Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 32 - Babak Baru


__ADS_3

Minggu, 25 September 2022.


Selepas pertandingan keempat belas SMA Harapan, Reza secara langsung ditemui oleh kepala sekolah dan beberapa staf kepelatihan. Mereka berniat mengiringi keberangkatan Reza dalam membela timnas U-17 untuk Kualifikasi Piala Asia U-17 2023.


Reza saat ini berada di ruangan kepala sekolah. Di sana Cahyono Sang kepala sekolah, pelatih Sofyan, asisten pelatih Berto sedang duduk berhadapan dengan Reza yang masih memakai seragam kipernya. Reza hanya berdiam diri, keringat mulai mengalir dari dahinya.


“Sebegitu gugupnya kah bintang sekolah kita?” Kepala sekolah bernama Cahyono mulai membuka suara menghilangkan keheningan.


Tubuh kepala sekolah yang cukup pendek, tetapi wibawanya sangat terlihat jelas, aura kepemimpinannya terus menekan Reza hingga menjadi gugup. Sementara itu, pelatih Sofyan dan asisten pelatih Berto hanya terdiam sembari menahan tawa melihat kiper bintang mereka begitu gugup.


“Hahaha! Terlalu gugup bisa membawamu pada kematian!”


“Ke-kepala sekolah jangan seperti itu! Saya juga bisa seperti ini kalau ditatap anda seperti mangsa,” lirih Reza.


Di tengah keheningan setelah ucapan Reza, ketukan pintu terdengar dari luar. Pintu pun langsung terbuka tanpa aba-aba dari Cahyono.


Dari balik pintu kawan-kawannya Reza datang dengan wajah berseri-seri, tetapi masih ada wajah kelelahan di sana sebab pertandingan yang baru saja usai sekitar 2 jam lalu melawan SMA Nusantara Poso.


“Kalian?”


“Kami ingin mengantarmu ke sana!” Bagus memimpin semua kawan-kawannya.


Cahyono pun melepas kacamatanya, dia berdiri seraya memberikan sebuah lembaran pada Reza. Itu adalah tiket yang ditanggung oleh sekolah untuk keberangkatan Reza ke Jakarta dalam rangka Pemusatan Latihan timnas Indonesia U-17 dengan tujuan Kualifikasi Piala Asia U-17 2023.


Reza pun menatap tiket tersebut dalam diam. Dia merasa begitu sulit untuk berbicara, semuanya berlangsung begitu cepat. Dia memang sudah tahu bahwa besok Senin dia akan segera pergi ke Jakarta dan persiapan sehari di sana sebelum tanggal 27 September dimulainya Pemusatan Latihan.


Namun yang tak Reza duga bahwa kepergiannya memperkuat timnas U-17 akan diiringi oleh kawan-kawan klubnya dan juga secara langsung kepala sekolah.


“Pikirmu hanya kita yang mengantarmu?” Haikal menambahkan.


Sontak sorak-sorai dari luar ruangan terdengar.


Dari balik jendela yang ada di ruangan itu, lapangan luas untuk upacara dipenuhi oleh banyaknya murid dari berbagai bidang ekskul. Ada yang dari bidang olahraga basket, bola voli dan lain sebagainya.


Itu karena Reza adalah satu-satunya yang terpilih dari Palu dalam membela timnas U-17 di Kualifikasi Piala Asia U-17 2023. Maka dari itu tentu semua murid SMA Harapan merasa bangga.


“Ya … baiklah, terima kasih untuk semuanya!” Reza hanya bisa berkata seperti itu.


“Kak Riyandi, jangan sampai kebobolan yaa? Saya sudah lelah menjaga total kebobolan yang hanya 2 itu sampai sekarang.”


Sudut bibir Riyandi berkedut. Dia menutup wajahnya dengan tangannya sembari berkata, “Nanti lihat.”


Sementara itu, sosok pria bertubuh tinggi tegap datang secara langsung masuk ke ruangan. Pakaiannya yang begitu rapi dengan setelan jas dan juga rambut hitamnya yang tersisir rapi.


“Dengan Reza Kusuma?” tanya pria tersebut.


“Oh, Bryan!” sapa Cahyono.


Pria yang dipanggil Bryan menoleh. Dia menatap Cahyono dalam diam.


“Cahyo!” Bryan langsung mendekati kepala sekolah.


“Sudah lama, ya?”


“Baru kemarin, woy! Saya datang ke sini sesuai perkataanmu kemarin, ingin menawari kiper muda itu sebagai klienku.”


Sementara itu, sorak-sorai anggota klub lainnya mulai mereda. Mereka juga satu persatu kembali pada aktivitas masing-masing. Untuk anggota klub sepakbola sendiri hanya menunggu di luar ruangan.


Sekarang, yang berada di dalam ruangan kepala sekolah hanyalah Cahyono, pelatih Sofyan, asisten pelatih Berto, Reza dan pria bernama Bryan.


“Baiklah, apakah kamu ingin menjadi klienku?” Secara langsung, tanpa basa-basi Bryan berkata demikian.


Reza sendiri belum terlalu tertarik pada agen sepakbola. Dia masih begitu muda, belum terkenal, dia juga masih bisa mengurus beberapa hal tentang dunia sepakbola.

__ADS_1


“Kau berpikir pasti terlalu dini persoalan seperti ini, kan?” lanjut Bryan seraya mengeluarkan beberapa dokumen.


