
“Ya! Di mana pun anda berada, kembali lagi bersama saya komentator paling fenomenal yang pernah ada, Tubagus!”
“Saya akan memimpin jalannya pertandingan dengan kata-kata yang ajaib, tak kalah ajaib dengan aksi-aksi memukau dari Reza Kusuma, kiper terbaik kita!”
“Saya tak sendiri, tentunya ditemani dengan pengamat sepakbola yang andal, Bung Kus! Apa kabar Bung Kus?”
“Saya baik, dan saya berdebar-debar ini, menunggu tim kebanggaan kita berlaga pada turnamen tertinggi di Asia! Indonesia akan menghadapi Korea Selatan pada babak akhir turnamen ini!”
Percakapan antara komentator yang begitu hidup menambah suasana yang jelas-jelas tak bisa dilewatkan begitu saja.
Ini adalah hari yang paling bersejarah dalam dunia pesepakbolaan Indonesia, di mana titik balik Indonesia hingga dikenal oleh seluruh dunia dimulai dari menjadi juara Piala Asia untuk pertama kali.
Hal yang terpikirkan banyak orang adalah kontribusi paling besar hanya bisa dicantumkan pada nama Reza Kusuma, dia total mengemas sembilan gol sepanjang turnamen berlangsung dan menjadi topscorer paling langka.
Topscorer mana yang berposisi sebagai kiper? Itu adalah Reza, skornya terpaut 3 gol dari penyerang Heung-min dari Korea Selatan yang mengemas 6 gol sepanjang turnamen.
Keadaan di stadion Lusail, sebuah ledakan antusias terjadi, dalam sekejap seluruh kursi di stadion telah dipenuhi oleh para fans baik dari Indonesia maupun dari Korea Selatan.
Lebih dari itu, negara yang memiliki populasi sebanyak 280 juta ini, seakan menjadi satu dari beberapa negara yang langsung melakukan nonton bersama besar-besaran di seluruh penjuru Indonesia.
Mulai dari istana negara, kemudian ke rumah-rumah para pejabat hingga di stadion Gelora Bung Karno yang dipasang layar lebar begitu megah demi menonton kejadian langka ini.
Sangking antusiasnya, Gelora Bung Karno terisi setengahnya demi menonton hanya dari layar lebar saja.
Sementara di Palu, rumah Citra dijaga ketat oleh kepolisian atas permintaan Reza kepada agen setianya –Bryan Adams– untuk segera meminta penjagaan dari kepolisian.
Reza takut ada perusak yang membuat ibunya dalam bahaya, insting seorang anak jelas dipertaruhkan di sini.
Kemudian, di SMA Harapan, di lapangan sepakbola diberi layar lebar juga yang ditonton nyaris seluruh murid sekolah.
Ini adalah sore hari, jadi waktu yang pas untuk ditonton dari segala umur tanpa memikirkannya.
Di ruang ganti Indonesia, Reza saat ini menatap layar smartphone nya, dia melihat seberapa antusiasnya rakyat Indonesia demi melihat tim kebanggaan berlaga di puncak dari turnamen paling akbar di Asia.
“Wah … Benar-benar kejadian langka sih,” celetuk Reza.
__ADS_1
Rekan-rekannya pun memganggukkan kepala, mereka serentak menontonya, ini diarahkan oleh Pelatih Tae-yong dengan tujuan terselubung.
‘Saya berharap kalian menjadi bersemangat dan menunjukkan kekuatan terbesar kalian,’ batin Pelatih Tae-yong.
“Ayo, ayo! Kita tunjukan pada dunia, khususnya Indonesia, bahwa Timnas ini telah berbeda dari lima tahun lalu!” seru asisten pelatih, Arianto.
Mereka pun berkumpul dan bersorak meriah, setelahnya bersiap-siap.
Seragam kebanggaan, atasan dengan warna menyala yang begitu gagah dan berani –Merah– kemudian warna yang suci –Putih– yang begitu terlihat indah di tengah ratusan hingga jutaan pasang mata dunia.
Sedangkan Korea Selatan sendiri memakai jersey pembuatan ulang dari zaman 2002 yang mana Korea Selatan sempat menggemparkan dunia setelah menjadi semifinalis Piala Dunia.
Jersey dengan atasan putih dan corak merah di sisi kanan-kirinya, kemudian celana berwarna merah.
