
Pertandingan perempat final yang bisa dibilang terseru sepanjang sejarah piala dunia modern, entah bagaimana kiper bintang dari kedua tim mampu mengubah suasana menjadi semakin seru dan menegangkan.
Pada babak kedua, serangan dengan intensitas tinggi semakin dipertontonkan, tepat pada menit ke-50, setelah turun minum, Indonesia mulai menajamkan paruh dan cakarnya demi menembus benteng-benteng yang diciptakan oleh Prancis, khususnya Frederic.
Frederic membawa perbedaan, sejak dia debut di tim utama, Prancis terlihat lebih baik daripada empat tahun lalu yang mana sedikit lagi mereka bisa mengangkat trofi, sayangnya bintang saat itu, Messi dari Argentina membuat perbedaan terjadi.
“Oke, sisi kiri cukup baik, terus pertahankan, kita akan maju menyerang!” teriak Reza.
Pada menit ke-50, jalur serangan benar-benar difokuskan pada sayap sebelah kiri Indonesia di mana Ferre dan juga Samir wajib aktif dalam serangan ini.
Semua serangan yang terfokuskan di sisi kiri dicetuskan oleh Pelatih Tae-yong dengan kombinasi milik Reza yang mana pergerakan para pemain harus bebas, bisa saja Fajar penyerang kanan atau Kwateh sayap kanan berpindah tempat.
Ini yang disebut kebebasan formasi, asalkan mampu mengisi tugas dari tempat mereka berpindah, maka semuanya secara jelas mampu menambah daya gebrakan serangan yang seharusnya membahayakan lawan.
Prancis bukanlah lawan biasa saja, mereka salah satu tim Eropa yang kuat, apa lagi dengan tambahan Frederic sebagai penjaga gawang muda, menyerupai bagaimana bahayanya Reza sebagai tameng tim atau juga sebagai pedang dari tim itu sendiri.
Frederic mampu membentuk tameng, di satu sisi mampu juga membentuk pedang untuk membuat Indonesia menjadi terkekang atas formasi menyerang Prancis.
“Wah, benar-benar harus berpikir keras, sistem serangan tarik ulur tidak akan mempan, Frederic seharusnya bisa membaca sistem serangan tarik ulur itu sebagai sebuah tipuan,” gumam Reza.
Bola yang saat ini dikendalikan oleh Marselino di tengah benar-benar buntu tak ada jalan serangan, akhirnya mau tidak mau bola harus dimundurkan ke belakang.
“Tahan saja kah? Babak adu penalti adalah solusi terbaik untuk saat ini.” Reza berpikir demikian, hal itu pun serupa dengan pikiran luas Pelatih Tae-yong di pinggir lapangan.
Pelatih Tae-yong yang mondar-mandir di pinggir lapangan mencoba membuka pikirannya secara luas, terus memerhatikan bagaimana jalannya pertandingan saat ini yang cenderung buntu di tengah jalan.
“Mereka mengalami masalah,” gumam Pelatih Tae-yong. “Egy, gantikan Fajar dan Witan gantikan Ferre!” lanjut Pelatih Tae-yong menghadap ke arah bangku pemain.
Egy dan Witan disiapkan, mereka ditentukan sebagai daya tenaga baru demi permainan menusuk mereka yang secara jelas lebih unggul daripada Fajar atau pun Ferre.
__ADS_1
Daya serangan maju atau akselerasi mereka terasa lebih unggul, hal ini membuat Pelatih Tae-yong mengambil keputusan tersebut.
Fajar dan Ferre pun digantikan pada menit ke-56, dengan ini, seluruh pendukung Indonesia berharap terjadi perubahan atas pergantian kedua pemain ini.
Namun, pergantian ini tak mengubah banyak hal, pergerakan dari sayap hanya sedikit berubah saja, tak begitu menambah daya tenaga dalam serangan.
“Haaa … Jelas babak adu penalti adalah hal yang wajar, terlalu sulit,” gumam Reza, sementara itu, Pelatih Tae-yong juga sadar akan permainan yang berjalan membosankan untuk saat ini.
