Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 121 - Enam Belas Besar, Menghadapi Jepang


__ADS_3

Pertandingan menghadapi Irak menjadi yang paling mengejutkan sebenarnya. Namun, satu hal yang pasti, Reza kembali keluar dengan tiga gol miliknya serta penghargaan Man of The Match.


3-0, Indonesia jelas menang telak menghadapi Irak.


Hal ini membuat Indonesia adalah satu-satunya tim yang sejauh ini tak kebobolan pada fase grup.


Selanjutnya, Indonesia akan menunggu siapa lawan selanjutnya pada fase gugur enam belas besar Piala Asia AFC 2023.


Semua fans tentu menunggu, hingga fase grup benar-benar berakhir tanggal 30 Desember.


Setelahnya, babak enam belas besar akan dilangsungkan selama empat hari berturut-turut.


Tanggal 1 hingga 4 Januari 2024, masing-masing hari, empat tim untuk sehari, jadi ada dua pertandingan dalam sehari.


Indonesia sendiri akan berlaga pada hari pertama fase gugur menghadapi lawan kuat lainnya, yaitu Jepang yang keluar sebagai enam belas besar pada Piala Dunia beberapa waktu lalu setelah ditekuk Kroasia.


Apapun itu, Jepang sendiri salah satu tim langganan Piala Dunia dari Asia, jadi tak bisa diremehkan begitu saja. Apalagi, isi skuadnya saat ini jelas masih ada beberapa yang bisa menekuk Jerman dan Spanyol di babak grup.


Reza tentunya tak sabar, Indonesia akan menghadapi Jepang di stadion Al-Janoub yang berkapasitas sekitar 40.000 penonton.


Jelas, saat-saat yang ditunggu adalah menghadapi Jepang, Indonesia juga sebagai tim kuda hitam yang mengejutkan banyak negara karena mampu lolos ke fase gugur dengan poin sempurna tanpa kebobolan juga.


Kebanyakan orang berpikir, Indonesia mampu seperti ini hanya karena Reza seorang diri saja.


Namun, mereka jelas salah, Indonesia sendiri sudah mampu beberapa kali meredam kemampuan tiga tim kuat di grup B, salah satunya Iran yang nyatanya kesulitan juga dan berakhir kekalahan bagi mereka.


Semua hal yang dipikirkan orang, tentu tergantung pada apa yang mereka yakini dan jalani, orang-orang sudah tahu, Indonesia terbilang buruk dalam lima tahun terakhir ini, jadi kesimpulan yang mereka ambil pun demikian.


“Awas!”


Tang!


Karena terlalu fokus menatap layar ponsel pintarnya, Reza malah menabrak tiang gawang hingga berbunyi keras.


“Duh … Anjirlah!” umpatnya kesal.


Beberapa rekannya sendiri hanya menertawakannya karena kekonyolan Reza di pagi hari buta ini.


Mereka jelas menyadari, Reza sedang dalam proses dewasa, memiliki seorang wanita sebagai penyemangat hidup jelas telah mereka alami.


“Anu … Maaf,” ucap Reza seraya menyimpan ponsel pintarnya dan memakai sarung tangannya.


“Haaa … Ada-ada saja anak muda,” celetuk Marc.

__ADS_1


Mereka tentu berlatih, berlatih dan terus berlatih karena lawan mereka selanjutnya telah menunggu dengan mesin gol mereka.


Apapun itu, tersisa sekitar dua hari saja sebelum laga dimulai. Mereka jelas harus memahami beberapa taktik yang diberikan oleh Pelatih Shin.


Hingga … Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba!


“Ya! Di mana pun anda berada, kita sudah terhubung dengan stadion Al-Janoub, yang mana sebagai tempat Garuda Asia akan menghadapi Samurai Biru!


Laga yang ditunggu-tunggu oleh pemirsa, biarkan saya Tubagus dan Bung Bambang memimpin jalannya pertandingan!”


Dengan suara yang menggebu-gebu, saluran televisi nasional telah terhubung oleh stadion Al-Janoub.


Seluruh Indonesia menyaksikan, apa yang mereka inginkan, yaitu Indonesia mampu mengukir namanya dalam sejarah Piala Asia Senior yang telah mereka idam-idamkan.


Semuanya menyaksikan, laga antara hidup mati yang di mana Reza dan kawan-kawannya berjuang sebagai Garuda Asia akan menghadapi Samurai Biru.


Hari di mana, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan di stadion super megah pada turnamen bergengsi di Asia ini.


