
Dunia semakin membuka mata kepada Indonesia yang semakin berjaya dikancah sepakbola, meskipun harus diangkat oleh Reza, mereka tak peduli, selama Indonesia bisa dikenal luas sebagai negara kuat sepakbolanya.
Dalam regional Asia, Indonesia seperti sesosok hewan mitologi yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Garuda yang dibangunkan, kemudian memporak-porandakan keadaan.
“Ssshh … Semakin hari semakin dingin juga nih Qatar, ya!”
“Begitulah, meskipun begitu, ini baru tujuh derajat saja!” balas Marselino menanggapi.
Saat ini mereka sedang berlatih, lawan mereka adalah tuan rumah penyelenggara Piala Asia.
Mungkin bagi kebanyakan orang, Qatar dinilai tim lemah karena tak bisa memenangi laga saat Piala Dunia berlangsung setahun lalu, tetapi ini adalah Qatar yang berbeda, mereka melakukan evaluasi besar-besaran.
Nama-nama lama tetap dipertahankan yang kemudian diasah semakin tajam. Memang beginilah yang harus dilakukan agar sebuah tim negara mampu bersaing juga.
Apapun itu, Indonesia saat ini tak mempermasalahkannya, mereka tetap berniat meraih poin penuh demi meloloskan diri dari perempat final menuju semifinal atau bahkan final.
Sejarah baru tentunya terus dicatat seiring berjalannya waktu, Indonesia mulai bisa menunjukkan paruh kokoh nan tajam miliknya.
Pelatih Tae-yong saat ini duduk di bangku pemain, menatap anak asuhnya yang berlatih dengan giatnya.
Di sampingnya, ada penerjemah setianya.
“Bagaimana kira-kira tim ini?” tanya Pelatih Shin.
“Saya tak terlalu tahu bola, tetapi saya rasa ini sudah sangat cukup!” balas sang penerjemah, Seok-seo.
“Fisik mereka sudah baik, hanya perlu dipoles sedikit lagi hingga sempurna!” jelas salah satu staf pelatih, Sang-gyu.
Percakapan antar staf pelatih itu mulai masuk ke ranah yang semakin berbelit dan sulit untuk dimengerti oleh orang awam.
Mereka jelas membahas beberapa taktik dan juga teknik yang harus dilakukan agar bisa menang mudah menghadapi Qatar yang mengevaluasi habis-habisan timnya sejak Piala Dunia setahun terakhir.
Meski begitu, menurut Pelatih Tae-yong, Qatar adalah Qatar yang dulu tak pernah memenangi setiap laga di fase grup Piala Dunia.
Qatar yang memang menang di fisik, hanya saja persoalan beberapa teknik agak terbelakang, meskipun faktanya, Indonesia lebih terbelakang lagi. Itu dulu, sekarang berbeda, Indonesia terlihat seperti di atas Qatar.
“Kalian semua, kumpul!”
***
10 Januari 2024, hari di mana Indonesia akan menghadapi Qatar di stadion Internasional Khalifa, yang berkapasitas sekitar 40.000 penonton.
Tiket ludes terjual, padatnya stadion menambah atmosfer setiap sudutnya sangat terasa antusias.
Nyanyian demi nyanyian digemakan, kedua kubu jelas saling melempar nyanyian yang paling bagus.
Yo~ Ayo! Kita pasti menang!~
Langkahkan kakimu, suaraku akan menyemangatimu!~
Garuda di dadaku! Kuyakin kita pasti menang~
Bergemuruh, walaupun kedua tim belum datang di stadion, tetapi nyanyian-nyanyian tanpa henti mulai terdengar dari tiga puluh menit sebelum kick-off.
__ADS_1
Suporter Qatar tak mau kalah, tetapi nampaknya mereka telah kalah suara.
Walau suporter Qatar berjumlah 25.000 berbanding terbalik dengan Indonesia yang hanya 15.000 penonton, Qatar terlihat kalah akan intensitas suara.
15 menit kemudian, kedua bus yang mengangkut dua tim perempat finalis ini datang, mereka langsung diturunkan tepat di samping lorong yang menuju ruangan ganti pemain.
“Woaah! Merinding juga, tiba-tiba disambut dengan gema para suporter Ultras Garuda!” seru Reza.
“Inilah suara rakyat Indonesia, mereka akan ada mendukung kita, mereka itu nyawa kita!” sanggah Sananta seraya merangkul Reza.
***
Di ruang ganti pemain Indonesia, mereka saat ini terlihat tegang, mengapa tidak? Reza belum kembali dari toilet.
“Di mana dia?” Pelatih Tae-yong nampak gusar.
Marselino dan juga Sananta langsung mengusulkan diri untuk mencari keberadaan Reza.
Baru saja keluar ruangan, keduanya sudah dipertemukan dengan Reza yang saling berhadapan dengan sesosok wanita cantik.
“Oh? Hehe~ Maaf,” ucap Reza.
Ternyata, Reza lama berdialog dengan Vera yang memberi dukungan langsung dan datang ke Qatar, kebetulan sekolah di Trenčín sedang libur musim dingin.