Ini adalah dua tim yang dinilai akan saling bersaing demi meraih trofi paling bergengsi di Asia.
“Ini terlalu mendebarkan. Sudah banyak laga saya mainkan, tetapi ini yang paling mendebarkan dan tentunya agak terharu,” ungkap Reza seraya menatap sarung tangan yang telah terpakai.
Sebuah cerita tersendiri dari sarung tangan hitamnya tersebut, ini adalah sarung tangan legendaris dari SMA Harapan yang secara langsung dihadiahi oleh sekolah kepada Reza karena memberi dampak baik bagi sekolah tersebut.
“Haa … Jadi nostalgia deh.” Reza memperbaiki sarung tangannya, wajahnya menatap tegas ke arah kamera yang menyorotnya.
Seluruh dunia tahu, Reza benar-benar akan sangat serius kali ini, tak ada alasan lagi untuk menyimpan kekuatannya.
“Mari kita berlaga dengan suportif!”
Lagu kebangsaan dinyanyikan, dengan begitu megah di stadion Lusail, ribuan rakyat Indonesia terharu dan menangis dengan bahagia. Mereka sempat melihat kejadian bersejarah ini untuk diceritakan pada anak cucu kelak.
Selepas itu, Reza berhadapan dengan Heung-min yang tak muda lagi sekitar 33 tahun, tetapi masih begitu berenergi dan tentunya masih dalam keadaan prima.
“Bermain sportif, sportif dan sportif. Tanpa ada rasa dendam di antara kalian,” ucap wasit yang memimpin jalannya pertandingan, bernama Takumi.
Kedua pemain mengangguk paham. Koin tos dilakukan, kemudian ditangkap oleh wasit Takumi.
Sisi berwarna hitam yang di atas dan itu ada milik Reza.
__ADS_1
“Bola.”
Pertandingan yang paling bersejarah akan tercipta pun dimulai dengan suara nyaring peluit dari salah satu wasit terbaik dunia.
Prit!
Sananta menendang bola pertama dan langsung memberikannya pada Febri di sisi kanan.
Para pemain Indonesia pun langsung maju membentuk formasi menyerang yang benar-benar layaknya pasukan gerilyawan, tanpa takut dihujani peluru dari musuh!
Mereka menyerang, bergerak dengan fleksibel dan terus mengumpan satu sama lain menunjukkan kemampuan terbaik mereka tanpa dibebani sedikit pun.
Mereka telah melihat, seberapa antusias rakyat Indonesia dan dunia, maka kenapa tak menunjukkan kemampuan agar bisa saja dilirik oleh klub-klub luar Indonesia demi menambah daya kekuatan mereka menimba ilmu di luar negeri.
“Di sana!” teriak Marselino sangat keras, nyaris tak terdengar di tengah 89.000 penonton.
Marselino memberi umpan terobosan ke depan, Sananta menyambarnya dengan baik dan mengendalikannya begitu sempurna di tengah tekanan para pemain Korea Selatan yang lagi tak main-main.
Min-jae, bek tengah Korea Selatan mencoba mengawal pergerakan licin dari Sananta.
Dia tak ingin kemampuan beknya yang didapatkannya dari Napoli hilang sia-sia saja.
Dirinya dengan keras mencoba melakukan sapuan, tetapi Sananta masih cukup licin dalam bergerak yang membuat Min-jae nyaris menghantam kaki Sananta.
Beruntungnya dia segera menjatuhkan badan dan membuat Sananta melewatinya.
Di depan Sananta, muncul lagi Yu-min yang juga melakukan dukungan penuh atas kawalan dari Min-jae.
Sananta melirik ke kiri, di sana ada Saddil yang bergerak cukup bebas.
Diberikannya bola, Saddil bergerak maju begitu cepat mempecundangi Moon-hwan, bek kanan Korea Selatan dengan teknik nutmeg ala dirinya.
Saddil menusuk dalam kotak penalti, tetapi seluncuran memotong dengan cepat menghalau bola dan mengeluarkannya dari area lapangan.
Dia adalah Heung-min yang tiba-tiba saja ada di lini belakang.
__ADS_1
“Woah! Bahaya juga nih penyerang sayap yang bisa bergerak leluasa sekali, mana dah enam gol lagi dia cetak,” gumam Reza yang menyimak dari area gawangnya.