Pastinya jika dihayati, lagu Indonesia Raya bergema hingga mampu menggetarkan jiwa dan raga. Perasaan nasionalisme langsung mencuat hingga secara spontan ikut merinding dan terharu.


“Waaah~ Ini terlalu merinding.” Reza mengusap kulit tangannya dan lehernya.


Dia tentu bergetar, perasaan bangga mekar dari dalam jiwa yang paling dalam. Perasaan akan nasionalisme dan cinta tanah air, perasaan yang menghanyutkan segala macam beban.


Indonesia, yang secara perdana dan cukup tiba-tiba, Reza dipilih sebagai kapten tim diusianya yang masih sangat muda.


Hanya saja, Pelatih Shin memercayainya dan meletakkan beban berat itu dipundaknya agar kelak di masa mendatang, Reza semakin baik dalam penguasaan mental diri.


“Yeah! Saya menang koin, jelas pilih sisi lapangan terlebih dahulu, pilih di mana suporter Indonesia berjuluk Ultras Garuda berada di tribun Timur!” gumam Reza.


Bola pun dikendalikan oleh Maeda yang memberi umpan pendek kepada rekannya di samping kanan, Doan.


Doan bergerak dengan lihai menahan bola, Saddil mencoba merebutnya dengan cepat.


Untuk saat ini, Indonesia bermain lebih terbuka dan memakai taktik penekanan tinggi yang mana Pelatih Shin klaim mampu membuat sekelas Jepang kocar-kacir.


Indonesia terkenal akan kecepatannya, Jepang malah terkenal akan keuletannya yang menggebu-gebu, seperti seorang samurai yang tak takut mati oleh tuannya.


Bukan hanya keuletannya, banyak kemampuan lainnya yang membuat Jepang bisa seperti sekarang.


Teknik demi teknik ditunjukkan oleh mereka, umpan satu-dua sedikit merepotkan gelandang maupun penyerang Indonesia.


Namun, hingga menit kelima, Jepang sendiri belum dapat menemukan celah besar di pertahanan, sehingga jelas saat ini mereka kesulitan.

__ADS_1


Kamada maju ke sisi kanan yang mana Witan sedang mengawal pergerakannya, sementara Evan mencoba melakukan pertahanan berlapis.


Semuanya terkoordinir dengan rapi, tak ada satupun yang terlewatkan sehingga Jepang benar-benar harus kerja ekstra.


“Disana, sisi kiri kosong, isi itu!”


“Maju ke depan, Bang Evan! Bentar lagi Endo bakalan datang!”


“Sisi kiri masih longgar, Saddil sama Bang Sandy cukup bergerak sedikit saja!”


Arahan demi arahan, Reza bagai seorang pelatih yang mampu memahami keadaan lapangan dalam sekejap. Pelatih Shin sendiri melepas untuk sementara pengarahan dan membiarkan Reza seperti itu.


Dia ingin lihat, seberapa baik Reza dalam memahami taktik dan mampu mengarahkan rekan setimnya yang jelas tiga hingga beberapa tahun lebih tua darinya.


“Ito bergerak, awas Bang Sandy!”


Menyadari ada sesuatu, sisi kiri pertahanan Indonesia langsung dilapis oleh cukup banyak pemain.


Lantas Jepang semakin merasa kesulitan hingga agak frustasi sampai pada menit kelima belas.


Pertandingan benar-benar agak membosankan, sejauh ini, tak ada satupun percobaan dari kedua tim.


Sementara penguasaan bola, Jepang sangat mendominasi dengan 78%.


“Ugh … Sekarang harus menyerang, terlalu berbahaya membiarkan mereka.”


Reza maju hingga ke tepi kotak penalti, dia yang saat ini memegang bola, mencoba melakukan pemindaian area.


“Witan bergerak maju, Saddil di sisi kiri terlalu lambat.


Kambuaya lebih maju lagi bersama Sananta dan Marselino.


Anjirlah, banyak pemain yang memiliki insting menyerang pada formasi ini, jadi sulit mengoordinasikannya!”


Reza pun mengarahkan Jordi untuk mengawal gawangnya dan dia perlahan maju.


“Kali ini, tak memakai kaki sendiri, harus kerja sama!”


Reza melirik Evan yang masih berada di tengah, setelahnya memberikan bola mendatar yang agak pelan.


Evan memindai area, sisi kanan dan kiri membuka peluang menyerang.


“Kanan saja, umpan Bang Evan mantap!” ucap Reza. “Mari kita bekerja keras!” lanjutnya dengan senyuman cerahnya.

__ADS_1


__ADS_2