Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 156 - Reuni Rival Lama dan Frederic Kiper Andal


__ADS_3

Di suatu pagi buta, seorang pemuda sedang berlari santai sembari mendengar musik klasik, lantunan musiknya dihayati begitu baik sehingga menambah ketenteraman hati bagi si pendengar.


Pemuda ini adalah Reza Kusuma, dia sedang berlari pagi sebelum latihan intensif dari para pelatih, pertandingan saat menghadapi Spanyol itu cukup memakan daya stamina, membuat Reza harus menciptakan daya stamina baru dengan cara seperti ini.


Berlari mengelilingi kompleks pelatihan, Reza sesekali disapa oleh orang-orang yang kebetulan juga berada di sana, sekarang siapa yang tak kenal Reza, salah satu pemain terbaik dunia hadir begitu santai di tengah masyarakat tanpa memandang status.


Reza mencoba hidup dengan sederhana, meski pun dibanjiri uang, dia tak gelap mata dan hanya memanfaatkan uang itu dengan berfoya-foya, Reza memilih pensiun dari dunia sepakbola jika hal itu terjadi, sungguh memalukan.


“Hai, Reza!” Sebuah suara lembut terdengar dari belakang.


Reza berhenti dan berbalik, kemudian melepas earphone miliknya, menatap pria yang nampak sepantaran dengan rambut kecoklatan potongan cepak tersenyum cukup ramah.


“Tunggu … Tunggu, kau …”


“Yap, Bagas? Kau tahu? Orang yang membobol gawangmu tiga kali dalam satu kali pertandingan!” seru pemuda itu yang ternyata Bagas.


“Wah, rasanya sudah sangat~ lama!” ucap Reza sambil tersenyum.


“Lama, Reza, itu sangat … Lama!”


Keduanya pun memilih duduk ke bangku yang ada di depan gerbang utama area pelatihan, di samping bangku itu ada mesin minuman yang sontak Bagas mentraktir Reza sekaleng minuman isotonik.


“Nih, kau pasti mau yang beginian,” ucap Bagas sembari melempar kepada Reza.


Reza menangkapnya, Bagas pun tersenyum sejenak sambil bersandar di mesin minuman itu, menatap langit pagi yang masih cukup gelap.


“Reuni musuh lama, itu mungkin kata yang pas dengan situasi saat ini,” ucap Bagas.


“Ya, saya masih benar-benar ingat dulu, saat kau hattrick, memang saat itu saya masih sangat cupu!” sahut Reza sembari terkekeh pelan.


Bagas menoleh sejenak kepada Reza yang kemudian dia segera kembali menenggak minuman di tangannya, menatap langit dengan mata sendu, seperti banyak pikiran.


“Sekarang, saya hanya seorang mahasiswa biasa,” lirih Bagas.


“Oh, ayolah, Bagas! Mahasiswa biasa? Kau bisa melakukan apa yang saya sulit lakukan!” sahut Reza sambil berdiri dan segera menatap Bagas.

__ADS_1


Kedua pasang mereka bertemu, masing-masing bergetar dengan keyakinan sendiri, entah itu merasa bahwa hidup sebagai mahasiswa itu hebat atau hidup sebagai atlet yang terkenal.


Keduanya berada pada pikiran mereka masing-masing, meski begitu, beberapa saat kemudian mereka tertawa secara serentak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan ini terlalu kanak-kanak.


“Ey, Bro, kau sudah sehebat gini bagaimana caranya?” tanya Bagas.


“Tidak menyerah dengan keadaan, itu yang saya lakukan, mencoba untuk terus berjuang entah caci-maki seperti apa yang kamu dapatkan,” jelas Reza dengan mata sendunya.


“Begitu, ya?” Bagas berjalan sejenak, membelakangi Reza.


Bagas mengangkat kaleng minumannya tinggi-tinggi ke udara, kemudian berseru, “Semangat, 16 Juli lawan Prancis, loh!”


Setelah itu, Bagas pergi tanpa menunggu jawaban atas seruannya dari Reza, meski begitu, dengan keras Reza berteriak begitu lantang hingga Bagas sendiri merasa lucu.


“Semangat, capai ilmu setinggi langit, setahun lagi sarjana!” teriak Reza.


Keduanya memiliki satu persamaan, melakukan segalanya demi menempuh tujuan yang mereka inginkan, perbedaannya adalah cara mereka melakukannya.


“Bagas, ya? Saya berharap, rival lama ini bisa mencapai sarjana,” gumam Reza.


“Reza, kau harus bisa mengangkat trofi piala dunia, itu dulu saya impikan, sebelum … Kecelakaan,” gumam Bagas dengan berlinang air mata. “Akh, kenapa ini? Sa–Saya menangis?!”