“Hei, kenapa menjadi seperti ini? Seharusnya yang lebih penting adalah Pemusatan Latihan timnas U-17 nanti lusa!” Pelatih Berto menginterupsi dengan nada yang tinggi.


“Ayolah, kita harus membuat bintang ini semakin bersinar. Dengan bantuan agen Bryan, dia akan mendapatkan banyak fasilitas dan setidaknya tawaran klub nantinya!” jelas Cahyono seraya memandang pelatih Berto.


Walaupun pelatih Berto memiliki tubuh besar, tetapi dia jelas akan ciut dihadapan kepala sekolah. Bagaimana tidak, kepala sekolah adalah pengelola langsung klub tersebut. Siapa saja bisa dia pecat!


Kemudian Bryan menatap Reza yang bimbang.


“Ya, saya masih ingin fokus apa yang akan dihadapi. Kualifikasi Piala Asia U-17 di depan mata.” Reza menjelaskan dengan tatapan mata begitu meyakinkan.


Babak baru baginya dalam dunia persepakbolaan, khususnya sebagai kiper. Dia ingin segera membawa setidaknya timnas U-17 menyusul ‘kakak-kakak’ nya yang sudah lolos, yaitu timnas U-20 dan juga timnas senior.


Reza masih tak memerdulikan tentang peragenan. Dia masih ingin mengurus segala sesuatu memakai kemampuan sendiri. Tentunya dia akan butuh agen, tetapi itu nanti. Apalagi jika dia mendulang sukses nantinya di Kualifikasi Piala Asia U-17, maka kemungkinan tawaran klub di Indonesia akan mulai bermunculan. Itu tebakannya.


“Baiklah, anak muda. Agen Bryan menunggumu hingga siap dan menerima agen untuk membantumu.” Bryan mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di atas meja.


Pelatih Sofyan menatap jauh ke dalam manik mata Reza. Dia melihat keseriusan Reza yang mencapai batas maksimal, bahkan batas itu seakan mulai hancur. Betapa seriusnya Reza mengenai permasalahan tersebut.


“Baiklah, bersiap-siap saja kamu. Besok pagi pukul 06:14 adalah waktu penerbanganmu ke Jakarta!” Cahyono berdiri dan segera mendekati Reza.


Semua orang di ruangan itu berdiri. Mereka mulai saling menatap sebelum satu persatu melangkah menuju pintu keluar. Tersisa Cahyono yang menatap kartu nama Agen Bryan di atas meja.


Dia menatap lekat kartu itu yang ditinggalkan Reza.


‘Sepertinya sahabatku itu tidak memancing ketertarikanmu, ya?’ batin Cahyono seraya duduk kembali di kursinya.


Dia bersandar dengan dipenuhi pemikiran liar. Dia mulai membayangkan betapa hebatnya Reza di masa depan dan membawa Indonesia hingga pada Panggung Dunia.


“Ah … rasanya mustahil. Tapi saya percaya pada generasi muda sekarang.”


***


Reza dalam perjalanan pulang menuju rumah, dia yang sudah tak pernah membuka status antarmuka pengguna pun menyuarakannya dalam hati.


‘Buka status antarmuka pengguna.’


...[Memunculkan Antarmuka Pengguna!]...


...[ Nama : Reza Kusuma...


...Umur : 16 tahun 2 bulan 29 hari...


...Profesi : Kiper...


...Level : Tak Digunakan ---...


...•Keterampilan•...


...Kekuatan: 85...


...Stamina: 85...


...Akselerasi: 95...


...Kecepatan: 95...


...Lompatan: 95...


...Fleksibel: 94...


...Tangkapan: 100...

__ADS_1


...Tekel: 45...


...Kekuatan: 91...


...Stamina: 93...


...Akselerasi: 100...


...Kecepatan: 97...


...Dribbling: 90...


...Kontrol bola: 90...


...Umpan jauh: 93...


...Umpan pendek: 91...


...Tembakan: 92...


...Kekuatan menembak: 91...


...Akurasi: 95...


...Kurva: 92...


...Tendangan Penalti: 75...


...Tendangan Bebas : 90...


...Kesadaran taktis: 85...


...Visi permainan: 90...


...Refleks: 98...


...Penyelamatan: 90...


...Pertahanan: 80...


...Lemparan: 80...


...•Misi Aktif•...


...~Menaikkan Pamor Kiper di seluruh Dunia ( Langkah Kemajuan 1,9%) ]...


Reza memerhatikan setiap statusnya. Dia merasa sudah seperti seorang master Kiper di dunia sepakbola, dalam angan-angannya.


“Tapi yang kurasa pada kenyataan tidak seperti itu. Tubuh ini seperti cukup sulit beradaptasi setelah beberapa bulan saya bersamanya. Maka pengalaman lah yang berbicara nanti.”


Reza telah sampai di depan rumahnya. Dia melihat ibunya yang sedang duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati waktu senja hari.


“Mari kita mulai babak baru, yaitu Kualifikasi Piala Asia U-17 2023!”


Ibunya yang mendengar suara anaknya begitu semangat, peralatan anaknya juga telah selesai dia kemas. Tinggal tunggu keberangkatan esok hari.


“Bawa kemenangan, Nak!” seru Citra sesaat Reza membuka pintu pagar.


Reza mengangguk semangat.


...----------------...


...Arc 2 Start...

__ADS_1


...Kualifikasi Piala Asia U-17 2023...


__ADS_2