
Reza langsung pergi menuju kamar mandinya. Dia membuka semua pakaiannya yang basah kuyup karena keringat membanjirinya.
“Berat,” gumam Reza ketika mengangkat pakaiannya.
Tentunya itu berat sebab terdapat cairan yang meresap di dalam serat-serat kain. Reza meletakkannya di keranjang pakaian kotor.
Dia menatap cermin besar yang tertempel di pintu lemarinya. Tubuhnya tidak begitu berubah, bahkan sama sekali tak berubah. Namun, Reza sedikit merasa ada yang janggal dari sendi-sendi nya.
“Ini … pegal,” ucap Reza diakhiri senyuman pahit.
Dia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum terlalu sore, sebab ini sudah pukul 5 sore.
Selesai membersihkan diri, dia memakai kaus merah dengan tulisan ‘New Generation’ pada bagian dada kaus tersebut. Celana pendek kotak-kotak dia gunakan yang menambah kesan tersendiri.
Reza memegang gagang pintu kamarnya, dia sedikit ragu untuk membukanya. Dengan tekad yang kuat, dia mulai menekan gagang pintu ke bawah dan daun pintu pun terbuka secara perlahan.
Reza terlebih dahulu mengintip, tak ditemukan Vera dan ibunya di ruang tamu. Lantas Reza langsung membuka pintu dengan lebar kemudian keluar, setelah itu dia menutupnya kembali sembari memutar kenop pintu agar terkunci.
“Eca! Ayo makan!” Citra sudah berada di meja makan sembari mempersiapkan makanan.
Hal yang tak terduga, Vera dan ibunya pun duduk dengan santai sembari diiringi tawaan kecil. Reza pun hanya tertegun sejenak sebelum melangkahkan kaki dengan berat menuju meja makan.
Vera mencuri-curi pandang kepada Reza. Mulutnya yang mungil sesekali terlihat ingin membuka suara, tetapi tak jadi.
Reza mengambil kursi dan menyeretnya menuju posisi terjauh dari Vera dan ibunya. Dia masih begitu tak memercayai orang asing yang datang ke rumahnya, meski dia sudah mengakui kecantikan Vera.
“Siapa mereka, Bu?” Reza menatap ibunya yang hendak duduk.
“Dia Melani, sahabat ibu dulu. Ini anaknya, Vera.”
Reza melirik keduanya, sebelum tatapan ramah penuh kelembutan terlihat.
“Selamat datang di rumah sederhana ini, maaf saya yang bersikap tak sopan tadi.” Reza dengan senyuman tulus mengatakan hal tersebut.
“Tidak apa-apa. Lagipula kamu adalah anak sahabat saya, jadi saya anggap kamu adalah anak saya sendiri.”
“Hei! Ini anak saya satu-satunya!” Ibunya Reza menyela dengan tatapan tajam mengarah ke Melani.
Tatapan mata keduanya saling berkaitan terbentuk tegangan listrik yang bisa saja menyetrum sekitarnya. Reza dan Vera secara spontan menggeser posisi kursi mereka menjauh dari perselisihan keduanya.
“Kau selalu saja seperti itu, selalu protektif terhadap seseorang.” Melani berbicara tak acuh.
“Seharusnya seperti itu, Melan! Ini anak saya, maka saya berhak membelanya!” Tak usai, Citra kembali mempertegas ucapannya.
“Su-sudah!” Reza dan Vera serentak mencoba melerai.
Citra dan Melani serentak menoleh kepada sepasang insan tersebut. Keduanya mulai menyunggingkan senyum manis dan tak kalah manis dari sebutir gula!
“Hahaha! Ini sih mereka yang tidak tau. Kita berdua selalu seperti ini, tetapi masih bersahabat sampai sekarang. Entah bagaimana bisa, hahaha!” Melani, ibunya Vera membuka penjelasan terlebih dahulu.
__ADS_1
Kedua wanita yang sama-sama menginjak usia 40 tahun pun tertawa dengan lantang. Keduanya bahkan tak henti-hentinya tertawa hingga suasana di ruang makan itu dipenuhi tawaan.
Beberapa saat setelahnya, keempatnya mulai memasuki hal yang harus memang mereka lakukan.
Mereka mulai menyantap makanan di depan mereka. Ayam yang dimasak dengan sambal goreng didampingi dengan sayuran hijau bernama kangkung yang ditumis biasa.
Ayam ini dibeli oleh Melani dengan masih dalam keadaan belum diproses, Melani dengan lantang menyuarakan bahwa Citra yang akan memasaknya. Melani dengan triknya ingin kembali merasa nostalgia terhadap rasa makanan yang dimasak oleh Citra.
“Ini masih seperti dulu,” ucap Melani dengan bahagia.
