Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 112 - Langsung ke Qatar


__ADS_3

27 November 2023, hari di mana Reza berangkat dari Slowakia yang langsung menuju ke Qatar memakai pesawat yang secara kebetulan bisa disediakan oleh agen Bryan.


“Terima kasih, Pak Bryan!”


“Haha! Tak apa, lagipula ada lima pemain Asia yang saya terbangkan menuju Qatar, termasuk kamu.”


Pembicaraan antara keduanya melalui panggilan telepon. Tak ada yang bisa menghalangi pembicaraan keduanya, meski dibatasi oleh jarak.


Reza yang saat ini sudah bersiap dan terbang menuju Qatar menjadi semakin rindu dengan Indonesia. Ternyata, pemain-pemain abroad langsung menuju Qatar tanpa ke Indonesia lagi.


Pemain abroad adalah pemain yang berkancah di luar Indonesia demi karir mereka. Pengertian secara mudahnya saja.


“Silahkan menikmati hidangan kami!” Sang pramugari cantik menghidangkan sebuah udang berukuran besar dengan beberapa sayur lalapan.


Makanan yang menggiurkan bagi Reza, tetapi setelah ditanyai olehnya tentang bahan masakannya, Reza mengurungkan niatnya.


Makanan itu jelas kurang menyehatkan bagi dirinya yang seorang atlet, makanan penuh minyak dengan beberapa karbohidrat berlebihan.


Alhasil, Reza meminta hidangan baru yang bisa dibilang lebih menyehatkan bagi dirinya. Hal itu diterima baik oleh sang Pramugari.


Berbalik, dia mendorong troli makanan menuju dapur pesawat.


Pesawat ini termasuk mewah, sering menampung beberapa politikus dan juga atlet ke mana saja.


Beberapa menit kemudian, Reza mendapati pramugari tadi sedang mendorong troli menuju dirinya sembari tersenyum.


Sesaat membuka penutup makanannya, sebuah hidangan yang diidamkan oleh Reza pribadi.


Sayuran segar, kemudian terdapat beberapa buah-buahan dan juga untuk makanan utamanya adalah sebuah daging sapi bernutrisi dengan bahan mewah.


Tak ada indikasi karbohidrat berlebih, hanya ada beberapa zat yang memang Reza butuhkan.


Menerima hidangan itu, Reza segera melahap habis tanpa sisa. Setiap sudut piring diusap menggunakan jarinya.


“Yo! Makasih deh buat Pak Bryan yang memberi fasilitas menakjubkan ini!” gumamnya seraya memandang keluar jendela.


Gumpalan awan terlihat begitu lembut seperti kapas, tetapi kenyataannya awan yang berukuran 1 km per kubik berarti sama dengan 1 miliar meter kubik yang juga berarti jika dihitung, maka beratnya sekitar 551 ton!


Pelajaran yang cukup bagus, itu ditemukannya saat belajar bersama teman sekelasnya di sekolah.


“Heh! Tak disangka,” gumam Reza hingga perlahan dia mulai tertidur.

__ADS_1


Sejak dia makan, telah sekitar sejam duduk memandang awan yang bergumpal-gumpal bagai kapas. Setelahnya, Reza secara pulas tertidur.


Lagipula tidur lebih awal adalah sebuah surga baginya. Datang ke Qatar, bukan hanya diam duduk angkat kaki.


Pelatih Shin, pelatih Indonesia yang tegas dan tak segan-segan memberi sanksi atas kemalasan seorang pemain, hingga bisa saja pemain itu dipulangkan.


***


Belasan jam mengudara, akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Reza telah mendarat dengan mulus tanpa stagnasi membuat kenyamanan 100% telah dicapai oleh para penumpang.


Menuruni tangga, Reza menghirup udara begitu rakus.


“Wah … Udara Qatar agak dingin, tetapi tak begitu dingin juga di awal-awal memasuki musim dingin.”


Berjalan menuju gedung bandara, di sana secara mengejutkan Agen Bryan telah menunggu di ruang tunggu sambil berbincang dengan seseorang berbadan kekar.


“Pak … Bryan?!”


Agen Bryan menoleh kemudian tersenyum. “Oh! Akhirnya kamu tiba juga! Bagaimana perjalanan kelas bisnisnya?”


Reza menggaruk pipinya, dia agak canggung. “Jelas enak, Pak!”


“Siapa Bapak ini?”