“Masuk,” ucap Sananta dengan raut wajah datar.
“Yahaha! Cemburu nih, eitts! Jangan ambil, ya! Ini punyaku,” ucap Reza dengan nada candaan.
Vera sendiri hanya tersipu malu dan langsung pergi menuju tribun bersama teman-teman sekolahnya.
***
Sananta melakukan kick-off untuk pertama kali.
Sebagai awalan, Indonesia langsung melakukan serangan kejutan, Sananta memberi umpan kepada Evan yang setelahnya Sananta berlari kencang ke depan.
Dalam lima detik, Sananta sudah berhasil mendekati tepi kotak penalti, Evan pun melambungkan bola yang sontak diterima dengan baik oleh Sananta.
Sebagai serangan kejutan, Qatar sebagai tim profesional dan telah dikenal oleh dunia lebih lama daripada Indonesia mengalami kepanikan di lini pertahanan.
Abdulsallam dan Salman yang diplot sebagai bek tengah mengalami kepanikan, walaupun mereka sebenarnya telah dievaluasi habis-habisan.
Perang mental sebenarnya terjadi di sini, suporter Indonesia semakin menggemakan suaranya yang bahkan lebih keras daripada tadi, ini membuat para pemain Qatar gugup.
Syalalala~
“Ambil ini!”
Mengumpan ke sisi kanan yang mana ada Witan di sana.
Witan dengan mudah menerimanya, kemudian mengembalikan bola sesaat Sananta berhasil merangsak masuk ke dalam kotak penalti.
“Terima!”
__ADS_1
Sananta menerima bola, Witan sukses dalam memberi umpan sehingga mampu dikendalikan oleh Sananta.
Sananta melirik gawang, sepakan keras kaki kanannya langsung menyasar sudut kiri atas gawang yang dikawal Barsham.
Dum!
Woooo!
Para penonton bergemuruh menunggu bola yang melesat kencang.
Barsham meskipun melompat dengan susah payah, jangkauan tangannya diusahakan sejauh mungkin, dia tak mampu menangkap atau sekedar menepisnya saja.
Gol, tepat dimenit kesatu yang mana menjadi satu kemajuan karena Indonesia mampu menciptakan gol dengan baik pada menit-menit awal.
“Mantap!” seru Reza melompat gembira.
Seisi stadion meledak, suara mereka berteriak membuat kualitas peredam suara agak goyah hingga membuat suara itu terdengar sampai ratusan meter jauh dari stadion.
Antusiasnya lebih parah dari sebelumnya, ini terjadi karena Indonesia mampu menembus perempat final.
Bagaimana jika semifinal atau bahkan final? Benar, stadion semifinal dan final akan ditempatkan di stadion Lusail yang berkapasitas sekitar 89.000 penonton, membludaknya suporter tak masalah.
Itu semua demi meredam kegilaan suporter nantinya di semifinal maupun final.
“Ssshh … Berdengung telingaku, memang kekuatan suara yang diluar kemampuan penangkapan suara manusia,” gumam Reza.
Apapun itu, perlahan suara yang meledak itu mulai tenang dan menyisakan gemuruh yang cukup santai.
Pertandingan kembali dilanjutkan, kick-off dari kaki Alaaeldin, Qatar mencoba menyerang demi meraih harga diri mereka yang tiba-tiba jatuh begitu saja ke dalam jurang terdalam.
Tim mana yang tidak malu ketika tim kuda hitam tiba-tiba mengalahkan salah satu tim Asia terbaik bersama beberapa negara lainnya.
“Baik, pengamatan visi akan saya lakukan! Kalian bergerak sesuai arahanku, ya!”
Setelahnya, Reza meletakkan fokus tinggi, dia mampu melihat pergerakan-pergerakan yang terkoordinir dari Qatar.
“Wah! Sisi kiri, Bang Saddil, di sana agak kosong, kalau bisa Bang Sandy jaga juga!
Kemudian di tengah, Marselino dan Rafli bergerak sedikit ke depan, di sana kalian mengisi kekosongan dan juga persiapan serangan balik!”
Reza, kembali menjadi dirigen menyerupai orkestra dalam memimpin timnya hingga menuju kemenangan.
***
Sebagai pertandingan yang singkat jika ditelaah secara spesifik, Indonesia jelas mendominasi walaupun tak berbeda jauh dengan kendali dari Qatar.
Beberapa jenis serangan dari Indonesia justru lebih berbahaya daripada Qatar.
Semua hal itu menghasilkan kemenangan telak Indonesia dari Qatar yang membuat Indonesia melaju ke semifinal secara cepat.
Qatar 0 - 3 Indonesia, pencetak gol antara lain Sananta yang mencetak dua gol dan Reza satu dari tendangan bebas miliknya.
Indonesia, akan menghadapi Thailand di semifinal.
__ADS_1
Sesama negara Asia Tenggara yang bisa mencapai semifinal, sementara itu semifinal di pertandingan lain, Korea Selatan menghadapi Iran.
“Semoga misi itu bisa diselesaikan,” gumam Reza sesaat keluar dari ruang konferensi pers pasca pertandingan.