
Setelah pengurusan kontrak profesional nya, Reza kembali ke lapangan latihan untuk tentunya berlatih lagi bersama rekan setimnya. Dia masih ingin mencoba mengetes seberapa baik refleksnya, sejauh ini dia bisa menepis bola selama lima detik secara berturut-turut sekitar 3 hingga 4 tendangan yang tentunya tak bersamaan ditendang.
Sembari melakukan latihan, Reza yang memang agak kelelahan fisik dan mental sejak pertandingan debutnya, ingin mencoba minuman isotonik spesial miliknya yang didapatkannya dari hadiah misi kecil beberapa waktu lalu.
Reza secara diam-diam, meraih tasnya dan membukanya. Dia tidak ingin mengambil minuman itu dari ruang hampa dan dikira seorang pesulap atau bahkan penyihir. Ini Eropa, mereka sejak zaman abad pertengahan mempercayai hal itu.
“Yosh!” Reza mendapatkannya.
Sebuah minuman isotonik menyerupai botol air mineral sedang sekitar 600 mililiter. Reza membuka tutup botolnya, dia pun mulai meminum secara perlahan.
Air terasa sangat segar, ada sedikit sensasi manis yang kecil, jika tak dirasakan sedalam mungkin maka rasa manis itu tak akan terasa.
“Ah … segarnya!”
Setelah benerapa detik merasakan kesegaran air tersebut, tubuhnya mulai kedinginan, sensasinya cukup berbeda. Ada aura dingin yang menjalar di seluruh tubuh hingga terasa nyaman.
Kemudian rasa dingin itu menghilang dan stamina Reza pun kembali ke titik maksimal. Fisik dan mentalnya sudah maksimal, dia tersenyum cerah. Perasaan ini terasa menyenangkan disatu sisi.
Di tengah kenikmatannya, dari tasnya bergetar dan sedikit mengganggunya. Reza mengecek smartphone nya, tertera nomor tak dikenal. Reza mencoba berpikir siapa nomor tersebut, tetapi tak ditemukan siapa kira-kira yang menelponnya.
Alhasil Reza mengangkat panggilan itu. Dari seberang, ada suara helaan nafas lega terdengar.
“Waah … akhirnya diangkat, anu … kamu Reza Kusuma, 'kan?”
Reza terkejut. Suara yang serak-serak basah terdengar, nadanya yang terasa lega dan juga sedikit ada kesan tersendiri bagi Reza. Dia seperti pernah mendengarnya, entah itu di mana.
“Ya? Saya sendiri, ini siapa yaa?”
“Reza …! Kau masa lupa dengan temanmu di SMP!”
Reza hanya menghela nafas. Dia entah mengapa mulai melupakan teman-teman SMP nya yang selalu merundungnya hanya karena dia kiper yang tak becus di tim, walaupun tak semuanya. Reza sekarang hanya diam, dia ingin mendengar pengakuan dari seseorang yang mengaku temannya.
“Maaf, yaa! Saya sedang sibuk, jika kau hanya bermain-main, saya tidak punya waktu!”
“Waahh! Jangan! Kau sudah sombong, mentang-mentang telah berkarir di Eropa dan kau melupakan saya! Ketua kelasmu!”
__ADS_1
Reza mulai mencari berkas ingatan miliknya. Ketika mendapatkannya, Reza akhirnya mengingat siapa ketua kelasnya sepanjang masa SMP nya. Rommy Chad, nama yang terdengar seperti orang asing dari luar negeri.
“Ada apa? Seharusnya kau sedang mengejar karir di klub basket milik sekolahmu.”
“Ayolah, kapan-kapan kita reunian?”
Reza hampir tersedak air liurnya sendiri.
“Kau kira berapa dusta harga tiket?! Ah! Itu, 'kan. Saya jadi salah ucap!”
Dari seberang, hanya suara tertawa puas ketika Reza yang mulai naik pitam. Rasanya, kepribadian Reza mulai perlahan berubah sejak mendapatkan sistem. Dulunya, dia hanya anak biasa yang menerima rundungan, sekarang sudah sangat berani dan melawannya.
“Reza, ibu Lani meninggal dunia pagi tadi.”
Seketika Reza tertegun. Dia perlahan mulai mengeluarkan butiran air mata dan mengalir di pipinya. Dari sedikit senang dan ada kekesalan, tiba-tiba masuk ke dalam kesedihan. Itu menyakitkan.
“Hei … kau tidak sedang–”
“Saya yang bisa dibilang pelawak dikelas, mana mau juga melawak di saat ini!”