Serangan dari kedua tim cukup seru, hanya saja tak ada tendangan yang sekalipun membahayakan gawang kedua tim, Reza maupun Frederic sangat baik dalam penjagaan di bawah mistar gawang.
“Oke, semuanya, bertahan adalah yang terbaik, kita tunjukkan di babak adu penalti nanti setelah babak tambahan waktu dua kali lima belas menit!” seru Reza.
***
Babak tambahan waktu 2×15 menit dilakukan, tak banyak yang berubah dari sebelumnya, ada beberapa shoot on target dari kedua tim, hanya saja baik Reza maupun Frederic masih sangat kokoh dan sulit ditembus.
Bahkan Reza sesekali maju, tetapi selalu saja serangannya maupun tendangannya patah di tangan Frederic, rasanya kiper asal Prancis ini telah berevolusi layaknya Reza yang mampu menambah kesan bahwa dia adalah yang terkuat.
Babak adu penalti dimulai, tanpa mengambil apa yang telah terjadi sepanjang 120 menit terakhir, para pemain berbaris di tengah lapangan saling berangkulan.
Penendang pertama adalah Indonesia, Sananta mengambil bola dan menciumnya terlebih dahulu kemudian meletakkannya di titik putih penalti.
Seluruh stadion menunggu, dan terus menunggu dengan jantung yang berdegup kencang.
Frederic telah siap, berdiri sedikit condong ke kiri, membuat Sananta merasa bahwa Frederic memiliki niat untuk menipunya.
Sananta mengambil langkah besar, menyergah bola dengan kaki kanannya, bola terhempas dengan kencang ke arah kiri, tak memedulikan posisi Frederic yang condong ke kiri.
Frederic awalnya hendak melompat ke kanan, tetapi refleksnya benar-benar diluar nalar, dia langsung melompat kembali ke kiri dan menampar bola dengan jauh.
__ADS_1
Sananta gagal!
Reza pun hanya bisa mendengus kesal menatap kepada Frederic sambil mengambil posisi di bawah mistar gawang, menunggu Mbappe yang mengambil tendangan pertama Prancis.
Mbappe bersiap, melakukan langkah kecil setelah wasit meniup peluit, dengan persiapan yang menurutnya matang, memakai kaki kanannya bola melesat kencang ke arah tengah.
Reza hanya diam, dan langsung memeluk bola dengan mudahnya, cukup menunjukkan tatapan remeh kepada Mbappe.
“Sang Raja tidak gol, hahaha!” teriak Reza mencoba menaikkan intensitas tendangan penalti ini.
Seluruh stadion benar-benar bergemuruh, menunggu penendang kedua dari Indonesia yang mana Samir pun bersiap dengan mantap.
Samir mengambil tempat, kemudian berlari dengan cepat ke arah bola saat wasit meniup peluit, kiper Frederic telah mengambil posisi lebih awal saat bola melesat maju.
“Gol kah?” gumam Reza, tetapi sepersekian detik kemudian dia hanya memggerutu kesal. “Ah, tidak, ya, sulitnya!”
Frederic mampu terbang ke kiri, mengulurkan tangan kirinya ke sudut atas gawang yang mana berhasil dia amankan.
“Baiklah, selanjutnya saya yang menjaga!”
Belum sempat melangkah maju, Frederic mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, kemudian menekuk keempat jarinya dan menutupnya menggunakan jari jempol.
“Segel nol, dalam sejarah sepakbola ada beberapa pemain yang melakukannya! Tapi … Ini dia! Kiper muda dari Prancis!” seru komentator internasional bernama Peter Dryen.
“Hehehe … Segel nol? Kau kira cuma kau!”
Reza berdiri di tengah-tengah gawang, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebelum wasit meniup peluitnya.
Hal yang dilakukan selanjutnya dari Reza adalah apa yang mengejutkan seluruh penonton di stadion, kiper kedua yang membalas segel nol, sebuah segel yang menyatakan akan menahan semua tendangan lawan!
__ADS_1
“Segel nol kedua dalam satu pertandingan!!!” teriak komentator Peter Dryen.