Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 149 - Indonesia Vs. Argentina (3)


__ADS_3

Masih malam yang sama, suasana dingin cukup menusuk kulit dengan rata-rata temperatur menyentuh angka 12° C.


Meski begitu, di musim yang seharusnya panas ini, suasana dingin malah membuat sebagian pendukung dan bahkan pemain juga merasa tidak nyaman sama sekali.


Reza yang duduk di bangku pemain dalam ruang ganti, ini telah jeda babak pertama, dengan Indonesia unggul 2-0 dari Argentina, dan itu adalah yang pertama kali dalam sejarah Argentina dikalahkan oleh tim dari Asia.


Argentina pernah dikalahkan Jerman, Argentina pernah dikalahkan Meksiko, atau bahkan dari Afrika seperti Mesir. Namun, ini adalah perdana Argentina ketinggalan dua gol pada babak pertama.


“Emm … Sebentar, saya rasa ada yang aneh,” ucap Pelatih Tae-yong.


Reza yang menyadari sikap Pelatih Tae-yong pun angkat suara karena dirinya juga menyadari suatu hal yang terlalu janggal dan patut diperhitungkan.


“Pelatih, menurut saya, Argentina sedang bersiap untuk menyerang secara penuh pada babak kedua!”


“Saya tahu itu, Reza, tapi satu hal yang agak mengganggu pikiran saya adalah sejak kapan Argentina selemah ini, tim ini juara bertahan empat tahun lalu!”


“Pelatih, pikirkan itu, nanti kami yang akan menyelesaikannya!” seru Witan.


“Witan, kau masuk babak kedua, gantikan Fajar, saya rasa Fajar kurang melakukan tugasnya,” jelas Pelatih Tae-yong.


Fajar pun tak masalah, lagi pula menurutnya dirinya masih sangat kurang diusianya yang sekarang, terlalu cepat dibina dalam pemilihan Garuda untuk Piala Dunia 2026.


“Saya janji, Pelatih, saya akan mencoba yang terbaik nantinya!” seru Fajar sambil berdiri tegak.


“Bagus, saya suka semangat kamu, baiklah, ayo segera bersiap untuk babak kedua!”


Seluruhnya, khususnya kesebelasan utama, segera menuju lapangan demi menjalani babak kedua dari pertandingan ini.


“Semangat! Empat puluh lima menit lagi dan kita akan selesai pertandingan pertama babak grup B ini!” seru Reza dengan semangat.


Dia yang telah meminum isotonik bernutrisi spesial, dan juga membagikannya kepada rekan-rekannya agar mereka bisa segar kembali, tentu akan langsung bersemangat dan berenergi.


“Oh! Ada yang aneh, Argentina mengganti Lautaro dengan Maestro Puch, salah satu pemain muda juga!” gumam Reza sembari mencoba memikirkan hal apa yang akan Argentina lakukan.

__ADS_1


Kick-off dilakukan, Argentina mulai memainkan bola-bola pendek yang cepat, begitu lugas, bergerak dengan mulus tanpa memikirkan beban dua gol tersebut.


Para pemain Argentina seperti membiarkan apa yang telah terjadi pada babak pertama, mereka nampak tak begitu peduli, mencoba untuk maju demi meraih apa yang hendak dicapai.


Dari sisi kanan, Aguirre melakukan akselerasi yang mampu menipu Robi, dengan teknik putaran dan juga gerakan langkah cepat membuat Robi mati langkah.


“Mundur! Saya merasakan firasat buruk!”


Mata Reza berubah menjadi dingin, ada kilauan cahaya yang membuat dirinya bisa melihat maksimal 10 detik ke masa depan dengan berbagai teknik yang dijelaskan oleh sistem secara rumit.


“Kan! Firasat buruk selalu datang lebih awal, jelas sih!” gumam Reza.


Dia segera menyiapkan kakinya, begitu berwaspada, memperhitungkan langkah demi langkah dari Aguirre yang terus merangsak masuk ke kotak penalti.


“Cut-back! Awas, saya ambil!” seru Reza.


Namun, terjadi komunikasi yang salah antara Reza dan juga Haikal, ini tak ada dalam prediksi Mata Masa Depan Reza, benar-benar murni terjadi secara alami tanpa mementingkan ke depannya.


