
Reza yang melihat gol kedua tersebut hanya menghela napas panjang. Dia sedikit kasihan dengan Guam pada menit awal sudah harus kebobolan dua gol. Namun, disatu sisi dia bisa tenang dalam menjaga gawangnya.
Setelah gol kedua itu, Guam kembali memainkan pertandingan dengan masih begitu bersemangat. Mereka ingin menjadikan ini sebuah pembelajaran untuk lebih baik nantinya.
Disaat pemain Guam mengendalikan beberapa menit pertandingan, Kafiatur melihat kelengahan terjadi di antara pemain tengah Guam. Tanpa menyia-nyiakan sebuah kesempatan, Kafiatur dengan tegas menekan seorang pemain Guam bernama Sean Ko.
Dengan ketegasannya, Kafiatur berhasil mencuri bola dari Sean Ko dan segera mengangkat bola ke udara menuju sisi lapangan sebelah kiri. Di depan, ada Arkhan yang sedang melakukan pergerakan tanpa bola begitu cepat.
Asyura juga mulai maju. Para pemain Guam perlahan kembali ke posisi bertahan seluruhnya, tak tersisa satupun pemain yang melewati tengah lapangan.
“Arkhan!” seru Asyura seraya mengangkat tangan.
Arkhan semakin mendekati kotak penalti, dia juga telah terkurung oleh dua pemain lawan yang menjaganya. Tak ada pilihan lain, Arkhan dengan tubuh yang sedikit condong ke depan segera melakukan umpan cut back.
Namun, bola malah mengenai salah satu pemain lawan dan berputar arah hingga keluar lapangan. Arkhan segera mengambil bola itu dan melempar secara cepat kepada Asyura.
Asyura yang dijaga oleh seorang pemain, memutar tubuhnya membelakangi gawang. Dia melihat Kafiatur dan Zidan yang mendekat.
Iqbal dan Abdillah dari lini pertahanan juga semakin mendekat. Lini tengah Indonesia mulai diramaikan.
“Ambil!”
Kafiatur mendapatkan bola, dia dengan lihai mengecoh pemain lawan menggunakan gerakan kecil ajaibnya. Bola melewati di antara kedua kaki pemain tersebut.
Kafiatur mengejar bola, dia segera memberi umpan kepada Figo yang mendekat dan tentunya lebih dekat daripada kawannya yang lain.
Bola sekarang di kaki Figo yang saat ini berada tak jauh dari mulut kotak penalti. Di tengah kekacauan lini belakang Guam, Figo mengangkat bola kepada Asyura yang sudah berdiri tepat di garis pertahanan terakhir dan lepas dari jebakan offside.
Namun, pemain Guam yang dicoba dilewati, dengan segera melompat dan meraih bola dengan kepalanya. Hal yang tak terduga, tangannya malah ikut menyentuh bola dan berakhir sebuah pelanggaran fatal.
Wasit langsung meniup peluit dan mendekati pemain Guam yang bernama Erwin **. Dia adalah kaptennya.
Para pemain Indonesia hanya diam sambil menunggu keputusan apa yang dikeluarkan oleh wasit.
__ADS_1
Tanpa kompromi, secara jelas Erwin dengan sengaja mengangkat tangannya untuk menghalau bola dan mendorongnya menjauh layaknya seorang kiper. Dengan hal itulah alasan wasit mengangkat kartu merah pertama di turnamen Kualifikasi tersebut.
Titik tempat terjadinya pelanggaran berada pada jarak 22 meter dari mulut gawang.
Dari arah gawang berlawanan, Reza berlari dengan cepat agar orang yang mengeksekusi tendangan ini bisa memberikannya kesempatan.
Para penonton di tribun stadion sudah mulai begitu antusias dengan pelanggaran kali ini, apalagi kiper baru yang maju dan akan menjadi eksekutor tendangan bebas.
“Saya yaa?”
Arkhan yang mendapati Reza sudah berada di dekat bola hanya mengangguk ringan. Dia juga ingin melihat seberapa kuat tendangan bebas Reza, seorang kiper yang telah mencetak 8 gol dari tendangan bebas di Youth Tournament sektor Sulawesi Tengah.
Reza meletakkan bola di atas tanah. Dia menatap pagar hidup yang sedang diatur oleh kiper Guam. Para pemain Indonesia dan Guam sudah saling berduel.
Reza menatap wasit yang bersiap meniup peluit di mulutnya. Ketika wasit menarik napas dan dihembuskannya angin ke benda berbunyi nyaring tersebut, Reza langsung berlari kecil.
Dia kembali membentuk postur tendangan bebas terbaiknya. Kaki kanannya menapak kuat di dekat bola, kaki kiri diayunkan dengan begitu tegas, tubuh yang condong agar mendapatkan sudut yang pas.