“Yup, jadi … saya rasa kau memang tak bisa datang. Kejarlah karirmu itu dengan segala motivasi yang ada, saya selaku mantan ketua kelas undur diri.”
Panggilan tertutup. Reza meletakkan smartphone nya di dalam tas. Dia duduk di rumput yang basah, menatap langit kelabu seperti hatinya.
Entah mengapa, langit yang cerah menjadi kelabu dan ingin segera mencurahkan segala isinya ke daratan. Reza menatap kosong, rasanya motivasi hidupnya mulai berkurang satu persatu.
Beberapa guru tercintanya sejak SD mulai berguguran dengan ilmu mereka yang terus berjalan ke depan digunakan generasi penerus.
Reza sudah mencoba untuk maju, tetapi sesekali dia harus terantuk batu dan jatuh terjerembab. Motivasi dirinya perlahan menghilang, dirinya yang terjatuh tak bisa lagi untuk berdiri dengan bantuan sosok motivasinya.
“Ibu … mungkin kamu lah motivasi terbesarku, semoga kamu baik-baik saja di Indonesia,” gumam Reza.
Di saat dia sedang termenung, Witan mendatanginya dengan tampang keheranan. Menurutnya, Reza tak biasa seperti ini, malah hampir tak pernah.
Duduk di samping Reza, Witan bertanya. “Hei, Reza. Apa ada masalah?”
__ADS_1
Reza menoleh. “Kak, apa motivasi Kakak selama ini?”
Witan mengerutkan keningnya. Dia terdiam sejenak, akhirnya setelah menunggu, Witan mulai berkata. “Motivasi saya sih hanya satu, terus melangkah dan lupakan hal yang tak penting. Selama kau berada dalam proses, maka kau akan dipenuhi pengalaman hidup.”
“Menurutmu, bagaimana? Apa motivasi ini terkesan jadul atau gimana?”
Reza mengalihkan pandangannya pada bola yang bergulir di antara rekan setimnya. Dia ingin membuka mulut dan membalas, tetapi terasa berat.
“Tumben kau agak galau, bukan Reza yang semangat dan marah-marah di lapangan!”
Reza tersentak. Dia menatap Witan seraya memiringkan kepalanya dalam keadaan kebingungan.
“Iya! Kau, waktu Arkhan melakukan gol bunuh diri saat di Youth Tournament, kau begitu marah, 'kan?”
“Bagaimana Kak Witan tahu?”
Witan pun menjelaskan tentang beberapa rekaman yang disebarluaskan. Ada juga rekaman siaran ulang dari pertandingan Youth Tournament yang memang dikelola baik oleh federasi. Witan pun dapat akses menontonnya untuk sekedar mencari hiburan.
“Hmm … yasudah, motivasimu sebenarnya apa? Saya rasa kau kurang motivasi deh,” ungkap Witan yang sontak diiyakan oleh Reza.
“Kurang sih kurang. Tapi … ada satu motivasiku dalam berkarir, setelah tanda tangan kontrak profesional, saya memiliki motivasi diri sendiri.”
“Menurutku kesuksesan bukanlah suatu kebetulan, itu adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan dan … yang terpenting rasa cinta atas yang saya lakukan dan yang saya pelajari.”
“Dengan memikirkan kalimat motivasi yang entah kudapat dari mana itu, saya biasa jadi bersemangat dan istilah kata on-fire!”
Witan terdiam. Dia mencermati setiap perkataan Reza dengan baik. Setelahnya, dia tersenyum penuh arti. Dia menatap Reza dengan mata berbinar semangat.
“Itu sih motivasi yang terbaik menurutku, jadi kenapa kau terlihat galau?”
“Salah satu motivasi berkarirku tiba-tiba saja pergi meninggalkan dunia. Karena beliau, saya menjadi yakin sebagai kiper, karena beliau saya menjadi seperti … sekarang.”
Witan pun hanya menghela nafas. Dia paham akan hal itu, dia juga pernah mengalaminya, akan tetapi perasaan itu harus segera secepatnya disimpan dalam-dalam agar tak mengganggu performa kalian.
“Simpan dalam-dalam di lubuk hatimu. Jika kau butuh, maka ingatlah. Karena jika kau terus mengingatnya, kau akan tenggelam dalam dilema besar. Jadi … ikuti saja motivasi yang kau katakan tadi dan bisa juga ikuti motivasiku. Terus melangkah dan lupakan apa yang sudah lewat selagi relevan dilupakan.”
__ADS_1
“Ketika kau jatuh, maka cobalah untuk bangkit dengan segudang pengalaman. Begitulah …”