Antara kepala dan kaki, hantaman keras langsung membuat Reza terkapar, matanya berkunang-kunang, dirinya linglung beberapa saat.


Sementara itu, Aguirre yang terus memegang bola karena berhasil menghindari hadangan ceroboh antara Reza dan Haikal, segera menjebloskan bola ke dalam gawang.


Pertandingan belum dihentikan, itu menjadi sebuah gol yang langsung dipertanyakan oleh para pemain Indonesia.


“Murni gol, tanpa kesalahan!” seru wasit yang memimpi jalannya pertandingan, Hasyim Ashari, asal Arab Saudi.


Sementara itu, Reza segera ditangani oleh tim medis Indonesia, dia segera diobati, sebuah luka sobekan kecil di dahinya membuat darah merembes deras.


“Ugh … Ini … Murni pergerakan alami,” gumam Reza.


Dalam lima menit, waktu yang begitu lama, Reza akhirnya diobati dengan diperban mengitari kepalanya untuk menutupi dahinya yang sempat tersobek kecil akibat sepatu Haikal.


“Reza, maaf, saya tidak fokus tadi!” ucap Haikal mendatangi Reza.

__ADS_1


“Ya, saya kurang berteriak hingga telingamu tidak bisa menangkap suaraku tadi,” ucap Reza, dengan nada yang agak kesal, tentu sindiran ini membuat Haikal hanya terdiam.


“Y–Ya sudah, saya kembali ke posisi, kau aman-aman, ya!”


Reza hanya menganggukkan kepala, mencoba memegangi dahinya yang sempat berdarah tadi, masih ada rasa pedih dari luka yang ditutupi perban.


“Siram minuman isotonik bernutrisi spesial, bisa jadi mampu membuatnya lebih adem,” gumam Reza.


Dia segera mengambil minum, menyiramnya ke wajah, itu demi membuat wajahnya yang meringis kesakitan bisa lebih segar lagi, kemudian ke titik di mana perbannya berada.


“Wah … Sepertinya inovasi baru dari isotonik bernutrisi, saya mendapatkan ilmu baru!”


[Tuan sangat cerdas dan hebat!]


“Hem! Hebat tapi kebobolan, apa gunanya!” celetuk Reza.


[Kiper mana yang tidak pernah kebobolan, Tuan?]


Pertanyaan yang mampu membuat Rez terdiam, tak ada satu pun kiper di dunia yang tak pernah kebobolan, itu adalah suatu yang mutlak, tetapi nyaris Reza lakukan pada musim ini jika dia tak kebobolan dari kaki Aguirre.


Musim pertama dan keduanya bersama Milan sempat kebobolan satu gol, kemudian musim selanjutnya dua gol. Tentu kebobolan itu terkadang berasal dari ketidaksigapan Reza dalam mengaktifkan Mata Masa Depan.


Reza harus butuh Mata Masa Depan demi merancang gerakan yang bagaimana demi bisa menangkap bola, maka dari itu, lambat sedikit saja jelas akan terjadi kesalahan fatal.


Gol dari Aguirre tadi itu bukan karena hal ini, itu jelas pergerakan murni yang menyalahi prediksi Mata Masa Depan, entah sebab apa, tetapi menurut Reza itu karena ada distorsi antara ruang dan waktu yang menyebabkan terkadang pergerakan yang dilihatnya akan berbeda saat di lapangan.


“Sudah, mari kita tahan, tiga puluh menit lagi, itu cukup singkat jika hal tadi tidak terjadi! Ayo, Reza, semangat!” seru Reza menyemangati dirinya sendiri.


Indonesia dan Argentina jual beli serangan disisa-sisa setengah jam babak kedua, tetapi percobaan dari keduanya tak satu pun yang membuahkan sebuah gol.


Reza yang sudah menyelamatkan sekitar 12 tendangan shoot on target hanya bisa menghela napas panjang, Argentina terlalu ganas dalam menyerang demi menjaga wajah di muka publik.


Namun, satu hal yang telah pasti, Indonesia mampu menahan skor 2-1 hingga babak kedua berakhir, dan Itu menjadikan Indonesia memimpin klasemen grup B.

__ADS_1


__ADS_2