Ketika kaki kiri diayunkan, sisi bagian dalam mengenai bola. Bola langsung melesat melewati pagar hidup yang melompat dan hanya menanduk angin saja.
Sontak gemuruh penonton terdengar begitu nyaring. Komentator di televisi swasta berteriak keras.
“Gooool …! Tendangan yang begitu ajaib dari Reza Kusuma! Dia seperti Messi dalam mengambil ancang-ancang! Namun, konversi tendangan bebasnya seperti Juninho!
Katanya … di Youth Tournament sektor Sulawesi Tengah, Reza mampu mengonversikan gol dari tendangan bebas nya begitu apik.”
Di tengah penjelasan komentator yang menggebu-gebu dan juga siaran ulang dari tendangan bebas itu, para pemain hanya asyik berselebrasi di sudut lapangan.
Di seluruh Indonesia, mereka melihat tendangan yang begitu ajaib. Bahkan Citra sendiri kembali menitikkan air mata seraya mengingat sebuah pecahan ingatan akan suaminya.
Ribuan, bahkan ratusan ribu penggemar di seluruh penjuru tanah air begitu antusias setelah gol tendangan bebas tersebut. Hal itu bagai sihir di mata mereka. Nyatanya mereka ingin kembali melihat itu dan berharap pemain Guam menciptakan pelanggaran lagi.
Setelah tendangan bebas yang sukses baru saja, misi menaikkan pamor kiper milik Reza naik begitu drastis dari biasanya.
__ADS_1
Sekarang persentasenya sudah menyentuh angka 3,4%. Naik 0,8 dari biasanya yang hanya naik 0,1% atau bahkan tidak naik.
Reza tentunya senang. Kemampuan mata masa depan itu sangat ingin dia gunakan. Namun, Reza berharap kemampuan itu dipakai pada panggung dunia nantinya. Reza berharap 4 tahun dari sekarang, dia mampu merubah pesepakbolaan Indonesia dan berdiri di atas panggung dunia.
***
Kembali ke lapangan, bola berada di kaki para pemain Indonesia. Mereka tanpa memperlambat tempo, terus menggempur habis-habisan pertahanan Guam.
Reza bahkan sesekali maju hingga mendekati lingkaran tengah lapangan membantu penyerangan. Pelatih Bima sendiri mengarahkan anak didiknya untuk maju sekuat tenaga.
Dia ingin anak didiknya begitu bersemangat agar saat melawan tim kuat sisanya mampu bersaing. Uni Emirat Arab, Palestina, dan Malaysia menunggu.
“Eh itu! Awas di sana, dia mendekat!” seru Rizdjar seraya menatap Reza.
Reza pun segera mundur ke belakang. Setelah dia mundur, pemain Guam yang baru saja datang hanya mendesah kesal.
Pertahanan Indonesia yang begitu kuat juga menyulitkan, bahkan para pemain Guam merasa mustahil melewati lini belakang Indonesia yang begitu solid. Tidak perlu lini belakang, lini tengah saja kesulitan untuk mereka lewati.
“Eh itu! Awas!” Reza kembali mengarahkan Rizdjar.
Rizdjar yang mendengar itu segera mengumpan bola kepada Iqbal. Alhasil, seorang pemain Guam yang mendekat langsung menjegal Rizdjar begitu kasar.
“Wah! Saya minta maaf, kelewatan dan tak terkendali!” Pemain Guam meminta maaf langsung menggunakan bahasa Inggris.
Rizdjar yang mendengar itu hanya mengangguk ringan seraya menerima uluran tangan pemain Guam. Wasit juga segera meniup peluit dan memperingati pemain Guam tersebut.
Rizdjar meletakkan bola, dia pun langsung segera mengumpan lambung jauh ke depan. Zidan yang menyusuri sisi lapangan berlari begitu cepat.
Dia kemudian melihat Gilang yang mendahuluinya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang dibuka oleh Gilang, Zidan segera memberi bola.
Gilang yang mendapatkan bola melakukan overlapping dan langsung melakukan potongan ke dalam. Dari sisi kanan penyerangan, dia melesatkan bola menggunakan kaki kirinya saat melakukan potongan ke dalam.
Bola melesat begitu cepat menyusuri tanah. Kiper yang kehilangan posisi harus melompat dengan harapan tinggi.
__ADS_1
Namun, harapannya pecah seketika. Gol pun tercipta dari aksi Gilang yang melewati dua pemain Guam dan melakukan potongan ke dalam kemudian diakhiri tendangan mendatar.
Pada menit 13, gol keempat telah tercipta.