahnya, para penanggung jawab klub yang berminat akan menghubungi seorang pemain secepat mungkin setelah surat terkirim. Mereka akan menanyai tentang masalah transfer dan beberapa hal lainnya. Makanya Reza diharuskan siap jika sewaktu-waktu mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal.
Setelahnya, Reza memberitahu siapa saja yang menawarnya. Reza memberikan 3 nama klub yang menawarnya.
“Di sini ada Persik Kediri, kemudian … Semen Padang di liga dua, terus … apaan nih AS Trencin?”
__ADS_1
Ibunya sendiri sudah menerjemahkan bahasa Inggris baku dari surat ketiga. Itu jelas-jelas tawaran transfer dari luar Indonesia.
Setelah memberitahu semua itu, Fajar sedikit terkejut dengan nama klub terakhir.
“Bagaimana bisa yang hanya bermain di Youth Tournament diminati AS Trencin dari Liga Super Slovakia?!”
Reza sendiri pun tak tahu. Dia awalnya hanya bermain untuk mencoba menaikkan karirnya. Tanpa tahu, dia tiba-tiba ditawari klub asal luar negeri tersebut, lebih tepatnya asal Eropa.
“Hmmm … karena saya bermain di timnas Indonesia U17 yang mendulang kemenangan dan performa yang ajaib, gitu?”
Dari seberang, Fajar terdiam. Dia juga sebenarnya awal karirnya yang perlahan-lahan naik hingga mampu menembus Persija Jakarta hanya terkejut karena teman yang dia anggap adiknya telah mampu menembus liga Eropa. Dia –Fajar– sendiri saja belum merasakan debut di timnas Indonesia usia muda atau bahkan senior!
Itu terlalu gila di sebuah awal karir. Lagipula siapa yang ingin duduk di bangku cadangan selamanya. Fajar tahu tentang itu, beberapa pemain Indonesia yang berkancah di Eropa biasanya hanya penghangat bangku cadangan selama beberapa minggu dan bulan kemudian mulai dimainkan dengan status cadangan.
Fajar kemudian menjelaskan. Pilihan Reza akan tergantung pada dirinya. Karirnya harus bisa terus bersinar dan jangan sampai tiba-tiba tenggelam begitu saja karena sebuah klub yang tiba-tiba minat, tetapi hanya untuk penghangat bangku cadangan mereka.
Reza menatap ibunya. Ibunya tahu percakapannya dengan Fajar karena dia memperbesar suara smartphone miliknya.
“Bu?”
Ibunya sendiri hanya mengendikan bahu. “Selama itu baik untuk Eca, terserah kamu mau kemana!”
Akhirnya Reza memutuskan untuk mencoba peruntungan dan berkancah di Eropa. Setidaknya klub debut profesional pertamanya di Eropa, lebih tepatnya Slovakia.
Dia sebenarnya ingin berkancah terlebih dahulu di liga Indonesia. Hanya saja ada beberapa alasan yang membuatnya lebih pilih ke Eropa daripada di liga Indonesia yang agak kurang.
“Sudah, kalau begitu tinggal tunggu mereka menghubungimu. Oh, iya! Di sana ada Witan!”
Panggilan tertutup dan menandakan pulsa milik Reza telah habis total.
“Witan yaa? Boleh juga, supaya saya bisa beradaptasi di sana,” gumam Reza.
“Nak, sepertinya kau sudah dewasa. Kau harus urus Kartu Tanda Penduduk, kemudian persiapkan Akta lahir dan juga Kartu Keluarga. Sebelum mengurus paspor, kau jelas harus mengurus KTP!”
Reza pun mulai mengatur segalanya. Dia juga sementara menunggu panggilan langsung dari AS Trencin, lagipula dia tak memiliki nomor teleponnya.
__ADS_1