“Oh! Ini rekan Agen saya di perusahaan yang sama! Dia mendampingi kliennya yang beberapa menit lagi tiba!”


Reza mengulurkan tangannya secara cepat. “Salam kenal, Pak, saya Reza Kusuma!” Menggunakan bahasa Inggris yang fasih.


“Wah! Apakah kamu yang terkenal akhir-akhir ini, sebagai pemain Indonesia pertama di Liga Champions!”


Tak disangka-sangka, ternyata pria ini memiliki dialek bahasa Indonesia yang sangat fasih dan begitu nyaman terdengar.


“Saya Agus, Agen Senior dari dia!” Membalas uluran tangan dari Reza.


“Cuma beda lima hari,” celetuk Bryan.


‘Wah! Orang Indonesia, ya? Kirain orang bule, habisnya terlihat begitu,’ batin Reza.


“Yasudah, saya dan Reza pergi menuju hotel, di sana sudah menunggu beberapa pemain lainnya. Klien kamu … adalah musuh klien saya,” jelas Bryan penuh penekanan pada akhir kalimat.


Agus, dia hanya tersenyum penuh misterius, mengiringi kepergian Agen Bryan dan juga Reza menuju parkiran bandara.

__ADS_1


“Empat klien saya lainnya, sedang menunggumu di hotel yang disediakan oleh PSSI dan juga federasi Qatar,” jelas Bryan.


Reza hanya diam. Dia juga tak ada bahan untuk menimpali apa yang dikatakan oleh agennya tersebut. Lagipula setelah perjalanan jauh, Reza memilih untuk beristirahat sejenak selama beberapa jam sebelum latihan intensif dari Pelatih Shin dijalaninya.


Menaiki sebuah minibus yang nyaris menyerupai salah satu merek terkenal di Indonesia, Reza dan agennya itu menikmati indahnya kota Doha dari balik kaca mobil.


“16 Desember adalah laga pertama menghadapi Iran, kalian tergabung dalam B yang akan bermain sehari setelah laga pembuka.


Isi grup B, Iran, Uni Emirat Arab dan juga Uzbekistan.”


Reza sebenarnya sudah mengetahuinya, tetapi rasanya diberitahu dari orang lain itu lebih terasa sensasi terkejutnya.


“Iran. Tim peringkat satu FIFA di Asia dan peringkat dua puluh secara dunia!


Uni Emirat Arab juga bukan lawan yang mudah, sama juga dengan Uzbekistan sebagai semifinalis tahun 2011.”


Penjelasan dari Reza membuat Agen Bryan agak tertegun. Pengetahuan Reza yang begitu luas, mampu mengingat beberapa hal lampau dan juga sejarah dari turnamen serta kekuatan tim lawan.


“Yaa … kalau begitu, bekerja keraslah!” ucap Bryan sambil menoleh sejenak kepada Reza sebelum kembali fokus ke depan.


Mobil berjalan di tengah ramainya jalan perkotaan Doha, begitu padat dan juga dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit dengan desain futuristik yang memanjakan mata.


Semua itu lengkap ada di kota Doha, bagaimana dengan kota-kota lain di Qatar? Sudah jelas tak kalah lengkapnya.


Hal ini yang membuat Reza semakin bersemangat demi melakukan debutnya bersama Timnas Senior diusia sedini ini. Meski begitu, dia memiliki rekan yang sepantaran, yaitu Marselino yang berusia 19 tahun.


Walaupun beda dua tahun, itu tak masalah, karena jaraknya tak begitu renggang.


Tak terasa, Reza dan agennya sampai di sebuah gedung hotel yang memiliki hingga 20 lantai lebih, cukup mewah untuk saat ini.


Reza turun dari mobil, Agen Bryan berkata, “Sebut saja namamu Reza Kusuma, tunjukan bukti legalitas dari PSSI dan kerja sama antara federasi sepakbola Qatar kepada mereka.”


“Kemudian apa?” tanya Reza.


“Tunggu saja! Ada pembimbing yang akan mengantarmu ke lapangan latihan, jangan khawatir, hotel ini adalah tempat berkumpulnya rekan setimmu!” jelas Bryan yang kemudian menutup jendela mobil.


Agen Bryan menekan klakson dan pergi meninggalkan Reza, katanya dia akan bertemu rekan agennya.


“Fyuuh … Yasudah, mari kita … Lakukan!”


Langkah besar, dimulai dari langkah kecil yang membawa perubahan bagi bangsa Indonesia!

__ADS_1


__ADS_2