
Bola terus bergulir di antara kedua tim, beberapa kali intersep dari kedua tim membuat banyaknya menit terbuang hanya untuk lemparan ke dalam maupun tendangan bebas setelah pelanggaran.
Dari pinggir lapangan, Pelatih Bima terus memberi arahan tanpa henti, raut wajahnya sangat serius. Setiap arahannya tidak langsung dilakukan dengan baik oleh anak asuhnya sebab kecilnya suara yang teredam akibat stadion begitu ramai pendukung.
Meski begitu, sesekali diwaktu lemparan ke dalam atau pelanggaran, mereka mendekati tim pelatih demi mendapatkan arahan tang lebih baik lagi.
Sekali dan terus terjadi, semakin lama, semakin melunjak para pemain Vietnam.
Mereka bahkan tak segan-segannya mengambil kaki para pemain Indonesia hingga terjadinya pelanggaran keras. Satu hal yang pasti, Indonesia mencoba menahan amarah mereka.
Kesal, jelas sangat kesal. Bagaimana mungkin sebuah tim melakukan segala cara demi memenangi laga, walaupun itu adalah teknik yang kotor. Tim ini tak jarang juga melakukan demikian, mau pada jenjang usia lain, bahkan Timnas Senior nya lebih gencar dalam melakukan pelanggaran keras.
Prit!
Wasit dari Jepang, Takebayashi Satoshi, meniup peluit dengan keras dan langsung menghampiri pemain Vietnam U-17, Tan Tai Hoang yang memotong alur langkah Narendra dengan kasar.
Narendra yang berguling-guling di lapangan, meringis kesakitan, sementara itu Tan Tai Hoang langsung diganjar kartu kuning.
“Hei, kami sudah cukup sabar!” seru Achmad memakai bahasa Inggris dan sedikit mendorong Tan Tai Hoang.
“Heh.” Tan Tai Hoang malah tersenyum menyeringai.
Usia muda yang harusnya diajar tata krama dan beberapa hal tentang kesopanan, tetapi kali ini tim Vietnam U-17 terasa begitu kurang ajar dalam beberapa saat ini.
Pertikaian kecil pun terjadi, insiden saling berargumen terjadi hingga wasit harus melerai. Narendra yang selesai melakukan perawatan bersama tim fisio pun hanya menatap kesal kepada Tan Tai Hoang.
Pertandingan kembali dilanjutkan, tensi tinggi pertandingan semakin memanas. Hingga tepat dimenit 43 adalah puncak pelanggaran babak pertama.
Ketika itu, Narendra yang dari awal terpancing emosi menjadi semakin marah serta kesal.
Dia yang sedikit jahil mendapatkan kesempatan untuk melakukan dorongan kecil saat perebutan bola bersama Tan Tai Hoang. Alhasil Tan Tai Hoang terjatuh hingga wasit segera menghentikan pertandingan.
Wasit hanya memberi peringatan bagi Narendra, tak terima dengan keputusan wasit, lantas tim pelatih Vietnam mulai berdiri semuanya di pinggir lapangan dan melakukan protes keras.
Para pemain Vietnam lainnya nampak semakin memprovokasi hingga kondisi menjadi tak kondusif. Tan Tai Hoang yang dilanggar, bangkit kembali dan langsung mendorong Narendra dengan begitu keras.
Narendra yang tak siap, dia terjatuh hingga kepalanya terbentur tanah begitu keras.
“Heh! Hei!”
Prit!
__ADS_1
Saling dorong pun semakin menjadi-jadi, Reza yang saat itu melihat situasi semakin tak kondusif langsung maju ke titik pertikaian.
Titik pertikaian saat itu benar-benar berada di sisi lapangan yang berdekatan dengan bangku tim Vietnam.
“Diam! Kalian semua ke sana! Ayolah, tidak perlu terpancing! Bubar!” teriak Reza.
Dia mendorong rekan-rekannya menjauh dari para pemain Vietnam. Beberapa asisten wasit juga mulai datang untuk menetralisir kondisi.
“Pergi! Lupakan provokasi mereka! Sana!”
Melihat Reza yang begitu kesal, Pelatih Bima yang awalnya akan ikut nimbrung demi membela anak asuhnya menjadi mengurungkan niatnya, dia mendorong tim pelatih dan pemain bangku cadangan untuk kembali duduk.
“Sana! Ayolah, fokus!” seru Reza.
Rekan-rekannya yang mulai bisa meredam amarah perlahan mundur dan menyisakan para pemain Vietnam yang masih tak terima, mereka terus melakukan protes diikuti tim pelatihnya.
“Hei … Kalian protes? Ayolah, dewasa sedikit! Kalau mau protes, kalahkan kami dulu!” teriak Reza dalam bahasa Inggris.
Teriakkan yang begitu besar, terdengar agak sayup-sayup di tengah para pendukung yang semakin menggila dengan seruan “Huh!” mereka.
Alhasil dari hasil gertakan Reza, para pemain Vietnam dan tim pelatih mulai perlahan memelankan protes mereka hingga tak terdengar lagi.