Reza hanya fokus makan, beberapa kali sudut matanya mendapati Vera terus mencuri-curi pandang. Reza mencoba menjadi orang munafik, dia tidak ingin terlihat terlalu mencolok di depan Vera. Namun, di jantung merasa berdenyut tak terkendali, tanda dia telah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Hei, jangan terus menatapku. Itu terlalu mengganggu,” ucap Reza setelah meminum segelas air.
Dia menatap datar Vera yang terkejut. Tak ingin dirasa terus mencuri-curi pandang, Vera dengan sigap menggunakan triknya. Dia mengambil piring ayam yang berada di depan Reza.
“Siapa yang lihat kau? Saya lihat ini, pengen tambah sangking enaknya!”
“Eh–”
Reza tertegun sesaat sebelum seringai terlihat jelas dari wajahnya.
“Dasar,” gumam Reza.
***
Di kamar, Reza berbaring seraya menatap langit-langit ruangan yang dipenuhi kelap-kelip stiker bintang yang dapat memancarkan cahaya. Stiker itu menyerap cahaya sebelum dipancarkan keluar saat benar-benar gelap.
Reza mengangkat tangannya. Dia menatap dari celah-celah jarinya.
“Sistem, apa saya bisa menjadi kiper terkenal di seluruh dunia?”
[Tentu bisa, Tuan!]
Reza memahami ucapan monoton dari sistem tersebut.
“Apa bisa … saya– Ah sudahlah!”
Reza kemudian langsung memiringkan tubuhnya dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya.
Suara samar-samar terdengar dari kejauhan. Di dunia yang hanya menampakkan putih saja, terlihat sesosok pria dewasa dengan ketampanannya memakai seragam jersey berwarna merah dengan corak batik di dalamnya. Dia memakai sarung tangan di kedua tangannya.
“Kamu akan menjadi terkenal sebagai kiper, ingat itu.” Sosok tersebut perlahan hilang bagai ditelan bumi.
Suasana berwarna putih tersebut tiba-tiba meleleh mengeluarkan cairan tinta hitam yang mulai memenuhi sejauh mata memandang.
“INGAT ITU!!!”
“WOAAHH!” Reza terbangun secara tiba-tiba ketika teriakkan yang begitu mengganggu.
__ADS_1
“Mimpi, ya?”
Reza menatap jendela, cahaya mentari yang malu-malu mencoba memasuki gorden setebal beberapa milimeter tersebut.
“Sudah pagi, ya?”
Reza duduk di pinggiran kasurnya seraya mengusap wajahnya yang terlihat gusar. Ada rasa khawatir, tetapi tak tahu rasa khawatir apakah itu.
“Ya … mari lakukan hari yang santai seperti biasa.”
Reza bangkit dari duduknya kemudian pergi ke kamar mandi. Dia segera mandi. Setelahnya Reza mulai memakai seragam putih abu-abu dengan atribut lengkap —topi dan dasi— agar siap upacara.
Reza membuka pintu kamar, di sana sudah ada ibunya yang sudah terlihat cantik dengan pakaian kerjanya. Kemeja lengan panjang berwarna putih dengan rok hitam sependek lutut. Riasan wajah yang sederhana membuatnya nampak natural.
“Ayo sarapan dulu!”
***
Reza upacara bersama teman-temannya melakukan upacara hari Senin dengan khidmat. Tak ada yang saling berbisik, semuanya hening menunggu bendera siap untuk ditarik ke atas.
“Bendera, siap!”
***
Di kelas, Reza bersama teman-temannya mulai melakukan hari yang santai. Belajar Matematika diawal setelah upacara itu benar-benar memusingkan, tetapi mereka telah sedikit terbiasa.
“Vania! Kamu selalu diam!” Haikal mencoba duduk di samping gadis rambut sebahu yang terus menatap langit biru.
“Tinggalkan saya.” Nada dingin keluar dari bibir mungilnya.
“Hadeh, oke!”
“Ayolah, dia begitu-begitu sudah dinyatakan paling cerdas di kelas!” hafid langsung mengejek Haikal karena tak dapat mencoba berbicara basa-basi dengan Vania.
“Huft! Kau saja sulit, kan?” Haikal menambahkan, tetapi hanya diacuhkan oleh Hafid.
“Hei, Reza! Pertandingan kemarin sangat bagus!”
“Keren juga!”
“…”
Beberapa ucapan pujian diucapkan oleh teman-temannya sekelas Reza. Haikal merasa dikucilkan, performa pemain bertahan kemarin benar-benar terlihat buruk bahkan di mata orang awam dalam dunia sepakbola.
Reza sendiri hanya diam seribu bahasa dengan senyuman yang dipaksakan.
[Pamor Tuan telah naik menjadi 1,3%!]
Lutut Reza lemas. Dia benar-benar tak terpikirkan kapan akan selesai misi jangka panjang tersebut.
__ADS_1