***


Reza yang saat ini sedang menuju tempat latihannya, masih terus memegang minuman isotonik pemberian Bagas, perasaan nostalgia tentu ada, apa lagi Bagas adalah pemain yang membobol gawangnya selama tiga kali saat itu.


“Tapi kenapa Bagas tidak teruskan, ya?” gumam Reza, cukup penasaran kenapa bakat sebagus Bagas tidak diteruskan ke sepakbola. “Ah, sudahlah, mungkin ada alasan tersendiri yang jelas rahasia pribadi,” lanjutnya.


Reza membuang kaleng kosong itu pada tempat sampah, dan segera berlari menuju rekan-rekannya yang mulai bersiap.


“Oke, secara cepat, saya akan mengatakan, Prancis bukanlah lawan lemah, mereka jelas diperkuat juga kiper yang fenomena, katanya kiper ini seakan Reza versi dua!” jelas Pelatih Tae-yong.


Reza yang disebutkan pun menjadi atensi dari rekan-rekannya, membuat Reza harus mencoba mengklarifikasi sejenak.


“Frederic, kiper berusia 19 tahun, sama berkarir dari bawah, tetapi dia tenggelam dengan namaku, hanya saja akhir-akhir ini semakin naik dan disandingkan denganku, kiper hebat yang saya akui sebenarnya meski belum dicoba,” jelas Reza.

__ADS_1


Nama baru, tetapi ini sudah menjadi hal yang umum ketika telah diketahui betapa hebatnya juga kiper satu ini, Frederic dipercaya sebagai Reza kedua.


Hal ini bukan tanpa sebab, Frederic mampu menciptakan percepatan dalam evolusi kemampuan, dia bisa berada pada skuad utama di Hotspur sejak berusia 17 tahun, itu tepat dua tahun lalu.


Ya, satu dari sebagian mutiara yang tersebar di penjuru dunia, Reza yang awal debutnya bersama Milan berusia 18 tahun, akhirnya mereka berdua mulai dibanding-bandingkan bagaimana dan siapa yang paling bagus di antara mereka. Terkadang Reza direndahkan hanya karena lambat debut ke klub dari top lima Eropa.


Meski begitu, Reza seringkali acuh tak acuh, lagi pula itu tak ada sangkut pautnya dengannya, dia hanya ingin berlaga dengan santai tanpa ada pikiran tentang pemain hebat baru atau apa pun itu.


Namun, nama Frederic tenggelam dengan sendirinya setahun ketika debutnya bersama Hotspur, hanya saja akhir-akhir ini dia kembali naik daun setelah membuat Hotspur meraih piala liga Inggris dan juga Piala FA.


“Frederic, ya? Seharusnya ada anomali aneh, ini terlalu sepi, sistem juga tidak berkata apa-apa,” gumam Reza.


Reza awalnya berpikir Frederic pengguna sistem, hanya saja perbedaan sikap dari sistem membuatnya mengurungkan niat menjadikan Frederic sebagai pengguna sistem.


Itu karena sistem sendiri cenderung diam tanpa mengatakan ada anomali aneh atau apa pun itu, tetapi di satu sisi, Reza malah semakin penasaran.


Jelas ada yang aneh, kemungkinan terbesar sistem perlahan mulai menunjukkan bahwa Reza tak bisa selamanya menggunakan sistem seenaknya, dia harus mencari hal aneh itu dengan sendirinya.


“Sebagai terduga pengguna sistem, saya bakalan memasukkannya ke dalam daftar, tolong sistem,” lirih Reza.


[Baik, Tuan! Frederic Henry telah dimasukkan dalam daftar di mana ada kesempatan bahwa dia adalah pengguna sistem!]


“Baguslah, mari kita coba nanti!”


***


16 Juli 2026, stadion BC Place, Vancouver, Kanada.


Di stadion dengan jumlah kapasitas sebesar 60.000 penonton ini telah dipenuhi lautan merah dan juga biru tua, yang mana para pendukung Indonesia dan Prancis telah perang yel-yel atau nyanyian yang membuat stadion bergemuruh.


Kedua kesebelasan telah memasuki lapangan, di mana akan dikumandangkan masing-masing lagu kebangsaan mereka.


Setelahnya, Reza sebagai kapten berhadapan dengan bintang Mbappe, tatapan keduanya saling bertemu dan jika divisualisasikan akan ada percikan listrik di antaranya.


“Selamat bertanding,” ucap Reza, tetapi fokusnya tertuju pada Frederic, kiper Prancis yang cukup tinggi juga.

__ADS_1


Babak perempat final pun dimulai, mempertemukan Indonesia vs Prancis, Amerika Serikat vs Belanda, kemudian Argentina vs Korea Selatan dan Kroasia vs Jepang.


__ADS_2