Wasit yang justru kesal, dia langsung mengangkat kartu merah kepada Tan Tai Hoang, lagipula Tan Tai Hoang memang layak untuk diganjar kartu merah sebab mendorong pemain serta melakukan pemukulan dengan sengaja dan juga beberapa kali pelanggaran keras darinya.
Wasit jelas tak bisa dinegosiasi, keputusan wasit adalah mutlak dalam suatu pertandingan. Tim Vietnam pun tak bisa lagi memprotes. Lagipula yang menghidupkan pertikaian ini adalah mereka pribadi.
“Haaa … Melelahkan,” gumam Reza kembali ke gawangnya.
Pertandingan kembali dilanjutkan, ketika tim wasit di pinggir lapangan mengangkat papan nomor, di sana ada 7 menit tambahan waktu.
Dalam waktu itu, Indonesia terus menyerang, kesempatan semakin terbuka lebar karena memiliki keuntungan kelebihan total pemain dari Vietnam.
Namun, hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama, skor masih tak berubah hanya bertaham pada Indonesia 0 VS 0 Vietnam.
Di ruang ganti tim Indonesia.
“Satu kalimat, jangan terpancing provokasi!” seru Pelatih Bima dengan menggebrak papan taktik di sampingnya. “Jaga amarah kalian, kalian itu pemain profesional!” lanjutnya.
Tentu semua pemain tertunduk, merasa bahwa amarah mereka terlalu mudah keluar.
“Saya tahu, mereka tak sportif, hal ini sudah menjadi lumrah bagi generasi mereka! Jadi … Ayo, terbiasalah!”
__ADS_1
Penjelasan demi penjelasan dari Pelatih Bima harus didengar baik-baik oleh mereka. Penjelasan kali ini adalah demi memanfaatkan peluang kelebihan total pemain di lapangan.
“Tan Tai Hoang, penyerang mereka keluar, kesempatan bagus untuk semakin menumpulkan alur serangan mereka!
Selagi kita mempertajam alur serangan. Ingat, terus lakukan umpan satu-dua yang membuat pemain Vietnam menjadi kesulitan.
Umpan langsung juga boleh, tetapi lihat situasi. Visi permainan harus tinggi!”
Pelatih Bima menatap Reza yang melamun.
Tak!
Sebuah pena jatuh tepat di depan Reza yang duduk menunduk. Melihat pena di lantai, Reza langsung mendongakkan kepalanya dan menatap tegas Pelatih Bima.
“Apa yang kamu pikirkan? Terserah kamu, coba saja keahlian apapun itu selagi kamu bisa tetap menahan serangan mereka. Kamu 'kan menantang mereka tadinya!” jelas Pelatih Bima.
Reza pun mengangguk tegas, berbagai macam cara telah dia visualisasikan dan terus menerus untuk melihat kemungkinan terbaik demi mencetak peluang hingga gol pun terjadi.
Dalam kurun waktu singkat, istirahat itu pun telah selesai dan babak kedua pertandingan perempat final Piala Asia AFC U-17 2023 Jepang pun kembali dimulai.
Di lapangan, wasit telah bersiap dan menunggu beberapa pemain yang masih di pinggir lapangan sedang berkomunikasi dengan pelatihnya.
Hingga semuanya telah siap, wasit Takebayashi Satoshi, meniup peluit babak kedua dimulai.
Pertama, dari kaki para pemain Vietnam, mereka memainkan bola-bola cepat hingga umpan langsung ke jantung pertahanan Indonesia.
Beruntungnya, pertahanan Indonesia masih sangat solid dan sulit ditembus hingga lima menit pertama babak kedua meski sudah sekitar dua kali shoot on target dari mereka.
Reza masih seperti biasa, tetap kokoh dan penuh misteri. Entah kemampuan apa yang akan dia keluarkan dari banyaknya kemampuan miliknya.
Reza saat ini mendapatkan bola, dia pun mulai menggiring bola.
“Oh! Reza … Apakah dia akan menggiring bola seperti beberapa waktu lalu dan mencetak gol? Atau … Bagaimana! Tentu dinantikan!” seru Tubagus masih terus setia mengomentari jalannya pertandingan.
Ketika Reza menghampiri lini tengah, dia lantas langsung melambungkan bola hingga jatuh di belakang pertahanan Vietnam yang saat itu Riski telah bersiap melakukan tendangan voli.
Riski mendapatkan momentum dan bola pun dapat ditendangnya dengan keras.
Viet Nguyen, kiper Vietnam yang saat ini mencoba melakukan gerakan spontanitas, tetapi gerakannya masih lebih lambat dari cepatnya tendangan Riski.
Hingga Riski berhasil membobol gawang Vietnam pada menit 50 hasil umpan assist dari Reza.
__ADS_1
“Oooh! Reza memberi assist! Dia memberi assist! Kejutan demi kejutan diberikan, umpan yang sangat, sangat, sangat akurat mampu diterima dengan nyaman oleh Riski!” seru Tubagus.
Seluruh rakyat Indonesia yang memutar televisi dan menonton siaran langsung sepakbola ini lantas bersorak-sorai gembira tak terkecuali nonton bersama di rumah Reza saat itu, Citra dan rekan kerjanya serta teman-teman SMA Harapannya.